
Terima kasih telah setia dan memilih karya author untuk kalian baca..
.
Dukung terus author agar terus menulis dan membuat tulisan dan cerita yang lebih baik lagi..
.
Selamat membaca semua..😗😗
.
.
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
Setelah kepergian Raina ke kamarnya, Raka dan Rayyi beserta Anggi masih diruangan itu, mereka terdiam dengan segala pemikirannya masing masing.
"Kak jadi kita harus gimana ini?" Tanya Raka
"Aku gak tau, kenyataan ini masih membuatku syok" jawabnya, iyaa dia masih belum bisa berfikir kedepannya karna ini begitu mengagetkan nya, tak terbayangkan gimana adiknya dulu yang dibully satu sekolah dan dia hampir melarangnya untuk pindah sekolah, karna saat itu dia tidak tau jika adiknya dalam masalah, dan belum lagi kenyataan bahwa adiknya akan dijodohkan dengan pria itu, orang yang menorehkan luka dihati adiknya.
"Hemm,, apa aku boleh perpendapat karna aku sudah mengganggap Raka maupun Raina bukan hanya ipar tapi saudaraku sendiri terlebih Raina karna kita dekat" ucap anggi takut takut. Iya ia takut jika merasa ikut campur dalam urusan keluarga suaminya.
"Yaa tentu saja sayang kamu boleh mengutarakan pendapatmu, apalagi kamu istriku dan aku sebagai kepala keluarga pengganti ayah dan bunda untuk mereka" jawab sang suami.
"yaa mbak, mungkin mbak punya pendapat, karna aku rasa mbak lebih mengerti dan bisa melihat masalah ini lebih bijak dari kami" ungkap Rakadia sungguh dia tak tau harus apa untuk melindungi adiknya itu.
"Terima kasih sebelumnya kalian telah mau melibatkan ku sungguh aku sangat senang" ucap Anggia.
"Jadi menurut ku masalah ini jangan kita besar besarkan, biarkan semuanya tenang terlebih dahulu, kalian tenangkan hati dan pikiran kalian aku tau kalian menyayangi Raina. Tapi kita tetap memantau dan mencari taunya terlebih dahulu" katanya.
"Menurutku ide mu benar yang, aku merasa pusing memikirkannya dan butuh istirahat agar pikiranku tenang" jawab Rayyi
"Tunggu dulu mas, belum selesai aku ngomongnya" kata Anggi lagi yang mendapat kerutan didahi suaminya yang terlihat bingung, melihat hal itu ia meneruskan bicaranya,
"Jadi kita ga hanya diam aja mas, kamu bicara baik baik dulu sama oppa tentang hal ini tapi jangan bicarakan tentang masa lalu Dimas biar itu jadi Rahasia para cucu begitu juga pak Gilang tak boleh tau masalah itu, kasihan mereka telah sepuh mas, kamu hanya perlu tanya tentang rencana perjodohan itu saja, dan kamu jangan membantah apapun perkataan oppa dulu cukup dengarkan saja" jelas sang istri
"Lalu kamu Raka, mba hanya minta kamu jangan emosian dalam hal ini kamu hanya pantau Raina saja, biar kalau dia mau jalan sama pria itu selama tidak menyakitinya, jika menyakiti adik kita baru kita bikin dia perhitungan. Dan kamu juga minta maaf sama adikmu kembalikan lagi rasa percayanya pada mu sepertinya dia marah, aku khawatir kedepannya dia tak lagi mau terbuka sama kita" jelas Anggi lagi kali ini kepada adik iparnya.
