Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 7 Pengantin Pria Nyatanya Adalah Ayahku


__ADS_3

"Aurora.... kamu ini kenapa? kita baru saja tiba disini tetapi kamu malah ajak ibu untuk pulang!" teriak sang ibu dengan suara cukup keras hingga sebagian tamu undangan yang hadir memperhatikan mereka berdua.


"Nanti Aurora jelasin di rumah bu, sekarang ayo kita pulang dulu!" ajak Aurora dengan memaksa.


Sang ibu yang semakin bingung dengan sikap Aurora, akhirnya menghempaskan tangan Aurora yang menggenggam tangannya.


"Lepasin ibu Ra, kalau kamu mau pulang silahkan, ibu akan tetap disini sampai acara selesai," ucap ibu dengan suara yang semakin keras. Sang ibu kemudian duduk setelah melepaskan tangan Aurora, sementara Aurora tak beranjak dari tempat ia berdiri di dekat pintu.


Keributan yang terjadi antara Aurora dan ibundanya, menarik perhatian kedua keluarga mempelai, terkecuali Lani dan ibunya yang saat itu berada di ruangan lain. Saat ibu tengah memperhatikan kedua calon mempelai, tiba-tiba sang mempelai pria menoleh ke arah ibu, dan membuat tatapan tajam itu tak luput dari pandangan ibu.


Seketika ibu pun terheran-heran saat melihat calon mempelai pria adalah suami yang begitu ia cinta, yang tega meninggalkan dan mengkhianati keluarganya demi wanita lain.


"Jadi kamu pria yang ingin dinikahi ibu Lani?" ucap ibu dengan terbata-bata, suaranya seolah tertahan oleh sakitnya kenyataan yang harus ia hadapi.


"Jadi ibu Lani adalah wanita yang kamu maksud?" lanjut ibu mengatakan dengan suara perlahan, diiringi air mata yang terus bercucuran.


Seluruh tamu yang hadir pun merasa bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya berbisik satu sama lain tanpa mengetahui kebenarannya.


Melihat keadaan sang ibu yang sudah tidak memungkinkan untuk terus berada di tempat itu, Aurora kemudian memboyong ibunya keluar dari ruangan itu.


"Ayo bu, kita pulang saja," ajak Aurora dengan suara lembut pada sang ibu.


Mereka berdua akhirnya keluar, kesakitan dan kesedihan yang dialami Aurora begitu teramat memilukan. Bagaimana tidak, sahabat yang begitu dekat dengannya, hari itu telah merampas ayah dan juga kebahagiaannya.


"Aurora... ibu... tunggu dulu! sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian tiba-tiba ingin pergi?" tanya Lani yang tiba-tiba menghadang kepulangan Aurora. Ia bingung apa yang menyebabkan sahabat dan ibunya itu pergi. Lani benar-benar tidak tahu menahu tentang apa yang dipermasalahkan oleh sahabatnya itu, bahkan ia tak tahu bahwa ayah tirinya merupakan ayah dari sahabat baiknya selama ini.


Ketiadaan ayah Aurora karena harus bekerja serabutan di kota membuat Lani benar-benar tak mengenal sosok ayah dari Aurora.


Aurora yang tak menghiraukan ucapan Lani, berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menarik erat lengan sang ibu untuk keluar dari ruangan yang sudah ramai oleh tamu undangan yang hadir.


"Ayo cepat bu kita pulang saja dari sini!" ajak Aurora pada sang ibu. Berbeda halnya dengan Aurora, ibu justru terlihat lebih memilih diam, tatapannya begitu kosong, matanya penuh dengan kesedihan.


Sepanjang perjalanan menuju pulang, Aurora berusaha menghibur ibunya, namun semua sia-sia. Sang ibu tetap hanya diam membisu, hanya air matanya saja yang menjawab isi hatinya kala itu.


Mengalami cobaan yang begitu bertubi-tubi menimpanya kala itu, Aurora mengeluhkan nasibnya pada Rabb-Nya.

__ADS_1


"Ya Allah ya Tuhanku, mengapa kau berikan cobaan begitu besar kepada hamba? apakah begitu besar dosa hamba padamu ataukah ini caramu agar hamba semakin dekat dengan mu?" gumam lirih Aurora dalam hati.


Kediaman Lani Pukul 10.18


"Sudah pak di lanjut saja acaranya!" pinta Lani kepada penghulu yang akan memulai prosesi akad.


Acara yang sebelumnya sempat tertunda karena keributan yang terjadi di ruangan itu akhirnya dilanjutkan kembali.


Hati mempelai pria begitu pedih saat keluarga yang ia cintai bertahun-tahun lamanya hadir di pesta pernikahannya, ia begitu tak percaya dengan takdir hidupnya. Lamunannya saat itu dikagetkan dengan suara penghulu yang bertanya padanya.


"Bagaimana mempelai pria, apa sudah bisa kita mulai prosesi akadnya?" tanya sang penghulu.


