
Dont forget like ππ ya readers sayang biar author semangaat nulis nya..
πππππππππππππ
Akhirnya Raina dan Rakadia sampai ditepi kolam disamping ballroom tempat diadakannya resepsi pernikahan kakak sulung mereka,,
"Nah sekarang kamu jelasin sama aku dek,, siapa Adimas itu " tanya Rakadia to the point
Raina pun sempat terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan sang kakak, lalu ia menarik nafas panjang sebelum memulai cerita.
"Hmm.. loe ga akan marah kan kak kalau gue cerita sama loe ?" Kata yang pertama keluar dari mulut Raina, karna dia tau seperti apa kedua kakak laki lakinya itu.
"Iyaa.. liat aja nanti apa yang akan loe ceritakan dek "jawab Raka
Raina pun kesal dengan jawaban sang kakak. "Yaudah gue ga mau cerita ". Kata Raina ketus
"Yeeh luu,, malah ga jadi cerita,, ayoo cerita sekarang dan gue ga akan marah,, cepatan deh ceritaa dek" Raka kesal
"Dan loe juga janji jangan cerita sama kak Rayyi ,, minimal sampe dia balik hanymoon nya gue ga mau dia kepikiran" ungkap Raina lagi sebelum dia mulai cerita
Rakadia pun kesal,karna adiknya tidak langsung cerita malah banyak permintaan. "Iyaa.. gue ga akan bilang kakak.. cepet cerita maemuunaaah " dengus Raka
"Iyaa,, karjoo ini gue mau cerita "
π¬π¬Flashback
Ini merupakan tahun pertama ku di bangku SMA,, salah satu SMA swasta favorite di ibukota Jakarta,, sekolah ini seperti kampus pendidikan terpadu dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taman Kanak kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) juga ada dilingkungan yang sama cuma dibatasi pagar dan lapangan olahraga di tiap sekolahnya,, bahkan juga ada kampusnya tapi didaerah yang berbeda. Rata rata yang masuk disana adalah murid murid dari sekolah smp yang sama jadi aku menjadi minoritas disana karna aku dari SMPN sebelumnya untunglah ada Angga teman ku yang berasal dari sekolah yang sama. Kami yang tadinya tidak dekat sewaktu d SMP menjadi sahabat di SMA karna kondisi lingkungan minoritas tersebut.
Sewaktu di bangku SMP dulu aku anak yang suka mengikuti gaya,, anak gaul masa kini lah, seragam yang ngepass dibadan, rok yang sedikit diatas lutut, sepatu kekinian menunjang penampilan ku belum lagi wajah aku yang imut kaya boneka,, serius ini aku gak bohong teman, kulit putih, rambut panjang sebahu lurus yang selalu ku biarkan tergerai indah, mata yang sedikit bulat dan pipi chubby menambah kesan imut ku. Aku heran mengapa menjadi pusat perhatian padahal yang bergaya seperti itu tidak hanya aku hampir 70% siswi disana modis moodis. Banyak siswa laki laki yang selalu ingin mendekati aku sehingga membuatku risih menjadi pusat perhatian. Akhirnya aku putuskan di SMA aku akan menjadi pribadi yang baru jauh dari pusat perhatian aku ingin bersekolah dengan nyaman.
Dan inilah penampilanku sekarang rambut ku kepang dua, baju seragam yang longgar, rok yang dibawah lutut, sepatu sejuta umat compass, dan tak lupa kacamata tebal pendukung penyamaranku. Inilah Riana sekarang dimasa SMA dan benar saja dengan penampilan seperti itu aku disisihkan dari pergaulan sekolah, hanya angga yang mau menjadi teman sekaligus sahabatku. Dijauhi tidak membuatkud sedih malah aku merasa bahagia karna aku bisa fokus pada sekolah.
Namun masa kesenangan itu tak berlangsung lama karna gara gara dia membuat masa SMA yang penuh ketenangan berubah, siswa tengil, angkuh, jutek, dan tentu populer di sekolah mengusik ku dia adalah Adimas.
