Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 40 Menyembunyikan Rasa


__ADS_3

Arka hanya menaikan bahunya dengan alis yang mengkerut saat mendengar pertanyaan Aurora.


"Kamu bisa tahu sendiri jawabannya dengan melihat foto itu Ra," ucap Arka dengan suara santai.


Aurora hanya melamun, membayangkan wanita itu adalah benar-benar kekasih Kevin seperti dugaannya.


"Kenapa juga aku harus memikirkan ini! lagipula Kevin juga bukan kekasihku," ucap Aurora dengan wajah masam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Kamu yakin gak masalah melihat kedekatan Kevinmu itu dengan wanita lain?" tanya Arka, melirik Aurora yang terduduk di sampingnya.


"Maksud kamu?" tanya Aurora dengan nada serius, seolah tak ingin perasaannya pada Kevin diketahui oleh Arka.


"Sudah ... jujur saja, kamu memiliki perasaan kan pada Kevin!" ucap Arka dengan asumsinya.


Pertanyaan Arka malam itu membuatnya terdiam, ia begitu ingin menceritakan perasaan sesungguhnya pada Arka namun keraguan masih menyelimuti pikirannya.


"Kenapa? kamu gak yakin kalau aku bisa jaga rahasia ini! cerita saja kalau kamu memang butuh teman, aku siap kok mendengarkan semua perasaan dan keluh kesahmu," tegas Arka dengan tatapan meneduhkannya pada Aurora.


Ucapan Arka kala itu membuat Aurora merasa nyaman dan percaya bahwa Arka memang tepat untuk dijadikannya teman bercerita.


"Kamu benar Ka, aku memang memiliki perasaan pada Kevin! tapi semua terasa sulit untukku," ungkap Aurora dengan wajah tertunduk.


"Sulit? sulit bagaimana Ra?" tanya Arka, seolah ia memang ingin menjadi kekuatan bagi Aurora.


"Sulit karena anggapan buruk ibu pada Kevin Ka, dan kali ini dugaanku bisa saja benar bahwa Kevin memang sudah memiliki kekasih," jelas Aurora dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangisnya.


"Oke, kalau masalah anggapan buruk ibu terhadap Kevin sebenarnya bukan masalah besar Ra, selagi Kevin dapat menunjukan kepribadiannya yang baik di depan ibu! tetapi kalau untuk kekasih, aku gak bisa jamin bahwa Kevin memang masih sendiri," tegas Arka dengan pendapatnya untuk Aurora.


"Lalu aku harus bagaimana Ka?" tanya Aurora dengan wajah bingung.


"Kalau kamu berani, kamu bisa tanyakan ini langsung pada Kevin! ajak dia bicara untuk menjawab semua kekhawatiran kamu selama ini," ungkap Arka dengan solusinya pada Aurora.


"Oh ya, apa Kevin sudah tahu bahwa kamu memiliki perasaan untuknya?" tanya Arka menatap serius wajah Aurora.


Aurora hanya menggelengkan kepalanya pada Arka, memberikan isyarat bahwa Kevin memang belum tahu tentang perasaannya kini.


"Belum tahu? jadi selama ini kamu selalu menyembunyikannya di depan Kevin?" tanya Arka heran.


"Iya Ka," sahut Aurora singkat dengan wajah pilu.


"Kenapa kita harus bernasib sama, Ra! mencintai seseorang dengan terus menyembunyikannya, sehingga membuat kita merasakan sakit saat tahu orang tersebut mencintai orang lain," gumam Arka dalam lamunannya.

__ADS_1


"Kalau saranku sih, kamu lupakan saja Kevin itu Ra! dia jelas-jelas mencintai wanita lain dan tidak akan pernah menganggap kamu ada," ucap Arka memberikan sarannya.


"Awalnya aku berpikir seperti itu, karena ibu terus saja melarangku untuk berhubungan dengan Kevin, namun semakin aku berusaha melupakan, semakin sulit bagiku untuk mengabaikan perasaan ini Ka" ungkap Aurora dengan air mata yang mulai tak terbendung.


"Kamu benar Ra, memang tidak mudah melupakan seseorang yang sudah mengisi kekosongan hati ini dengan indahnya! bahkan saat kita tahu orang tersebut sudah mengisi hatinya dengan orang lain sekalipun, kita masih saja buta akan hal itu," ungkap Arka dengan wajah pilu, seolah mengerti betul perasaan Aurora kala itu.


"Kamu juga sedang patah hati, Ka? kok aku gak tahu kalau kamu sedang dekat dengan seorang wanita!" tanya Aurora dengan nada serius.


