Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 46 Pernyataan Aurora pada Arka


__ADS_3

"Ayo Ra, kita pulang! ibu sudah menunggu di rumah." Arka kemudian menarik baju Aurora dengan sebelah tangannya.


Kevin yang merasa tak di anggap oleh Arka, langsung menurunkan kembali tangannya dengan wajah malu.


"Ih ... Arka, lepas! kamu apa-apaan sih tarik-tarik bajuku seperti ini," teriak Aurora sambil mengikuti langkah Arka di depannya.


"Dasar gadis nakal! bisa-bisanya kamu membuat ibu khawatir seperti itu," ucap Arka sambil melepaskan eratannya pada baju Aurora.


"Siapa kamu, berani-beraninya mengomentari hidupku! jangan karena kamu merasa dekat dengan ibu, lalu kamu merasa berhak untuk ikut campur dalam setiap masalahku!" tegas Aurora sambil meruncingkan telunjuknya ke arah Arka.


"Walaupun aku bukan siapa-siapa untukmu, tapi usiaku itu lebih tua dibandingkan denganmu, jadi bersikaplah sedikit sopan!" ucap Arka sambil mencubit telinga Aurora dan memintanya untuk segera naik ke atas vespanya.


"Cepat naik, aku lelah harus mengurus gadis pembangkang sepertimu! kalau bukan karena permintaan ibu, aku tidak akan mau melakukannya," ucap Arka dengan wajah kesal.


Aurora kemudian menaiki vespa milik Arka untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan gadis itu terus menggerutu kecil, atas apa yang Arka dan ibunya lakukan terhadapnya.


"Bagaimana aku bisa membujuk ibu, kalau pria batu ini masih terus saja datang ke rumah dan mempengaruhi pemikiran ibu," gumam Aurora dalam lamunannya.


Ia memikirkan cara untuk menjauhi Arka dari ibu dan juga hidupnya.


"Gak ada cara lain lagi, aku harus benar-benar melakukannya demi hubunganku dengan Kevin baik-baik saja," tambah Aurora dalam batinnya.


Sesampainya di halaman depan rumah Aurora, Arka menghentikan vespanya dan ikut turun bersama Aurora. Tiba-tiba Aurora menarik lengannya dan menatap tajam pria itu tanpa berkedip.


"Ka ... aku minta sama kamu, tolong berhenti menganggu kehidupanku dan tolong jangan pernah lagi menginjakkan kakimu kesini apalagi untuk bertemu ibu," pinta Aurora dengan begitu tegas.


"Dulu semuanya baik-baik saja, sampai kamu hadir dan mengacaukan segalanya! jadi aku harap ini terakhir kalinya kamu bertemu ibu dan aku," tambah Aurora.


"Oke Ra ... gak masalah, aku akan jauhi kamu dan tidak akan lagi ikut campur urusan kehidupan pribadimu! tapi kamu gak berhak melarang-larang aku untuk bertemu dengan ibu, dan aku rasa ibu pun akan keberatan jika mengetahui hal ini," ucap Arka dengan santai.


"Ish... ya sudah terserah kamu saja, yang penting aku gak ada lagi urusan dengan kamu," ucap Aurora lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Sesaat Aurora masuk, ibu keluar menghampiri Arka yang masih terdiam di samping vespanya.


"Nak Arka, kenapa melamun seperti itu?" tanya ibu pada Arka yang menatap kosong ke arah rumahnya.


"Eh ibu ... gak apa-apa bu, mungkin Arka cuma kelelahan," jelas Arka tersenyum.


"Terima kasih ya ... berkat nak Arka, Aurora tiba selamat sampai di rumah! ibu gak bisa bayangin kalau sampai terjadi apa-apa sama dia," ucap ibu dengan wajah harunya.


"Iya bu ... selagi Arka bisa bantu ibu, Arka gak keberatan kok! tapi ..." ucap Arka tiba-tiba terhenti.

__ADS_1


"Tapi apa nak?" tanya ibu heran dengan penjelasan Arka yang terhenti begitu saja.


"Aurora meminta saya untuk tidak lagi mencampuri kehidupannya bu!" ungkap Arka pada ibu.


"Lalu ibu harus meminta tolong pada siapa lagi kalau bukan pada nak Arka! ibu tidak bisa membiarkan Aurora terlalu dekat dengan Kevin," ungkap ibu dengan wajah memelas.


"Ibu gak perlu khawatir, Arka akan bantu semampunya untuk ibu," tutur Arka menenangkan ibu Aurora.


