
"Terima kasih mbak!" ucap Arka sambil menerima struk transaksi yang diberikan.
"Ayo Ra, mamaku sudah menunggu kita!" jelas Arka.
Mereka berdua kemudian bergegas pergi ke rumah Arka dengan vespa tuanya. Rasa penasaran Aurora semakin dalam sesaat setelah melihat Arka membayar tagihan biaya salon untuknya. Ia kemudian bertanya pada Arka tentang keingintahuannya.
"Kamu punya uang sebanyak itu dari mana Ka? perasaan aku gak pernah tahu kalau kamu adalah pekerja atau karyawan sejenisnya!" wajah Aurora penasaran menunggu jawaban Arka.
"Aku memang tidak bekerja Ra, hanya pengangguran saja!" ucap Arka merendah.
"Lalu uang sebanyak itu dari mana? tanya Aurora semakin penasaran dengan jawaban Arka.
"Aku memang ada sedikit simpanan, itu aku gunakan untuk membiayai kehidupan aku dan mama!" tambah Arka yang terus merendah di hadapan Aurora.
"Mama! ..., ayah kamu dimana?" tanya Aurora tentang ayah Arka.
"Papaku sudah meninggal Ra, saat aku SMA dulu!" jelas Arka.
"Maaf ka!" ucap Aurora saat mendengar pengakuan Arka tentang papanya.
"Lalu sekarang kamu tinggal dengan mama dan saudara kandung yang lain?" tanya Aurora yang tertarik dengan cerita Arka.
"Saat ini aku hanya tinggal dengan mama karena kedua kakakku sudah berkeluarga," ungkap Arka.
"Hm ... begitu ya, tapi kamu beruntung karena masih memiliki kakak yang bisa menghidupi dan membiayai pendidikanmu hingga tamat kuliah, sedangkan aku harus bekerja keras untuk membantu sekolah adik-adiku yang lain," ungkap Aurora dengan kisah pilunya.
"Kita sama kok! setelah papa meninggal dan kedua kakakku menikah, ibu hanya dapat uang pensiunan ayah yang diterimanya setiap bulan, karena ibu tidak ingin merepotkan kedua kakakku yang lain, jadi aku berinisiatif untuk membantu ibu dengan menyemir sepatu di depan pasar," ungkap Arka menimpali perkataan Aurora.
"Berarti nasib kita sama ya Ka! kadang aku berpikir, kapan aku akan bisa hidup dengan tanpa memikirkan kebutuhan esok hari untuk seluruh keluargaku yang lain," ucap Aurora dengan wajah tertunduk.
Arka yang melihat wajah sedih Aurora, berusaha menghibur dan menguatkannya.
"Dengarkan aku Ra, tidak ada manusia yang pernah cukup dengan pemberian Tuhannya, selalu saja kurang dan mengeluh atas apa yang diterimanya! kita hanya tinggal meyakini bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan datang," ucap Arka sambil mengangkat wajah Aurora dengan tangannya.
"Terima kasih ya Ka, aku merasa tenang karena ternyata aku tidak sendiri sekarang," ucap Aurora diiringi dengan senyumnya ke arah Arka.
"Melihat kamu tersenyum seperti ini saja aku merasa sangat bahagia Ra," gumam Arka menatap wajah Aurora dengan penuh haru.
"Ka, aku boleh tanya sesuatu?" ucap Aurora.
"Tanya aja Ra," sahut Arka singkat
"Kenapa kamu ajak aku ke salon mahal hanya untuk mendandani wajah dan rambutku? apa mama memang menyukai gadis yang cantik untuk menjadi calon pendampingmu nanti?" tanya Aurora penasaran.
__ADS_1
"Mamaku bukan orang seperti itu Ra, aku sengaja mengajakmu ke sana hanya ingin menunjukan padamu bahwa sebenarnya kamu adalah gadis cantik hanya saja kamu tidak pernah menyadari itu," jelas Arka sambil sesekali menoleh ke belakang karena obrolan mereka yang terdengar samar-samar oleh angin.
"Ya walaupun sebenarnya tanpa di poles dengan make up pun kamu sudah terlihat cantik," tambah arka kembali.
"Jadi menurut kamu aku cantik Ka?" tanya Aurora tersipu malu.
"Hm ... enggak juga sih sebenarnya," ledek Arka.
"Ish ..., Arka!" ucap Aurora mencubit perut Arka.
"Iya ... iya ... kamu cantik tapi sayang agak aneh!" ledek kembali Arka pada Aurora.