"Enggak lah, masa cowok cool sepertiku harus merasakan patah hati!" ucap Arka dengan diiringi senyum kecil di bibirnya.


"Ih ... ayo kasih tau siapa gadis yang bisa membuat pria dingin dan kurang peka sepertimu jatuh cinta?" tanya Aurora menggoda Arka.


"Yang jelas bukan gadis aneh yang keluar dengan sehelai handuk ya!" sahut Arka meledek gadis itu dengan diiringi gelak tawanya.


"Arka ... kamu nyebelin!" ucap Aurora sambil mencubit paha Arka dengan keras.


Mereka pun akhirnya saling bercanda dan tertawa bersama. Ibu yang mendengar dari dalam rumah, mengintip dengan asyiknya dibalik gorden sambil sesekali tersenyum kecil.


"Dasar gadis aneh dan lugu, kalau saja kamu tahu bahwa gadis yang sudah membuat pria tidak peka dan dingin sepertiku ini bisa jatuh cinta adalah dirimu, apa kamu bisa melupakan Kevin dan memberikan seluruh hatimu padaku," gumam Arka sambil menatap tajam wajah Aurora yang sedang asyik dengan candaannya untuknya.


"Aku gak masalah Ra, walaupun hanya menjadi tempat curhatmu seperti ini! melihat kamu baik-baik saja dan tetap menjadi orang terdekatmu, itu sudah cukup bagiku," tambah Arka dalam batinnya.


"Oh, ada nak Arka! kapan datang?" tanya ibu, dengan tersenyum ke arah Arka.


"Belum lama juga kok bu," jawab Arka dengan balasan senyumnya.


"Ya sudah, lanjutkan ya obrolannya! ibu masuk ke dalam dulu," ucap ibu lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk berkumpul bersama putra-putrinya yang lain.


Tak terasa, kebersamaan mereka malam itu sudah hampir 2 jam. Arka kemudian membalikkan tangannya dan melihat waktu pada jam tangannya.


"Ra ... aku pamit pulang ya! ini sudah hampir jam sembilan malam," ucap Arka berpamitan, sambil menyimpul tali sepatunya.


"Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi ya! oh ya, sampaikan juga salamku pada ibu," ucap Arka berpamitan pada Aurora.


"Iya, nanti aku sampaikan! hati-hati Ka," pesan Aurora pada Arka yang mulai melangkahkan kakinya untuk pulang.


Mendengar ucapan pesan itu, Arka kemudian menoleh dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Aurora.


Hari itu pun terlewati begitu saja. Matahari yang biasa menyinari kini terasa padam sinarnya, seolah ikut merasakan kekhawatiran yang Aurora alami.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Kevin masuk untuknya.

__ADS_1


"Iya Vin," ucap Aurora singkat.


"Ra, aku sudah di tempat biasa ya!" jelas Kevin dalam teleponnya.


"Iya, aku berangkat sekarang Vin," ucap Aurora sambil memasukkan bekal makannya yang sudah disiapkan sang ibu.


"Sama Kevin lagi berangkatnya?" tanya ibu dengan wajah serius.


"Iya bu, aku pamit ya," ucap Aurora lalu mencium tangan ibunya.


"Hati-hati ya Ra,!" pesan ibu pada putri sulungnya itu.


Langkah Aurora kini tiba di tempat Kevin menepikan mobilnya. Ia kemudian masuk dan duduk di samping Kevin dengan wajah masam.


"Kita berangkat sekarang Ra?" tanya Kevin menatap wajah Aurora.


"Iya," sahut Aurora singkat tanpa menoleh ke arah Kevin.


"Kamu kenapa Ra? baik-baik aja kan?" tanya Kevin dengan heran.


"Kemarin kamu kemana?" tanya Aurora tanpa menjawab pertanyaan Kevin sebelumnya.


"Kan aku sudah bilang sama kamu, kalau aku mau ketemu dengan calon buyer (pembeli) makanya aku gak bisa pulang bersama kamu," tegas Kevin dengan penjelasannya.


"Ini foto siapa? apa buyer (pembeli) itu memang cantik dan montok seperti ini? apa harus bertemu di toko barang mewah seperti dalam foto ini!" tanya Aurora dengan memberondong pada Kevin.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Beberapa orang memilih jujur dengan segala konsekuensinya, sisanya memilih menjerumuskan dirinya pada kebohongan yang lebih besar lagi.


Namun seiring berjalannya waktu, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri untuk mengungkapnya.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2