
Mendengar pengakuan ibunya, Aurora seketika terdiam. Ia bingung harus dari mana menghidupi ketiga adiknya yang lain kalau dirinya saja juga sudah tidak lagi bekerja.
"Iya bu, ibu gak perlu khawatir tentang itu! justru aku senang ibu tidak lagi bekerja, ibu jadi bisa lebih fokus mengurus Dika dan adik-adik yang lain," ucap Aurora, berusaha menenangkan ibunya.
"Aku akan terus bekerja untuk mereka, ibu doakan saja aku ya bu!" jelas Aurora sambil meraih tangan sang ibu.
"Doa ibu selalu untuk kamu Ra, tanpa perlu kamu memintanya!" sahut ibu kembali.
"Ya sudah kamu sarapan dulu ya, nanti kamu kesiangan berangkatnya!" titah ibu pada putrinya itu.
Aurora kemudian terbangun dari duduknya lalu membuka resleting tasnya, ia meraih dompet hitamnya untuk mengambil uang hasil bekerjanya satu bulan lalu.
"Bu ..., ini uang hasil kerjaku bulan kemarin, ibu simpan ya dan gunakan dengan baik!" ucap Aurora menyerahkan uang tersebut pada ibunya.
"Ibu terima ya Ra, ibu akan gunakan uang ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah adik-adikmu," ucap ibu sambil menerima uang yang diberikan Aurora.
Sang ibu kemudian menghitung lembar demi lembar uang yang diberikan putri sulungnya itu.
"Ra, kenapa uang yang kamu berikan ini lebih banyak dibanding bulan sebelumnya? apa kamu sudah menyisakannya untuk biaya transport bekerja?" tanya ibu menatap Aurora.
"Em ..., Aurora masih cukup kok bu, sebisa mungkin Aurora akan menghemat pengeluaran jadi ibu bisa simpan semua uangnya," jelas Aurora pada ibunya.
Aurora memberikan seluruh gajinya pada sang ibu, tanpa selembar pun ia sisakan untuk dirinya. Ia yakin sang ibu lebih membutuhkan uang itu untuk mengatur segala kebutuhan yang diperlukan.
"Masya Allah, kamu rela memberikan seluruh gajimu untuk adik-adikmu, bahkan kebutuhanmu sendiri tak pernah kamu pikirkan," ucap ibu sambil melirik tas Aurora yang terlihat sudah compang-camping dengan warna yang semakin memudar.
"Gak masalah bu, selama tas ini masih bisa aku pakai ..., aku tidak akan menggantinya dengan yang baru," tegas Aurora tersenyum pada sang ibu.
Dengan cepat ibu meraih tubuh Aurora dan mendekapnya dalam-dalam. Lengannya terus membelai punggung putrinya dengan begitu lembut.
"Terima kasih ya nak, sudah menjadi putri sulung terbaik untuk ibu," ucap ibu dengan senyum yang merekah.
"Aku yang harus berterima kasih pada ibu, karena sudah menjadi contoh hebat untuk putra-putri ibu kelak!" tutur Aurora membalas ucapan sang ibu.
"Ya sudah bu, aku pamit berangkat kerja dulu ya!" ucap Aurora yang mengenakan seragam kerja, lengkap dengan sepatu dan tas gendongnya.
"Hati-hati ya Ra! bekalnya sudah ibu masukan dalam tasmu!" teriak ibu pada Aurora yang tengah berjalan keluar dari rumahnya.
Langkah kakinya pagi itu terasa berat dan tak pasti, asa untuk membantu ibu dalam mengurus ketiga adiknya musnah begitu saja saat ia di pecat dari pekerjaannya. Kini ia tak tahu harus kemana melangkahkan kakinya pagi itu.
__ADS_1
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson terdengar dari arah belakangnya, Aurora pun menoleh karena penasaran. Tiba-tiba keluarlah pria yang begitu akrab di hatinya.
"Ayo masuk Ra, aku mau kasih kejutan untuk kamu!" ucap Kevin sambil mempersilahkan Aurora masuk.
Setelah Aurora duduk di sebelah Kevin, ia menanyakan maksud Kevin tentang apa yang baru saja diucapkannya.
"Kejutan? kamu mau kasih kejutan apa Vin, aku jadi penasaran!" tanya Aurora dengan mencoba menerka-nerka dalam hatinya.
"Ayo tebak, kira-kira apa kejutannya!" ucap Kevin sambil menatap wajah gadis itu dengan senyum.
"Pasti mau kasih bunga, atau mau kasih cincin!" ucap Aurora terdengar lugu.
