Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 23 Telepon Misterius


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja kan?" tanya sang mama yang memastikan keadaan putra bungsunya.


"Iya ma," tegas Arka singkat pada mamanya.


"Mama tahu kamu sedang tidak baik-baik saja nak," gumam mama sambil menutup pintu kamar Arka. Mamanya tahu betul putranya sedang ingin sendiri, ia kemudian meninggalkan Arka hingga perasaannya membaik.


Sementara di tempat lain dengan waktu yang sama, Aurora dan Kevin sedang bersiap untuk pulang. Saat Kevin memegang kemudinya, tiba-tiba ponselnya berdering.


Kring ... kring ... kring ...


Kevin kemudian merogoh ponselnya yang terus berdering, ia melihat layar yang tertera nama si pemanggil.


"Siapa Vin?" tanya Aurora penasaran.


"Emm ... ini mamahku Ra! mungkin dia khawatir aku belum sampai di rumah," jawab Kevin dengan nada yang terdengar ragu-ragu.


"Ya sudah, angkat saja dulu teleponnya!" tutur Aurora pada Kevin yang sudah memegang kemudi mobilnya.


"Gak perlu Ra, nanti juga berhenti sendiri teleponnya!" timpal Kevin sambil memperhatikan layar ponselnya yang masih berdering.


"Angkat saja Vin! kasihan kan mama kamu khawatir begitu," ucap Aurora yang melihat Kevin tampak gelisah saat panggilan telepon itu terus saja berdering.


Dengan perasaan ragu-ragu Kevin kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Halo ...," ucap Kevin saat pertama kali menerima panggilan teleponnya.


"Kamu dimana Vin," tanya seseorang dalam teleponnya yang terdengar samar-samar oleh Aurora.


"Iya ... iya ... nanti aku telepon balik ya!" jawab Kevin dengan suara tergesa-gesa. Ia kemudian mengakhiri teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya.


"Siapa Vin? mama kamu?" tanya Aurora penasaran.


"Emm ... iya Ra!" jawab Kevin singkat tanpa memberikan penjelasan.


Melihat gelagat Kevin yang terlihat gugup, Aurora merasa sedikit curiga, namun ia tetap berusaha berpikir positif pada Kevin.


"Mama bilang apa Vin sama kamu?" tanya Aurora melirik Kevin.


"Bukan apa-apa kok, cuma bertanya aku sedang ada dimana!" jawab Kevin tampak semakin gugup.


"Ra, kita pulang sekarang ya!" tutur Kevin mengalihkan pembicaraannya.


"Iya Vin," sahut Aurora sambil menganggukan kepalanya.


Kevin kemudian melajukan kendaraannya untuk mengantarkan Aurora pulang. Wajahnya tampak begitu serius sesaat setelah menerima telepon tadi.


"Kamu kenapa Vin, kok melamun begitu?" tanya Aurora yang bingung dengan sikap Kevin di sampingnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok Ra, aku hanya sedikit lelah!" jawab Kevin beralasan.


Setelah kurang lebih 20 menit menempuh perjalanan, Kevin tiba di rumah Aurora.


"Maaf Ra, aku hanya bisa mengantar kamu sampai sini!" ucap Kevin melirik Aurora yang akan keluar dari mobilnya.


"Gak masalah Vin, makasih ya sudah mau menemaniku jalan-jalan," ucap Aurora tersenyum pada Kevin.


Sesaat sebelum Aurora menutup mobil, Kevin memanggilnya kembali dan mengatakan sesuatu.


"Ra ..., aku minta nomer ponsel kamu ya, nanti aku akan kabari kamu kalau ada info mengenai pekerjaan," tutur Kevin sambil meraih ponselnya.


Mereka kemudian saling bertukar nomer ponsel untuk saling menghubungi satu sama lain.


"Oke ..., aku pulang ya Vin!" pamit Aurora dengan senyum merekahnya.


"Hati-hati Ra, mimpi indah ya malam ini," ucap Kevin pada Aurora yang berlalu meninggalkan dirinya.


Aurora kemudian berjalan menuju rumahnya, hatinya begitu berbunga mengingat kenangan indah malam itu bersama Kevin. Namun setibanya ia di rumah, sang ibu langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu dari mana Ra, kok malam-malam begini baru pulang? kamu pergi dengan siapa, bukan dengan Kevin kan!" tanya ibu dengan wajah serius.


