
"Aku gak ada niat apapun selain untuk memastikan kamu tiba di rumah dengan baik-baik saja," ungkap Arka di depan Aurora dan ibunya.
Mendengar jawaban Arka, Aurora hanya tersenyum ringan, namun sang ibu tampak begitu senang mendengar penjelasan Arka. Ibu menilai, Arka adalah pria yang baik dan tepat untuk putrinya.
"Sepertinya Arka adalah anak yang baik, Aurora akan aman apabila dekat dengannya," gumam sang ibu sambil melirik ke arah Arka.
"Ibu..., kok ibu senyum-senyum sendiri gitu?" kejut Aurora pada ibu dengan menepuk lengannya.
Ibu yang tersadar dengan tepukan putrinya, langsung mengalihkan pembicaraan dan tidak menghiraukan ucapan Aurora.
"Nak Arka ini teman kerja Aurora ya?" tanya ibu pada Arka.
"Bukan bu..." jawab Arka yang terputus saat Aurora menyela pembicaraannya.
"Dia ini atasan aku bu," ucap Aurora yang berkata bohong pada sang ibu.
"Atasan? aduh Ra, kenapa kamu dari tadi bicara gak sopan sama atasan kamu? saya minta maaf ya pak, kalau perilaku anak saya kurang baik," ucap ibu menatap Arka dengan malu-malu.
Arka terlihat bingung dengan sandiwara yang Aurora lakukan, ia kemudian hanya membalas perkataan ibu Aurora dengan senyuman ringan. Sementara Aurora menajamkan matanya pada Arka, mengisyaratkan untuk mengikuti apa yang ia katakan di depan ibunya.
Sandiwara itu membuat Arka merasa tak enak hati, ia melirik jam tangannya lalu berpamitan pada Aurora dan ibunya.
"Hari sudah gelap bu, kalau begitu saya mohon pamit," ucap Arka berpamitan pada ibu Aurora.
"Maaf ya pak, di sini tidak saya suguhi apa-apa," ucap ibu pada Arka.
"Gak apa-apa bu, lagi pula saya kesini juga untuk melihat keadaan Aurora saja," ungkap Arka.
"Oh iya bu, ibu bisa panggil saya Arka," jelas Arka sambil tersenyum ke arah ibu.
Setelah berpamitan kepada ibu Aurora, Arka kemudian berjalan kembali menuju vespa yang ia parkirkan tak jauh dari rumah Aurora.
"Bu, aku antar Arka dulu ya!" pamit Aurora pada sang ibu.
"Ra..., Ra..., dia itu atasan kamu! bisa-bisanya kamu panggil namanya begitu, ya sudah sana!" gerutu ibu pada Aurora.
Aurora kemudian berlari mengejar langkah Arka yang semakin tak terlihat.
"Arka..., tunggu...!" panggil Aurora pada Arka.
"Kenapa lagi Ra, kamu mau minta aku sandiwara apalagi depan ibu?" ucap Arka yang terlihat sedikit kesal.
"Aku mau minta tolong sama kamu, sekali ini saja bantu aku!" pinta Aurora dengan memohon pada Arka.
"Apa yang bisa aku bantu untuk kamu?" tanya Arka penasaran.
__ADS_1
"Aku gak mungkin bisa jelasin semuanya sekarang, aku minta nomer ponsel kamu ya!" ucap Aurora malu-malu saat mengatakannya.
"Hmm..., kita memang ditakdirin buat ketemu lagi ya," ucap Arka tersenyum manis menatap wajah Aurora.
"Maksudnya?" tanya Aurora heran dengan perkataan Arka.
"Kamu ingat gak saat aku minta nomer ponsel kamu beberapa hari yang lalu?" tanya Arka berusaha mengingatkan Aurora saat pertemuannya lalu.
"Saat aku minta nomer ponsel kamu, kamu bilang kamu akan kasih saat kita bertemu lagi, dan ternyata hari ini kita dipertemukan lagi," ungkap Arka sambil mencubit pipi Aurora.
"Arka..., lepasin! pipiku sudah memar begini, mau kamu tambah lagi ya?" ucap Aurora kesal.
"Iya, maaf..., maaf..!" sahut Arka.
"Mana nomer kamu?" tanya Aurora sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Arka kemudian memberikan nomer ponselnya pada Aurora.
"Ya sudah, nanti aku hubungi kamu!" ucap Aurora sambil berlalu meninggalkan Arka yang sudah siap di atas Vespanya.
