
Mendengar penolakan dari sang mama, Kevin terus berusaha untuk membujuk mamanya agar bersedia menuruti rencananya itu.
"Ma ... aku mohon sama mama, aku sudah bukan anak kecil lagi ma! aku ingin menikah," tutur Kevin sambil mengelus-ngelus lembut lengan mamanya.
"Haduh ... memangnya kamu sudah ada calonnya? mama saja gak tahu calon kamu yang mana!" tanya mama dengan penasaran.
"Aku akan bawa calonnya untuk bertemu mama, tapi aku minta satu hal sama mama, siapapun calonnya nanti mama akan setuju dan tidak akan pernah menolaknya!" pinta Kevin dengan nada sedikit serius.
"Ya, mama harus tahu dulu seperti apa wanita pilihanmu itu!" tegas mama sambil mengerutkan bibirnya di depan Kevin.
"Bagaimanapun pandangan mama terhadap wanita yang aku bawa nanti, aku akan tetap menikahinya! jadi tolong, mama dapat menghargai dia sebagai orang yang aku pilih," ujar Kevin.
Ia kemudian mencium pipi mamanya dan masuk ke kamar yang tidak jauh dari ruang tamu.
"Anak ini ada-ada saja permintaannya, apa dia memang sudah pantas untuk menikah! sedangkan setiap bulannya saja dia masih selalu bergonta-ganti kekasih," gumam mama menggelangkan kepala mendengar permintaan putranya itu.
Di waktu yang bersamaan, setelah Aurora mengirimkan pesannya pada Kevin, ia duduk di samping ibunya lalu menyandarkan tubuhnya dengan manja di bahu sang ibu .
"Bu ... kalau Aurora ada niat menikah, apa ibu setuju?" tanya Aurora terseyum malu.
"Menikah?" tanya ibu terheran-heran.
"Iya bu, aku hanya ingin tahu saja tanggapan ibu saat kelak ada pria yang akan melamarku," ungkap Aurora.
"Tentu ibu senang Ra, ibu mana yang tidak ingin melihat putrinya hidup bahagia!" seru ibu pada Aurora. Jemarinya dengan lembut mengelus- ngelus rambut Aurora yang terurai.
"Kok tiba-tiba kamu tanya seperti itu pada ibu! apa memang kamu sudah menemukan pria yang tepat sebagai calon pendampingmu nanti?" tanya ibu dengan suara santai.
"Sebenarnya sih ada bu, tapi Aurora belum tahu apakah pria itu berpikiran sama dengan Aurora atau tidak!" timpal Aurora menanggapi.
"Biar ibu tebak ya, apa pria itu Arka? ibu rasa dia memang pria yang tepat untukmu!" seru ibu dengan begitu yakin.
"Arka? kenapa ibu bisa berpikiran kalau pria yang aku maksud adalah Arka?" tanya Aurora heran.
"Jadi betul pria yang kamu maksud itu adalah Arka?" tanya ibu memastikan dugaannya.
"Ah ... sudahlah bu, nanti ibu juga akan tahu siapa orangnya!" timpal Aurora singkat.
Saat mereka berdua tengah berbincang di ruang tengah, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan ucapan salam yang terdengar dari arah luar.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Aurora dan ibunya saling pandang saat mendengar ucapan salam itu. Mereka begitu mengenal suara itu.
"Biar Aurora yang buka bu," ucap Aurora sambil berdiri dan menghampiri pintu.
Krek ...
"Ayah ..." panggil Aurora saat melihat ayahnya yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
"Aurora, apa kabarmu nak? ayah begitu rindu dengan kalian semua!" tutur ayah dengan wajah haru.
"Aku, ibu dan juga adik-adik semuanya dalam keadaan baik! bagaimana kabar ayah?" tanya Aurora kembali dengan wajah datar.
Ia berusaha menyembunyikan perasaan rindunya yang begitu besar pada ayahnya. Rasanya ingin sekali memeluk untuk sekedar melepas rasa rindu setelah lama tak bertemu.
"Syukurlah, ayah senang mendengarnya! apa Dika dan adik-adikmu sudah tidur?" tanya Ayah, matanya melirik ke arah dalam, mencari ketiga anaknya yang lain.
Tak lama ibu dan ketiga adik Aurora keluar dari ruang tengah. Dika dan Nova dengan segera menghampiri ayahnya yang sudah membentangkan lengannya untuk memeluk mereka berdua.
"Ayah ... kenapa ayah lama sekali pulangnya? Dika rindu sama ayah!" ucap Dika saat dalam pelukan sang ayah.
