Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 17 Larangan Mama


__ADS_3

Tak menunggu lama, Aurora kemudian membalas pesannya untuk Arka.


"Nanti aku kabari kamu lagi untuk jam dan tempatnya," tulis Aurora dalam pesannya pada Arka.


Malam pun berganti pagi. Aurora dan adik-adiknya bangun dan bergegas mandi untuk menjalani rutinitas masing-masing. Tak beda halnya dengan sang ibu, yang sedang menyiapkan sarapan pagi bagi putra-putrinya, sebelum ia berangkat untuk pergi bekerja.


"Nova..., Bintang..., Aurora..., ayo sarapan dulu! ibu sudah siapkan sarapan untuk kalian," panggil ibu pada ketiga putrinya.


Setelah menyiapkan sarapan, ibu sibuk menyuapi si bungsu makan, sebelum ia mengantarkannya ke rumah sang adik.


"Ra, ibu berangkat dulu ya! ibu harus berangkat awal karena bu Ira akan pergi ke luar kota hari ini," ungkap sang ibu pada Aurora yang tengah menyantap sarapan paginya.


"Baik bu, ibu hati-hati ya," pesan Aurora pada ibunya.


Setelah mengantar Dika ke rumah sang adik, ibu langsung bergegas ke tempat kerjanya. Langkah kakinya menuju pada rumah majikan yang biasa ia datangi setiap hari untuk mencuci dan merapikan pakaian.


"Assalamualaikum," ucap salam ibu saat memasuki rumah bu Ira, majikannya.


"Masuk bi, nih saya sudah siapin semua baju yang mesti bibi cuci!" sahut sang majikan tanpa menjawab salam yang diberikan ibu. Ia menunjukan tumpukan baju kotornya pada ibu Aurora yang baru saja tiba.


"Bi, pakai detergentnya jangan boros-boros ya! kita harus hemat-hemat," pesan sang majikan sambil berbisik di telinganya.


"Iya bu, nanti saya hemat-hemat pakainya," sahut ibu Aurora sambil tersenyum.


Setelah menunjukan tumpukan pakaian kotornya, bu Ira bersiap untuk perjalanannya ke Bandung bersama sang suami. Pakaian yang modis dan perhiasan yang menjuntai menjadi ciri khas penampilannya.


Tiba-tiba dari arah ruang tamu, Kevin menghampiri ibu Aurora yang tengah memasukan pakaian ke dalam mesin cuci.


"Bu..., apa Aurora ada di rumah?" tanyanya sambil berbisik kepada ibu.


"Hari ini Aurora kerja mas, tapi saat ibu berangkat tadi ia masih berada di rumah," jawab ibu.


"Boleh kan bu saya jemput dia lagi ke rumah?" tanya Kevin kembali dengan suara perlahan. Ia tak menyadari bahwa mamanya menguping pembicaraannya dari balik tembok.


"Bukan ibu mau melarang mas Kevin dekat dengan Aurora, ibu hanya tidak mau bermasalah dengan mama mas Kevin," ungkap ibu pada Kevin.


"Mama gak akan tahu kok bu! dia sedang bersiap-siap di kamarnya," jelas Kevin sambil tersenyum ke arah ibu.

__ADS_1


Melihat pendirian Kevin yang keras, ibu akhirnya menyerah untuk melarangnya mendekati Aurora.


"Ya sudah, terserah mas Kevin saja kalau begitu," ucap ibu terdengar pasrah.


Saat Kevin dan ibu tengah berbicara, tiba-tiba Kevin mendengar suara sang mama memanggilnya.


"Kevin...., ikut mama sekarang!" panggil mamanya dengan suara yang lantang, hingga Kevin dan ibu Aurora terkejut dengan suaranya.


"Mama..., mama dari kapan disitu?" tanya Kevin yang terdengar gugup.


"Sudah, gak usah banyak tanya! ikut mama sekarang," ucap sang mama dengan netra yang terbelalak.


Melihat ekspresi sang mama yang tak biasa, Kevin kemudian berjalan mengikuti mamanya di belakang.


Wajahnya tampak begitu takut dengan apa yang akan dibicarakan sang mama. Sementara ibu Aurora menghentikan pekerjaannya, sesaat setelah sang majikan memanggil putranya. Ia tampak ikut khawatir dengan apa yang akan terjadi.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa," gumam ibu Aurora penuh harap, namun terdengar samar-samar suara obrolan mereka di telinga. Ia mencoba untuk tidak mengupingnya, namun semakin lama suara mereka semakin keras dan terdengar jelas.


