Jodoh Pilihan Kakek Itu Musuh Ku

Jodoh Pilihan Kakek Itu Musuh Ku
Bab. 58


__ADS_3

maaf guys di bab 57 ada sedikit revisi,, karna menurut author kurang gereget dan baru dapat inspirasi yang lebih oke..


🌸🌸🌸🌸


"Rainaa Prameswari Moe" panggilnya. Dan gadis yang dipanggilnya pun segera menoleh dan dilihatnya dimas didepannya dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi " dii... dimas" ucap Raina kelu


"akhirnya kamu muncul juga",, Dimas berdiri disebelah mobilnya dengan kedua tangan dijejal ke dalam saku celana. Ia menarik napas panjang sebelum berkata "ponselmu kenapa mati? "


"baterai ku habis",, sahut Raina cepat dan datar. Ia bertanya tanya apakah dimas melihatnya diantar pulang oleh Revano tadi.


Dimas menatap Raina sejenak,, lalu melangkah mendekatinya "aku mencarimu kemana mana" katanya.


Raina hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan acuh " ooh aku sedang bersama... "


"bersama pria yang baru saja mengantarmu tadi dan pria yang sama yang menemui mu di cafe milikmu,, yaa aku bisa lihat itu" sela dimas dingin. Ia menghalihkan tatapannya dari Raina dan Raina melihat rahang Dimas mengeras dan tangannya mengepal dari dalam saku celana. Sepertinya Dimas marah,, batinnya


Raina membuka mulut,, "akuu... "


"kamu bersenang senang bersamanya sementara kami semua sibuk mencarimu dan berusaha setengah mati mencari keberadaanmu" sela Dimas sekali lagi. Ia menghembuskan napas panjang dan menggeleng. "tapi itu tak penting lagi karna kau telah kembali. Sebaiknya ikut aku sekarang" perintah Dimas.


Raina mengerutkan kening karna heran " ikut denganmu?? Kenapa harus ikut??. " dan siapa yang kamu maksud dengan kami semua? " tanyanya.


" kakak kakak mu mereka semua juga sedang mencari mu,, " sahut Dimas sambil berjalan kearah mobil Miko yang ia pinjam. Lalu ia membuka pintu penumpang dan memberi isyarat agar Raina segera masuk. "aku akan mengantarmu bertemu mereka".


Kegelisahan mendadak menyelimuti Raina. "ada apa mereka mencariku?? Apa yang terjadi dim?? " tanyanya sambil berjalan kearah Dimas.


Raina melihat raut wajah Dimas melembut saat itu,, begitu pula suaranya tak lagi nampak kekesalan ketika ia berkata " oppa berada di rumah sakit". Jawab Dimas pelan.


Kini mereka sedang menuju ke rumah sakit tempat oppa dirawat. Dimas mengalihkan pandangan dari jalan raya dan melirik ke arah Raina yang duduk disampingnya. Wajah Raina sangat pucat dan gelisah. "jika kamu cemas dengan keadaan oppa telepon saja salah satu kakakmu? " ujar Dimas.


"tapi ponsel ku mati" ucap Raina lirih sambil menunjukkan ponselnya yang mati kepada Dimas.

__ADS_1


Dimas pun segera merogoh sakunya dan memberikan ponselnya kepada Raina " gunakan ponsel mu,, ada nomer Raka dikontak panggilan terakhir" ucapnya datar dengan terus menatap jalan raya.


Dengan ragu Raina pun menerima ponsel itu, " hmm,, ini ponselnya di password" ucapnya ketika melihat ponsel dimas terkunci dan harus memasukkan password. "tanggal lahir mu" ucap dimas datar namun berbeda dengan Raina ia terkejut dengan jawaban pria disampingnya " tanggal lahir ku" tanya lagi guna memastikan. Dan dimas hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya. Dan Raina pun memasukkan tanggal lahirnya dan benar saja ponsel itu terbuka,, ia pun menatap Dimas dengan penuh pertanyaan. Dimas yang menyadari dirinya di tatap pun segera berkata " tak perlu heran begitu. Cepatlah hubungi kakakmu" ucapnya.


"gimana kata Raka" tanya Dimas setelah Raina selesai berbicara pada Raka. Raina pun menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan berat " keadaan oppa masih koma" ujarnya lirih. " kita berdoa saja semoga oppa cepat sadar" ucap dimas.


Dimas memperhatikan kembali Raina wajahnya semakin pucat dan sekujur tubuhnya tegang dia mencengkram erat ponsel Dimas yang tadi dipinjamnya sementara ia mengigiti kuku jari tangan yang lainnya. Dimas merasa ia harus menghentikkan aksi Raina karan ia takut gadis itu melukai jarinya dengan menggigit jari hingga berdarah.


