Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Anak Taqi


__ADS_3

Bagian 58


Oleh Sept


Matahari pagi belum menampakkan sinarnya, tapi Taqi pagi-pagi buta sudah heboh sendiri ketika menemukan sebuah alat tes kehamilan di dalam kamar mandi. Yang menggunakan kamar mandi itu hanya dirinya dan Nada. Meski percaya itu milik Nada, hanya saja ia ingin mendengar jawaban langsung dari istrinya itu.


"Punya siapa ini?" gumam Taqi. Ia penasaran dan bertanya-tanya dalam hati. Taqi memperhatikan bentuknya dengan saksama. Terdapat dua garis merah.


"Ini milik siapa?" Ia yang baru bangun tidur masih menerka-nerka.


Tap tap


"Nad ... Nada."


Pria itu memanggil Nada yang masih terlelap. Taqi benar-benar kepo, siapa pemilik alat tersebut. Perlahan Nada terbangun, ia mengerjap dan menatap suaminya yang berdiri di samping ranjang di sebelahnya.


"Ini milik siapa?" tanya Taqi dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Oh ... itu. Milik Nada," jawabnya singkat dengan suara sedikit serak karena masih mengantuk, kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Tangannya pun meraih selimut dan kembali tidur.


Sementara itu, Taqi semakin tertegun. Jawaban Nada membuatnya kosong untuk sesaat.


"Punya kamu, Nad?" tanya Taqi kemudian menyibak selimut.


"Hemm."


"Beneran?"


"Hemmm."


Nada menjawab masih dengan mata tertutup, semalam Naqiyyah agak rewel jadi mungkin ia kurang tidur dan jadi sangat ngantuk sekarang.

__ADS_1


"Bangun dulu, Nad. Mas mau bicara."


Taqi kemudian membangunkan tubuh Nada. Memegang kedua bahu wanita tersebut.


"Bangun dulu, jangan buat Mas penasaran. Ini punya kamu?"


Nada mengusap matanya, kemudian mengangguk pelan.


"Anak Kita?"


Nada mendongak menatap suaminya yang sejak tadi seperti wartawan, suaminya itu bertanya banyak hal padanya sejak tadi.


"Ayo bangun dulu, dong!"


Taqi kemudian mengambil segelas air di atas nakas. Kemudian memberikannya pada Nada. Biar Nada bisa kembali fokus dan nyambung saat ia ajak bicara.


"Minum dulu!"


"Nada hamil, Mas," ucap Nada kemudian setelah agak segar. Matanya tidak selengket tadi. Mungkin karena Taqi sejak tadi berisik sekali, pria itu heboh sendiri. Mencecar banyak pertanyaan padanya, padahal pertanyaan sebelumnya belum dijawab, tapi sudah diberikan pertanyaan yang lainnya.


"ALHAMDULILLAH!" ucap Taqi kemudian langsung memeluk Nada.


"Beneran, kan? Gak bohong?"


Alis Nada langsung menungkik tajam ke bawah. Untuk apa juga ia berbohong untuk masalah kehamilannya?


"Ini anak Mas?" tanya lagi pria itu. Membuat Nada menjadi bad mood.


'Terus anak siapa?' batin Nada.


Kekesalan Nada berubah menjadi senyum seketika saat Taqi mengusap permukaan perutnya. Pria itu menyentuhnya dengan lembut, kemudian menge cup perutnya berkali-kali.

__ADS_1


"Anak Ayah," bisikan lembut.


Setelah puas mengusap perut Nada, pria itu kini menatap ke dalam mata Nada dengan intense.


"Makasih, Nada ... Makasih sayang!"


CUP


"Belum gosok gigi!" ujar Nada.


Wanita itu menutup bibirnya dengan telapak tangannya ketika Taqi mau menempelkan bibirnya. Dan Taqi hanya bisa tersenyum, bukannya menyerah, pria yang sedang gembira ria itu malah menghujani Nada dengan banyak kecu pan.


CUP ... CUP ... CUP


***


Beberapa hari kemudian


Mereka kini sedang ada di Bandara. Keduanya sedang menjemput ummi dan abah, sengaja mereka tidak memberitahu kehamilan kedua Nada, mau buat kejutan untuk orang tua mereka tersebut.


Dari terminal kedatangan, terlihat ummi sudah melambai. Mungkin sudah kangen dengan baby Naqiyyah yang kini digendong baby sitter. Sedangkan Nada, ia langsung bergegas menghampiri ummi agar ummi tidak melangkah terlalu jauh.


"Ummi sudah rindu cucu Ummi, selama di sana selalu terbayang-bayang," ucap ummi setelah memeluk mereka satu persatu. Kini ia sedang memeluk cucu pertamanya, cucu satu-satunya darah daging keluarga Yusuf.


"Bagaimana Ummi sama Abah, sehat?" tanya Taqi sambil meraih tas tenteng milik abah dan ummi.


"Alhamdulillah," jawab ummi.


"Ya sudah, Ayo pulang ... langitnya juga terlihat gelap, nanti malah hujan. Nanti Naqi masuk angin," tambah ummi.


Akhirnya mereka pun memutuskan pulang, bukan ke rumah Taqi, akan tetapi ke rumah abah Yusuf.

__ADS_1


Sampai di rumah abah Yusuf, mereka semua tampak heran. Banyak mobil hitam di sana, belum lagi ada mobil patroli polisi juga. BERSAMBUNG


__ADS_2