Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 54 Ancaman Arka


__ADS_3

🌸🌸🌸


Mohon dukungannya selalu dengan memberikan vote, likeπŸ‘ rate ⭐ dan juga kritik saran untuk penyempurnaan karya ini lebih baik lagi. Terima kasih ❀


🌸🌸🌸


.........


Senyum dari wajah Aurora begitu tulus saat memandingi wajah Arka yang sudah penuh dengan keringat. Tak hanya itu, tubuh Arka yang membentuk lipatan-lipatan membuat Aurora terpana.


"Kamu lihat apa Ra?" tanya Arka sambil menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya.


"Emm ... enggak lihat apa-apa kok!" sahut Aurora berusaha mengelak.


Saat gadis itu berjalan sesekali memperhatikan tubuh Arka yang mencuri pandangannya, kakinya terkilir sebuah batu di hadapannya.


"Aww ... sakit ...." teriak Aurora meringis kesakitan.


"Aduh, kok bisa sih Ra? makanya kalau jalan tuh lihat ke depan, jangan liat yang macam-macam!" seru Arka. Ia kemudian melihat kaki Aurora yang lecet dan membiru kala itu.


Aurora berusaha berdiri dibantu oleh Arka yang mencoba memapahnya, namun Aurora semakin mengeluh sakit di bagian kakinya.


"Aku gak bisa jalan Ka, kakiku benar-benar sakit!" ungkap Aurora sambil meringis kesakitan.


"Ya sudah cepat naik ke punggungku!" seru Arka sambil menjongkokkan tubuhnya dihadapan Aurora.


Dengan perasaan malu-malu gadis itu lalu naik di punggung Arka.


"Ahh ... aku pikir tubuh kecilmu tidak seberat ini," ucap Arka dengan nafas terengah-engah.


Belum sampai Arka dan Aurora keluar komplek perumahan itu, Kevin berjalan masuk dengan mobilnya. Tepat di tikungan, Kevin melihat gadis yang ia cintai kini bersama pria lain.


Rasa cemburu merasuki hati dan pikirannya. Dengan cepat ia keluar dan menghampiri kekasihnya yang sedang berada di atas punggung pria lain.


"Aurora ... kenapa kamu bisa bersama dengan pria lain, di saat aku sudah berniat untuk menjalin hubungan serius denganmu!" ucap Kevin sambil memghampiri Aurora.


"Ayo cepat turun ...!" teriak Kevin menarik lengan Aurora dengan begitu kasar.


"Lepas Vin! sakit ...."


"Cepat masuk mobil! aku ingin bicara denganmu," tutur Kevin, wajahnya penuh dengan amarah.


"Lepaskan Aurora Vin, jangan beraninya menyakiti perempuan!" ucap Arka mencoba menahan kepergian Aurora yang ditarik paksa oleh Kevin.


"Gua gak kenal siapa lu, jadi gua harap lu gak ikut campur urusan gua dan Aurora!" tegas Kevin dengan menatap tajam Arka.

__ADS_1


"Aku bilang lepasin Vin!" teriak Aurora, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Kevin.


"Lu gak dengar apa yang dibilang Aurora?"


Arka menarik lengan Kevin untuk mencoba melepaskan tangan pria itu dari Aurora.


Dengan seketika, Kevin melepaskan Aurora dan memberikan hantaman kepalan tangannya pada Arka.


"Kevin ...!" teriak Aurora, tersentak melihat Arka yang jatuh tersungkur karena pukulan dari Kevin.


Wajah Aurora terlihat panik, melihat keduanya terlibat perkelahian yang melibatkan dirinya.


"Gua udah bilang, jangan pernah ikut campur urusan pribadi gua!" tegas Kevin sambil memberikan pukulan bertubi-tubi pada tubuh Arka.


Arka yang terus tersungkur karena hantaman dari Kevin, mencoba bangkit dan berusaha melawan. Dengan tubuh yang sempoyongan, Arka membalas hantaman itu pada kekasih Aurora.


"Jangan pernah berani kasar pada perempuan, terutama pada Aurora! atau kita akan bertemu seperti hari ini lagi," ucap Arka sebelum membalas pukulannya pada Kevin.


"Arka ... sudah, cukup!" pinta Aurora. Ia terlihat khawatir melihat keduanya masih melanjutkan perkelahian itu.


Arka kemudian menggusur Kevin yang mulai melemah, ia berbisik kecil pada pria itu.


"Kalau lu benar-benar serius dengan Aurora, jangan pernah buat dia menangis, apalagi sampai menyakitinya! kalau lu gak sanggup, gua bakal rebut dia dari lu," ucap Arka dengan suara tersengal-sengal karena kelelahan.


