Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 9 Pria Pencuri Hati


__ADS_3

"Ibu percaya kamu Ra, kamu tidak akan meninggalkan ibu dan adik-adik," ucap ibu tersenyum tenang.


"Oh iya Ra, ibu kan hari ini tidak bekerja jadi kamu tolong ke rumah di ujung komplek ya, tolong kamu ambil pakaian yang akan ibu setrika agar besok pekerjaan ibu tidak banyak yang tertunda," pinta ibu pada Aurora.


.


"Baik bu, apa ada lagi yang perlu Aurora ambil atau kerjakan?" tanya Aurora.


"Sudah itu saja, untuk yang lain sudah ibu ambil sebagian, hanya tinggal rumah bu Ira saja yang belum," ungkap ibu pada Aurora yang tengah bersiap untuk berangkat.


Aurora kemudian berjalan keluar dan sang ibu memanggil kembali Aurora dengan setengah berteriak.


"Ra, bilang saja kamu mau ambil pakaian untuk bu Tuti ya! kalau bu Ira tanya kamu siapa, bilang saja anak ibu," jelas ibu pada Aurora.


"Baik bu," Aurora kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Ia akan mengambil pakaian di rumah yang berada tepat di ujung komplek.


Setelah beberapa menit berjalan, Aurora tiba di halaman depan rumah yang di maksud sang ibu, dengan suara halus Aurora mengucapkan salam.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum," ucap salam Aurora sambil sesekali mengetuk pintu tersebut.


"Iya sebentar!" sahut suara dari dalam rumah.


Krek....


Pintu terbuka, dan keluarlah seorang wanita dengan penampilan yang rapi dan elegan, dilengkapi dengan perhiasan yang semakin menambah kesan glamor pada dirinya.


"Siapa ya?" tanya wanita setengah tua itu.


"Saya Aurora bu, putri dari ibu Tuti, saya kesini diminta ibu untuk mengambil baju," jelas Aurora.


"Oh iya... iya... tunggu sebentar ya!" ucap pemilik rumah, ia kemudian masuk kembali dan tak lama membawa 1 kantong tas yang sudah terisi penuh oleh pakaian yang akan di bawa.


"Ini.... tolong sampaikan pada bu Tuti ya, kalau ada beberapa pakaian disini yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar jadi tolong hati-hati menyetrikanya!" pesan pemilik rumah pada Aurora untuk disampaikan pada ibu.


"Baik kalau begitu bu, nanti saya sampaikan! saya permisi dulu bu," ucap Aurora yang segera berpamitan untuk kembali pulang.


Baru saja Aurora mengenakan sandal jepitnya, tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang pria muda dengan dandanan yang cukup rapi bertanya pada ibunya.


"Siapa ma?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah putra dari bu Ira, sang pemilik rumah.


"Ini lho bu Tuti ga datang hari ini jadi dia meminta anaknya untuk mengambilnya kesini," ucap bu Ira menjelaskan pada putranya.


"Oh begitu ma, ya sudah aku pamit keluar dulu ya," pamit pemuda itu sambil mencium kening ibunya.


"Hati-hati di jalan ya sayang," pesan bu Ira pada putranya.


Aurora yang tak menghiraukan obrolan antara bu Ira dan pemuda yang merupakan putranya itu, terus saja berjalan. Ia menjinjing sebuah tas yang berisi pakaian. Ibunya telah bekerja di rumah bu Ira kurang lebih hampir 2 tahun, namun pekerjaannya hanya terbatas pada mencuci dan menyetrika baju saja.

__ADS_1


"Haah.... berat juga lama-lama jinjing tas ini," keluh Aurora yang mulai merasakan kelelahan.


Tin...tin... tin...


Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang Aurora.


Suara klakson yang berbunyi sama sekali tidak diindahkan Aurora, ia terus saja berjalan tanpa menyadari bahwa klakson itu sengaja dibunyikan untuk menarik perhatiannya.


Tin... tin... tin...


Pemilik kendaraan dibelakang Aurora terus saja membunyikan klaksonnya, berharap Aurora menoleh ke belakang dan memperhatikannya.


"Wanita ini benar-benar membuatku penasaran!" gumam pria dalam mobil.


Ia akhirnya memutuskan untuk menyalip langkah Aurora di depannya dan tiba-tiba mobil pun sudah berhenti tepat di depan Aurora.


"Sudah gila apa ya ini orang, gimana kalau aku tertabrak," gerutu Aurora dalam hati.


"Hai, kamu yang tadi ke rumah aku kan?" tanya pria muda nan tampan itu.


"Oh... kamu! iya aku yang tadi ke rumah kamu," jelas Aurora.


