Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 47 Mengantarkan Makanan


__ADS_3

Mendengar ucapan Kevin padanya, Aurora terlihat begitu tenang melangkahkan kakinya tanpa ragu-ragu. Wajahnya tegak dengan pandangan sesekali menoleh ke arah Kevin sambil tersenyum manis. Kini mereka berjalan bak pengantin di tengah para penggosip yang asyik mengomentari kedekatan mereka berdua.


"Aku kerja dulu ya Ra! kita ketemu lagi jam makan siang nanti," ucap Kevin sambil melambaikan tangannya ke arah Aurora.


Aurora hanya membalas senyum pada ucapan Kevin. Sepasang kekasih ini tak sadar, bahwa Gilang menyaksikan kemesraan mereka berdua. Dengan cepat Gilang menghampiri Aurora yang sedang mengambil seragam kerjanyaa di dalam tas.


"Ra ... kamu gak pacaran kan dengan si Kevin?" tanya Gilang dengan mata mengintai.


"Aku pacaran atau enggak, itu bukan urusan kamu! bisa kan kamu gak terus-menerus ikut campur masalah orang lain?" ucap Aurora dengan nada sinis.


"Aku gak akan ikut campur Ra, kalau kamu bukan wanita yang aku cintai! makanya aku gak rela kalau kamu sampai dekat dan berpacaran dengan orang seperti Kevin," ungkap Gilang dengan perhatiannya.


Aurora tersentak saat Gilang mengungkapkan bahwa ia merupakan gadis yang dicintainya. Dengan perasaan terkejut, Aurora hanya terdiam.


"Aku minta tolong sama kamu Ra, aku gak akan larang kamu dekat dengan siapapun di kantor ini, asalkan dia bukan Kevin!" jelas Gilang pada Aurora.


Dengan wajah geram, Aurora membalas ucapan Gilang yang membuatnya semakin kesal.


"Memangnya ada apa dengan Kevin? kamu gak berhak untuk melarang aku dekat dengan siapapun, termasuk Kevin! jadi tolong jangan pernah sibuk mengurusi kehidupan pribadiku," tegas Aurora dengan wajah teramat kesal.


Hhh ...


Gilang menghela nafasnya lalu meninggalkan Aurora sendiri, dengan wajah kecewa.


"Kamu benar-benar gadis keras kepala, bagaimana jadinya kamu kalau sampai dekat dengan Kevin," gumam Gilang sambil berjalan menuju ruangannya.


Setibanya Gilang di ruangan, ia hanya melihat beberapa staf yang sudah datang, termasuk Kevin yang sudah terduduk di atas kursinya.


Tak ... tak ... tak ...


Suara sepatu pantopel milik Gilang terdengar berjalan ke arah Kevin duduk. Suara itu tentu terdengar jelas oleh Kevin karena ruangan mereka masih kosong.


Kevin melirik kecil ke hadapannya. Ia melihat rekan kerjanya itu sedang berjalan menghampirinya.


Gilang kemudian duduk di meja kerja Kevin dengan santainya. Ia meraih selembar dokumen yang berada di atas meja, seolah membacanya.


"Gua salut sama lu Vin, dengan gampangnya lu bikin Aurora percaya atas niat busuk lu itu! mau berapa banyak lagi wanita yang akan lu rusak hidupnya?" tanya Gilang dengan suara menantang.


"Gua rasa, gua gak perlu ceritain semuanya sama lu! kenapa, lu kecewa karena gak bisa dapetin Aurora?" tanya Kevin dengan santainya.


"Lu gak akan pernah bisa miliki Aurora, selagi gua masih di kantor ini!" tegas Gilang sambil meremas dokumen yang berada ditangannya.


Ia kemudian menjatuhkan dokumen tersebut lalu menginjaknya berulang-ulang. Tanpa perasaan bersalah, Gilang kembali duduk di kursinya sambil membuka laptop dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Haah ... apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Kevin, menghela nafasnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah pesan dari Aurora masuk untuknya. Dengan sigap Kevin membaca pesan itu dan tersenyum dibuatnya.


"Semangat Vin! jangan biarkan emosi menguasai hatimu ya, abaikan mereka yang iri dengan kebahagiaan kita," tulis Aurora dalam pesannya.


"Terima kasih ya Ra ... kamu jangan terlalu capek lho, aku gak mau sampai wanitaku sakit karena kelelahan!" tulis Kevin dalam pesan balasannya.


Seketika wajah Aurora memerah membaca kata-kata manis itu dalam pesan yang diterimanya dari Kevin.