"Tuhan memang takdirin kita ketemu lagi Ra, bahkan lebih dari itu," ucap Arka sambil memperhatikan langkah Aurora yang berjalan kembali ke rumahnya.
Kediaman Lani
Tok... tok... tok...
"Sebentar...!" ucap seseorang dari dalam rumah.
Krek...
Pintu terbuka, dan keluarlah sang mama dari balik sisinya.
"Lani..., kebetulan sekali kamu sudah pulang, kita makan sama-sama ya," ajak sang mama pada Lani yang baru saja tiba di rumah selepas bekerja.
"Aku gak lapar ma..!" sahut Lani singkat.
"Yah, sayang sekali! padahal bapak ingin kita makan sama-sama lho," ungkap sang mama pada Lani.
"Bapak..? bapak yang mana ma? apa lelaki yang sudah meninggalkan istri dan anaknya, yang mama sebut dengan bapak?" teriak Lani dengan deraian air mata yang terus mengucur.
"Lani..., apa-apaan kamu! kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya sang mama.
"Apa-apaan mama bilang! sekarang mama jelasin siapa laki-laki yang di dalam itu..!" teriak Lani yang semakin tak dapat mengontrol emosinya.
Suara Lani yang cukup keras rupanya terdengar oleh ayah tirinya. Ia keluar karena mendengar suara ribut-ribut dari ruangan di sebelahnya.
"Ada apa ini ma, kenapa ribut-ribut seperti ini?" tanya bapak tiri Lani yang juga merupakan ayah kandung dari Aurora.
__ADS_1
"Sekarang mama dan bapak jawab pertanyaan aku dengan sejujur-jujurnya, apa benar bapak adalah ayah dari Aurora, sahabat yang selama ini begitu dekat denganku?" tanya Lani dengan suara terisak-isak.
Bapak seketika menganggukan kepalanya perlahan dengan wajah tertunduk. Lani yang memperhatikan tanggapan bapak tirinya itu, semakin geram. Tangannya beberapa kali mengusap air mata yang terus membanjiri kedua pipinya.
"Jadi benar yang Aurora katakan, kalau bapak meninggalkan mereka untuk menikahi mama?" tanya Lani dengan tatapan tajam pada kedua orang tuanya.
"Kamu dengarkan dulu penjelasan mama Lan! biar mama jelaskan pelan-pelan ya," ucap sang mama berusaha meredamkan emosi putrinya.
"Mama mau jelasin apa lagi ma? apa mama mau jelasin kalau mama gak merebut bapak dari istri sebelumnya?" ucap Lani dengan lantang.
Prak....
Tiba-tiba tamparan sang mama melayang di pipinya.
"Diam kamu...! mama gak perlu pendapat dari kamu, karena anak di kandungan mama butuh pengakuan ayahnya dan mama berhak atas itu!" ucap sang mama dengan amarah yang begitu memuncak.
"Apa? mama hamil? dengan laki-laki ini?" tanya Lani sambil menunjuk ke arah ayah tirinya.
"Bapak memang suami dari ibu Lani, tapi bapak adalah kekasih mama dulu, kami terpaksa berpisah karena perjodohan orang tua hingga kami menjalani kehidupan yang baru dengan pasangan masing- masing, namun kami berdua di pertemukan kembali saat reuni sekolah beberapa bulan yang lalu," ungkap sang mama di hadapan Lani dan sang suami.
"Tapi bukan begini ma caranya, mama sudah menyakiti perasaan Lani dan ibunya," ungkap Lani dengan tegas.
"Perasaan mama sudah sakit lebih dulu saat tahu mereka menikah dan membiarkan mama dengan rasa kehilangan, apa mama salah mencintai orang yang sama?" tanya sang mama dengan suara bergetar.
Tiba-tiba emosi Lani pun meredam, ia berubah iba pada kisah masa lalu ibunya yang juga menyakitkan. Ayah tiri Lani tampak hanya merunduk, seolah penuh penyesalan terhadap apa yang diperbuatnya kini.
"Aku bukan ingin menyudutkan mama, tapi semua ini gak benar ma..!" ucap Lani sambil memeluk sang mama.
"Mama tahu mama salah, tapi sekarang anak ini lebih membutuhkan ayahnya di banding keegoisan mama," ucap mama Lani terisak-isak.
Bersambung.....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Tak akan ada penyesalan yang mampu mengembalikan waktu, namun waktu dapat mengajarkan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
🍂🍂🍂🍂
Mohon dukungannya selalu ya teman-teman pembaca yang setia. Kritik dan saran sangat membantu untuk perbaikan karya ini ke depannya.
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1