"Ayo ikut naik bersamaku, kebetulan aku juga mau keluar komplek," ajak pria tampan itu.


"Hmm... apa tidak merepotkan?" tanya Aurora.


"Ya jelas engga dong, masa bawa cewe semanis ini harus merasa repot," gombal pria itu pada Aurora.


"Lho, kamu mau duduk dimana? tanya pria itu.


"Kamu bisa duduk di sebelah aku, disini," ucap sang pria sambil membuka pintu mobil dan menyuruh Aurora duduk disebelahnya.


"Nah kalau kaya gini kan aku gak sendiri lagi," ucap pria itu.


Ia kemudian melanjutkan kembali kemudinya, sesekali ia mencuri pandangannya pada Aurora. Aurora yang sadar atas sikap pria itu, ia semakin gugup dan jantungnya terus berdegup dengan kencangnya.


"Aku boleh kan tahu nama kamu?" tanya pria itu.


"Namaku Aurora, tapi orang-orang biasa menyapaku dengan panggilan Ara," sahut Aurora sambil tersenyum manis ke arah pria itu.


"Oke, aku akan panggil kamu dengan sebutan Rara ya! aku Kevin Ra, putra dari bu Ira yang tadi kamu kunjungi rumahnya.


🌸 Visual Kevin 🌸



Source : Instagram_Kitsakorn Kanoktron


"Oh ini putranya bu Ira, tampan juga," gumam Aurora dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa Ra, kok bengong begitu? ayo.... lagi mikirin apa?" tanya Kevin.


"Gak lagi mikir apa-apa kok," ucap Aurora beralasan.


"Duh, udah tampan, dewasa, dan ternyata orangnya cukup asyik," kesan pertamanya saat mengenal Kevin begitu menarik perhatiannya.


Kenyamanannya bersama Kevin membuat Aurora tak sadar bahwa perjalanannya sudah hampir berakhir.


"Ra, rumah kamu dimana? apa perlu aku antar kamu dulu? tanya Kevin memandangi Aurora.


"Haaah... sudah sampai ya? hmm... gak perlu, rumah aku sudah dekat kok dari sini, makasih ya," Aurora menarik pintu dan membukanya.


"Nanti kita ketemu lagi ya Ra," ucap Kevin sambil tersenyum pada Aurora, tatapannya begitu memesona di mata Aurora.


"Iya..." jawab Aurora tersipu malu sambil menutup kembali pintu mobil Kevin.


Ia berjalan menuju rumahnya, namun hatinya masih saja ingin kembali menoleh ke arah belakang. Ia pun memberanikan diri menoleh ke belakang dan ternyata Kevin masih berada di jalan itu, sambil memperhatikan langkah Aurora, ia pun melambaikan tangannya pada Aurora.


Aurora yang terkejut dengan apa yang dilihatnya, kemudian membalikkan kembali pandangannya ke depan.


"Ya ampun Ra, ngapain juga kamu tengok lagi ke belakang! kan dia jadi tahu," Aurora pun salah tingkah dibuatnya.


"Kalau tahu anak majikan ibu setampan ini, aku rela harus bolak-balik ke sana untuk mengambil pekerjaan yang ibu minta," Aurora terus saja mengingat-ngingat kebersamaan bersama Kevin tadi.


Khayalannya melambung tinggi hingga membuat hatinya penuh warna, bahkan tragedi hari itu di rumah Lani pun tak terbayang lagi di ingatannya.


Sesampainya di rumah, Aurora menceritakan kepada ibunya bahwa ia di antar oleh Kevin, putra dari bu Ira.


"Kamu diantar mas Kevin?" tanya sang ibu terkejut.


"Iya bu, dia baik dan ramah ya," ucap Aurora sambil tersenyum mengingat sosok Kevin.


"Iya Ra, kalau untuk sekedar kenal sih ibu gak masalah!" ucap ibu yang membuat Aurora bingung.


"Maksud ibu?" tanya Aurora mengerutkan dahinya.


"Dia mungkin baik untuk yang lainnya tapi tidak untuk anak ibu!" ucap ibu mematahkan hati Aurora yang baru saja berbunga.


Bersambung....


Quote of the day


Jatuh cinta selalu saja membuat hati patah, namun menjalin cinta dengan ikatan yang sah akan menyatukan dua hati hingga ke jannah.


Selamat beraktivitas readers, semoga selalu dilancarkan ya urusannya. Jangan lupa jadikan Jodoh Titipan sebagai salah satu Novel Favourite kalian, agar kalian dapatkan selalu update terbarunya dan bisa kalian baca saat luang nanti.


Mohon dukungannya selalu ya, agar Author bisa selalu memperbaiki apapun yang menjadi kekurangan dalam karya ini.


Salam hangat

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2