Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 53 Bahu untuk Bersandar


__ADS_3

🌸🌸🌸


Mohon dukungannya selalu dengan memberikan vote, likeπŸ‘ rate ⭐ dan juga kritik saran untuk penyempurnaan karya ini lebih baik lagi. Terima kasih ❀


🌸🌸🌸


.........


Wajah Aurora nampak sumringah menyambut pernyataan Kevin padanya, seakan tak percaya dengan nasib baik yang berpihak padanya.


"Aku tidak sedang bermimpi! Kevin akan menjadi pria masa depanku," ucap Aurora dalam batinnya.


Memperhatikan kebahagiaan yang terpancar dari gadis cantik itu, mama Kevin justru hanya tersenyum sinis. Ia tak habis pikir putranya bisa jatuh hati pada gadis miskin, putri dari seorang buruh cuci.


"Apa yang telah kamu lakukan pada putraku, hingga dia rela mempertaruhkan masa depannya hanya untuk gadis sepertimu!" gumam mama Kevin dengan tatapan yang menusuk tajam.


"Mama senang kan akan punya menantu secantik Aurora?" tanya Kevin. Ia berusaha mencairkan suasana yang menegang antara mamanya dengan Aurora.


"Tentu saja, mama senang dengan semua pilihanmu! terlebih apabila gadis itu dari keluarga yang jelas dan tidak mengincar harta," tegas mama Kevin.


"Mama tepat, Aurora ini adalah gadis mandiri dan tidak mengincar harta seperti yang baru saja mama katakan! aku yakin mama juga akan menyukai Aurora seperti aku menyukainya," ungkap Kevin membela gadis itu dengan pandangannya.


"Ya ... kita lihat saja nanti!" sahut mama Kevin mengernyitkan dahinya sambil tersenyum sinis.


"Oh ya Ra ... nantinya aku, papa dan mama akan datang ke rumahmu untuk membicarakan masalah ini! kamu siap kan hidup bersama denganku?" tanya Kevin memandangi wajah Aurora.


"Apa secepat itu Vin? aku belum menceritakan ini pada ibu!" jelas Aurora dengan wajah bingung.


"Apa perlu membicarakan ini dengan ibumu? saya yakin dia juga tak akan menolak memiliki menantu kaya dan tampan seperti Kevin! atau justru memang dia yang menyuruhmu mendekati anak saya," tanya mama Kevin dengan suara santainya.


"Ibu saya tidak seperti itu ma!" timpal Aurora membela sang ibu yang saat itu direndahkan oleh calon mertuanya.


"Benarkah? lalu kenapa kamu mendekati anak saya hingga dia berpikir untuk menikah sesegera mungkin!" tanya mama Kevin dengan nada jengkel.


"Mama cukup ma! aku yang memutuskan untuk menikahi Aurora, bukan atas dasar paksaan dari Aurora maupun keluarganya," bela Kevin dengan suara tegas pada mamanya.


"Maaf Vin, sepertinya mama tidak menginginkan menantu sepertiku! biar aku pamit pulang saja," ucap Aurora dengan suara perlahan.


"Tunggu Ra ... biar aku antar kamu ya!"


"Sudahlah, tidak usah kamu sepanik itu Vin! kalau memang ucapan mama tidak benar, kenapa dia harus merasa tersinggung," tutur mama Kevin sambil menarik lengan putranya.


"Lepasin Kevin ma! Aurora adalah pilihan Kevin, mama harus hargai itu," tegas Kevin menghempaskan genggaman sang mama.


"Ra ... tunggu aku Ra!" panggil Kevin pada Aurora yang berjalan sambil terisak-isak.

__ADS_1


"Anak itu, jadi membangkang gara-gara seorang gadis miskin!" gumam mamanya dengan hati dongkol.


Kevin berusaha mengejar Aurora dengan mobilnya, ia mencari-cari di sepanjang jalan komplek namun tidak juga menemukan Aurora.


"Kemana ya dia, kenapa aku tidak juga menemukannya!" ucap Kevin dengan raut gelisah di wajahnya.


Aurora yang berlari menghindari Kevin, terhenti pada suatu lorong jalan yang tidak banyak orang berlalu lalang disana. Tangisnya pecah saat ada orang lain yang membicarakan buruk tentang ibunya.


"Kenapa mama Kevin berpandangan seburuk itu pada ibu?" tangis Aurora dengan suara berat.


Saat ia mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya, seseorang mengejutkannya dengan memberikan sehelai sapu tangan bercorak kotak-kotak.


"Hapus air matamu itu!" ucap seseorang yang tak asing dengan suaranya. Aurora menoleh ke sisi kanannya, dan begitu terkejut.


