
Aurora dan Kevin harus berjalan beberapa meter dari rumahnya untuk sampai ke tempat di mana mobil Kevin terparkir, karena rumah Aurora hanya bisa di lalui oleh kendaraan beroda dua saja.
Kevin terus saja mencuri pandangannya pada Aurora, entah apa yang membuat ia datang dan menjemput Aurora ke rumahnya, padahal wanita yang berjalan bersamanya kini hanya anak dari buruh cuci di rumahnya.
"Aku minta maaf ya kalau kamu kurang nyaman dengan kedatanganku ke rumah, tadi aku berusaha mencari informasi pada beberapa tetangga dekat rumah dan kebetulan ia menceritakan banyak tentang kamu dan ibu," jelas Kevin pada Aurora.
"Mereka menceritakan apa? apa mereka menceritakan seluruh keluargaku?" tanya Aurora heran.
"Iya, mereka bilang kamu anak gadis yang kuat dan mandiri, hingga harus menghidupi seluruh adik-adik yang masih sekolah! apa benar begitu?" tanya Kevin penasaran.
"Apa hanya itu yang mereka ceritakan? apa mereka juga menceritakan tentang ayahku?" cecar Aurora pada Kevin dengan pertanyaannya.
"Hm..., mereka tidak menceritakan terlalu banyak karena aku hanya bertanya tentang keseharian kamu saja Ra!" ucap Kevin beralasan, ia seolah tahu bahwa Aurora tidak ingin ia tahu permasalahan keluarga yang sedang menimpanya.
"Nah kita sudah sampai, silahkan masuk nona cantik!" goda Kevin pada Aurora sambil menarik handle pintu untuk mempersilahkan Aurora masuk dan duduk disebelahnya.
Aurora pun masuk dan duduk di samping Kevin, jantungnya terus berdegup kencang. Ia kemudian merekatkan kedua tangan pada dada sebelah kirinya. Hentakannya kini semakin cepat dan begitu terasa.
"Kamu sedang apa Ra?" tanya Kevin yang melihat tingkah aneh Aurora.
"Ahh..., gak sedang apa-apa kok?" sahut Aurora kembali menurunkan tangannya.
"Benar kamu gak apa-apa? gak sakit kan?" tanya Kevin dengan menempelkan tangannya di kening Aurora.
"Ahh..., lepasin," ucap Aurora melempar tangan Kevin yang coba menyentuh keningnya.
"Maaf Ra, aku cuma mau tahu keadaan kamu saja, aku khawatir kamu sakit," ucap Kevin menjelaskan.
"Aku gak apa-apa," timpal Aurora dengan tegas, namun keringatnya mengucur deras di kening dan lehernya. Kevin yang melihat penampakan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Rara.... Rara..., kamu aneh dan lucu ya!" ucap Kevin sambil menarik sehelai tisu dan mengusapkannya pada wajah Aurora.
"Kamu bilang gak apa-apa tapi baju kamu basah semua karena keringat," ucap Kevin sambil tersenyum ke arah Aurora dan langsung menyalakan AC (pendingin) dalam mobilnya.
"Tunggu ya, aku nyalakan AC nya dulu," ucap Kevin.
Kepolosan Aurora membuatnya bertanya pada Kevin, tentang hal konyol yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Aku boleh tanya sesuatu hal?" ucap Aurora dengan wajah polosnya.
"Tanya aja Ra, kalau aku bisa pasti aku jawab! memangnya kamu mau tanya apa sih?" tanya Kevin menatap wajah polos Aurora.
"Aku selalu bingung, dari mana asalnya suhu dingin di dalam setiap mobil seperti ini?" tanya Aurora dengan lugu.
"Suhu dingin ini berasal dari freon yang ditekan oleh kompresor sehingga menghasilkan suhu Ra, dan putaran kompresor dipengaruhi oleh laju cepatnya kendaraan, jadi semakin cepat kendaraan melaju maka semakin cepat juga tekanan kompresornya, gimana Ra..., sekarang sudah paham?" jelas Kevin panjang lebar menjawab pertanyaan konyol Aurora.
"Hihiii..., aku semakin gak ngerti Vin!" jawab Aurora dengan wajah bingung.
"Ya sudah gak usah dipikirin yah, sekarang kamu pakai dulu sit beltnya," ucap Kevin menunjuk pada sit belt disamping Aurora.
"Pakai ini?" tanya Aurora sambil memegangi sit belt miliknya.
"Perasaan, aku kalau naik angkutan umum gak pernah pakai ini dan supirnya juga gak pernah komplain tuh!" ucap Aurora dengan segala kepolosannya.