"berhentilah menggigit kuku mu" gumam Dimas sambil kembali menatap jalan raya di depan.


Raina tak menunjukkan tanda tanda ia mendengar perkataan dimas. Dimas melirik Raina kembali,, lalu mengulurkan tangannya meraih tangan gadis itu,, menjauhkannya dari bibir gadis itu dan saat itulah Raina tersadar dan menoleh kearah dimas.


"jari mu bisa terluka" ucap dimas lembut dengan masih menggenggam tangan Raina dan enggan melepaskannya. Ia kembali menatap lurus ke depan,, " jangan khawatir oppa mu pasti akan baik baik saja,, ia punya cucu seorang dokter hebat,, percayakan semuanya pada Raka ia tahu apa yang harus ia lakukan".


Raina menelan ludah "semestinya aku tak lupa mengecas baterai ponsel ku" lirihnya


Dimas meremas tangan Raina memberinya keyakinan dan kekuatan " percayalah oppa mu akan baik baik saja".


🌸🌸🌸🌸


RUMAH SAKIT


Tiba di rumah sakit,, Raina segera menghambur kearah kakak kakaknya karna saat itu Rayyi dan istrinya Anggia sedang ada di depan ruang rawat oppa mereka. Raina memeluk Rayyi dengan begitu erat dan tak lupa terus menerus meminta maaf akan tindakkannya. Kemudian mereka mengajak Raina memasuki tempat oppa mereka di rawat disana sudah ada Raka yang memantau kondisi oppa. Dimas tidak ikut masuk,, ia bukan keluarga lebih tepatnya belum secara resmi menjadi bagian keluarga. Jadi ia memilih menunggu dan duduk di kursi ruang tunggu di depan kamar rawat oppa. Belum lama ia mendaratkan bokongnya di kursi,, Anggia menghampirinya.


"terima kasih banyak dim telah menemukan dan mengantar Raina kesini? " ucap Anggi. Ia menggerakkan kepala kearah pintu kamar rawat oppa " apa kamu mau masuk dim? " tawar Anggi.


Dimas menggeleng "mungkin nanti mbak,, sekarang adalah waktu untuk keluarga,, saya menunggu disini saja" jawab dimas.


Anggi tersenyum dan berkata " baiklah,, akan kukatakan pada Raina bahwa kamu menunggunya". Lalu bangkit dari bangku dan menuju kamar oppa.


Dua puluh menit kemudian,, pintu kamar rawat oppa waluyo terbuka. Dimas mengangkat wajah dari majalah yang sedang ia baca dan melihat Raina dengan mata sembab keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"bagaimana keadaan oppa? "tanya dimas setelah Raina menghampirinya dan duduk disampingnya.


Raina mendesah perlahan dan duduk dikursi disamping dimas. "masih belum sadar" sahutnya lirih.


"berdoa lah aku yakin oppa akan segera sadar".ucap dimas. "lalu bagaimana keadaanmu? "


"sedikit lega" jawabnya sambil menghembuskan napas. "dan menyesal mengapa aku tidak datang lebih awal dan menemani oppa disaat kritisnya".


"maafkan aku" ucap dimas. Dimas merasa Raina menghindar saat ini karena ia merasa kesal melihat dirinya bersama salsa.


Raina menoleh dan menatap dimas dengan alis terangkat " bukan salah kamu dim".


Dan dimas tak berkata apa apa lagi.


"oh yaa terima kasih telah mencari ku dan mengantarkan ku sampai sini" ucap Raina sambil tersenyum "aku akan pulang nanti bersama kak Raka karena nanti malam kak Rayyi dan mbak Anggi yang akan menjaga oppa,, jadi kamu bisa pulang dim".


"ooh baiklah" ucap Dimas bangkit dari kursinya namun ia kembali duduk membuat Raina kaget melihatnya.


"ada apalagi dim? " tanya Raina penasaran


"aku lupa memberitahu mu,, sekolah SMA kita akan mengadakan reuni akhir bulan ini,, apa kau akan datang?? Ku pikir panitianya telah mengirimkan undangan ke emailmu" ujar Dimas


"iyaa aku telah mendapatkan undangan itu,, sepertinya aku tak akan hadir" jawab Raina


"mengapa?? Kamu bisa datang bareng aku?? "


"untuk apa aku datang untuk mengolok olok ku lagi,, lagi pula aku tidak sampai lulus disana" jawab Raina. Memdengar jawaban Raina,, hati dimas sangat sakit ia menyadari yang membuat gadis itu diolol olok adalah dirinya ia sangat merasa bersalah.


"maafkan aku" ucapnya


"sudah lah itu sudah terjadi,, sudah sana kamu pulang saja" ucap Raina.

__ADS_1


__ADS_2