"Arka ... kok kamu bisa ada disini?" tanya Aurora sambil menghentikan tangisnya.


"Aku sengaja menyusul dan mencarimu kesini, ibu bilang kamu pergi ke komplek ini untuk laki-laki itu! aku berpikir kamu akan butuh sapu tangan dan bahu ini untuk bersandar," ungkap Arka dengan begitu menenangkan.


Tangis yang baru saja terhenti, tiba-tiba terdengar lagi dengan suara tersengal-sengal. Bahu Arka menjadi tempat ternyamannya menyandarkan kepalanya saat itu.


"Menangis saja Ra, keluarkan seluruh keluh kesahmu di pundakku! tapi setelah ini kamu harus bangkit dan tegar lagi," jelas Arka sambil mengusap lembut rambut Aurora yang diikat sembarang.


Tanpa ragu-ragu dan perasaan malu, gadis itu menyeka lendir yang keluar dari hidungnya.


"Maksud kamu?" tanya Arka kembali dengan wajah bingung.


"Iya, kenapa kamu tetap saja baik padaku, walau aku tidak pernah bersikap yang sama padamu!" jelas Aurora.


"Kamu mau tahu kenapa? karena kamu adalah ...." ungkap Arka, namun tiba-tiba penjelasannya terhenti.


Aurora kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Arka, dan menatap pria itu dengan wajah serius.


"Karena apa Ka?" tanya Aurora penasaran.


Aurora begitu tak sabar menunggu penjelasan Arka saat itu. Pikirannya mulai menerka-nerka tentang apa yang akan diucapkan Arka padanya.


"Tidak mungkin kan Arka benar-benar mencintaiku," gumam Aurora dengan hati yang cemas.


"Mmm ... karena kamu sudah seperti adikku sendiri Ra!" jelas Arka sambil menoyor kepala Aurora dengan jarinya.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh ya! kamu bukan tipe gadis impianku," jelas Arka dengan nada meledek pada Aurora.


"Siapa juga yang berharap dicintai pria berhati batu sepertimu!" ucap Aurora menimpali ucapan Arka padanya.


"Ya, siapa tahu kan sebenarnya kamu jatuh cinta sama aku tapi kamu malu untuk mengakuinya," goda Arka kembali.

__ADS_1


Seketika tangis Aurora terhenti dan mulai menanggapi pernyataan Arka yang terus saja menggodanya.


"Sudah ... sudah ... aku gak mau dengar perkataan kamu yang semakin gak masuk akal! aku mau pulang," ucap Aurora yang berjalan menuju rumahnya.


"Lho ... sapu tanganku gimana?" tanya Arka menghentikan langkah Aurora sesaat.


"Oh iya, aku sampai lupa! ini ... sapu tangan milikmu."


"Enggak ... enggak ... kamu bawa aja sapu tangan yang penuh dengan kotoran dan lendir ini, aku gak butuh lagi!" tolak Arka sambil mengejar Aurora yang terus berjalan.


"Ambil saja, anggap itu hadiah dariku karena kebaikanmu hari ini!" jelas Aurora.


"Kenapa aku sial sekali ya hari ini, baju dan sapu tanganku harus menjadi tumpukan lendir dari gadis aneh sepertimu!" ungkap Arka dengan nada meledek.


"Oh iya Ka, kamu gak bawa pacar kesayanganmu itu?" tanya Aurora memperhatikan sekeliling area tempat mereka berada.


"Pacar kesayangan?" sahut Arka heran.


"Iya ... vespa kamu itu lho."


"Oh ... vespanya aku tinggal di rumah kamu Ra!"


"Jadi dari rumah kesini kamu jalan kaki?" tanya Aurora terkejut.


"Iya ... memangnya kenapa?"


"Gak apa-apa sih, tapi kan lumayan jauh juga jarak dari rumah kesini dengan berjalan kaki," ungkap Aurora memandang pilu Arka.


"Gak masalah Ra ... dulu kan aku pernah menjadi tukang semir sepatu, jadi berjalan sejauh ini tidak seberapa untukku!" jelas Arka tersenyum menoleh Aurora.


"Terima kasih ya Ka, kamu selalu menjadi sandaran terbaik untukku," gumam Aurora, tersenyum menatap wajah Arka yang terlihat kelelahan saat berjalan.


Bersambung ....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Quote of the day


Jodohmu adalah belahan jiwamu


Perbaiki akhlak dan perilakumu maka jodohmu akan seperti itu


Jangan berharap mendapatkan buah durian dari menanam pohon tauge


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2