Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 15 Calon Adik Bayi


__ADS_3

Lani yang melihat mamanya larut dalam tangisannya, dengan segera ia mengelus-ngelus perut sang mama.


"Maafin Lani ya ma, Lani cuma gak mau ada orang yang menghina dan memandang buruk tentang mama! walaupun itu sahabat Lani sendiri," ungkap Lani pada mamanya.


"Mama juga gak ingin merusak rumah tangga ibu Aurora tapi pertemuan kami kembali saat itu membuat kami melakukan kesalahan besar," isak sang mama merasa menyesal atas kesalahan fatal yang di lakukannya.


"Kamu dan mama gak perlu khawatir, bapak akan tetap bertanggung jawab kepada keluarga bapak di sana, walaupun kini pekerjaan bapak hanya buruh kasar tetapi bapak akan berusaha menghidupi kalian semua," jelas bapak kepada istri dan anak tirinya.


"Aku rasa bapak gak perlu lakuin itu, karena menurutku Aurora sudah cukup mampu menafkahi ketiga adik-adiknya," jelas Lani dengan nada sinis.


"Walaupun begitu ke empat anak bapak masih tetap tanggung jawab bapak, bapak harus menafkahi mereka hingga besar nanti!" ucap bapak menjelaskan pada Lani.


"Terserah bapak saja, tapi bapak perlu ingat bahwa mama dan calon adik bayiku ini harus lebih bapak perhatikan!" ucap Lani dengan tatapan terfokus pada ayah tirinya.


"Bapak gak bisa seperti itu nak, semua berhak atas bapak, termasuk ke empat anak bapak di sana! tetapi walaupun begitu bapak akan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi mama dan calon bayi," ungkap bapak di hadapan keluarga barunya.


"Aku akan pegang janji bapak, aku gak mau sampai mendengar terjadi apa-apa pada mama dan kandungannya," ucap Lani dengan nada mengancam pada ayah tirinya.


Lani kemudian kembali mengusap kandungan sang mama dengan begitu penuh kasih sayang.


"Akhirnya aku akan gendong adik bayi lagi ya ma, setelah terakhir saat Rasha dulu," ungkap Lani sambil tersenyum, mengingat kembali saat dulu ia menggendong adik keduanya.


Lani merupakan anak sulung dari 3 bersaudara, ia memiliki 1 adik perempuan yang bernama Zahra dan 1 adik laki-laki bernama Rasha. Rasha merupakan adik bungsu Lani saat itu.


Saat berkumpul bersama mama dan ayah tirinya, Lani menceritakan bahwa dirinya sudah tidak lagi aktif bekerja di toko kue. Ia menceritakan bahwa ia dikeluarkan dari tempatnya bekerja karena bertengkar dengan Aurora, sahabat baiknya selama ini.


"Ma, mulai bulan depan aku sudah tidak bekerja lagi di toko kue itu," ungkap Lani pada sang mama.


"Kenapa Lan? apa kamu dapat pekerjaan lain?" tanya sang mama penasaran.


"Tidak ma, aku berhenti karena di pecat oleh atasan! ia begitu marah saat mengetahui aku bertengkar dengan Aurora," ungkap Lani dengan wajah murung.


Bapaknya yang mendengar penjelesan Lani, kemudian bertanya tentang keadaan Aurora, putri sulungnya.


"Kamu bertengkar dengan Aurora? kenapa bisa sampai seperti itu? lalu bagaimana keadaan Aurora sekarang, dia baik-baik saja kan?" tanya sang bapak dengan khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada putri sulungnya itu.

__ADS_1


"Bapak..., kenapa hanya Aurora saja yang bapak khawatirkan? Lani juga saat ini adalah putri bapak!" ucap sang istri dengan nada kesal.


"Bapak tidak dengar penjelasan Lani tadi bahwa ia di pecat karena pertengkaran itu, ini juga pasti karena ulah Aurora..! tambah sang istri kembali.


"Bukan begitu ma, bapak khawatir saat ini hanya Aurora yang menjadi tumpuan dan tulang punggung bagi adik-adiknya yang lain," jelas sang suami pada istrinya.


"Bapak gak bisa bayangkan kalau sampai terjadi sesuatu pada Aurora," tambah sang suami.


"Sudah pak, mama gak mau ribut! ayo Lan, kita makan lagi," ajak sang mama sambil meninggalkan suaminya yang masih terduduk di ruang tengah rumahnya.


Lani pun akhirnya berjalan ke arah ruang makan bersama sama mama tanpa memperdulikan ayah tirinya yang masih duduk termenung memikirkan nasib putra-putrinya di sana.