"Baik kak, aku akan minta maaf sama dia dan aku gak mau kehilangan dia" jawab Raka lirih
"Kalian terlalu overprotektif dan posesif terhadap adik kalian itu tidak baik, karna adik kalian telah dewasa dia bukan boneka kita juga mesti tau keinginannya, dan kita sebagai saudara hanya perlu mendukungnya dan merangkulnya dikala dia terjatuh" lanjut Anggia
"Kau benar tapi karna kita sayang sekali sama dia yang" Rayyi membela diri
Anggi pun menghela napasnya "iya aku tau mas, tapi gak boleh berlebihan dan untuk urusan Raina nya sendiri biar aku saja yang berbicara dan mencari taunya, kalian tinggal tunggu cerita ku dan jangan bertindak masing masing, dan satu lagi Raka mbak minta kamu hanya minta maaf jangan bahas masalah ini dengan dia, apa kalian mengerti" tanya anggi seolah bertanya kepada anak muridnya saja
"Mengerti" jawab kakak beradik itu kompak, selanjutnya mereka membubarkan diri ke kamar masing masing guna istirahat.
---------------
Apartement Adimas
Lain halnya dengan Raina yang sedang disidang oleh kakak kakaknya, disini Adimas berada. Setibanya dia di Apartementnya setelah mengantar gadis itu ia bergegas membersihkan diri lalu istirahat namun pada saat hendak tidur dirasa badannya menggigil dia sepertinya masuk angin akibat kedinginan dan telat makan. Dia merebahkan diri dikasur berharap rasa sakitnya segera hilang.
Raina yang telah berada dikamarnya sendiri merasa lelah setelah disidang oleh kakak kakaknya tapi ia merasa sedikit lega karna telah menceritakan semuanya. Tapi ia tiba tiba kepikiran Adimas bagaimana keadaannya sekarang setelah ia kehujanan dalam keadaan basah kuyup. Entah dorongan dari mana membuat ia memberanikan diri mengirim pesan pada pria itu
📨 Pria Arogan
Bagaimana keadaan mu?
Yaa.. cuma sebaris kata itu yang ia kirimkan pada pria itu, ia berharap cemas memikirkan pria itu. Namun setelah setengah jam menunggu tak ada balasan dari Pria arogan itu. Ia memutuskan untuk tidur.
Lain halnya dengan Adimas pria itu sedang gelisah menahan rasa sakitnya ia sedang demam dan flu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, akhirnya ia memutuskan minum obat pereda demam dan langsung tertidur melupakan handphonya.
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
Kediaman Utama Waluyo
Sementara itu dikediaman waluyo disana telah ada Rayyi beserta sang oppa dihalaman samping sedang berbincang, yaa Rayyi sedang menanyakan tentang rencana perjodohan sang adik.
Lain halnya dengan Rayyi, kini Raka yang sudah bersiap siap akan ke rumah sakit dia terlebih dahulu menemui sang adik yang sejak sarapan tadi pergi ke kamarnya seolah enggan bertemu semua orang.
Tok..tok..tok..
"Dek,, boleh kakak masuk?" Kata Raka
Raina yang enggan pun karna masih marah dengan Raka pun membiarkannya tak menjawab apapun.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Dek,, kakak mau ngomong sebentar,, lu kalau lagi marah pending dulu lah marahnya,, gue perlu ngomong sebentar 5 menit aja,, yaa 5 menit" rayu Raka
Akhirnya Raina membukakan pintu untuknya "hanya 5 menit gak lebih" ucapnya datar pada sang kakak
"Baik gue kesini cuma mau minta maaf sama lu, gue tau lu marah karna pembahasan kita kemarin gue gitu karna gue sayang sama lu gue ga mau laki laki itu nyakitin lu lagi, kedepannya gue percayain sama lu dek?" Ucap Raka mengenai maksud nya pada Raina dan bergegas keluar meninggalkan kamar itu tanpa menunggu jawaban Raina
"Kak.. tunggu" kata Raina menghentikan langkahnya dan langsung memeluk kakaknya dari belakang yang membuat kakaknya kaget.
"Maafin gue kak,, gue ga marah sama lu gue tau kalian sayang sama gue" ucapnya lirih
"Oke jadi kita ga marahankan" tanya Raka kembali yang dijawab anggukan oleh adiknya, dan Raka pun mencium kening adiknya dengan rasa sayang. "Gitu dong jadi gue kan tenang mau kerjanya" kata Raka dan akhirnya dia pergi dan Raina kembali kekamarnya.