"Jangan kamu dekati gadis itu Vin! dia itu cuma anak pembantu, kaya gak ada wanita lain aja kamu!" teriak mama Kevin dengan suara yang keras.


"Jangan kamu coba-coba bohongi mama Vin! mama dengar sendiri tadi pembicaraan kamu dengan bi Tuti," tegas mama Kevin pada putranya.


"Aku gak bohong ma! mama kan tahu sendiri tipe wanitaku itu seperti apa, mana mungkin aku naksir sama cewe lusuh seperti dia, apa kata teman-temanku nanti," jelas Kevin pada sang mama.


"Benar begitu? awas kalau kamu sampai bohongi mama!" ucap mama Kevin dengan nada mengancam pada putranya.


"Iya ma, buat apa aku bohongi mama! aku juga gak mau nantinya harus dibebani oleh ketiga adiknya yang lain" ungkap Kevin pada mamanya.


Seketika ibu Aurora duduk mematung saat mendengar pernyataan Kevin. Baginya tak masalah saat majikannya itu melarangan putranya untuk tidak mendekati Aurora, namun saat Kevin mengungkit tentang perceraian dan beban keluarga tentu sangat membuatnya pilu.


"Ya Allah, kuatkan hamba dalam situasi sulit ini," ucap ibu Aurora yang masih terduduk memegangi keranjang pakaian kotor.


Ia berusaha menguatkan dirinya untuk tidak menjadi lemah, namun air matanya menetes begitu saja tanpa ia sadari.


Papa Kevin yang berada di garasi mobil tiba-tiba menghampirinya dan bertanya tentang suara ribut-ribut yang didengarnya. Dengan cepat ibu Aurora menepis air mata yang masih menempel di pipinya.


"Bi, bibi dengar suara ribut-ribut gak? kok terdengar seperti suara Kevin dan ibu ya?" tanya sang majikan padanya.

__ADS_1


"Saya kurang tahu pak, tadi ibu memang memanggil mas Kevin untuk bicara berdua, tapi setelah itu sayang tidak tahu lagi," ungkap ibu Aurora pada majikannya.


Tak lama berselang, Kevin dan mamanya turun dari lantas atas. Sambil menapaki anak tangga, ia kemudian berpamitan pada ibu Aurora.


"Nah itu mama," mama dari mana sih? ayo cepat kita berangkat!" ucap sang suami pada bu Ira, majikannya.


"Bi, saya pamit pergi dulu ya! di rumah ada Kevin, dia libur ke kantor hari ini," pamit sang majikan pada ibu Aurora.


"Baik bu, tapi sebelumnya saya mau bicara penting dengan ibu dan bapak!" ucap ibu Aurora, sesaat sebelum majikannya keluar dari rumah.


"Aduh bi, kalau gak terlalu penting nanti saja ya setelah saya pulang dari Bandung!" ucap sang majikan yang seolah menganggap remeh apa yang akan diutarakan oleh asisten rumah tangganya itu.


"Mama..., kok ngomongnya gitu sih! kita dengar saja dulu apa yang mau bi Tuti bicarakan, siapa tahu memang benar-benar penting," ucap suami sang majikan membelanya.


"Haduh..., ya sudah! bibi mau bicara apa sih?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.


"Mulai besok, saya mau berhenti bekerja bu," ucap ibu Aurora sambil menundukan pandangannya.


"Lho..., kenapa bi? apa gaji dari saya kurang? apa bibi ada pekerjaan lain?" tanya majikannya penasaran.


Bu Ira dan keluarganya terkejut, saat ibu Aurora mengatakan hal itu. Mereka mencoba membujuknya untuk tetap bekerja, namun ibu Aurora tetap pada pendiriannya.


Bersambung.....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Roda kehidupan selalu berputar, tak pernah berganti posisi, namun pergerakannya tak akan mengingkari.


🍂🍂🍂🍂


Alhamdulillah, karya ini masih terus berjalan. Ini semua berkat support dari semua teman-teman pembaca dan teman-teman sesama Author yang tidak pernah lelah untuk saling berbagi dalam hal kebaikan. Terima kasih untuk semuanya 🙏


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2