"Maafkan ayah ya bu, semua ini karena ayah tidak bisa mengendalikan nafsu, hingga membuat kita semua menjadi menderita," ucap sang ayah tertunduk, meratapi penyesalan yang kini tiada arti lagi.


Di ruang makan, Lani bersama sang mama sedang asyik menikmati santapan malamnya, sementara kedua adik yang lain tengah bermain bersama di kamarnya.


"Ma, apa kita hanya akan makan berdua? mama tidak mengajak bapak untuk makan bersama dengan kita?" tanya Lani pada sang mama.


Seketika santapannya terhenti, ia kemudian menimpali pertanyaan putrinya itu.


"Biar saja...! mungkin bapak mau makan malam dengan keluarganya di sana, kan hanya keluarga itu saja yang bapak pikirkan!" ucap mama Lani dengan suara tinggi, ia sengaja memperkeras suaranya agar sang suami mendengarnya.


"Entah kenapa aku begitu bodoh meninggalkan mereka untuk sesuatu yang justru hanya akan menyengsarakanku," gumam hatinya lirih.


"Aku harus menemui mereka malam ini untuk memastikan semuanya baik-baik saja," ucap ayah tiri Lani yang mulai berjalan keluar dari rumahnya.


Di sepanjang perjalanan, hatinya tak henti memikirkan mantan istri dan ke empat buah hatinya yang telah ia campakkan.


Hingga tiba di halaman depan rumah yang beberapa minggu lalu ia tinggalkan, langkahnya terhenti dan memperhatikan rumah yang cukup lama ia tempati bersama sang istri.


Penampakan yang cukup menyayat hati, saat melihat sekeliling halaman rumah penuh dengan barang rongsokan. Barang-barang tersebut di bawa sang istri dari para tetangga yang memberikannya karena sudah tak layak pakai dan rusak. Sang istri lalu mengumpulkannya dan menjual kembali kepada penadah yang datang.


Tentu pemandangan itu sangat berbeda dengan tempat tinggalnya kini, walaupun ibu Lani seorang janda namun ia memiliki rumah yang dapat dikatakan layak huni untuk di tinggali bersama anak-anaknya.


Saat ia tengah berdiri memperhatikan area sekitar rumahnya, tiba-tiba keluar seorang wanita yang terkejut melihat dirinya.

__ADS_1


"Ayah...,!" panggil mantan istri kepada dirinya.


"Ibu...,! ayah kesini untuk menanyakan kabar tentang anak-anak, apakah mereka baik-baik saja?" tanya mantan suami kepadanya dengan suara lirih.


"Mereka semua sehat dan baik-baik saja!"jawab ibu singkat pada mantan suaminya itu, ia tak ingin banyak berbicara pada seseorang yang begitu tega meninggalkan dirinya dan putra-putrinya.


"Apa ayah bisa bertemu dengan mereka bu?" tanya ia dengan suara memelas pada mantan istrinya.


"Silahkan saja! ibu tidak larang, tapi bagaimana kalau mereka bertanya kenapa ayahnya kini tidak pernah lagi pulang ke rumah," tanya ibu pada mantan suaminya.


Krek .....


Tiba-tiba suara handle pintu di tekan dan Aurora pun keluar dari dalam rumahnya.


"Aku gak akan izinikan ayah untuk bertemu dengan adik-adik! mereka tidak perlu tahu bahwa kini mereka tidak lagi memiliki ayah," ucap Aurora yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Aurora...,! panggil sang ayah padanya.


"Apa kamu baik-baik saja nak? ayah dengar hari ini kamu ribut dengan Lani? apa benar begitu?" tanya sang ayah yang tampak khawatir pada putri sulungnya.


"Aku tetap baik-baik saja tanpa ayah! untuk apa ayah kembali lagi kesini? bukankah tempat itu sudah cukup nyaman untuk ayah?" ucap Aurora dengan nada suara sinis pada ayahnya.


Bersambung....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Ketika ikrar suci di lafalkan, maka bukan lagi perkara cinta yang utama, namun tanggung jawab adalah keharusan yang mesti di pertahankan.


🍂🍂🍂🍂


Masih penasaran kah dengan kelanjutan kisah hidup Aurora? Apapun itu semoga menjadi pelajaran untuk kita para pembaca, termasuk juga saya.


Jangan lupa untuk memberikan dukungan selalu ya, apapun itu bentuknya ❤ baik berupa like, kritik dan saran, vote maupun rate. Untuk selalu mendapatkan info update terbaru dari karya ini, silahkan tambahkan novel ini menjadi salah satu novel favorit teman-teman.

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2