"Kevin menyebutku wanitanya, ohhh ... dia benar-benar romantis," gumam Aurora sambil tersenyum malu.


"Iya Vin ... selamat bekerja ya," tulis Aurora menyemangati kekasihnya itu.


"Aku mencintaimu!" tambah Aurora, dilengkapi emoji hati dan peluk cium dalam pesannya.


Kevin yang membaca pesan itu, tak henti-hentinya tersenyum. Wajahnya tampak bahagia dengan pesan terakhir yang dikirimkan gadis polos itu padanya.


Waktu kala itu sudah memasuki jam kerja, seluruh karyawan dan staf semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tak terkecuali bagi Kevin, Gilang dan Aurora .


Hingga pada waktu istirahat tiba, Aurora menungggu Kevin melintas namun sepertinya hari itu Kevin tidak pergi ke kantin. Saat Aurora hendak memalingkan badannya, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang mengejutkan dirinya.


"Aaa ... ayo lagi cari siapa kamu Ra?" tanya Kevin sambil membalikan kembali tubuh Auora.


"Aku belikan kamu ini Ra," ucap Kevin memberikan segelas penuh jus mangga.


"Buat aku! kamu gak beli juga?" tanya Aurora heran.


"Iya ... buat kamu, aku sudah tadi sekalian membeli makan!" ungkap Kevin dengan tatapan panjangnya pada Aurora.


"Di minum ya Ra, biar energi kamu bertambah dengan meminum itu!" tutur Kevin tersenyum menggoda.


"Iya Vin, aku minum ya," timpal Aurora sambil meminum jus tersebut dengan sebuah sedotan.


"Aku masuk ke ruangan dulu ya Ra, jangan lupa habiskan jusnya," pesan Kevin sebelum kembali ke ruangannya.


"Terima kasih Vin untuk jus mangganya!" teriak Aurora pada Kevin yang terus berjalan.


Kring ... kring ... kring ...


Ponsel Aurora berdering dengan nyaring. Sambil mengunyah makan siangnya, ia kemudian menerima panggilan itu dengan segera.


"Halo ... ada apa Ka?" tanya Aurora pada Arka.

__ADS_1


"Kok tanyanya begitu sih? gak boleh ya aku telepon kamu?" timpal Arka dengan pertanyaannya kembali.


"Bukan begitu, tapi kan semalam sudah jelas kalau aku gak mau kamu terus ganggu aku lagi!" ungkap Aurora dengan nada serius.


"Rara ... Rara ... memangnya siapa yang mau ganggu kamu? cepat keluar, aku bawakan makan siang untuk kamu," pinta Arka pada Aurora.


"Kamu di depan?" tanya Aurora terkejut.


Aurora lalu berlari dan menuju lift untuk sampai di lantai bawah. Sambil berlari dengan tergesa-gesa, Aurora bertanya pada Arka.


"Kamu kenapa harus repot-repot Ka? aku sudah biasa membawa bekal makan yang disiapkan ibu setiap paginya!" ungkap Aurora dengan suara terengah-engah.


"Aku sebenarnya gak berniat membawakan kamu bekal Ra, cuma tadi aku diberikan makanan ini saat mengikuti meeting kerja! karena aku ingat kamu jadi aku mampir kesini," ungkap Arka dengan lugunya. Tangannya melambai ke arah Aurora yang baru saja keluar dari gedung kantornya.


"Jadi kamu gak benar-benar membawakan aku makanan itu?" tanya Aurora dengan nada suara yang berbeda dari sebelumnya.


Ia kemudian menghampiri Arka dan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kamu baik-baik saja kan Ra?" tanya Arka tersenyum pada Aurora.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik hari ini! bahkan sebelum kamu datang kesini," tegas Aurora dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kamu kenapa lagi Ra, kok cemberut gitu? ini makannya diambil!" ucap Arka sambil memberikan Aurora sebungkus makanan cepat saji yang dibawanya.


"Gak perlu Ka... aku gak perlu perhatian sampah ini dari kamu, aku rasa kamu memang harus mendengar sesuatu hal! Kevin cukup memperhatikan keadaanku saat ini, jadi kamu gak perlu lagi repot-repot lagi melakukan hal ini," jelas Aurora dengan tatapan yang membulat pada Arka.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Setiap kehadiran seseorang, selalu memberi makna bagi sekelilingnya


Tak perduli seberapa menyebalkan kehadirannya itu bagi kita,


Ia akan memberi warna, dan juga rasa


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2