Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 10 Izinkan Aku Mencintainya Bu...!


__ADS_3

Rasa penasaran Aurora semakin menjadi, kala ibunya mengatakan hal itu padanya.


"Kenapa ibu berkata seperti itu bu? apa aku tidak pantas sekedar memiliki perasaan saja?" tanya Aurora heran.


"Ibu tidak mengatakan kamu pantas atau tidak, hanya ibu khawatir saat kamu memiliki perasaan padanya maka suatu saat kamu juga ingin memilikinya," ungkap sang ibu dengan keyakinannya.


"Apa akan jadi masalah apabila nanti aku benar-benar ingin memilikinya?" lagi-lagi Aurora mencecar ibunya dengan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Bukan seperti itu nak, ibu hanya tidak ingin kamu merasakan sakit, kita berbeda dengan mereka dan kamu mengerti itu," ucap sang ibu menjelaskan.


"Baik bu, Aurora mengerti dan Aurora akan pendam saja perasaan ini," ucap Aurora yang berlalu meninggalkan ibunya dan masuk ke kamar.


"Kenapa hidupku seperti ini, apa aku serendah itu hingga tak pantas memiliki rasa pada Kevin?" gumam Aurora dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


Ketika Aurora hanyut dalam kesedihannya, Nova masuk ke kamar dan bertanya padanya.


"Kakak kenapa?" tanyanya singkat.


"Kamu gak perlu tahu, keluar Nov....!" pinta Aurora pada Nova yang baru saja masuk.


"Aku memang mau keluar kok, gak perlu kakak repot-repot usir aku..!" sahut Nova dan berlalu pergi.


Rupanya Nova masih menyimpan kemarahan pada kakaknya setelah kepergian ayahnya saat itu. Ia menyalahkan Aurora karena telah mengusir sang ayah dari rumahnya.


Lelahnya tangisan malam itu membuat Aurora terlelap dalam tidurnya. Tampak ibu membuka pintu dan mengintip dari celahnya.


"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu Ra, jadi ibu ingin menjaga dan melindungi kamu sebisa ibu," tatapan ibu lirih pada putri sulungnya yang sudah terlelap.


"Ibu sedang apa?" tanya Bintang, adik kedua Aurora.


"Ibu sedang memastikan kalau kakakmu sudah beristirahat di kamarnya, sudah sana tidur!" ucap ibu pada putri ketiganya.


Ibu pun kembali ke kamarnya, menemani putra bungsunya untuk tidur.


Malam berganti pagi, suara adzan kala itu terdengar sayup-sayup dan merdu di telinga. Aurora kemudian bangun dari tidurnya, matanya terasa membengkak hingga ia berdiri di depan cermin untuk melihat keadaan matanya.


"Duh..., bagaimana ini? mataku jadi bengkak karena menangis semalam," ucap Aurora sambil memegangi kelopak matanya yang membengkak.

__ADS_1


"Kenapa Ra, matamu bengkak ya?" tanya ibu yang masuk ke kamar dan mendekati Aurora.


"Iya bu, bagaimana ya? aku gak mungkin bekerja dengan keadaan mataku yang seperti ini!" ucap Aurora yang terlihat bingung.


"Kamu segera mandi dan shalat dulu, sementara ibu akan siapkan air untuk mengompres matamu," ucap ibu.


Setelah Aurora mandi dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, ia duduk di ruang tengah sambil menunggu sang ibu yang akan membawakan air dingin untuk mengompres kedua matanya.


"Sini ibu kompres dulu ," ucap ibu sambil membawa sebuah wadah yang sudah diisi air.


Tangan lembut ibu yang sedang mengompres kedua mata Aurora begitu menenangkan, ia rindu diperlakukan dengan manja oleh sang ibu, terakhir kali ia merasakannya saat sakit beberapa waktu lalu. Ibu yang sibuk membantu mencari nafkah untuk Aurora dan ketiga adiknya hampir tak memiliki waktu untuk sekedar bercengkrama dan bersenda gurau bersama.


"Sudah selesai ibu kompres, tapi tunggu beberapa saat ya hingga matamu benar-benar mengempis," ucap ibu pada Aurora yang masih memegangi kedua matanya dengan kain basah.


Ibu kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keempat buah hatinya. Kegiatan rutin yang ia lakukan sebelum pergi untuk bekerja.


