
Terima kasih masih setia dengan karya author..
.
Selamaat membaca semua 😘😘
.
.
Jangan lupa like yaa..
🍁🍁🍁🍁
Sekarang mereka semua berkumpul diruangan kakek Gilang dirawat, ruang VVIP dengan kamar gang luas dan nyaman sengaja di pilih Dimas guna kenyamanan kakeknya juga keluarganya yang nanti menunggui kakeknya.
"Apa sudah sadar sus papah saya?" Tanya pak Ardi pada suster yang sedang memasang infus pada pasiennya.
"Sudah pak, silahkan sudah bisa dikunjungi pak, jangan terlalu bayak diajak bicara ya pak, biarkan pasien istirahat" pesan suster lalu beranjak pergi setelah memastikan semuanya aman.
"Baik sus, terima kasih banyak" ucap pak Ardi.
Tak lama mata kakek Gilang terbuka dan melihat sekelilingnya lalu ia menatap dalam kearah putra semata wayangnya lalu tersenyum.
"Kamu ada disini nak?" Tanya kakek Gilang pada putranya
"Iya pah, aku dan sandra kemarin baru tiba,, papah gimana keadaannya ?" Tanya Ardi
"Aku baik baik saja, maafkan telah merepotkan kalian dengan keadaan ku" ungkap kakek.
"Apa seh yang papah katakan siapa yang merasa direpotkan, kami sungguh yang merasa bersalah karna abai mengurus papah" jawab Ardi
"Sudah lah nak tak usah dibahas,, toh aku masih hidup" ucap kakek
Tak lama kemudian menyusul lah oppa Waluyo, Adimas, Sandra, Raina juga Anggi ke dalam ruangan.
"Pah maafkan kami yaa baru tau keadaan papah " tanya Sandra dengan wajah sedih
"Sudah lah aku tidak apa apa jangan kau cemaskan".
"Hai luyo ada kau disini,, rupanya aku membuat kalian cemas yaa" tanya pada sahabatnya
"Iyaa kau membuat kami semua panik, tak pantas orang seperti mu terbaring disini" ucap oppa
"Itu benar luyo, kau memang sahabatku yang mengerti aku, aku memang tak pantas berbaring disini kita seharusnya tea time di cafee" ujar kakek sambil tertawa terbahak bahak,
__ADS_1
"Sudah kek,, jangan terlalu bayak tertawa,, kakek baru saja melewati masa kritis" ujar Adimas
"Yaa yang dikatakan cucu benar Gilang, kau jangan terlalu banyak tingkah dulu dan ingat penyakit dan umur mu" ucap oppa.
"Kau benar luyo,, kita sudah tak muda lagi ditambah aku sudah seperti ini, kurasa umur ku juga tak lama lagi" ucap kakek
"Papah apa yang kau katakan,, kau akan sehat dan kami akan membawa mu berobat kesingapura agar kau tetap terus bersama kami,, iya kan mas?" Seru Sandra pada suaminya dan diangguki oleh suaminya.
"Kau tak mau kemana mana aku ingin selalu dekat dengan mendiang istriku makanya aku memilih pucak" ucap kakek
"Aku hanya mengharapkan disisa umur ku aku melihat cucu ku menikah karna ia salah satu keturunan ku" harap kakek lirih.
"Ayoo lah kek apa yang kau pikirkan, sekarang pikirkan saja kesehatanmu dulu" ucap Dimas
"sepertinya permintaan ku sungguh berat yaa,, maaf aku nak" ucap kakek lirih
"Tidak pah,, permintaan mu tak berat,, aku juga setuju pah dengan keinginanmu,, bukan hanya papah yang menginginkannya aku dan mas Ardi juga,, ia kan mas?" Ucap Sandra kepada suaminya
"Benar pah, yang diucapkan sandra lagi pula umur kami juga sudah tua pah,, dan mungkin bisa saja kami yang menghadap Allah terlebih dahulu" ucap Ardi mendramatisir,, yang membuat anaknya semakin kesal dan terpojok sedangkan oppa Waluyo hanya memperhatikan tingkah mereka karna ia tau persis gimana keluarga mereka jika ada mau terutama Gilang.
"Ayoolah mah pah kenapa kalian ikut ikutan" geram Adimas
"Kamu seharusnya mulai memikirkan masa depan kamu nak, kamu ini sudah tua" umpat samg papah yang membuat dirinya geram, masa dibilang tua orang gue masih 28 tahun juga. Batinnya
Semua mata memandang tatapan Adimas tertuju pada siapa, dan mereka mengetahui hal itu, namun tidak dengan Raina.
