Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 21 Hari Terakhir Bekerja


__ADS_3

Setelah menikmati menu makanan yang mereka pesan, Aurora dan Arka akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Mereka telah sepakat untuk saling membantu satu sama lain.


"Kayanya aku harus pulang sekarang! aku gak mau ibu khawatir karena aku pulang larut," ucap Aurora dan terbangun dari duduknya.


"Sebenarnya aku ada perlu sih, tapi kalau kamu mau aku bisa antar kamu pulang!" tegas Arka.


"Gak perlu kok! aku bisa naik angkutan umum dari sini," tolak Aurora pada tawaran Arka.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Arka dengan berat hati.


Aurora kemudian menjinjing tasnya dan pergi dari cafe itu, meninggalkan Arka seorang diri. Tak lama Aurora pergi, Arka berlari dan menuju parkiran. Ia naik dan mulai menyalakan vespa tuanya itu.


Pandangan Arka meliar, mencari keberadaan Aurora malam itu. Setelah ia berusaha mencari, tampak dari kejauhan Aurora sedang berdiri menanti angkutan umum yang melintas, namun karena hari sudah larut, Aurora sulit mendapatkan kendaraan yang ia tunggu.


"Hei ... ayo cepat naik!" ajak Arka dengan nada memaksa.


"Gak perlu, aku mau tunggu angkot saja," tolak Aurora kembali.


Arka yang tak sabar dengan sikap Aurora padanya, ia bergegas turun dari vespanya dan menarik lengan Aurora.


"Ayo cepat naik," paksa Arka pada Aurora.


"Arka ... lepasin tanganku, kamu mau macam-macam ya!" ucap Aurora yang sempat berpikiran negatif saat Arka terus saja memaksanya untuk ikut bersamanya.


"Macam-macam? sama gadis aneh begini?" ledek Arka memiringkan bibirnya.


"Maksud kamu?" tanya Aurora mengerutkan dahinya.


"Coba saja kamu pikir, mana ada gadis yang keluar tiba-tiba dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk seperti itu!" ucap Arka mengingat kejadian di rumah Aurora.


"Arka ... kamu gak berpikiran macam-macam kan setelah hari itu?" tanya Aurora penasaran.


"Gak usah banyak tanya! cepat naik dan pegang yang erat," ucap Arka sambil menghidupkan kembali vespanya.


Sepanjang perjalanan Aurora dan Arka tak banyak berbicara. Arka sibuk dengan perasaannya yang semakin menggelora pada Aurora, sementara pikiran Aurora hanya tertuju pada keluarganya.


"Kita sampai!" ucap Arka menghentikan vespanya.


"Kamu mau kemana? kok ikut turun?" tanya Aurora heran.


"Aku mau ketemu sama ibu dulu, untuk mastiin kalau aku benar-benar antar kamu sampai rumah dengan baik," ungkap Arka.

__ADS_1


"Terserahlah," ucap Aurora berlalu dan berjalan mendahului Arka.


"Assalamualaikum ... " ucap salam Aurora dengan membuka pintu perlahan.


"Waalaikumsalam ... kamu sudah pulang Ra, di antar sama pak Arka?" tanya ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.


Belum sempat Aurora menjawab pertanyaan ibu, terdengar salam dari Arka.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk pak!" ajak ibu pada Arka.


"Terima kasih bu, tapi ini sudah larut! rasanya tak enak apabila para tetangga melihat saya malam-malam begini berkunjung dan masuk ke rumah ibu," ucap Arka menolak halus ajakan ibu.


"Iya ... pak Arka betul! khawatir nanti jadi fitnah," timpal ibu.


"Oh iya bu ... ibu bisa panggil saya dengan panggilan Arka saja," ucap Arka pada ibu.


"Oh baik kalau begitu nak Arka," sahut ibu dengan senyumnya.


"Saya pamit sekarang bu!" ucap Arka sambil mencium tangan ibu.


"Hati-hati ya nak!" pesan ibu sebelum Arka berjalan pulang.


"Masya Allah ... Arka benar-benar pemuda yang baik, aku tidak khawatir saat Aurora pergi bersamanya, andai saja dia ..." gumam ibu memperhatikan Arka yang berjalan meninggalkan rumahnya, namun lamunannya dikejutkan oleh putri sulungnya itu.


