Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 37 Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama


__ADS_3

Seketika perasaan Aurora haru bercampur pilu, saat membaca pesan dari Arka. Ia kemudian membalas pesan Arka dan menyampaikan isi hatinya.


"Iya, terima kasih Ka! tapi rasanya harapanku hari ini untuk bisa semangat dan menjalani semuanya dengan menyenangkan hanya angan-angan saja," ungkap Aurora dalam pesannya untuk Arka.


Arka yang membaca pesan mengejutkan itu, langsung menelpon Aurora dan menanyakan tentang apa yang terjadi.


"Halo Ra, kamu baik-baik saja kan? sekarang kamu dimana? apa perlu aku kesana untuk menemani kamu?" tanya Arka memberondong pada Aurora karena rasa khawatirnya.


"Mana bisa kamu kesini dan menemaniku, aku ini sedang bekerja Ka! aku hanya sedih, tak bisa terlihat pintar di mata orang lain, hingga semua orang merendahkanku," ungkap Aurora dalam percakapannya dengan Arka.


"Siapa yang coba-coba merendahkan gadis sepertimu? cepat kirim alamat tempat kerjamu saat ini!" pinta Arka dengan suara yang terdengar kesal.


"Ah ... sudahlah, aku tidak mau membuat masalah lagi yang akan mempermalukan Kevin nantinya!" jelas Aurora, ia melarang Arka untuk menemuinya pagi itu.


"Ya sudah kalau memang begitu yang kamu mau, kabari aku segera apapun yang kamu butuhkan!" tegas Arka pada Aurora.


Setelah percakapan mereka selesai, Aurora kembali menutup teleponnya. Tak lama datanglah pak Hanif dengan tersenyum ke arah Aurora.


"Aurora ... ayo ikut saya ke ruangan!" ajak pak Hanif dengan ramahnya.


"Baik pak," sahut Aurora dan berjalan mengikuti pak Hanif dibelakangnya.


Pak Hanif kemudian memberikan bungkusan plastik berwarna putih pada Aurora.


"Ini seragam kerja untuk kamu, silahkan dipakai saat bekerja ya!" tutur pak Hanif sambil tersenyum menatap Aurora.


"Baju ini boleh saya bawa pulang kan pak?" tanya Aurora dengan lugu.


"Boleh, silahkan saja!" jawab pak Hanif singkat.


"Baik pak, terima kasih," sahut Aurora dengan senyum di wajahnya.


"Ya sudah, silahkan kamu berganti pakaian! apabila ada hal yang kurang dimengerti, kamu bisa tanyakan pada senior yang ada," tegas pak Hanif pada Aurora.


Pak Hanif kemudian berlalu dari ruangan itu dan masuk ke ruangan kerjanya di bagian HR (human resource), sementara Aurora berganti pakaiannya dengan seragam yang diberikan pak Hanif.


Selesai mengganti pakaiannya, Aurora berjalan ke arah pantry. Ia bertemu beberapa seniornya yang sudah berada di tempat itu sedari pagi.


"Permisi pak, bu ... saya Aurora, salam kenal untuk semuanya!" ucap Aurora memperkenalkan diri pada para seniornya.


"Sudah tau, tadi kan kamu sudah memperkenalkan diri di depan pintu!" sahut salah satu rekan kerjanya.


"Sst ..." desis salah satu orang yang berada di pantry tersebut.

__ADS_1


"Iya Ra salam kenal juga dari kami semua, semoga kita bisa bekerja sama ya disini!" ucap salah seorang lainnya yang terlihat begitu baik pada Aurora.


"Iya pak, mohon bantuannya ya pak karena saya baru pertama kali bekerja seperti ini," ungkap Aurora dengan senyum di wajahnya.


"Kami semua pasti akan membantu kamu, oh ya ... kamu bisa panggil kami dengan sebutan mas atau mbak saja ya, biar tidak keliru! karena disini kami memanggil bapak atau ibu hanya untuk staff saja," ungkap seniornya kepada Aurora.


Semua rekan kerjanya saling memperkenalkan diri pada Aurora, namun yang paling diingatnya adalah mas Rehan yang baik dan mbak Tuti yang berwajah cuek dan sinis padanya.


"Ya sudah, kamu bisa ikut saya untuk melihat-lihat keseharian yang menjadi tugas kami sebagau office girl dan office boy," ucap Rehan pada Aurora.