"Tunggu apa lagi kamu bukankah cincin keluarga kita saja sudah berpindah tangan" ucap sang mama sebari menatap jari Raina membuat semua orang mengikuti arah pandang sandra semua terkejut kecuali Ardi dan Anggi yang memang sudah melihatny terutama Anggi telah mengetahui asal muasal kenapa bisa cincin itu ada dijari adik iparnya.
Deg.. jantung Raina berdegup kencang melihat semua orang memandanginya.
"Maaf itu tidak seperti yang kalian fikirkan" ucap Raina
"Memang apa yang kami fikirkan nak?" Tanya sandra lembut
"Tentang ini" jawab Raina menunjukan jarinya.
"Dimas tidak sengaja memakaikannya dijari saya, dan ketika saya hendak lepas sangat sulit" jelas Raina
" kamu fikir kami percaya jika Dimas memakaikan itu dengan tidak sengaja nak, karna Dimas tidak akan mungkin dan tidak pernah melepaskan cincin itu sembarangan" ujar Sandra
"Apa benar kamu becanda Dim?" Tanya kakek
Dimas pun panik,, ia bingung harus berkata apa sebenarnya ia tidak becanda akan hal itu dia sungguh sungguh ingin melamar Raina tapi ia tau gadis itu masih membencinya.
"Jawab Dimas apa yang kakek mu tanyakan" kali ini Ardi bersuara
__ADS_1
Dimas pun menghela nafar panjang sepertinya dia harus jujur batinnya. "Aku...aku.." ia ragu ragu berkata
"Aku apa Dimas!! Yang jelas kalau bicara kamu lelaki atau bukan" sandra kesal melihat tingkah anaknya
"Iyaa aku katakan sebenarnya aku tidak pernah becanda akan hal itu.. aku memberikan cincin itu karna ketika kita berdua eh salah bertiga dengan sahabatnya Raina membahas tentang pertunangan itu, Raina menyangkalnya karna dia bilang kalau tunangan itu harusnya ada cincin,, jadi aku memakaikannya cincin itu,, aku serius dengannya entah kapan aku sudah menyukainya tapi dia masih membenci Dimas" ungkap Dimas frustasi
"Kapan kamu melamarku,, aku tidak merasa pernah ada yang melamar,, iya kan mbak,, iyaa kan oppa?" Sangkal Raina yang dibenarkan oleh oppa dan Anggi
"Itu kata kakek kamu tunangan aku?" Ucap Dimas tak mau kalah
"Kenapa kamu menyalahkan kakek Dim?" Ucap kakek
" kan kakek yang bilang Raina tunangan aku"
"Aku hanya ingin menjodohkan kalian itu baru rencana ku,, ternyata kau beneran jatuh cinta munafik kamu kemarin kemarin gak mau sama dia" ucap kakek menggoda cucunya
"Jadi ini bagaimana?" Tanya Dimas
" yaa terserah Raina mau nya gimana,, kakek memang sangat menginginkan di menjadi cucu mantu kakek dan rencana kakek dulu yang sempat gagal bisa diteruskan,, tapi semua terserah pada kalian aku tak mau memaksa"
"Tapi aku menginginkan dia menjadi mantu ku pah,, lagian sepertinya mendiang bunda pun menyetujuinya buktinya cincin itu tak bisa terlepas" ungkap sandra
"Jadi gimana Raina maukah kamu jadi menantu dikeluarga kami" kali ini Ardi yang bersuara
"Maaf sebelumnya kakek, om juga tante aku tidak bisa menerima tau pun menolak,, jika Dimas serius maka dia harus mengenemui kedua kakak ku untuk meminta izin dari mereka baru setelah itu maminta izin oppa" jelas Raina
"Kamu udah gak benci aku lagi Ra?" Tanya Dimas
"Kamu yakin mau nemuin kedua kakak ku?" Raina mengalihkan pertanyaan
"Yakin,, asal kamu mau menunggu aku berjuang" ungkap Dimas
"Buktikan" ucap Raina.
"Jangan senang dulu dim,, kamu belum tau siapa suami ku dan Raka seperti apa mereka,, saranku siapkan mental mu" saran Anggi
Karna hari sudah sore akhirnya mereka pamit untuk pulang, sementara itu dikamar tinggallah keluarga Dirgantara
"Kamu jangan kecewakan lagi Raina Dim,, ia anak yang baik" pesan kakek
"Benar itu mama mau dia jadi mantu mama berjuang lah"
.
.
__ADS_1