"Hmm ..., bukan Ra!" sahut Kevin singkat.
"Apa dong ya? hmm ... aku nyerah deh," ucap Aurora sambil mengerutkan dahinya.
"Mulai besok kamu akan bekerja di kantorku Ra ..., dan kita akan bertemu setiap harinya," jelas Kevin sambil memegangi tangan Aurora.
Aurora terkejut mendengar kabar tersebut dari Kevin, ia begitu bahagia karena bisa bekerja lagi tanpa harus menunggu lama.
"Iya Ra, nantinya kita bisa bertemu setiap hari tanpa harus saling menahan rindu!" ucap Kevin dengan kata-kata gombalannya.
"Iya Vin, kita akan selalu sama-sama saat pergi dan pulang bekerja nanti," ucap Aurora dengan wajah polosnya.
"Hm ... tapi Vin, aku kan hanya lulusan SMA saja, beda dengan kamu yang tamatan luar negeri, jadi pekerjaan apa yang bisa aku lakukan di kantor?" ucap Aurora dengan merendah, ia tak yakin dapat mengerjakan pekerjaan di perusahaan besar tempat Kevin bekerja.
"Kamu jangan pesimis begitu dong Ra! aku yakin kamu bisa walaupun kamu tidak memiliki pengalaman di bidang perkantoran," ucap Kevin seolah menguatkan gadis itu.
"Oke Vin aku akan berusaha demi kamu, aku akan tunjukan bahwa aku pantas bekerja bersama dengan kamu!" ucap Aurora dengan semangat yang membara.
"Nah gitu dong! tapi Ra, gak apa-apa kan untuk sementara ini kamu bekerja sebagai office girl di kantorku?" tanya Kevin menatap serius wajah Aurora.
"Office girl? maksud kamu orang yang bekerja di kantor untuk membersihkan dan menyapu ruangan seperti itu ya?" tanya Aurora lugu.
"Iya Ra, ini hanya untuk sementara kok! nanti kalau memang ada posisi yang bagus dan cocok untuk kamu, pasti aku kabari kamu lagi," ucap Kevin berusaha membujuk Aurora.
"Iya Vin, aku bersedia kok! asalkan itu dekat dengan kamu, aku gak akan keberatan," sahut Aurora tersenyum melirik Kevin.
__ADS_1
"Oke, aku akan berangkat kerja dulu ya Ra! besok aku tunggu kamu disini, jangan lupa membawa surat lamaran lengkap dengan dokumen pendukung lainnya," ucap Kevin mengingatkan Aurora.
"Iya Vin, besok aku akan membawa seluruh dokumen pendukung untuk surat lamarannya!" ucap Aurora dan kembali keluar dari mobil Kevin.
"Hati-hati ya Vin!" ucap Aurora pada Kevin yang mulai melajukan kemudinya.
Aurora kemudian melanjutkan kembali langkahnya, wajahnya yang berseri sesaat setelah mendengar tawaran Kevin untuk bekerja di kantornya kembali terlihat, namun ia dikejutkan oleh sebuah vespa yang begitu tak asing baginya.
"Arka ..., kamu ngapain kesini?" tanya Aurora dengan wajah masam.
"Kenapa pesanku tadi pagi tidak kamu balas?" tanya Arka tanpa menjawab pertanyaan Aurora padanya.
"Maaf, aku sibuk Ka!" sahut Aurora sambil memalingkan wajahnya dari Arka.
"Sibuk ..., jalan-jalan tanpa tujuan begini kamu bilang sibuk!" ucap Arka dengan wajah serius.
"Apaan sih kamu, aku gak butuh pendapat dari kamu! pergi sana," ucap Aurora dengan nada kesal.
"Oke ..., aku akan pergi dan bilang sama ibu kalau kamu hanya sandiwara selama ini, aku juga akan bilang pada ibu kalau kamu sudah berhenti bekerja akhir bulan kemarin," ucap Arka dengan nada mengancam pada Aurora.
"Ish ..., iya ... iya ... sekarang mau kamu apa?" tanya Aurora yang seolah pasrah.
"Aku mau kamu ikut bersamaku ke rumah dan bertemu dengan mama!" tegas Arka pada Aurora.
Bersambung ....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Saat api yang kecil dapat membantumu hidup, mengapa engkau menginginkan api yang besar, yang akan memberikan cahaya lebih, namun mampu membakar tubuhmu.
🍂🍂🍂🍂
Mohon maaf akhir-akhir ini Author hanya dapat membuat 1 bab saja. Semoga kedepannya karya ini bisa membuat bab lebih banyak lagi setiap harinya. Terima kasih ☺
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1