
Bagian 56
Oleh Sept
Sore itu mulai hujan gerimis, biasanya Taqi pulang sebelum jam 5. Nada sesekali keluar mengintip ke jendela, hari semakin gelap tapi Taqi tak kunjung datang.
Beberapa saat kemudian
Sebuah deru mobil membuat Nada berjibaku, buru-buru ia menggendong bayi Naqi kemudian keluar membuka pintu. Keduanya sudah bersiap menyambut kedatangan Taqi Bassami.
KLEK
Senyum Nada seketika sirna ketika melihat sebuah mobil asing berhenti di depannya. Bukan milik Taqi, juga bukam milik abah Yusuf mertuanya.
'Siapa mereka?'
Nada bertanya-tanya ketika melihat mobil itu perlahan terbuka. Matanya mengamati pria yang terlihat tua tapi tubuhnya masih tampak gagah. Sosok itu berjalan ke arahnya diikuti beberapa pria-pria berjas hitam di belakangnya.
Pria bertopi dengan cerutu di tangannya itu terlihat menatap Nada balik. Tanpa basa-basi, ia langsung duduk di teras rumah Nada.
"Maa, Bapak mencari siapa?"
"Tidak kah kamu menawarkan minum pada ayah mertuamu?" tanya pria itu dengan serius.
Nada seketika langsung beringsut, jujur ia agak takut. Apalagi melihat pengawal berbaju hitam-hitam yang menatap dirinya. Ia jadi teringat cerita suaminya beberapa bulan silam.
'Bagaimana ini? Mas Taqi belum pulang.'
Nada cemas, ia kemudian memanggil bibi.
"Bik ... Bibik."
Begitu bibi datang, Nada langsung menyerahkan Naqiyyah. Sembari ia berbisik.
"Pergi ke kamar Nada, kunci pintunya dan telpon mas Taqi."
Bibi mengangguk kemudian bergegas pergi.
***
Teras rumah
Nada dan pria yang mengaku sebagai orang tua Taqi tersebut pun bicara empat mata. Sedangkan para pengawal kembali ke mobil.
"Katakan pada putraku, sebab sepertinya ia akan melakukan apa yang kamu mau."
Nada mulai mencerna maksud kata-kata pria di depannya itu.
"Maaf mengenai apa?"
"Buat dia mengakui siapa dirinya yang sesungguhnya. Suka atau tidak, dia adalah putra kandungku."
Nada terdiam, masalahnya Taqi selama ini tidak pernah membahas masa lalunya dengan Nada selama ini.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa menjanjikan apapun. Sebab semuanya adalah pilihan mas Taqi."
Pria itu menghela napas dalam-dalam, kemudian menyesap cerutunya. Sambil melihat wajah Nada, ia mulai berbicara.
"Katakan padanya, aku tidak pernah meninggalkan dirinya. Malam itu nyawa kami berdua sedang terancam. Kami tidak mungkin membahayakan nyawa putra kami."
Nada tidak bisa berkomentar, sebab ia juga tidak bisa sepenuhnya percaya begitu saja. Dan ketika pria itu belum selesai berbicara, hujan semakin deras. Bersamaan dengan itu, mobil Taqi masuk ke halaman.
Di dalam mobil, Taqi yang semula fokus mengemudi. Ia mengendara pelan karena di jalan tadi hujan deras, begitu tiba di rumah malah ada tamu.
"Nada sedang bicara dengan siapa?" gumam Taqi.
Setelah ia turun sambil membawa payung, matanya terbelalak. Cepat-cepat ia berlari ke rumahnya.
"Mau apa anda ke sini?" sentak Taqi marah.
Taqi benar-benar sudah melupakan masa lalunya. Lebih baik ia tetap mengingat bahwa ia tidak punya orang tua. Hanya punya ummi dan abah, dari pada mengetahui punya orang tua yang bermasalah. Bergelimangan harta tapi selalu hidup dalam ketidaknyamanan. Selalu dikejar musuh dan berteman dengan senja ta dan obat-obatan. Itu bukan hidup yang Taqi mau. Ia hanya ingin hidup normal seperti manusia pada umumnya.
"Kau bahkan tidak mau menyapa ayah kandungmu?" sindir pria tersebut.
Taqi semakin geram. Ia kemudian mendekati Nada, menarik Nada agar tidak mendekat dengan pria itu.