Sementara itu setelah berbicara dengan oppa nya, Rayyi pun bergegas menuju kamarnya guna membersihkan diri dan bersiap siap kerja, didalam kamar telah ada sang istri usai mandi.
"Wiih seger sekali kamu yang" kata Rayyi sambil memeluk istrinya dari belakang dan mengendus ngendus leher sang istri dan tangannya tak tinggal diam memainkan dada sang istri.
"Mass,, jangan gini" Anggi berusaha menahannya ia takut terbawa suasana karna jujur saat ini dia sudah terbawa suasana ditambah wangi keringat tubuh sang suami membuatnya tambah menginginkan. "Gimana tadi kata oppa" kata anggi mencoba mengalihkan pikirannya namun gagal karna suaranya mendayu menahan sesuatu.
Mendengar pertanyaan istrinya dengan suara seperti itu, ia tau istrinya tengah menahan hasratnya. "Sudah jangan dipikirkan yang, nanti kita bicarakan sesudah tugasmu beres" kata Rayyi dengan suara beratnya
"Baiklah,, i want you say" balas Anggia sambil berbalik badan dan ******* bibir suaminya itu.
"Kamu nakal yang" kata Raka melihat kelakukan istrinya setelah mereka melepaskan panggutan mereka.
"Kamu suka kan" anggi menjawab sambil membelai wajah tampan suaminya dan itu membuat suaminya tergoda lalu mereka pun melanjutkan kegiatan panas mereka diranjang. Keduanya saling memberi kepuasan pada pasangannya masing masing. Tanpa mereka sadari pintu kamar mereka masih terbuka walau hanya sedikit.
"Lagii maas.. aaah.. lagi lebih kuat lagii hisap nya" racau Anggia saat sang suami melahap bukit kembarnya, hal itu sangat disukai Anggia. Padahal kegiatan panas mereka telah selesai tapi seperti biasa Anggia selalu meminta suaminya melakukan itu setelah kegiatan panas mereka telah menjadi kebiasaan baginya tentu saja sang suami sangat senang.
"Kaaak.." panggil Raina dengan membuka pintu yang sedikit terbuka
"Yaa ampun.. maaf kak.. maaf" ucapnya lalu menutup pintu kamar kakaknya. Kenapa seh mereka ceroboh sekali melakukan itu tapi pintu nya ga dikunci eh malah masih kebuka dasaar mengotori mata gue aja, dan lagian itu kak Rayyi udah kaya bayi besar aja lagi nyu** iih amit amit gerutu Raina lalu kembali ke kamarnya. "Sumpah gue ga nyangka ka Rayyi yang sedingin kulkas dan galak kok bisa kaya gitu kelakuannya" tanya Raina dalam hati, saat ini dia masih terbayang apa yang dilihatnya barusan.. "sialan kok gue masih kebayang yang tadi..lupain naa..lupain" ucapnya pada diri sendiri
Lain halnya dengan pasangan yang tadi dilihat olehnya, mereka masih asyiik dengan kegiatannya, yang nampak tidak terlalu peduli
"Yang udah yuk,, tadi si adek liat?" Kata Rayyi sesaat setelah berhenti dari kegiatannya di dada sang istri
"Adek udah keluar kok yang,, dia pasti paham kok udah besar juga dia nanti aku jelasin sama dia" jawab Anggi yang rupanya enggan mengakhiri kegiatannya.
"Ayook yang lagi,, yang sebelahnya iri ini" kata nya lagi sambil mendorong kepala sang suami kearah dadanya yang lain. Mereka pun meneruskan kegiatannya.
