Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 33 Menjemput Aurora


__ADS_3

............


Aurora seketika bingung saat mendengar Arka memberikan ponselnya pada mamanya


"Assalamualaikum, apa kabar nak?" tanya mama Arka dengan suara lembut.


"Waalaikumsalam ma, alhamdulillah Aurora baik ma! mama apa kabar?" tanya Aurora kembali.


"Mama juga alhamdulillah sehat! Aurora kapan mau main ke rumah lagi? mama ingin sekali bisa mengobrol banyak dengan kamu, soalnya Arka juga sering keluar rumah jadi mama di rumah selalu kesepian," ungkap mama Arka dengan suara memelas.


"Arka sering keluar rumah ma? untuk apa dia meninggalkan mama sendiri di rumah! apa tidak bisa dia di rumah saja menemani mama dari pada harus keluyuran seperti itu," gerutu Aurora dalam teleponnya.


"Gak apa-apa Ra, mama mengerti kok! mungkin dia juga bosan di rumah terus seperti ini," ucap mama membela putranya.


"Tapi kan ma, harusnya dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mama! nanti aku coba bicara dengan Arka ya ma, aku akan sempatkan main ke rumah mama besok siang untuk bicara dengannya," ucap Aurora dengan suara yang terdengar sedikit kesal.


Arka dan mamanya hanya saling pandang dan tersenyum saat mendengar Aurora mengatakan itu.


"Iya, mama tunggu kamu besok!" ucap mama sebelum menutup teleponnya.


"Assalamualaikum," ucap salam mama pada Aurora.


"Waalaikumsalam ma," sahut Aurora kemudian.


Ibu Aurora yang mendengar percakapan putri sulungnya itu, mendengarkan dari balik lemari yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan dapurnya.


Sesekali ia tersenyum kala Aurora memanggil seseorang dalam teleponnya dengan sebutan mama.


"Kamu bicara dengan siapa Ra di telepon?" tanya ibu dengan tersenyum kecil.


"Ooh ... ibu, ibu menguping pembicaraanku di telepon ya?" tanya Aurora terkejut, saat mengetahui ibunya mendengarkan seluruh percakapannya dengan mama Arka.


"Gak perlu ibu nguping juga suara kamu cukup keras tadi, jadi ibu dengar semuanya," ucap ibu sambil berlalu ke dapur dengan wajah tersenyum.


"Ibu jangan salah paham ya, aku dekat dengan mama Arka hanya karena Arka memintaku untuk bersandiwara di depan mamanya saja! gak lebih dari itu bu," ungkap Aurora mencoba menjelaskan semuanya pada sang ibu.


"Ibu gak minta penjelasan itu sama kamu kok, apapun itu ibu pikir kamu sudah wajar memiliki perasaan pada seorang pria," ucap ibu seolah putrinya benar-benar dekat dengan Arka.


"Ibu hanya berpesan untuk tetap menjaga diri dan selalu menjaga nama baik keluarga!" ucap ibu mengingatkan putrinya.

__ADS_1


"Ish ... ibu bicara apa sih bu? kalau memang iya, bukan Arka pria yang ku suka, aku hanya sekedar berteman saja dengan Arka bu, karena aku menyukai pria lain," ungkap Aurora menjelaskan perasaannya terhadap dua pria yang ada dalam hidupnya.


"Itu hak kamu untuk memilih, ibu hanya sekedar mengingatkan saja!" tegas ibu. Ia tak tahu bahwa pria yang dicintai putrinya adalah Kevin.


"Iya bu, ibu tenang saja! aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak nama baik keluarga kita," ucap Aurora sambil meraih kemoceng yang ia letakan tadi di atas rak buku.


"Oh iya bu, kalau menurut ibu siapa ya kira-kira yang simpan bingkisan itu di belakang rumah kita?" tanya Aurora pada ibunya.


"Kalau kamu saja tidak tahu, apalagi ibu! ibu tidak mengenal siapa saja orang yang dekat denganmu, hingga memberikan ini tanpa sepengetahuan kita," ucap ibu menimpali pertanyaan putrinya.


"Yang jelas orang yang memberikan itu adalah orang baik, memberikan kebaikan tanpa adanya keinginan untuk diketahui apalagi di beri sanjungan," ucap ibu dengan nada serius.


"Jadi menurut ibu, orang itu tidak akan mengatakannya padaku walaupun aku memintanya untuk jujur?" tanya Aurora.


