Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 56 Restu Mama Kevin


__ADS_3

🌸🌸🌸


Mohon dukungannya selalu dengan memberikan vote, likeπŸ‘ rate ⭐ dan juga kritik saran untuk penyempurnaan karya ini agar lebih baik lagi. Terima kasih ❀


🌸🌸🌸


.........


Obrolan mama dan putranya itu berakhir sesaat setelah mama melihat wajah putranya yang tengah tertidur pulas.


"Arka ... Arka ... sedari tadi mama sibuk bicara, tapi ternyata kamu sudah pulas begini." Mama kemudian mengusap kening Arka sambil menatap putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Apapun pilihan yang kamu putuskan, mama hanya bisa mendoakan nak!" ucap ibu sebelum beranjak dan keluar dari kamar Arka.


Satu minggu pun berlalu, dari saat kejadian di rumah Kevin. Seperti biasa, Kevin tiba di rumah dan merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah lelah seharian bekerja.


"Kamu sudah pulang Vin ..." sapa mamanya dari arah dapur.


"Iya ma," sahut Kevin.


"Kapan mama dan papa harus ke rumah Aurora untuk membicarakan hubungan kalian berdua?" tanya mamanya sambil menyodorkan segelas air pada Kevin.


"Mama serius kan ma bilang begini?" tanya Kevin dengan meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.


Ia terkejut bukan main saat mendengar perkataan mamanya itu, hingga mengabaikan segelas air minum yang mamanya berikan.


"Iya ... mama dan papa sudah bicarakan hal ini! kapan kamu siap? mama dan papa pasti dukung kamu," tutur mama tersenyum pada Kevin.


Entah rencana apalagi yang kini di lakukan oleh mama Kevin untuk berusaha menjauhkan putra semata wayangnya dari Aurora, gadis miskin yang tidak di restui olehnya untuk menjadi bagian dari keluarganya itu.


"Wah ... terima kasih ma, Kevin gak nyangka secepat ini mama restui hubungan Kevin dengan Aurora!" senyum Kevin diiringi dengan kecupan pada lengan mamanya.


"Mama akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kamu Vin, bahkan mama rela menukar hidup mama agar kamu terus bahagia." Mamanya kemudian memeluk Kevin dan tersenyum dengan wajah liciknya.


"Kevin percaya mama, mama memang mama terbaik untuk Kevin! Kevin akan sampaikan kabar bahagia ini ma, pada Aurora dan keluarganya," jelas Kevin.


"Kevin mandi dulu ya ma, Kevin akan ke rumah Aurora untuk bicarakan masalah ini," ucap Kevin sambil melepaskan pelukannya dengan sang mama.


Mamanya mengangguk ringan diiringi senyum kecil menatap Kevin. Sementara Kevin, terlihat bersemangat mempersiapkan diri menemui gadis pujaannya.


Hatinya kala itu menggebu-gebu, tak sabar untuk memberitahukan kabar gembira pada Aurora dan keluarganya. Keresahan dan rasa takut kehilangan, kini sirna sudah dari benaknya.


Ia kemudian tiba di rumah Aurora tanpa sepengetahuan gadis itu. Dengan seikat bunga mawar berwarna merah, ia berdiri di depan pintu, sambil mengetuknya perlahan.


"Ra ... Rara ..." panggil Kevin dengan suara lembut.

__ADS_1


"Iya sebentar," sahut Aurora dari dalam rumah.


Krek ...


"Kevin ... kok kamu datang tiba-tiba begini! ada apa?" tanya Aurora heran.


"Aku gak ganggu kamu kan Ra?"


"Aku lagi santai kok sama ibu dan adik-adik, sebenarnya ada apa sih Vin? aku jadi penasaran, kamu ke rumah tanpa kasih kabar dulu!" ucap Aurora dengan wajah terlihat bingung.


"Ra ... aku tahu aku bukan pria yang baik untukmu, tapi ijinkan aku menjadi pendamping yang berusaha memberikan yang terbaik untuk rumah tangga kita kelak," tutur Kevin sambil memegangi bunga yang ia sembunyikan di balik tubuhnya.


"Maksud kamu Vin?" wajah Aurora memerah melihat Kevin dengan seikat bunga yang dibawanya.


"Kamu mau kan Ra, jadi ibu untuk anak-anakku?"


Sontak Aurora menutup mulutnya, mendengar pertanyaan Kevin yang berdiri tepat dihadapannya. Matanya berkaca-kaca, seolah ia sedang bermimpi di lamar oleh pangeran tampan yang begitu ia cintai.


"Aku gak sedang bermimpi kan Vin?" tanya Aurora dengan mata berbinar.


"Ini mimpi yang akan segera menjadi nyata Ra," timpal Kevin meraih jemari Aurora dan mengusapnya lembut.


"Siapa Ra? kok gak di ajak masuk?" tanya ibu dari arah dalam.