Tok... tok... tok


Suara ketukan pintu depan rumah Aurora terdengar.


"Iya, tunggu sebentar! siapa ya sepagi ini sudah bertamu?" tanya ibu penasaran, ia bergegas menuju pintu depan dan membukanya.


"Saya ganggu ibu ya?" tanya Kevin dengan malu-malu.


"Enggak kok, ibu cuma kaget aja lihat mas Kevin datang ke sini, ada apa ya mas? ibu jadi penasaran sampai mas Kevin datang begini," tanya ibu yang masih kaget dengan kedatangan Kevin.


"Gak ada apa-apa bu, saya cuma mau jemput Aurora! saya dengar Aurora bekerja di toko kue yang searah dengan perjalanan saya ke kantor jadi saya berniat mengajaknya berangkat bersama," jelas Kevin panjang lebar pada ibu.


"Oh begitu ya, ibu pikir ada hal apa sampai mas Kevin harus sampai datang kesini, tapi apa tidak akan apa-apa kalau mas Kevin mengajak Aurora pergi bersama?" tanya ibu pada Kevin.


"Justru saya ingin meminta izin ibu untuk mengajak Aurora," senyum Kevin pada ibu.


"Ibu takut nanti mama mas Kevin marah karena tahu masalah ini," ucap ibu khawatir.


"Itu akan menjadi urusan Kevin dengan mama bu, Kevin hanya meminta izin ibu saja untuk menjemput Aurora," jelas Kevin dengan halus dan sopan saat berbicara pada ibu.


"Siapa bu?" teriak Aurora dari ruang tengah dan berjalan ke arah depan.

__ADS_1


"Lho..., kamu!" ucap Aurora terkejut pada pandangan di hadapannya, seseorang yang menjadi alasannya menangis malam tadi.


Ia terus menatap Kevin dengan wajah merona, senyumnya menjawab perasaannya pagi itu. Sang ibu yang melihat senyuman kecil pada wajah putrinya, tak kuasa untuk menolak permintaan Kevin dan merusak harapan putrinya.


"Iya..., ibu izinkan kalian berangkat bersama!" ucap ibu dengan hati yang masih bimbang.


Keputusannya seolah tak rela dengan apa yang ada di hatinya. Ia tak ingin putri sulungnya dekat, apalagi hingga menjalin hubungan dengan orang yang jelas berbeda kelas kehidupannya.


"Terima kasih ya bu," bisik Aurora pada telinga sang ibu.


Kegembiraannya begitu terpancar dari wajah cantiknya, ia kemudian bergegas mengganti pakaian dan memasukan bekal yang telah ibu siapkan.


"Masuk dulu mas Kevin," ajak ibu pada putra dari majikannya itu.


"Gak usah bu, aku sudah siap berangkat kok!" sela Aurora pada ajakan ibu terhadap Kevin.


"Ya sudah bu, kami pamit dulu," ucap Kevin yang kemudian mencium tangan ibu Aurora dan disusul oleh Aurora.


"Aku pamit ya bu, Assalamualaikum," Aurora berpamitan dan berjalan melangkah keluar dari rumahnya.


Ibu berdiri di tengah pintu dan memperhatikan mereka berdua, asanya begitu tinggi pada putri sulungnya namun hatinya seperti menolak untuk mengizinkannya.


"Ibu bisa apa untuk kebahagiaanmu Ra? ibu tidak akan melarangmu untuk jatuh cinta, ibu hanya takut kamu jatuh cinta dengan orang yang salah," gumam ibu sambil memperhatikan Aurora dan Kevin yang semakin berlalu dari pandangannya, sementara Aurora sibuk merajut kembali hatinya yang telah terkoyak semalam.


Langkah kakinya hari itu terasa penuh makna, ini kali pertamanya ia merasakan jatuh cinta pada seorang pria. Pria tampan nan rupawan yang sudah merebut hatinya.


Bersambung........


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Perjalanan cinta tidak selalu berjalan mulus, kadang jalan yang terjal dan berbatu akan mengingatkan mereka bahwa perpisahan tidak akan mudah menggoyahkan pengorbanan mereka yang sudah lalu


🍂🍂🍂🍂


Semangat selalu readers, jangan lupa favoritkan karya ini menjadi salah satu novel kesayangan kalian ya. Mohon dukunganya juga agar Author selalu semangat dalam melanjutkan karya ini.

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2