"Kapan kamu selesaikan tugas kamu yang?" Tanya balik sang suami
"Iih barusan apa emang? Malah aku kasih bonus lebih?" Jawab Anggi kesal padahal baru saja merekq menyelesaikannya
"Yaa ampun yang, maksud mas bukan tugas itu" jawab Rayyi sambil tersenyum pada istrinya
"Lah jadi tugas apa yang? Tau gitu tadi aku ga mau" rajuk manja anggi
"Ooh jadi kamu nyesel yang udah main main tadi, tapi bukannya kamu yang ngajak duluan main ? Siapa yang bilang i want you duluan? Goda sang suami, membuat istrinya malu tak berkutik
"Jadi tugas mana yang aku belum kerjain mas?" Tanya anggi, pasalnya dia tidak tau akan tugas itu
"Ih kamu yang kamu yang kasih tugas kamu yang lupa" kata Rayyi sambil mencubit hidung sang istri, anggi hanya bisa mengaduk kesakitan
"Semalem yang kasih tugas aku ngobrol sama oppa siapa? Kasih tugas Raka minta maaf siapa? Tanya Rayyi
"Aku" jawab anggi sambil menunjuk diri sendiri
"Hmm.. jadi kamu tau tugas kamu apa sekarang yang" tanya Rayyi
"Udah mas, oke aku mau ke kamar Raina abis nganter kamu kedepan" kata Anggi
Akhirnya Rayyi pun pergi ke kantornya dan Anggi pun segera melaksanakan misi nya medekati Raina.
Tok..tok..tok
"Dek,, mbak boleh masuk gak?" Tanya Anggi
Mau apa seh mba anggi kesini mau bahas yang tadi apa kan aku ga sengaja liat salah sendiri pintunya ga dikunci bathin Raina
"Masuk.. mba ga dikunci kok cuma ditutup aja" kata Raina
Clek.. anggi pun membuka pintu setelah mendapatkan izin pemilik kamar. Ia langsung cengengesan di depan adik iparnya mengingat kejadian tadi ketika kepergok adik iparnya.
"Kenapa mbak senyum senyum gitu,, lagi happy yaa abis dapat amunisi?" Sindir Raina
"Kamu tau aja dek, enak tau makannya cepet nikah biar tau rasanya" ejek Anggi
__ADS_1
"Iih.. mbak ga malu apa udah ketauan lagi kaya gitu sekarang ngejek aku" kata Raina merajuk
"Ngapain malu orang sama suami sendiri kok" ngeles anggi.
"Tapi kan disini ada orang mbak, kunci kek pintunya"
"Itu salah kakakmu langsung nerkam mbak,, dia yang masuk kamar belakangan juga"
"Jadi mbak kesini mau bahas itu doang?" Sungut Raina
"Yaa ampun mbak lupa, kamu sih sindir sindir mbak jadi mbak lupa deh tujuan mba kesini"
"Jadi mbak mau apa ?"
"Dek,, mbak seh sebenarnya ga mau ikut campur masalah kamu sama kakak kakakmu,, mbak berusaha netral disini, mbak ngeliat kesian sama kamu tentang perjodohan dan tentang laki laki itu, sepertinya kamu lagi galau dek, mau cerita sama mbak?"
"Kata siapa aku galau mbak?" Elak Raina
"Kamu bisa bohongin 2 kakak kamu yang gak peka itu tapi sok peka tapi gak bisa sama mbak, mbak liat dari sorot mata kamu apalagi waktu kamu ceritakan tentang laki laki itu mata kamu ga bisa bohong dan ingat mbak juga wanita dek"
"Hmmm" Raina ragu untuk menceritakan perasaan yang dirasakannya tapi dia juga butuh teman untuk berbagi
Melihat reaksi Raina ia pun paham bahwa adik iparnya itu masih ragu untuk bercerita. "Gak apa apa kalau kamu masib belum mau cerita, tapi kalau butuh buat cerita mba siap dengerin dan satu yang kamu harus tau mbak gak bakal cerita sama suami mbak" kata anggi beranjak pergi.
"Mbak jangan pergi" kata Raina mencekal tangan kakak iparnya itu
"Kamu mau cerita dek?" Tanya Anggi yang direspon anggukan oleh Raina.
