
Bagian 62
Oleh Sept
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada keluargaku ... aku tidak akan meaafkanmu!"
Arslan tersenyum getir. Bagaimana bisa putranya itu mengancam?
"Jangan khawatir, aku tidak akan mencelakai istrimu itu."
"Aku ingin menemui mereka sekarang."
Arslan menggeleng.
"Jangan, ini bukan waktu yang tepat. Bertemu mereka hanya akan membuat mereka dalam bahaya." Arslan melakukan hal yang sama pada Taqi dulu.
Memilih menjaga jarak dengan keluarganya demi keselamatan mereka semua.
"Aku tidak akan sepertimu, malam ini aku harus memastikan mereka dengan kepalaku sendiri."
"Jangan keras kepala, Taqi. Kau mau mereka semua celaka?"
"Kau yang membuat kami semua celaka!" jawab Taqi dengan lirih. Ya, sejak kemunculan Arslan, semua semakin sulit.
Arslan sendiri langsung diam, karena tertampar oleh kenyataan. Ya, dirinya adalah penyebab masalah semua ini.
***
7 hari kemudian
Arslan sudah keluar dari rumah sakit. Tubuhnya yang sekuat baja, membuat pria itu cepat sekali pulih. Kini, mereka semua sedang berlayar. Mereka akan menyeberangi lautan untuk pergi ke pulau pribadi milik Arslan.
Dari tempatnya berdiri, Arslan menatap Taqi yang duduk di samping Nada. Ya, mereka sudah dipertemukan beberapa hari lalu. Jika tidak, Taqi akan merusak ruang rawat inap dan melakukan banyak kegaduhan.
Untuk saat ini, kabur adalah pilihan Arslan. Sebab, untuk melasan pun ia tidak bisa. Taqi dan Nada ingin mereka hidup layaknya orang biasa. Maka mereka akan mengasingkan diri untuk tinggal di sebuah pulau.
"Kamu tidak apa-apa dengan kondisi seperti ini?" tanya Taqi. Ia memperhatikan perut istrinya.
Baru juga merasakan bahagia, tapi masalah tidak pernah berhenti. Selalu ada dan berganti dengan yang lain.
"Tidak apa-apa."
"Benarkah?"
"Hemm."
"Kamu bohong, Nada."
Nada terdiam, bagaimana ia bisa mengatakan semua ini tidak apa-apa? Sedangkan hatinya selalu was-was saat mengetahui banyak fakta tentang keluarga suaminya.
"Lalu Nada harus bagaimana?"
Taqi menghela napas panjang.
"Maafkan aku ... jika bisa. Rasanya ingin aku putus saja hubungan darah ini."
Nada menggeleng.
"Mana bisa ... dia ayah Mas Taqi."
"Andai saja dia bukan ayahku ..."
__ADS_1
Nada memeluk suaminya, ia tahu ini semua juga bukan mau Taqi. Keduanya pun menatap ke lautan lepas. Sementara Naqiyyah, baby mungil itu masih tidur di dalam stroller.
Mereka tidak sadar, dari jauh Arslan memperhatikan mereka semua.
***
Setelah berlayar menyeberangi lautan tanpa batas, kapal mereka bersandar sebentar. Tanpa banyak kata, Arslan meminta anak buahnya untuk menjalankan kapal saat Nada dan Taqi serta anaknya turun mencari sesuatu di sekitar pelabuhan.
"Tinggalkan mereka di sini. Siapkan yacht, kemudian ledakkan kapal ini. Buat seolah-olah kami semua mati."
"Baik, Tuan."
Para pengawal Arslan kemudian melakukan titah dari ketua mafia tersebut. Begitu kapal kembali berlayar, dan baru beberapa kilo dari daratan, tiba-tiba sebuah ledakkan terdengar keras. Dentuman yang cukup kuat membuat kejadian itu menjadi sorotan. Banyak media meliput kebakaran dasyat tersebut.