"Aku hanya berjalan-jalan saja bu, kebetulan tadi pulang bekerja lebih awal!" jawab Aurora beralasan untuk menutupi kepergiannya bersama Kevin.


"Kamu belum jawab pertanyaan ibu, Ra! dengan siapa kamu pergi?" tanya ibu dengan wajah dan netra yang terfokus pada Aurora.


Bruk ...


Aurora menutup pintu kamarnya dengan cukup keras hingga membangunkan salah satu adiknya yang sudah tertidur pulas.


"Kakak ..., kakak sudah pulang?" tanya Nova sambil mengucek-ngucek matanya.


"Iya ..., sudah kamu tidur lagi Nov!" ucap Aurora sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Sementara sang ibu terkejut melihat sikap Aurora yang kian hari kian berubah. Ia merasakan perubahan sikap putrinya itu semenjak mengenal Kevin, putra dari majikannya.


"Kenapa semakin hari Aurora semakin berubah, ia tidak lagi seperti putri yang kukenal dulu!" gumam ibu sambil terduduk kembali di ranjangnya.


"Ya Allah ..., semoga engkau jauhkan putri hamba dari hal-hal yang bisa merugikan dan membahayakannya," tambah ibu dalam gumamannya.


Malam pun berganti pagi, suara kokokan ayam begitu setia mengiringi terbitnya matahari, namun Aurora masih saja terduduk di kasurnya.


"Kok kamu belum siap-siap Ra?" tanya ibu yang melihat Aurora masih menggunakan piyamanya.


"Iya bu, sebentar lagi aku akan bersiap-siap!" sahut Aurora terbangun dari duduknya.


Ia kemudian berdiri dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas rak buku. Wajahnya tersenyum saat membuka pesan singkat yang dikirimkan Kevin.

__ADS_1


"Kamu mimpi indah kan Ra? semoga hari-hari kamu menyenangkan ya!" tulis Kevin dilengkapi dengan emoji peluk dan cium di akhir kalimatnya.


"Makasih Vin, hariku cukup indah karena bisa mengenalmu," balas Aurora ditambah dengan emoji senyum.


Saat ia akan meletakkan ponselnya, tiba-tiba dering pesannya kembali berbunyi.


"Cepat sekali Kevin membalas pesanku!" gumam Aurora sambil tersenyum saat meraih ponselnya.


"Kamu baik-baik aja kan Ra? oh ya, kapan kamu ada waktu untuk berkunjung ke rumahku? semoga kamu tidak lupa dengan perjanjian kita malam itu!" tulis Arka dalam pesannya.


"Hm ... ternyata Arka!" ucap Aurora dengan suara lemas. Ia lalu mengabaikan pesan yang dikirimkan Arka untuknya dan bergegas mandi.


Pagi itu Aurora berseragam rapi seperti hari-hari biasanya, tak ada yang berbeda. Itu semua ia lakukan agar sang ibu tidak mengetahuinya bahwa ia sudah dipecat dari pekerjaannya.


"Ibu kok belum berangkat bu? ibu sedang libur?" tanya Aurora yang melihat sang ibu masih berkutat di dapur.


"Oh iya Ra, ibu belum cerita ya sama kamu kalau ibu sudah tidak lagi bekerja di rumah bu Ira," tutur sang ibu.


"Ibu tidak bekerja lagi! kenapa bu?" tanya Aurora heran.


"Ibu tidak suka dengan sikap bu Ira dan keluarganya, terlebih ucapan mereka sangat menyakiti untuk ibu!" ungkap ibu atas alasannya berhenti bekerja, namun ia tidak menjelaskan bahwa alasan sebenarnya adalah menyangkut harga diri keluarganya.


"Memang bu Ira bilang apa sama ibu?" tanya Aurora penasaran.


"Kamu gak perlu tahu Ra, cukup ibu saja yang mendengar kata-kata menyakitkan itu!" jelas sang ibu padanya.


"Maafin ibu ya Ra, karena ibu kamu jadi harus bekerja keras sendiri untuk menghidupi ketiga adikmu yang lain!" ucap ibu menatap wajah Aurora dengan air mata yang sudah membendung.


Bersambung ...


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Tetaplah seperti tanah, walaupun selalu berada di bawah dan di injak-injak, namun keberadaannya mampu menjadi tempat kembali pulang saat akhir nanti.


🍂🍂🍂🍂


Terima kasih untuk pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan kisah ini. Support dari kalian semua sangat berarti bagi Author 🙏☺


Salam hangat


 


❤❤❤


 

__ADS_1


__ADS_2