"Tapi mbak janji gak akan cerita dulu semua ini sama kakak kan?" Tanya Raina butuh kepastian dan dijawab anggukan pasti oleh Anggia
Akhirnya Raina pun menceritakan semuanya pada Anggi awal perkenalan dan kebencian ia terhadap Adimas, pertemuan mereka kembali di acara pernikahannya, rencana perjodohan kakeknya, pertemuan tak sengajanya dipanti yang akhirnya melibatkan mereka berdua yang diikat oleh Bintang semua ia ceritakan tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Dan Anggi hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali memperhatikan ekspresi wajah adik iparnya itu.
" jadi gitu mbak" kata Raina mengakhiri ceritanya
"Dek yang mbak tangkap kamu sepertinya menyukainya" tebak Anggi
"Aku bingung mbak, tapi kenapa mbak bisa mikir aku suka sama dia, rasa benciku lebih besar mbak?"
"Hmm.. kalau kamu benci sama dia kamu gak akan ragu buat nolak perjodohan itu tanpa pikir panjang" jawab Anggi
"Tau mba aku bingung, aku melihat dia berubah bukan Adimas yang dulu tapi aku butuh keyakinan akan hal itu" jawabnya sambil memainkan cincin dijari manisnya
"Tunggu dek, sejak kapan kamu pakai cincin?" Tanya Anggi yang baru sadar melihat cincin yang melingkar dijari sang adik
Raina buru buru menyembunyikannya, namun tak berhasil tangannya terlebih dahulu ditarik Anggi
"Cakep banget dek cincinnya"
"Hmm.. itu cincinnya Adimas dia main pakaikan ini aja di jari aku dan sekarang ga bisa lepas" jawab Raina
"Ooh begitu, sepertinya dia serius dek"
"Aku juga bingung kadang aku mikir apa aku terima aja dia jadi suamiku, mungkin lama kelamaan aku bisa suka sama dia, toh dulu juga aku suka sama dia, terus seandainya aku ga bahagia nikah sama dia seenggaknya aku bisa kasih kebahagiaan yang utuh buat bintang, jujur aku mau angkat dia kak tapi karna aku belum menikah jadi aku ga bisa angkat dia jadi anak aku"
"Dek,, nikah bukan perkara mudah semua harus dipikirin baik baik, tapi kakak rasa kamu beneran jatuh cinta sama dia dek walau kamu jatuh cinta sama dia kamu juga harus tau perasaan dia dek, jangan sampe kalian salah langkah hanya untuk menyenangkan kakek, oppa atau pun bintang itu" nasehat Anggi
"Jadi sekarang kamu yakinin perasaan kamu kedia dan perasaan dia juga ke kamu, untuk urusan kakak kakak kamu biar mbak handel biar gak ganggu kamu"
"Iyaa mbak, maksih yaa aku sedikit lega udah cerita sama mbak" kata Raina sambil memeluk kakak ipar rasa kakak kandung
"Itulah tugas mbak untuk kamu diantara 2 penyamun itu" kata Anggia menyamakan suaminya dan adik ipar laki lakinya penyamun dan keduanya pun tertawa
"Dek, sepertinya masih ada yang kamu pikirin?" Tanya Anggi melihat raut wajah Raina
"Aku mikirin Dimas kak, dari semalam wa aku ga dibales sama dia" jujur Raina
"Sibuk kali dia" jawab Anggi meyakini adiknya supaya tenang
"Mudah mudahan aja sibuk kak, aku takut dia sakit kemarin dia kehujanan baju dia basah semua lalu nganterin aku, kemarin aku liat mukanya agak pucat kak" khawatir Raina
"Dasar biar benci tapi perhatian sampe segitunya, kalau cemas telpon lah lagi "
"Sudah tapi sekarang malah gak aktiv kak"
"Telpon kantornya atau temannya" saran anggi sambil berlalu pergi
Dan Raina pun mencoba menghubungi Miko, untuk menanyakan Dimas kebetulan dia memiliki nomer miko
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
__ADS_1
Maaf yaa ada sedikit adegan 21+ nya 🔥🔥🔥