
Bonus Chapter 1
Oleh Sept
Bandung
"Ganteng sekali suamiku!" puji Nada sembari menatap Taqi.
Dipuji Nada membuat hidung Taqi jadi kembang-kempis. Kalau tidak ada Naqi dan Pawan, sudah pasti ia kerjai balik istrinya tersebut.
"Jangan menggodaku, Mas mepet banget jadwalnya. Setelah acara selesai, Mas langsung balik."
Nada mengangguk.
"Santai aja, Mas. Kami bertiga nggak akan bosan. Suasana di sini juga lumayan enak."
"Ya sudah. Mas pergi ya. Titip Malaikat kecil Kita."
Taqi pamit sembari mengusap pipi jagoan-jagoannya, Naqi dan Pawan.
"Sayang, Ayah kerja dulu. Nanti jangan nakal ya. Kasian sama Ibu."
Taqi kemudian berjongkok. Mengecupp kedua pipi malaikat kecilnya.
"Iya, Ayah."
Naqi dan Pawan menjawab bersamaan.
"Ya sudah, nanti kalau ada perlu atau butuh apa-apa , langsung telpon layanan hotel. Kalau urgent, langsung calling Mas, ya?"
Nada mengangguk, kemudian memeluk suaminya. Entah mengapa, sejak hamil dua bulan ini, ia suka sekali aroma Taqi. Membuatnya terasa nyaman. Sampai ia ikut menginap di salah satu hotel di Bandung hanya karena tidak mau jauh-jauh dari suaminya. Ya, Nada sedang hamil muda. Dan ia ngidam dekat-dekat dengan Taqi terus.
"Nanti malam ya!" bisik Taqi jahil.
Seketika Nada langsung melepaskan pelukannya. Bibirnya mengerucut, tapi hatinya berbunga-bunga. Ia selalu jatuh cinta lagi dan lagi pada suaminya itu.
"Mas pergi dulu!"
Muah
Cup
__ADS_1
Taqi mengusap perut Nada kemudian mengusap dengan sayang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Di hotel yang sama, di sebuah ballroom. Terlihat seorang wanita mengenakan gaun pengantin warna putih yang cantik dan elegant.
"Akhirnya kamu menikah, ini seperti mimpi bagi Mama," ucap tante Wini melihat Anisa memakai gaun pengantin yang indah dan mewah. Impian selama ini hanya satu, melihat Anisa menikah sebelum Allah memanggil. Ya, sudah satu tahun ini tante Wini keluar masuk rumah sakit tiap bulan. Kondisi kesehatan tante Wini perlahan mulai menurun.
Itulah sebabnya, meski belum bisa membuka hati. Akhirnya Anisa menerima perjodohan ini. Sebuah pernikahan yang sudah lama tante Wini idam-idamkan.
"Kamu cantik sekali, Nis," lagi-lagi tante Wini memuji kecantikan putrinya.
Anisa hari itu memang terlihat sangat cantik, gaunnya panjang serta ditaburi banyak swarovski. Terlihat anggun, cantik dan mempesona. Tapi sayang, wajahnya terlihat murung. Seolah ia belum mantap memutuskan untuk menikah.
"Mama harap kamu hidup bahagia, Nisa."
Tante Wini kemudian memeluk putrinya. Ada banyak doa, untuk kebahagian putri pertamanya itu.
"Mama juga harus sehat, kalau Mama sehat ... Anisa pasti bahagia," bisik Anisa sembari semakin memeluk erat tubuh mamanya.
Tok tok tok
Seorang wanita mengetuk pintu, dia adalah panitia penyelengara.
"Mbak ... acaranya mau mulai ya."
Anisa menatap wajah mamanya. Sebentar lagi ia akan menikah, menikahi pria yang sama sekali tidak ia cintai.
"Apa mempelai prianya sudah datang?" tanya tante Wini.
"Sudah, Bu."
Setelah memastikan bahwa Emir dan keluarga sudah tiba, maka tante Wini pun membantu Anisa untuk merapikan gaunnya yang cantik tersebut.
"Mama berdoa untuk krbahagianmu, Nisa."
Dengan sayang, tante Wini mengecupp pipi putrinya secara bergantian. Kemudian perlahan ia melepaskan Anisa, sudah waktunya putrinya itu memasuki gerbang rumah tangga.
__ADS_1
***
Kamar pengantin
Sejak acara ijab Kabul tadi, antara Emir dan Anisa sama sekali tidak ada pembicaraan. Keduanya seperti sama-sama terpaksa menjalani pernikahan ini.
"Apa kamu masih menyukai pria itu?" tanya Emir dengan tenang.
Sudah beberapa tahun terakhir ini mereka memang hanya berteman. Bercerita satu sama lain, sudah saling mengenal. Tapi tidak ada cinta di antara mereka.
"Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?"
"Bukan apa-apa, hanya saja ..."
"Hanya apa? Bukannya aku sudah ceritakan semuanya?"
Emir tersenyum. Bagaimana bisa dia menikahi gadis mandiri seperti Anisa. Yang pasti tidak mungkin dengan mudah menuruti apa maunya.
"Ya sudah ... lupakan."
Bukkk
Emir merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang penuh kelopak bunga. Hari yang melelahkan, pria itu pun akhirnya malah tidur di malam pertamanya. Malam pertama bersama gadis yang sudah seperti teman.
***
Di kamar yang lain
"Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Taqi saat Nada membuka pintu kamar hotelnya.
"Sudah, Mas kok malem banget?"
"Cari ini sudah banget, Sayang. Nanti jangan ngidam aneh-aneh ya ... Ayah bingung nyarinya," canda Taqi sambil mengusap perut Nada.
Nada hanya tersenyum, kemudian mengambil alih paper bag yang semula di tangan suaminya.
"Loh ... kok ditaruh. Nggak dimakan?" tanya Taqi heran.
"Sudah nggak pengen, Mas. Mau makan pisang aja!"
Mata Taqi terbelalak, kemudian dengan cepat ia langsung mematikan lampu yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Lanjut gak? Jempolnya dulu. Hihihihi