"Ibu rasa begitu, dia akan berusaha tidak menunjukannya padamu seolah-olah bukan dia yang memberikannya," ucap ibu dengan penilaiannya.


"Baiklah bu, siapapun orang itu dan apapun niatnya untuk kita, ini cukup membantu keadaan kita saat ini," ungkap Aurora menatap ibunya.


"Kamu benar, kita doakan saja semoga orang yang berhati baik ini selalu dimudahkan rezekinya, diberikan kesehatan dan keselamatan, yang paling penting semoga segala hajatnya tercapai dan dikabulkan oleh Allah SWT, aamiin," doa ibu sambil membuka kemasan yang melapisi bingkisan tersebut.


"Aamiin ..." sahut Aurora mengamini doa yang diucapkan ibunya.


Hari berlalu begitu cepatnya, siang itu Aurora bersiap menepati janjinya untuk bertemu mama Arka.


"Kamu mau ke rumah mamanya Arka ya?" tanya ibu dengan wajah tersenyum.


"Iya bu, hanya sekedar menepati janji saja! tidak ada yang lain," tegas Aurora pada ibunya.


"Hati-hati dijalannya ya, sampaikan salam ibu untuk Arka dan mamanya," ucap ibu saat Aurora mulai keluar dari rumahnya.


Aurora yang tidak menghiraukan ucapannya ibu, terus saja berjalan menyusuri jalanan yang masih bebatuan. Sambil berjalan, ia menggerutu dalam batinnya.


"Kenapa semua seolah mudah bagi Arka, tidak untuk Kevin! sampai-sampai ibu saja menitipkan salam untuknya," gumam Aurora dalam batinnya.


Saat ia sibuk menggerutu dalam hati, berdiri seseorang dengan vespa tuanya dan tersenyum ke arah Aurora.


"Arka ... kamu sedang apa berdiri disana?" tanya Aurora dengan nada ketus.


"Sedang apalagi kalau bukan menunggu kamu!" tegas Arka dengan wajah serius.

__ADS_1


"Aku rasa aku bisa pergi sendiri tanpa harus menaiki vespa tua itu!" ucap Aurora memalingkan wajahnya. Ia tampak kesal dengan segala hal tentang Arka.


"Kamu pikir aku senang menjemputmu dengan vespa kesayanganku ini! kalau dia bisa bicarapun dia akan menolak dinaiki gadis aneh sepertimu, aku hanya menjalankan perintah mama untuk menjemputmu kesini," ungkap Arka membalas pernyataan Aurora.


"Ayo cepat, mau ku antar tidak?" tanya Arka menoleh ke belakang.


"Gak ada pilihan lain, aku akan naik vespa tua ini agar menghemat biaya ongkos," gumam Aurora dalam hati.


"Iya aku naik!" sahut Aurora sambil menaiki vespa Arka. Lengannya memegang erat pinggul Arka didepannya.


Wajah Aurora yang terlihat masam, terpampang jelas di spion vespanya. Arka sesekali tersenyum memandangi wajah gadis sederhana di spion miliknya.


"Berwajah masam seperti itu saja, aku suka melihatnya! apalagi saat tersenyum," batin Arka menatapi wajah Aurora lewat spionnya.


"Cepat turun, vespaku ini tidak tahan lagi mengantar gadis aneh sepertimu!" ucap Arka meminta Aurora segera turun dari vespanya.


"Ish ..." Aurora mendesis kesal sambil turun dari vespa Arka.


"Arka memang pintar menyembunyikan perasaannya, bahkan ia terlihat baik-baik saja saat mengetahui gadis itu mencintai orang lain," gumam mama Arka menatapi putranya dari balik gorden.


"Aku pergi dulu sebentar! sampaikan pada mama, bahwa aku sudah melakukan permintaannya dengan baik," ucap Arka melajukan kembali vespanya dan meninggalkan Aurora sendiri.


"Aaah ... dia itu benar-benar menyebalkan!" ucap Aurora dengan wajah yang terlihat kesal.


Langkahnya menuju pada pintu rumah Arka, ia berdiri didepannya lalu mengetuk dengan perlahan.


Tok ... tok ... tok ...


"Assalamualaikum," salam Aurora sambil sesekali mengetuk pintu rumah Arka.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Kekayaan sejati tidak terletak dari seberapa banyak harta yang dimiliki, namun seberapa tinggi budi pekerti dan saling mengasihi tanpa memandang materi.


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2