Dimulai dari keharusan kami satu kelompok belajar, berlanjut dlengan permintaan guru MIPA agar aku mau membantu Adimas dalam belajar semacam guru privat lah, karna nilai Adimas yang gak ketulungan jebloknya bukan karena dia bodoh , ku akui dia pintar hanya saja malas menyimak materi dan terlalu santai. Andai saja dia mau sedikit serius mengenai pelajaran ku yakin dia pasti bisa. Hal itu membuat kami mau tak mau harus sering berkomunikasi. Entah dari mana datangnya gosip karna kedekatan kami, santer terdengar seantereo sekolah kalau aku menyukai adimas, aku dan adimas pacaran itu gosip yang beredar. Aku berusaha cuek toh itu tidak benar, aku yakin adimas pasti akan klarifikasi keteman temannya, karna yang pasti hanya dia yang terpengaruh akan gosip itu. Aku melewati hari seperti biasa.
__ADS_1
Seminggu kemudian ku kira berita itu mereda namun makin menjadi aku jadi sasaran bully teman teman adimas terutama wanita merek ga segan mencaci maki aku karna mengejar ngejar adimas, menghina aku cewek murahan, menghina fisik k aku, bahkan bukan cuma bully melalui kata kata mereka ga segan melakukan kontak fisik seperti menyenggol ku dengan kencang, mendorong tubuh ku, menyiram dengan air, bahkan mengunci dikamar mandi, untung saja aku membawa hp jadi bisa menghubungi angga untuk membatu memngeluarkan aku dari toilet. Hanya angga sahabat yang selalu mendampingi aku saat aku menerima bullyan.
"Rain,, lu ga papa kan" kata angga sebari membantu ku membersihkan pakaian yang basah karena tumpahan jus sebelum mereka mengunci aku dikamar mandi.
"Gue ga papa kok ngga, makasih yaa udah nolongin gue dan selalu ada disaat gue butuh" ungkap ku sebari menahan air mata biar ga tumpah
Angga langsung memeluk gue dan air mata gue langsung tumpah gitu aja, "sebenarnya lu sama si Adimas ada hubungan apa seh, masa cuma gosip kaya gitu mereka sampe bar bar gitu ? Tanya angga heran
"Gue juga ga tau ngga,, sumpah gue gda hubungan apa apa sama dia. Gue cuma dimintain tolong sama bu Yulie buat bantuin Adimas belajar MIPA cuma gitu aja, gue kesian aja sama dia nilainya anjlok banget teruus bu Yulie sendiri lu tau sejak suaminya kecelakaan dia harus bagi waktu diluar jadwal ngajar ngurus suami dan anaknya yang masih batita gue kesian." Ungkap ku dan karna alesan itu aku mau menerima permohonan bu Yulie.
"Lu udah bilang sama kedua abang lu tetang hal ini Rain?"
"Please,, lu jagan lapor kakak kakak gue yaa ngga, karna gue ga cerita apapun ke mereka karna gue ga mau mereka khawatir" mohon Rain
"Gak bisa Rain lu mesti ngomong sama abang abang lu,, ini udah kelewatan tau " sewot angga yg ga terima sahabatnya di bully kaya gitu karna cuma masalah sepele.
"Please ngga,, kali ini gue mohon lu tau sendiri sifat kakak kakak gue kaya gimana, gue masih bisa urus masalah gue sendiri kalau nanti gue udah gak kuat gue bakal bilang lu juga kakak kakak gue." Mohon Riana
"Lu janji sama gue Rain kalau lu ga baik baik aja lu bilang sama gue".
"Janji πβgue" ucap Riana.