"Kalau begitu Arka mohon pamit sekarang ya bu," ucap Arka sambil meraih tangan ibu lalu menciumnya.


"Hati-hati di jalannya ya nak, sampaikan salam ibu untuk orang tua nak Arka!" pesan ibu pada Arka sebelum ia berjalan pulang.


Malam itu Arka kembali pulang ke rumahnya, hatinya kacau. Kini tak ada lagi harapan untuknya bisa memiliki hati Aurora, belum lagi gadis itu memintanya untuk tidak mencampuri kehidupannya.


Setibanya di rumah Arka langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Tatapan kosong mengarah ke atas langit-langit kamarnya.


"Sepertinya aku memang harus merelakan kamu untuk orang lain Ra, tapi bukan Kevin orangnya! aku tidak akan biarkan pria perusak seperti dirinya mendapatkan gadis baik dan lugu sepertimu," gumam Arka dalam batinnya.


Seketika lamunannya terhenti, matanya kini terpejam dengan cepatnya.


Di tempat lain, Kevin juga merasakan kegundahan menimpa hatinya. Ia begitu ingin ibu Aurora bisa menerimanya dengan baik tanpa mengingat-ngingat masa lalunya itu. Harapannya juga begitu besar, sang mama dapat mengizinkannya untuk berhubungan dengan putri dari mantan buruh cucinya dulu.


"Apa yang harus aku lakukan Ra, sekarang? semuanya terasa begitu sulit," gumam Kevin sambil mengusap wajahnya lalu menghela nafas dengan panjang.


Kejadian tidak menyenangkan di kantornya serta segala kesibukan yang ia lakukan hari itu membuatnya tertidur pulas di sofa ruang tamu. Hingga pagi datang, mama membangunkannya dengan lembut.


"Kevin ... Vin ... kok kamu tidur di sofa?" tanya mama Kevin sambil membangunkan putranya yang masih tertidur.


Ia terkejut saat Kevin membalikkan tubuhnya ke samping, pipi di wajah putranya itu terlihat memar-memar.


"Kevin ... pipimu kenapa sampai memar seperti ini? kamu berkelahi?" tanya mama dengan nada cemasnya.


Kevin pun akhirnya terbangun dan mencoba menenangkan mamanya.


"Aku gak apa-apa ma! ini hanya memar biasa kok, nanti juga hilang," sahut Kevin dengan suara santai.


"Mama tanya kenapa pipimu itu bisa memar? kamu berkelahi dengan siapa?" tanya mama kembali, ia tidak puas dengan jawaban putranya tadi.


"Aku ribut dengan teman kantor ma," tegas Kevin.


"Teman kantor? masalah apa sampai kalian harus berkelahi seperti ini?" lagi-lagi mama bertanya. Ia cemas pada putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Cuma masalah pekerjaan kok ma," jawab Kevin beralasan.


Ia berusaha menyembunyikan kejadian sebenarnya dari sang mama karena tak ingin mamanya tahu bahwa ia berkelahi karena masalah Aurora.


"Sudah ya ma, aku mau mandi dulu!" ucap Kevin, meninggalkan mamanya terduduk sendiri di sofa itu.


Seperti hari-hari sebelumnya, Kevin menjemput Aurora dan berangkat bersama. Namun hari itu tampak berbeda dari biasanya, Kevin kini tak lagi malu untuk berjalan beriringan dengan office girl kantor yang juga merupakan kekasihnya.


"Sepertinya mereka pacaran sekarang," bisik salah seorang staf dengan rekannya.


"Kok mau sih si Kevin pacaran dengan wanita lusuh seperti itu, office girl pula!" sahut staf lainnya.


Aurora hanya tertunduk mendengarkan ocehan orang-orang disekelilingnya yang begitu menyakitkan. Dengan sigap Kevin, meraih tangan Aurora dan menggenggamnya erat.


"Jangan dengarkan mereka ya, biarkan mereka berkata sesuka hati mereka! bagiku kamu tetap wanita terindahku," ucap Kevin, melirik ke arah Aurora sambil menorehkan senyumnya.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Sekuat apapun perjuanganmu


Ketika ia bukan takdir untukmu


Maka ia akan kembali kepada yang pantas memilikinya


Ia hanya akan singgah untuk memberikan pelajaran hidup padamu


Tak perlu menangis tersedu-sedu, karena yang datang bahkan lebih baik dari dia yang telah pergi


🍂🍂🍂🍂🍂


Quote di atas, Author dedikasikan untuk suami tercinta yang hadir begitu menyejukan setelah badai cinta datang dengan segala kepahitannya.


Salam Cinta untukmu


 


❤❤❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2