Tak terasa perjalanan mereka tiba di suatu halaman rumah, dengan bangunan yang terlihat mewah dilengkapi dengan gazebo di sampingnya.
"Ini rumah siapa Ka? rumah kamu?" tanya Aurora sambil berdecak kagum mengamati bangunan didepannya.
"Bukan rumahku Ra tapi rumah mama, aku mana bisa punya rumah semewah ini!" ungkap Arka yang turun dari vespanya.
"Ayo masuk!" ajak Arka.
Aurora melihat-lihat sekelilingnya, hingga ia terkesima dibuatnya.
"Aku gak nyangka Arka punya rumah semewah ini, aku pikir dia orang biasa sepertiku! tapi kenapa ia betah dengan vespa bututnya ithu" gumam Aurora sambil melanjutkan pandangannya pada rumah Arka.
"Waalaikumsalam, iya sebentar," sahut suara yang tak asing bagi Arka.
Keluarlah mama Arka dengan balutan hijab yang begitu anggun, namun tampak sang mama berjalan dengan menggunakan tongkat yang diletakan disisi lengannya.
"Wah ... ini ya calon menantu mama, ayo silahkan masuk!" ucap mama dengan penuh haru. Ia kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan minum.
"Tunggu sebentar ya!" ucap mama meninggalkan Arka dan Aurora di ruang tamu.
"Gak perlu repot-repot ma!" ucap Aurora mengekor di belakang mama Arka.
"Gak apa-apa, masa calon menantu mama datang hanya dibiarkan duduk saja!" sahut mama sambil berusaha meraih cangkir untuk ia sajikan pada Aurora.
Aurora kemudian segera meraih dan mengambil cangkir minum tersebut dari rak piring.
"Biar aku saja ya ma, mama duduk saja!" ucap Aurora dengan mendudukan mama Arka di kursi makan.
"Lho gak apa-apa, biar mama saja yang buatkan minumnya!" tolak mama untuk duduk.
"Mama tunggu saja ya, biar Aurora yang akan buatkan minumnya!" jelas Aurora sambil menuangkan air minum ke dalam cangkir, sementara Arka mengintip dari balik ruangan dengan senyum merekahnya.
__ADS_1
"Semoga saja pilihanku tepat menurut mama," gumam Arka lalu kembali duduk di ruangan tamunya.
"Mama disini hanya tinggal bersama Arka?" tanya Aurora berusaha memulai obrolan.
"Iya nak, mama hanya tinggal dengan Arka saja!" jawab mama singkat.
"Apa disini gak ada yang bantu-bantu mama dan Arka?" tanya Aurora, melihat sekeliling ruangan di rumah itu.
"Awalnya mama berniat untuk menyewa asisten rumah tangga, namun Arka melarang! dia bilang, biar dia saja yang merapikan dan mengurus rumah ini," ungkap mama tersenyum kecil.
"Anak itu memang selalu mandiri, bahkan ia sekolah dan kuliah juga dengan jerih payahnya sendiri," jelas mama menceritakan tentang kepribadian putra bungsunya.
"Arka memang anak yang baik ya! oh iya, ayo aku antar mama ke ruangan depan," Aurora langsung menggandeng mama Arka untuk kembali duduk di ruangan tamu. Ia lalu bergegas mengambil tiga buah cangkir yang telah diisinya dengan air.
"Nama kekasihmu ini siapa Ka?" tanya mama melirik putranya. Belum sempat Arka menjawab, Aurora langsung menyambarnya dengan jawabannya.
"Saya Aurora mah, mama bisa panggil saya dengan panggilan Aurora atau Rara!" ucap Aurora tersenyum pada mama Arka.
"Nama yang cantik, sesuai dengan wajah dan kepribadiannya," puji mama yang membuat Aurora menjadi salah tingkah.
"Terima kasih ma, tapi itu berlebihan ma untuk Aurora," sahut Aurora dengan merendah.
"Oh iya Ka ... tadi pak Hasan telepon, katanya dia mau ke sini untuk kasih laporan bulanan toko sama kamu!" jelas mama pada Arka.
Aurora seketika terkejut mendengar ucapan mama Arka. Tatapannya serius menatap wajah keduanya.
"Laporan bulanan! Arka bilang dia tidak bekerja, lalu toko siapa yang di maksud?" gumam Aurora bertanya-tanya dalam hati.
Bersambung ...
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Adil bukanlah membagi sama rata setiap bagiannya, namun membagi rata sesuai kebutuhan dan kesanggupannya. Maka jangan pernah mengeluhkan tentang keadilan kepada Sang Maha Adil (Al-Adl).
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1