"Oh iya, kita bicarakan ini di dalam ya Vin!" ucap Aurora sambil menarik lengan kekasihnya ke dalam rumah.


"Oh ... Kevin, ibu pikir yang datang nak Arka!" ucap ibu tersenyum tipis menatap kedatangan Kevin.


Aurora sedikit kecewa mendengar pernyataan ibunya yang selalu memandang sebelah mata pada Kevin.


"Bu ... apa kabar?" tanya Kevin, meraih tangan ibu dan mengecupnya lembut.


"Alhamdulillah, ibu sehat," jawab ibu dengan wajah datar tanpa menatap Kevin yang tersenyum ke arahnya.


"Bu ... aku dan Kevin mau bicara hal penting dan serius dengan ibu!" ucap Aurora menarik lengan ibu dan mendudukannya di atas tikar usang.


"Betul bu, saya ingin menyampaikan niat saya datang malam- malam begini kesini," ungkap Kevin dengan wajah sumringah.


Wajah ibu terlihat bingung, seakan penuh tanya atas apa yang akan disampaikan Kevin.


"Jadi niat apa yang mau kamu sampaikan pada ibu?" tanya ibu bernada serius menatap Kevin.


Kevin dan Aurora saling tatap satu sama lain, keduanya seolah bingung memulai pembicaraan. Akhirnya Aurora menganggukan kepala sambil merengkuh tangan Kevin.


"Begini bu, Kevin datang kesini untuk menyampaikan kalau dalam waktu dekat ini, Kevin dan keluarga ingin bersilaturahmi dengan ibu dan Aurora," tegas Kevin, dengan suara gugup.

__ADS_1


"Silaturahmi seperti apa yang kamu maksud?"


"Sebenarnya Kevin dan mama papa berencana melamar Aurora bu," ungkap Kevin tersipu malu.


"Melamar?apa pantas orang-orang seperti kami berbesanan dengan orang terpandang seperti kalian," tutur ibu bernada serius.


"Ibu ... kenapa ibu bicara begitu pada Kevin?" ucap Aurora menatap wajah ibunya.


"Ibu gak mau Ra, orang lain merendahkan kita hanya karena keadaan kita berbeda dengan mereka!" ucap ibu dengan nada pilu.


"Ibu tenang saja bu, saya tidak akan mengecewakan ibu dan Aurora! terlebih saat ini mama sudah merestui hubungan kami berdua, jadi kekhawatiran ibu tidak akan terjadi," ungkap Kevin meyakinkan ibu Aurora.


Pernyataan Kevin, diikuti anggukan dari putrinya. Hatinya luluh dengan mudahnya, demi melihat kebahagiaan putrinya bersama dengan pria pilihannya itu.


"Andai saja Arka yang datang meminangmu, mungkin tidak akan muncul kekhawatiran ini," gumam ibu sambil merenung dengan tatapan kosong.


"Bagaimana bu, kapan saya bisa mengajak papa dan mama untuk membicarakan lebih serius tentang masalah ini?" tanya Kevin.


Wajahnya begitu penuh harap menunggu jawaban ibu Aurora, namun lagi-lagi ibu hanya membalas senyuman kecil dan jawaban singkat pada Kevin.


"Ibu serahkan ini pada Aurora ... biar dia yang menentukan waktunya," jawab ibu tanpa menatap wajah Kevin sedikit pun.


"Kalau memang begitu, Aurora ingin hari bahagia itu dilaksanakan tepat di hari kelahiran Aurora bu ... bagaimana menurut ibu?" tanya Aurora mendekap tangan ibunya.


"Kapanpun itu, ibu bahagia jika kamu bahagia Ra!" sahut ibu dengan mata berlinang.


Percaya atau tidak, kini putri sulungnya akan menjadi calon istri dan menantu di keluarga barunya. Meninggalkan dirinya dan ketiga adik-adiknya yang lain yang masih sekolah.


"Vin, aku benar-benar bahagia dengan rencana kita ini ... tapi aku sulit meninggalkan ketiga adikku yang masih membutuhkan nafkah dariku," ucap Aurora dengan suara lirih.


"Kamu tenang saja Ra! adik-adikmu juga akan menjadi adikku kelak, jadi aku gak akan melarang kamu untuk tetap membantu menafkahi kebutuhan mereka," tutur Kevin, menenangkan batin Aurora.


Wajah Aurora yang pilu, kini merona dengan senyumnya yang khas. Kesulitan dan kepahitan hidup, seolah terbayar dengan kehadiran sosok yang begitu ia idam-idamkan selama ini.


Bersambung ....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Quote of the day


Kesakitan dan kepahitan yang saat ini kita terima, bisa jadi merupakan pertolongan Allah SWT dari kesakitan dan kepahitan yang lebih besar lagi


Tugas kita hanya meyakini, bahwa setiap detiknya, pandangan-Nya tak pernah luput pada hambanya yang selalu bersyukur dan selalu mengingat-Nya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Salam hangat


❀❀❀


__ADS_2