
Arka kemudian meraih berkas yang diberikan pak Hasan padanya. Dengan teliti ia memeriksa berkas yang berisi tentang laporan perkembangan usahanya.
"Saya akan baca dulu ya pak laporannya, gak masalah kan ditinggal dulu disini?" tanya Arka melirik pak Hasan.
"Silahkan mas! nanti besok biar saya ambil saja kesini," ucap pak Hasan.
"Gak perlu pak, besok saya juga akan ke toko daerah pasar minggu jadi nanti saya antar saja ke rumah bapak," ungkap Arka sambil memisahkan berkas yang akan ia baca.
"Baik mas, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit pak Hasan pada Arka.
"Lho ... gak minum dulu pak?" tanya Arka yang segera terbangun dari sofanya.
"Terima kasih mas, saya langsung pamit saja," sahut pak Hasan lalu berjalan keluar dari rumah Arka.
Arka yang telah menerima berkas itu, kemudian langsung menganalisanya dengan teliti tentang perkembangan usahanya kini. Senyumnya melebar tatkala grafik keuangannya terus bertumbuh.
"Alhamdulillah ... sampai saat ini toko selalu mengalami peningkatan, semoga kedepannya akan terus seperti ini," gumam Arka dengan raut wajah berseri.
"Hari ini patut disyukuri untuk setiap halnya," ucap Arka sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia kemudian menggapai ponsel dalam sakunya, dan tertuju pada satu nomer yang ia beri nama dengan strange girl (gadis aneh).
"Aku harus apakan perasaan ini Ra? semua sudah aku miliki! mama yang sempurna, kesehatan yang baik, usaha yang berkembang, namun aku tidak dapat memiliki hatimu," gumam Arka sambil memandangi percakapan dalam pesannya bersama Aurora.
Berbeda halnya dengan Arka yang terus saja memikirkan Aurora. Malam itu setelah Arka mengantarkannya pulang, Aurora sibuk menelpon Kevin di rumahnya.
"Assalamualaikum, Kevin! maaf aku baru sempat menghubungi kamu," ucap Aurora sesaat setelah panggilan teleponnya diterima Kevin.
"Iya, aku akan menyiapkannya malam ini!" sahut Aurora kembali.
"Sampai ketemu besok ya Vin," ucap Aurora sebelum menutup teleponnya.
Sesaat setelah ia menyimpan ponselnya, Kevin mengirimkan kembali pesan dengan emoji peluk dan cium.
"Selamat tidur dan beristirahat ya," tulis Kevin dalam pesannya dilengkapi beberapa emoji yang membuat Aurora berjingkrak-jingkrak saat membacanya.
"Kamu sedang apa Ra?" tanya sang ibu dengan wajah bingung.
"Eh ... ibu, kok ibu belum tidur?" tanya Aurora.
"Ibu terbangun dengan suara percakapanmu tadi! kamu habis telepon dengan siapa?" tanya ibu dengan raut wajah serius.
"Aurora habis teleponan dengan Kevin bu!" jawab Aurora dengan tegas, ia tak khawatir lagi dengan tanggapan sang ibu mengenai kedekatannya dengan Kevin.
__ADS_1
"Kevin? anak bu Ira itu?" tanya ibu dengan nada suara tinggi.
"Iya bu, Kevin itu pria baik-baik! dia gak seperti yang ibu pikirkan selama ini," ucap Aurora meyakinkan ibunya.
"Pria baik? dari mana kamu sebut kalau dia itu pria baik? ibu lelah dengan pembahasan tentang Kevin, selalu saja menjadi perdebatan seperti ini!" ucap ibu terlihat sedikit emosi.
"Ibu tunggu saja, aku akan tunjukan pada ibu kalau dia memang pria baik-baik!" ucap Aurora meninggalkan ibunya sendiri di ruangan tengah.
Ia masuk ke kamar dan mempersiapkan berkas yang akan dia bawa esok hari ke kantor tempat Kevin bekerja.
Saat pagi menjelang, Aurora terbangun dari tidurnya. Ia begitu bersemangat untuk memulai hari itu. Hari dimana ia akan terus bertemu dan bersama dengan pria yang telah mengisi hatinya kini.
Tampilannya begitu rapi, dengan balutan kemeja salur dan celana hitam berbahan kain. Tak ketinggalan juga, jam tangan berbahan stainles yang selalu ia kenakan setiap harinya.