"Tenang, Mas. Jangan emosi dulu."
Nada mencoba menenangkan suaminya yang kelihatan marah. Taqi pun mencoba menahan napas meski masih kesal.
"Tolong tinggalkan tempat ini," ucap Taqi kemudian. Sepertinya ia benar-benar menolak orang tersebut.
"Mas!" panggil Nada sembari memegangi lengan suaminya.
"Saya minta ini adalah pertemuan terakhir Kita. Saya harap anda menghargai keputusan saya," cetus Taqi tanpa mau kompromi.
"Sekeras apapun kamu menolak! Aku tetap ayahmu. Bahkan darah yang mengalir dari dalam tubuhmu adalah darahku!" ujar Arslan. Pria pemilik bisnis gelap yang selama ini menjadi buronan musuh besarnya.
"Satu lagi ... aku tidak menjamin keselamatan keluargamu. Ketika aku berada di sini, sudah dapat dipastikan mereka juga akan mencarimu!"
Tangan Taqi mengepal, ia sangat marah karena sang ayah melibatkan keluarga kecilnya.
"Jadi ... terima saja kenyataan. Bahwa kau memang anakku!"
Mata Taqi semakin menajam.
"Kau bahkan tidak patut menatap ayahmu dengan tajam seperti itu!" ujar Arslan marah.
"Tolong pergi dari sini!"
"Bersikaplah lebih hormat!" sindir Arslan.
"Jangan mengajari bagaimana saya bersikap, tolong tinggalkan rumah saya!"
Arslan yang diusir, ia pun mendekati Taqi. Dengan muka serius, tangannya memegang kedua pundak Taqi.
"Nanti kau akan datang padaku sendiri!" ucapnya kemudian mengusap kasar pundak Taqi.
__ADS_1
Taqi terlihat menahan kesal, kalau bukan lengan Nada yang terus memegangi dirinya, sudah pasti ia akan terus meladeni Arslan.
Sebelum pergi, Arslan mengeluarkan kartu namanya. Kemudian meletakkan di atas meja.
"Kau pasti membutuhkan aku nanti!" ucapnya dengan wajah penuh arti.
***
Setelah Arslan pergi, Taqi terlihat gusar. Bahkan ia sama sekali tidak berbicara. Terlihat sekali kalau pria itu sedang memikirkan banyak hal. Hingga waktunya tidur, Nada pun mencoba berbicara dari hati ke hati dengan suaminya itu.
"Boleh Nada tanya?"
"Kalau mengenai dia, lebih baik jangan."
Nada langsung menelan ludah, sepertinya Taqi benar-benar tidak mau membahas orang tua kandungnya.
"Jangan begitu ... bagaimana pun dia orang tua kandung Mas Taqi. Meski Mas kecewa dan marah, setidaknya Mas tidak boleh terlalu keras pada mereka."
"Nad, Kita bahas yang lain."
"Tapi ...!"
"Mereka orang jahat, Nad. Kamu mau Mas masuk dalam komunitas mereka?"
Nada langsung menggeleng keras.
"Ya sudah, ayo tidur. Stop bahas masa laluku. Yang penting kalian. Aku tidak butuh keluarga lain."
Nada terdiam, ia sampai lupa memberi tahu suaminya kabar mengejutkan tadi pagi.
***
Adzan subuh berkumandang, seperti biasa Taqi akan bangun. Dilihatnya Nada sedang tidur sambil mendekap Naqiyyah. Sepertinya tadi Naqi bangun minta minum.
Sambil mengusap wajahnya, Taqi berjalan masuk kamar mandi. Dilihatnya alat cukurnya tidak ada di tempat. Taqi pun mencari di tempat yang lain. Di laci kecil yang ada di sana.
Bukannya ketemu alat cukur, Taqi malah menemukan benda lain.
"Punya siapa ini?"
Taqi memperhatikan gambarnya dengan saksama. Terdapat dua garis merah.
"Ini milik siapa?" ia yang baru bangun tidur masih menerka-nerka.
"Nad ... Nada."
Taqi buru-buru membangunkan istrinya.
"Nada ... bangun!" ia usap lengan Nada agar bangun.
Perlahan Nada terbangun, ia mengerjap dan menatap suaminya yang berdiri di samping ranjang di sebelahnya.
"Ini milik siapa?" tanya Taqi dengan rasa sangat penasaran. BERSAMBUNG
__ADS_1