Bully demi bully an terus mereka lancarkan sama gue, sampai teman se genk Adimas pun ikut membully gue mereka bilang
"Heyy cewek aneh ngaca dong,, pantes ga lu deket deket in adimas "
" cewek cupu liat posisi lu jangan ngehalu tinggi tinggi "
Yang lebih menyakitkan ketika guru bahasa meminta tolong gue buat bantu bawa lembaran jawaban ulangan serta buku buku PR ke kantor. Di lorong sekolah mereka menjeggal kaki gue hingga buku buku serta lembaran kertas itu terjatuh berhamburan. Mereka hanya tertawa tawa menyaksikan ke susahan gue, bagi mereka itu hiburan dan gue melihat juga adimas di saat hanya tertawa melihat gue diperlakukan seperti itu dengan tangan bersedekap di dada. Sungguh jahat pikir ku
Perpustakaan adalah tempat persembunyian gue, tempat yang paling damai disekolah ini bagi gue,, hingga pada saat itu ketika gue lagi disana mendengar orang kasak kusuk berbicara awalnya gue cuek aja, namun begitu mereka menyebut nama gue disitu gue mulai memasang kuping. Hal yang paling ga gue sangka itu adalah Hilda cewek populer di sekolah ini yang ternyata cinta mati sama Adimas dan dia mengerahkan sahabat sahabatnya untuk mengkompor komporin siswa siswi lainnya tentang gue dan membully gue. Setelah gue mendengar semuanya gue mau nemuin Adimas agar dia bisa bilang ke Hilda buat stop hentiin pembullyan ini , namun harapan itu pupus ketika setiba nya di lorong tangga tempat Adimas the genk kumpul lagi lagi gue mendengar mereka ngomongin gue,,
"Bro,, lu apa ga kesian liat tuh cewek cupu di bully si Hilda" tanya yahya sahabat adimas
"So,, gue harus peduli apa" jawab adimas
__ADS_1
"Sebenarnya apa sih yang lu bilang ke
Hilda tentang tuh cewek sampe dia ngamuk gitu ?" Kali ini Dahri ikut bertanya
" gue cuma bilang ke hilda kalau si cewek cupu itu ngejar ngejar gue,, dia nembak gue,, cuma itu " jawab adimas santai. Deg hati gue seakan hancur mendengar Adimas berkata begitu sejak kapan pula gue nigejar ngejar dia, batin Raina.
"Serius lu anak cupu itu ngejar ngejar lu gue rasa ga mungkin deh,, secara dia anak baik baik" sanggah yahya
"Serah deh serah lu mau percaya apa gak "
"Tapi diluar percaya atau ga percaya dia ngejar lu,, tapi ga sepantesnya lu diem ajj liat hilda kaya gitu,, kesian tuh anak di bully,, nanti lama lama lo naksir lagi sama anak cupu " cacar yahya. Membuat semua anak anak tertawa terbuahak buahak
"Amit,, ga mungkin seorang Adimas suka sama gadis cupu yang ga jelas asal usulnya." Ucap Adimas kesal
"Maksud lu anak ga jelas apa broo " tanya dahri kepoo
"Iya ga jelas,, dia anak angkat keluarga moe,, dia sendiri pasti ga tau siapa keluarganya,, bisa jadi dia keturunan pembunuh atau orang gila" Ungkap Adimas
JEDER bagai petir disiang bolong gue mendengar perkataan jahat mereka, tak kuasa gue menahan tangis, saat akan berlari gue ga sengaja nabrak OB yang sedang menyapu sontak saja mereka melihat gue.
"Maaf paak.. maaf saya ga lihat" ucapku bergetar menahan isak tangis
"Non.. gak apa apa kenapa nangis" tanya OB itu, namun ku tak kuasa menjawab hanya lari itu yang kulakkan
"Shiiit... siaalllllll di pasti denger"umpat Adimas
Sejak saat itu entah siapa yang mulai asala usulku sebagai anak angkat dikeluarga gue tersebar seantereo sekolah. Dan membuat gue ga kuat dan memutuskan pindah sekolah. Tapi gue tetap ga menceritakan alasan pindah sekolah karena masalah karna pembullyan, kepada 2 kakak gue dan angga terutama. kematian orang tua angkat gue lah yang gue jadikan alesan, yaa karna sejak orang tua angkat gue meninggal 2 kakak gue mutusin tinggal disekolah asrama dan gue mutusin buat tinggal di rumah oppa mengingat oppa juga sendiri. Dan sejak saat itu gue jgga pernah ketemu Adimas lagi hingga hari ini gue kembali di pertemukan.
π¬π¬flashback off
.
.
Jangan lupa dukung author yaa.. kasih bunga dan like nya...
__ADS_1
.
Biar semangat nulisnyA