"Ibu rasa ibu tidak perlu lagi berdebat denganmu masalah ini, karena ibu yakin kamu akan tetap mempertahankan pandanganmu tentang Kevin pada ibu!" jelas ibu berlalu pergi dan kembali masuk ke kamarnya.


"Haah ... andai saja ibu bisa menerima Kevin seperti ibu bisa melakukannya pada Arka," ucap Aurora sambil menghela nafasnya.


Aurora kemudian masuk ke kamarnya dan beristirahat, ia tak ingin datang terlambat di hari terakhirnya bekerja.


"Bu ... aku berangkat ya," pamit Aurora pada ibunya.


"Kamu enggak sarapan dulu Ra? tanya ibu menghampiri Aurora.


"Nanti saja ya bu, aku takut terlambat sampai toko!" jawab Aurora sambil mengenakan sepatunya. Ia berlari tanpa memperdulikan ibu yang telah menyiapkan sarapan untuknya.


"Kenapa dia terburu-buru begitu ya, ga biasa-biasanya dia pergi sepagi ini!" gumam ibu dalam hati.


Pagi itu Aurora tiba lebih dulu di tempat kerjanya, ia memperhatikan area penjualan yang biasa ia tempati saat merapikan kue-kue yang siap di jual.


"Entah aku harus cari pekerjaan dimana lagi setelah aku benar-benar berhenti dari sini!" gumam Aurora memperhatikan sekeliling tokonya.

__ADS_1


Tak lama, Lani dan beberapa karyawan lainnya juga tiba, termasuk supervisornya. Ia membawa beberapa berkas dan amplop coklat yang biasa ia bawa setelah menarik uang untuk keperluan penggajian karyawan.


Hingga terik matahari sudah berada tepat di atas kepala, Aurora dan rekan-rekannya masih berjibaku dengan pekerjaan dan pelanggan mereka.


"Ra ... kamu di panggil pak Ihsan di ruangannya!" ucap salah seorang rekan kerja Aurora.


Aurora pun kemudian masuk ke ruangan yang di maksud. Tampak Lani tengah duduk menghadap supervisornya.


"Kemari Aurora!" panggil supervisornya. Ia pun duduk di samping Lani siang itu.


"Ini gajimu bulan terakhir," ucap supervisor sambil menyodorkan sebuah amplop besar berwarna putih.


"Hari ini adalah hari terakhir kalian bekerja, jadi mulai besok kalian sudah bukan karyawan toko kue ini lagi!" ucap supervisor memperhatikan Aurora dan Lani yang saling terdiam.


"Kelak semoga kalian berdua mendapatkan pekerjaan lebih baik di luar sana," tutur kembali supervisor pada Aurora dan Lani.


"Baik pak, terima kasih untuk semuanya," sahut Aurora sebelum supervisor pergi dari ruangan itu.


"Baik, lanjutkan pekerjaan kalian hingga sore ini!" ucap supervisor lalu bergegas keluar dari ruangan, hanya tersisa Aurora dan Lani seorang.


"Lan ... ini uang yang pernah aku pinjam padamu beberapa waktu yang lalu!" ucap Aurora menyodorkan 2 helai pecahan seratus ribu rupiah.


"Gak perlu! kamu simpan saja uang itu, aku yakin kamu lebih membutuhkannya nanti," tolak Lani sambil memalingkan wajah dari Aurora.


Aurora terenyuh saat mendengar ucapan Lani yang menolak uang pemberiannya tersebut. Ia tersenyum ke arah Lani dan air matanya mulai membendung.


"Oh iya Ra, kamu gak perlu lagi cari-cari ayah yang kini sudah bahagia dengan keluarga barunya, anggap saja uang itu sebagai imbalan atas kesediaanmu untuk merelakan ayahmu!!" jelas Lani menatap sinis pada Aurora.


Seketika wajah Aurora berubah, ia kesal dengan pernyataan Lani padanya. Kini tak ada lagi sahabat baik yang ia kenal dulu, hanya tersisa dendam dan amarah yang terus membara.


"Simpan saja uang recehmu ini! aku gak butuh sama sekali," ucap Aurora sambil melempar uang tersebut pada Wajah Lani. Ia keluar dari ruangan itu dan menuju toilet.


Bersambung ...


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Angin selalu menempa pohon yang lebih tinggi, namun hanya pohon dengan akar yang kuat yang mampu bertahan. Pun sama halnya dengan manusia, hanya orang-orang dengan iman dan keyakinan kuat, yang akan mampu melewati badai kehidupan yang datang.


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2