Aurora kemudian berjalan mengikuti Rehan, kini langkah kakinya tiba di ruangan besar yang berisi para staff umum yang sedang bersiap-siap memulai pekerjaannya.


"Mas mau saya buatkan apa pagi ini?" tanya Rehan pada staff yang ada dihadapannya.


"Saya Kopi hitam seperti biasa ya mas," jawab staff tersebut dan diikuti sahutan dari staff yang lainnya.


"Saya teh manis dan dia creamy latte mas," teriak staff yang lain.


"Baik pak, bu ..." sahut Rehan lalu berlalu dari ruangan tersebut.


"Mas Rehan hafal semua pesanan mereka?" tanya Aurora heran.


"Awalnya sih bingung tapi lama-kelamaan jadi semakin hafal, karena pesanan mereka dari hari ke hari ya hampir selalu sama!" ungkap Rehan sambil tersenyum kecil pada Aurora.


"Gak perlu terburu-buru! kalau memang kamu masih belum hafal, kan bisa ditulis di note," ucap Rehan memberi solusi.


"Oh begitu ya mas," timpal Aurora. Kini perasaannya lebih tenang saat mendengar penjelasan dari Rehan.


"Sekarang kita ke ruangan marketing dulu Ra!" ucap Rehan, berjalan ke arah ruangan yang dimaksud.


Saat melangkahkan kakinya, masuk menuju ruangan itu tiba-tiba wajah Aurora tersenyum malu saat melihat Kevin sedang berdiskusi dengan rekan-rekannya.


"Kevin benar-benar terlihat tampan dan keren saat sedang bekerja seperti ini," gumam Aurora, tatapannya tak berpaling dari wajah Kevin.


"Mas saya mau kopi hitam tapi jangan terlalu manis ya," pesan salah satu staff yang duduk di samping Kevin.


"Eh ... mas, itu karyawan baru ya? boleh dong kenalin!" goda rekan Kevin pada Aurora. Gilang sapaannya.


"Iya pak, baru masuk hari ini," jelas Rehan pada Gilang yang duduk di samping Kevin.


"Tuh Vin, cewe cantik! biasanya kan you paling gercep kalau liat cewek bening dikit," ucap Gilang pada Kevin.


"Apaan sih loe? ya gak office girl juga kan!" balas Kevin dengan suara berbisik pada Gilang.

__ADS_1


"Yakin you gak tertarik? buat gua aja deh kalau gitu!" ucap Gilang kembali menggoda Aurora.


Tatapannya pada Aurora begitu dalam, ia tertarik dengan gadis lugu itu pada pandangan pertama.


"Ambil aja buat loe!" bisik Kevin kembali lalu tertunduk dihadapan Aurora dan Rehan.


"Pak Kevin mau saya buatkan apa?" tanya Rehan pada Kevin.


"Kopi saja mas, seperti biasa!" jawab Kevin.


Setelah ke ruangan itu, Aurora dan Rehan kembali ke pantry untuk menyiapkan pesanan yang diminta para staff, tak terkecuali Kevin.


"Vin, cewek itu benar-benar cantik ya! sayang cuma office girl," ucap Gilang dengan bibir mengkerut.


"Maka dari itu gue gak tertarik, pakaiannya saja lusuh begitu!" ungkap Kevin, seolah menganggap remeh Aurora.


"Kalau cuma lusuh sih gak masalah Vin, sekarang kan banyak tuh salon-salon kecantikan!" tegas Gilang, ia tak mempermasalahkan penampilan Aurora. Baginya Aurora adalah gadis cantik yang ingin ia miliki.


Jam kala itu sudah melewati pukul 12.00 siang, waktunya seluruh staff untuk beristirahat. Aurora kemudian membuka bekal yang ibunya siapkan pagi tadi, setumpuk nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Kamu bekal Ra? kalau gitu saya ke bawah dulu ya untuk membeli makan," ucap Rehan pada Aurora.


"Iya mas," balas Aurora dengan senyumnya.


"Kamu lagi makan ya? boleh aku duduk disini dan temani kamu makan?" tanya suara dari arah belakangnya.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Masalah yang datang tak pernah datang dengan percuma, ia membawa harapan dan hikmah di baliknya bahwa tiada kemampuan tanpa kesalahan dan tiada kemudahan tanpa kesukaran.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤


 

__ADS_1


__ADS_2