"Ayo Ra, kita pulang," ajak Arka, menggendong kembali gadis itu di punggungnya.


"Apa Kevin gak akan apa-apa Ka, kita tinggal seperti itu?" tanya Aurora bernada khawatir.


"Biar saja Ra, dia gak akan kenapa-kenapa kok! cuma memar-memar begitu, biasa untuk laki-laki," ungkap Arka menenangkan.


Kevin yang masih terduduk, berusaha bangkit dan menghampiri mobilnya. Rasa kesal dan kecewa ia luapkan dengan memukul kaca mobilnya menggunakan batu berukuran besar yang ia temukan di tepian jalan itu.


"Arrrghh ...." teriak Kevin, memegangi kepala dan meremas rambutnya dengan kasar.


"Apa kelebihan pria itu di banding denganku? kenapa Aurora memilih pulang dan berjalan kaki bersamanya!" gumam Kevin dengan perasaan jengkel.


Setibanya di rumah dan memarkirkan mobilnya, mamanya keluar dan terkejut melihat kaca mobil putranya retak dan meninggalkan pecahan-pecahan kecil di joknya.


"Kevin ... mobilmu kenapa? pipimu juga memar-memar seperti ini, kamu berkelahi lagi?" tanya mama terlihat cemas.


"Iya ma, aku berusaha mengantar Aurora pulang, namun seorang pria malah menariknya dengan paksa hingga kami berkelahi karenanya!" ungkap Kevin, mengelus-ngelus pipinya yang terasa sakit.


"Aurora ... jadi dia itu punya kekasih? dari awal mama kan memang tidak setuju kamu dekat dengan gadis itu, mama rasa Aurora tidak sebaik yang kamu pikirkan!" tegas mama dengan opininya.


"Entahlah ma, aku benar-benar bingung sekarang," ucap Kevin dengan suara lemas.

__ADS_1


"Sudah, dengarkan nasehat mama! banyak gadis yang lebih baik dan cantik di banding Aurora, nanti mama akan kenalkan kamu dengan putri dari teman-teman arisan mama."


"Enggak ma, Kevin akan tetap dengan pilihan Kevin!" ucap Kevin kemudian berlalu dari hadapan mamanya.


"Kevin ... mau kemana kamu? sini mama obati dulu memarmu itu!" teriak mama memanggil putranya.


"Gak perlu ma, Kevin hanya butuh istirahat saat ini!" sahut Kevin berlalu ke kamarnya.


Dengan hati jengel, melihat putranya harus bermasalah dengan gadis miskin yang tak dikehendakinya, ia mulai memutar otaknya untuk membuat Kevin membatalkan keinginannya mempersunting gadis itu.


Senyum liciknya tergambar di wajahnya, ia seolah memiliki intrik membuat putranya menjauhi Aurora.


"Lihat saja, mama akan membuatmu meninggalkan gadis itu dengan mudahnya!" gumam mama Kevin memiringkan sudut bibirnya.


Sementara Aurora yang telah tiba di rumahnya, dengan menaiki punggung Arka di sambut berbagai pertanyaan dari sang ibu.


"Aurora ... kamu kenapa sampai di gendong begitu? nak Arka juga! kenapa pipi nak Arka lebam seperti ini?" tanya ibu dengan begitu cemas.


"Aku terkilir bu, makanya Arka mengantarku dengan digendong seperti ini!" sahut Aurora melirik kaki kanannya yang terlihat membiru dan sedikit lecet.


"Lalu wajah nak Arka kenapa lebam juga?" tanya ibu kembali karena penasaran.


Arka yang tak enak hati menjawab pertanyaan ibu Aurora, hanya melirik ringan ke arah gadis itu karena bingung.


"Sebenarnya Arka berkelahi dengan Kevin bu," jelas Aurora sambil tertunduk saat mengatakannya.


"Berkelahi ...."


"Ibu yakin semua ini karena anak itu yang memulai, dia memang bukan pria yang baik untukmu Ra! untung saja ada nak Arka yang menyusul kesana," ucap ibu panjang lebar.


"Pasti dia mau macam-macam kan sama kamu, hingga nak Arka jadi harus membelamu hingga lebam-lebam seperti ini," tutur ibu menatap serius keduanya.


"Bukan seperti itu bu masalahnya, yang jelas saat ini aku masih tetap baik-baik saja!" jelas Aurora, masih berusaha melindungi Kevin dari anggapan buruk ibunya.


Bersambung ...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Quote of the day


Pembelaan dan pembenaran adalah jurus terjitu untuk meyakinkan orang lain bahwa apa yang kita pilih dan putuskan merupakan orang yang tepat, terutama urusan cinta


Sebanyak apapun orang menasehati, hanya angin lalu saja ....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Salam hangat


❀❀❀


__ADS_2