"Rara..., mau naik angkutan umum atau kendaraan pribadi, setiap penumpang maupun pengemudi yang berada di dalamnya wajib mengenakan sit belt untuk keamanannya," ucap Kevin menjelaskan, ia tertawa tergelak saat mencoba menerangkan penjelasannya pada gadis polos di sampingnya.
"Iya... iya..., ini aku pakai ko!" ucap Aurora saat mengenakan sit belt di sampingnya.
"Hah..., susah dan repot juga ternyata jadi orang kaya, harus tahu ini, harus pakai itu, padahal naik angkot aja gak serepot ini!" gerutu Aurora dengan suara halus.
"Kita berangkat sekarang ya Ra," ucap Kevin yang mulai menyalakan mobilnya.
Aurora dan Kevin pun berada dalam satu mobil, ia duduk di samping Kevin yang tengah membawa kemudi kendaraannya.
"Kamu kerja di toko kue sudah lama Ra?" tanya Kevin penasaran.
"Sudah hampir 2 tahun, tapi aku berniat untuk mencari pekerjaan tambahan agar bisa membantu keuangan di rumah," ungkap Aurora dengan wajah memelas.
"Hmm.., begitu ya! semoga kamu cepat dapat pekerjaan lagi ya Ra, tapi kamu gak boleh sampai kelelahan lho, nanti ga ada lagi yang bisa temani aku berangkat kerja," goda Kevin sambil melirik Aurora.
Aurora pun seketika melirik ke arah Kevin secara bersamaan, ia tersipu malu dibuatnya hingga tak sadar mobil yang ia tumpangi sudah sampai di depan toko kue, tempatnya bekerja.
"Ra, ini tempat kerja kamu kan? tanya Kevin sambil menunjuk ke salah satu ruko yang berderet di jalan itu.
"Iya, kamu mau mampir dulu?" tanya Aurora.
__ADS_1
"Lain kali ya Ra, aku sudah hampir telat ke kantor nih," ucap Kevin melihat ke arah jam tangannya.
"Semangat ya kerjanya," ucap Kevin tersenyum manis pada Aurora. Ia kemudian melambaikan tangannya dari balik jendela pintu mobilnya.
Aurora pun membalas lambaian tangan yang diberikan Kevin, kemudian langkah kakinya berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menarik tubuh Aurora.
"Lani...!" ucap Aurora yang terkejut saat mengetahui bahwa yang menarik tubuhnya adalah sahabatnya, Lani.
"Kamu ini kenapa Ra? aku gak ngerti sama kamu! kemarin tiba-tiba kamu ajak paksa ibu untuk pulang, tanpa kasih penjelasan sama aku apa alasannya, terus kamu juga ga angkat telepon dari aku, aku salah apa Ra?" tanya Lani dengan wajah serius, ia begitu menunggu jawaban dari sahabatnya tentang alasan yang menyebabkan sahabatnya itu memilih kembali pulang saat acara akad ibundanya akan dimulai.
"Lepasin aku Lan...!" ucap Aurora dengan suara setengah berteriak.
"Ra..., kamu ini kenapa? aku gak akan tahu salah aku dimana kalau kamu gak jelasin sama aku!" ucap Lani yang terus memaksa Aurora memberikan penjelasannya.
"Aku bilang lepasin tangan aku...!" ucap Aurora yang melempar genggaman tangan Lani dari tangannya.
"Oke..., aku lepasin, sekarang aku mohon sama kamu cerita sama aku, apa salah aku Ra?" tanya Lani dengan memohon dan memelas pada Aurora.
"Kamu benar-benar mau tahu alasannya?" tanya Aurora dengan tatapan tajam pada Lani.
"Iya Ra, aku butuh penjelasan dari kamu!" ungkap Rani, matanya kala itu penuh tanya, apakah yang membuat sahabatnya berubah dan bersikap berbeda dari biasanya.
"Baik..., aku akan beri tahu kamu, alasan aku kembali mengajak ibu pulang adalah karena ibumu...!" teriak Aurora sambil meruncingkan telunjuknya ke arah Lani.
Bersambung....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Rasa cinta yang teramat besar pada sesama kadang membuat orang terlena hingga lupa bahwa yang pantas ia cintai hanya Rabb-Nya, hingga ia sadar bahwa kesakitan dan kepahitan yang ia terima adalah jalan untuk kembali bersimpuh.
🍂🍂🍂🍂
Mohon dukungannya selalu ya dari readers, tanpa kalian karya ini tidak akan menjadi sebuah Maha Karya yang baik. Kritik dan sarannya sangat di tunggu ya untuk perbaikan dan perkembangam yang lebih baik lagi 🌸
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