Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 13. Wajahmu Kenapa Ra?


__ADS_3

Setelah keributan terjadi dan supervisornya pergi meninggalkan toko kue tersebut, Aurora dan Lani bekerja seperti biasanya, namun sikap mereka tampak berbeda seperti hari-hari sebelumnya yang begitu akrab. Hari itu wajah mereka tampak serius, tanpa saling menyapa satu sama lain.


Hari pun sudah memasuki sore hari, tiba waktunya Aurora, Lani dan karyawan lain bersiap untuk menutup toko kuenya. Kala itu Lani tampak tergesa-gesa untuk kembali pulang, derap langkahnya begitu pasti. Entah apa yang membuat Lani terburu-buru saat melangkahkan kakinya.


Berbeda halnya dengan Lani, Aurora tampak terlihat tak bergairah, semangatnya seolah padam saat mendengar keputusan sang supervisor tentang pemecatannya. Bajunya yang lusuh dan pipi yang membiru karena memar tadi, semakin membuatnya terlihat begitu mengkhawatirkan.


"Saya pulang dulu mas.., mba..," pamit Aurora pada beberapa rekan kerjanya yang masih berada di dalam toko.


Aurora kemudian berjalan pulang menuju ke rumahnya, di sepanjang perjalanan ia memikirkan tentang ibu dan adik-adiknya yang masih membutuhkan nafkah darinya, sementara saat itu adalah bulan terakhir ia bisa bekerja di toko kue yang sudah ia geluti selama hampir 2 tahun.


"Aku harus bilang apa sama ibu kalau aku sudah di pecat dari pekerjaan?" gumam Aurora dalam hati kecilnya.


Tiba-tiba melintas sebuah vespa berwarna biru muda melintas di sisi Aurora dan terhenti tepat di depannya.


"Hei..., kamu Aurora kan? masih ingat sama aku?" tanya Arka sambil tersenyum dari vespanya.


"Haah... dia ternyata!" gumam Aurora sambil menghela nafasnya.


"Iya, aku ingat!" jawab Aurora sambil terus berjalan meninggalkan Arka yang berada di hadapannya.


"Tunggu dulu Ra...! wajah kamu kenapa memar-memar begitu? aku antar kamu pulang ya..!" ajak Arka menawari Aurora untuk pulang bersama mengendarai vespanya.


"Gak perlu, rumah aku juga gak jauh kok dari jalan di depan gapura itu," tolak Aurora sambil menunjuk ke arah jalan yang di maksud.


"Ya sudah kalau gitu, aku boleh kan ikut ke rumah kamu?" tanya Arka dengan setengah memaksa.


Aurora yang kalut dengan masalah pemecatan dirinya, tentu merasa terganggu dengan kehadiran Arka di hadapannya.


"Aku mohon sama kamu, tolong jangan ganggu aku...!" pinta Aurora pada Arka yang masih terduduk di atas vespanya.


"Oke..., oke..., kalau itu mau kamu, aku akan pergi dan gak akan ganggu kamu," ucap Arka yang berlalu meninggalkan Aurora dengan vespanya.


Setelah berjalan beberapa meter dari tempat ia bertemu Arka, akhirnya Aurora tiba di rumah. Saat itu sang ibu sedang sibuk menyuapi adik bungsunya untuk makan.


"Assalamualaikum," ucap salam Aurora sambil mencium tangan sang ibu.


"Waalaikumsalam, Aurora..., wajah kamu kenapa memar begitu? kamu jatuh?" tanya sang ibu khawatir.


Aurora yang panik dengan pertanyaan sang ibu, akhirnya memilih berbohong dan menutupi semua kejadian hari itu.


"Aku tadi terjatuh bu dan wajahku terbentur hingga memar seperti ini," ucap Aurora beralasan.

__ADS_1


"Kamu gak membohongi ibu kan Ra? kalau memang kamu jatuh, mana mungkin memarnya sebanyak ini dan ibu lihat tidak ada luka goresan sedikit pun," ucap ibu yang kurang yakin dengan perkataan putrinya.


"Iya bu aku benar-benar jatuh!" sahut Aurora mencoba meyakinkan ibunya.


"Sini coba ibu lihat! kamu ini jatuh dimana sih Ra sampai bisa seperti ini?" tanya sang ibu sambil memegangi wajah Aurora.


"Sudahlah bu, aku gak apa-apa! nanti juga memarnya hilang, sekarang aku mau istirahat dulu ya bu, aku lelah." Aurora kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya, namun tak beberapa lama ia masuk, seseorang datang dan mengucapkan salam pada ibunya.


"Assalamualaikum bu, benar ini rumahnya Aurora?" tanya seorang pria tampan dengan begitu ramah dan sopan pada ibu Aurora.