"Kamu mau kemana Ra, sudah rapi sepagi ini? kamu tidak bekerja?" tanya ibu, melihat penampilan putrinya berbeda dari hari biasanya.
"Aku ada janji dengan teman bu, doakan aku hari ini ya bu!" ucap Aurora sambil mengecup kening sang ibu.
Ibu mulai curiga dengan kepergian Aurora pagi itu yang mengenakan kemeja rapi dan membawa sebuah paper bag berisi berkas dan beberapa dokumen lainnya.
"Anak itu mau kemana ya dengan berkas-berkas yang dibawanya," gumam ibu dalam hati.
Aurora yang telah berjalan menuju tempat penjemputan yang dijanjikan bersama Kevin, akhirnya tiba. Pandangan matanya mengarah pada jalan di komplek, tempat Kevin akan muncul dengan mobilnya.
Saat pandangannya teralihkan, tiba-tiba sebuah mobil terhenti tepat dihadapannya.
"Ayo masuk!" ucap Kevin tersenyum manis.
"Kok lama sih Vin?" tanya Aurora dengan raut wajah yang terlihat agak kesal.
"Maaf ya, semalam aku harus menyiapkan laporan untuk meeting hari ini, sampai-sampai terlambat bangun deh" ungkap Kevin sambil melirik Aurora.
"Kamu sudah siap interview hari ini?" tanya Kevin.
"Siap dong! gimana menurut kamu penampilanku hari ini?" tanya Aurora, menunggu tanggapan Kevin.
"Hm ... aku boleh jujur gak Ra?" tanya Kevin singkat.
"Iya Vin jujur aja, gak masalah kok!" ucap Aurora.
"Kalau menurut aku sih, penampilan kamu hari ini kurang menarik dan agak sedikit kampungan deh Ra!" ungkap Kevin yang memperhatikan sepatu dan pakaian yang Aurora kenakan pagi itu.
"Masa sih Vin? tapi menurutku kemeja ini bagus kok, aku membelinya saat dulu mau melamar pekerjaan di toko kue itu," jelas Aurora pada Kevin.
__ADS_1
"Begitu ya, mungkin selera kita berbeda Ra! tapi gak masalah kok, lagi pula ini kan hanya interview saja," ucap Kevin tersenyum kecil pada Aurora.
"Oh iya Ra, nanti sesampainya di kantor tolong berpura-pura tidak mengenalku ya!" pinta Kevin dengan wajah serius.
"Lho, kenapa harus seperti itu Vin? apa kamu malu dekat dengan gadis kampungan sepertiku?" tanya Aurora merendah.
"Gak begitu Ra, aku cuma gak mau orang-orang berpikir macam-macam tentang kita yang nantinya akan menyulitkan kamu sendiri," jelas Kevin beralasan pada Aurora.
"Oh begitu ya, ya sudah aku akan menuruti apa yang kamu sarankan Vin, terima kasih ya sudah memberitahuku," sahut Aurora dengan tanggapan lugunya.
"Nah ... sebentar lagi kita sampai Ra, jangan lupa pesanku tadi ya!" ucap Kevin mengingatkan.
Setibanya mereka di tempat parkir, Aurora dan Kevin berjalan terpisah seolah tak saling mengenal satu sama lain. Kepolosan Aurora membuatnya begitu percaya pada kata-kata yang diucapkan Kevin.
"Selamat pagi pak," sambut beberapa karyawan yang melihat kedatangan Kevin.
"Pagi ... oh iya, pak Hanif sudah ada di ruangannya belum?" tanya Kevin pada salah seorang karyawannya.
"Belum pak, bapak ada perlu dengan pak Hanif?" tanya karyawan tersebut.
"Gak ada kok ... cuma saya lihat tadi ada pelamar baru di depan pintu sana, suruh dia masuk ya!" pinta Kevin pada karyawannya tersebut.
Ia kemudian menghampiri Aurora yang tengah berdiri di sisi pintu masuk kantor Kevin.
"Mbak mau melamar pekerjaan ya? silahkan menunggu di dalam saja mbak!" ajak karyawan tersebut pada Aurora.
Bersambung ...
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Hiduplah seperti lebah, dimana ia hinggap ia akan membawa manfaat untuknya, jangan seperti nyamuk yang hinggap lalu pergi dengan meninggalkan kedukaan.
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1