Mempelai hanya mengiyakan dengan menganggukan kepala saja tanpa menjawabnya. Setelah memastikan kembali saksi dari kedua mempelai dan wali dari mempelai wanita, penghulu kemudian memulai proses akadnya.


"Saudara Iman, betul anda pernah menikah dan telah berstatus duda saat ini?" tanya sang penghulu.


"Betul pak," jawab mempelai pria menatap wajah penghulu.


"Baik, kalau begitu sudah cukup paham ya dengan pengucapan ijabnya?" tanya kembali penghulu untuk memastikan bahwa mempelai mengetahui kalimat ijabnya.


"Bismillahirrahmanirrahim, silahkan ikuti saya ya," ucap penghulu sambil menjabat tangan mempelai pria.


"Saya terima nikah dan kawinnya Intania binti Hasan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas sebesar 8 gram dibayar tunai," ucap penghulu yang kemudian diikuti oleh mempelai pria.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu pada para saksi.


"Sah.... Sah..." sahut para saksi yang duduk di samping mempelai dan bapak penghulu.


"Alhamdulillah...." ucap syukur seluruh tamu undangan yang hadir di ruangan itu. Semua mengucap syukur atas prosesi akad yang berjalan dengan khidmat.


Keluarlah mempelai wanita setelah akad selesai dilakukan, wanita yang tidak lain adalah ibunda dari Lani yang sekarang sudah sah menjadi istri dari pak Iman, mantan suami dari ibu Aurora.


Ibu Lani kemudian menghampiri pria yang kini telah sah menjadi suaminya, ia kemudian bersimpuh dan mencium tangan suaminya, di balas dengan kecupan kening oleh suaminya di wajah Intania.


Suara syukur serta canda tawa menghiasi ruangan itu, namun keramaian itu terasa sepi bagi Lani yang di landa kebingungan atas ketiadaan Aurora hari itu. Diraihlah ponsel miliknya di tas jinjingnya, ia berusaha menelpon Aurora saat itu.

__ADS_1


Tuuuut.... tuuuut.... tuuuut...


Terdengar nada tunggu dari ponsel Lani saat menunggu panggilan teleponnya diterima oleh Aurora.


"Kok gak di angkat sih Ra?" gumam Lani dalam hati.


"Ayo dong Ra diangkat teleponnya!" lagi-lagi panggilan teleponnya pada Aurora tidak di jawab, Lani kemudian menyimpan kembali ponselnya dalam tasnya.


Pandangan Lani kemudian kembali tertuju pada sang ibu, hari dimana kini ia memiliki sosok ayah yang telah lama ia rindukan, walaupun hanya sebagai ayah tiri baginya. Ibunya tampak sedang bersungkeman dengan kedua orang tuanya yang juga adalah nenek dan kakek Lani.


"Hah..... rasanya begitu menyejukan, andai saja kamu disini Ra, mungkin kebahagiaan ini akan terasa lengkap," ucap Lani sambil menghela nafas panjangnya. Ia kemudian menghampiri ibu dan ayah tirinya.


"Selamat ya bu, pak, akhirnya sekarang Lani jadi punya bapak lagi deh," ucap Lani menggoda ayahnya. Mereka pun tertawa penuh haru dan sukacita. Suasana di kediaman Lani saat itu ramai, penuh dengan tamu undangan yang datang silih berganti. Sementara di saat yang sama, Aurora sedang meratapi nasibnya yang kian tak tentu arah.


Sesampainya di rumah, ia dan sang ibu duduk di ruang tengah tempat mereka biasanya berkumpul bersama setelah seharian berjibaku dengan kesibukan masing-masing. Tiba-tiba ponselnya berdering kembali setelah beberapa menit lalu terdapat panggilan dari Lani.


Kring..... kring..... kring.....


Teleponnya terus saja berdering, namun tetap ia abaikan hingga deringannya terhenti.


"Siapa Ra, kenapa teleponnya tidak kamu angkat?" tanya ibu yang melihat Aurora mengabaikan telepon di ponselnya.


"Lani bu, biarkan saja! aku sedang tidak ingin berbicara dengannya!" sahut Aurora dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kenapa? apa kamu kecewa dan marah pada Lani karena ayahnya kini adalah merupakan ayahmu?" tanya ibu menatap wajah Aurora.


"Tidak bu, bukan itu permasalahannya! aku membenci Lani karena ia anak dari wanita yang telah merebut ayah dari keluarga kita," tegas Aurora dengan wajah memerah.


Bersambung....


Quote of the day : Meratapi kesedihan dan nasib buruk hanya akan menghilangkan rasa syukur kita kepada Sang Khalik, meyakini bahwa setiap kejadian adalah dengan kehendaknya, akan membuat kita percaya tidak ada yang sia-sia baginya.


Ikuti terus kisah Aurora ya Readers tercinta, mohon dukungannya selalu untuk memberikan kritik dan sarannya untuk penyempurnaan karya yang lebih baik lagi.


Salam hangat

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2