"Iya betul," jawab ibu tersenyum.


Melihat pria tampan nan sopan tersebut datang mencari putrinya, ia bertanya-tanya tentang siapa dan apa hubungan pria itu dengan putrinya.


"Sebentar ya, ibu panggil dulu Auroranya, silahkan masuk dulu nak!" ajak ibu pada pria itu.


Ibu kemudian masuk ke kamar dan mencari Aurora, namun sang ibu tak mendapati putrinya di kamar. Ia kemudian mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggilnya.


"Aurora..., ayo cepat mandinya! ada seseorang yang mencarimu," ucap sang ibu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Aurora yang berada di dalam tentu tidak mendengar apa yang ibunya katakan, suara sang ibu tersamarkan oleh derasnya air keran yang menyala kala itu.


Sang ibu kemudian keluar dan mempersilahkan tamu itu untuk masuk.


"Silahkan masuk nak," ucap ibu sambil menyuguhkan segelas air putih lengkap dengan tatakannya.


"Silahkan di minum airnya ! mohon maaf hanya air putih saja," ucap ibu pada sang tamu.


"Gak perlu repot-repot seperti ini bu," ucap pria tampan dengan sopan pada ibu Aurora.


Ibu kemudian duduk di sebuah ruangan, dengan beralaskan tikar berwarna cokelat yang sudah terlihat memudar. Tiba-tiba Aurora keluar dari kamar mandi dan memanggil-manggil sang ibu.


"Bu..., ibu..., tadi ibu bilang apa ya, aku kurang jelas mendengar suara ibu," ucap Aurora sambil berjalan mencari sang ibu. Ia tidak sadar bahwa di rumahnya sedang ada tamu yang sedang berkunjung dan mencarinya.


"Aaaaaaa......," jerit Aurora dengan suara nyaring, ia terkejut Arka sudah terduduk di dalam rumahnya.


"Aurora, cepat sana pakai bajumu..!" ucap ibu setengah berteriak, ia tak menyangka putrinya keluar dengan sehelai handuk sebagai penutup tubuhnya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Aurora sambil berlari ke arah kamarnya.


Teriakan Aurora dihadapannya, membuat Arka bingung. Ia kemudian menutup matanya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Dasar gadis aneh, bisa-bisanya dia keluar dengan keadaan seperti itu," gumam Arka dalam hati sambil tersenyum mengingat kekonyolan yang terjadi.


"Anak itu ada-ada saja, apa dia tidak mendengar ucapanku tadi ya," ucap ibu dengan suara perlahan, iya bingung dengan tingkah putrinya sore itu. Ia pun segera menghampiri Aurora di kamarnya.


"Ra, kamu ini apa-apaan sih? kenapa kamu hanya menggunakan handuk saat di luar tadi?" tanya ibu sedikit kesal.


"Aku tadi lupa membawa bajuku bu, sekarang aku harus gimana bu? aku gak mau keluar ya bu..!" ungkap Aurora. Ia bingung harus bersikap seperti apa di depan Arka setelah kejadian memalukan itu terjadi.


"Ibu juga bingung! tapi mau bagaimana lagi, dia sudah menunggu kamu sejak tadi," ungkap ibu pada Aurora.


"Haaah..., ya sudah bu, aku keluar! tapi ibu temani aku ya," pinta Aurora pada sang ibu untuk menemaninya menemui Arka.


Aurora kemudian berjalan, namun langkahnya kini terasa berat. Ia berjalan mengikuti sang ibu di belakangnya.


"Aduh Ra, lepasin baju ibu!" ucap ibu yang tak nyaman dengan tingkah putrinya.


Aurora dan ibu kemudian duduk bersama menemui Arka, sedangkan Arka hanya tersenyum saat melihat tingkah aneh Aurora.


"Mau apa kamu kesini? bukannya tadi sudah ku bilang untuk tidak menggangguku!" ucap Aurora dengan nada sinis.


"Aurora.., kamu jangan berbicara seperti itu, gak baik!" bisik ibu sambil mencubit kaki Aurora.


"Aku minta maaf ya karena mengikuti kamu pulang sampai ke rumah, aku cuma khawatir dengan keadaan kamu tadi," ucap Arka dengan wajah serius.


"Alasan...! sebenarnya apa niat kamu datang kesini?" tanya Aurora.


Bersambung.....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Hujan yang turun tidak pernah mengkhawatirkan kemana ia akan jatuh, ia percaya bahwa di manapun ia bermuara, itulah takdir untuknya.


🍂🍂🍂🍂


Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang selalu setia mensupport karya ini. Mohon kritik dan sarannya selalu ya, semoga ke depannya karya ini bisa lebih baik dan memuaskan para pembacanya.


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2