"Ayah kan harus bekerja untuk bisa membelikan mainan yang Dika inginkan, jadi ayah harus rela tidak sering pulang ke rumah!" tutur ayah beralasan.
"Ini ayah sudah belikan pesanan Dika, ayah juga belikan seragam sekolah untuk kak Bintang dan kak Nova," jelas ayah saat membuka kantong yang ia bawa ke rumah itu.
"Wah, terima kasih yah! Nova senang sekali punya seragam baru, seragam Nova yang lama sudah terlihat kusam yah," ungkap Nova dengan begitu gembira.
"Iya, maafkan ayah ya! ayah baru bisa membelikannya untuk kamu," tutur ayah sambil mengusap kepala Nova dengan penuh kasih sayang.
"Oh iya, ayah juga belikan tas untukmu," ucap ayah, sambil menyerahkan sebuah kantong pada Aurora.
"Ayah tahu, kamu selalu mementingkan ketiga adikmu hingga kebutuhanmu sendiri tidak pernah kamu pikirkan! itu kenapa ayah belikan tas ini, karena ayah lihat tas yang kamu gunakan saat ini sudah tidak layak lagi untuk dipakai," ungkap ayah dengan suara pilu, hingga membuat mantan istri dan putra-putrinya merasa terenyuh mendengarnya.
Terlihat wajah Aurora dan ibu berusaha menahan tangis, tak dapat dipungkiri mereka juga rindu dengan ayah yang kini sudah tak dapat bersama lagi.
"Dika, Bintang dan Nova main di dalam dulu ya, kamu juga tunggu di dalam Ra! ada yang perlu ibu bicarakan dengan ayah," pinta ibu pada ketiga anaknya.
"Baik bu," sahut Aurora dan kedua adiknya yang lain. Mereka lalu masuk dan duduk di ruang tengah sambil membuka bingkisan yang di bawa ayahnya malam itu.
"Apa kamu bahagia bersama keluargamu yang sekarang? badanmu terlihat lebih kurus dan tidak terurus," ucap ibu pada mantan suaminya, tanpa berani menatap wajahnya.
__ADS_1
"Aku bahagia, namun tidak sebahagia saat bersama keluarga ini!" ungkap ayah dengan wajah tertunduk.
"Semua tak perlu disesali, berusahalah untuk tetap sehat dan bahagia!" pesan ibu yang membuat mantan suaminya terenyuh dan menoleh ke arahnya.
"Maafkan aku bu ... andai saja aku tidak mengikuti hawa nafsuku, mungkin aku masih bisa berkumpul bersama kalian," ucap ayah dengan suara terbata-bata karena menahan tangisnya.
"Sudahlah, aku tak ingin lagi membahas itu!" sahut ibu sambil memalingkan wajahnya.
"Apa tidak ada kesempatan untukku lagi bisa bersama dengan kalian? kita akan bersama-sama lagi seperti dulu, aku janji tidak akan mengulangi kesalahan itu!" ucap ayah dengan suara pilu dan perasaan menyesalnya. Sesekali ia mengusap cucuran air mata di pipinya.
"Rasanya itu tidak mungkin, mengingat istrimu kini sedang mengandung anakmu! lagipula aku tak ingin terus dibayang-bayangi rasa sakit yang terus membuatku tak bisa lagi menghormatimu sebagai seorang suami," ungkap ibu.
Hhh...
"Andai semuanya bisa diulang kembali, aku ingin tetap bersama kalian!" ungkap ayah sembari menghela nafasnya.
"Jadilah ayah dan suami yang baik untuk keluargamu kini, jangan lagi menorehkan luka pada mereka yang begitu mencintai kehadiranmu!" pesan ibu dengan air mata yang sudah membendung.
"Bagaimana pun mereka, itu adalah keluarga yang akan terus mendampingimu kelak hingga dirimu renta nanti," tambah ibu, memberikan nasehat terbaiknya untuk mantan suaminya.
"Aku akan berusaha melakukan semua yang terbaik, walaupun sulit rasanya memberikan itu kepada mereka," ungkap ayah menimpali.
Bersambung ....
🍂🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Hiduplah bersemangat seperti rambut
Berapa kalipun orang menggunting bagiannya, ia tetap bersemangat untuk tumbuh
Pun sama halnya dengan kita, tetaplah bersemangat mengejar cita-cita
Tak perduli berapa banyak orang mematahkan semangat dan harapan yang ingin kita gapai
🍂🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