Sedangkan Taqi, pria itu terlihat shock ketika melihat berita kecelakaan kapal yang semula ia tumpangi. Taqi pikir itu adalah kejadian yang disengaja oleh musuh sang ayah.
Dari kabar yang beredar, semua penumpang dinyatakan tewas. Dan hampir saja menjadi salah satu korban kalau saja mereka tidak turun untuk mencari barang-barang keperluan Naqiyyah, pasti mereka juga mengalami nasib yang sama. Mungkin kaget, Nada berkali-kali kelihatan ingin pingsan. Tubuhnya lemas.
***
Rumah sakit
"Nad ... Nada ... bangunlah. Semua baik-baik saja. Kita akan pulang," bisik Taqi yang melihat Nada tidak kunjung bangun dari pingsannya.
"Nada ... bangun Sayang, ummi abah sudah rindu."
Kelopak matanya bergerak-gerak, Nada perlahan mulai siuman.
Begitu membuka mata, Nada langsung menangis.
"Kapalnya terbakar!" tangis Nada.
"Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Kita bisa pulang. Dan dia ... Dia masih hidup."
Taqi kemudian menunjukkan video singkat kiriman Arslan. Dalam video itu Arslan berbicara.
[Maafkan aku, mulai sekarang mari tidak saling mengenal. Aku pastikan kau akan aman. Setelah mereka mendapat apa yang mereka mau, mereka akan melepas kalian]
Video berhenti sejenak.
"Dia masih hidup?" tanya Nada. Dan Taqi mengangguk.
Mereka kemudian kembali menonton video.
[Aku tahu kalian tidak mau uangku sepeserpun. Nanti, jika cucuku lahir dan aku sudah hilang di bumi ini, berikan ini padanya]
Kamera mengarah pada barcode scanner rahasia.
[Berikan ini untuk cucuku nanti, satu lagi ... Maafkan aku Taqi ... Dan aku bangga memiliki putra sepertimu. Kau adalah duplicate ibumu ... selamat tinggal putraku]
Video selesai
***
5 Tahun kemudian
Naqi menggandeng tangan seorang anak yang jauh lebih tinggi darinya. Usia mereka hanya terpaut satu tahun, tapi posture tubuhnya lebih besar Pawan.
"Naqi ... Pawan!"
Keduanya langsung berlari ketika sebuah suara khas memanggil nama mereka.
__ADS_1
Bukkkkk ...
Dua pelukan sekaligus didapat Nada dari kedua anaknya. Naqiyyah dan Pawan. Sedangkan di belakang mereka, Taqi tidak mau ketinggalan. Ia ikut memeluk mereka bertiga dari belakang. Harta yang paling berharga dalam hidupnya.
"Sudah ya mainnya, nenek sama kakek pasti sudah menunggu kalian."
"Iya, Ayah!" ucap Pawan dengan mata berbinar-binar. Anak empat tahun itu kemudian memegangi tangan ayahnya.
Sedangkan Naqi, gadis kecil itu memegang tangan Taqi yang sebelahnya. Mereka berempat berjalan menuju mobil. Meninggalkan taman kota, menuju rumah abah dan ummi.
Kediaman abah Yusuf
Begitu terdengar deru mobil, ummi dan abah langsung keluar. Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan cucu-cucu mereka.
Dan ketika Naqi serta Pawan turun dari mobil, abah dan ummi langsung menggendong mereka. Seperti cucu sendiri, mereka memperlakukan Pawan sama seperti Naqiyyah. Dua malaikat kecil yang menjadi hiburan di hari senja mereka berdua.
Di belakang ummi serta abah, Taqi merangkul bahu Nada. Keduanya berjalan, kemudian menatap penuh senyumnya di wajah mereka. Rasanya kebahagian keluarga mereka sudah lengkap. Berkumpul dengan mereka yang terkasih, menjalani hidup biasa seperti apa yang Taqi inginkan selama ini.
***
Rusia
Di sebuah mansion mewah, seorang pria tua terbaring sembari memeluk sebuah foto.
"Tuan, apa perlu saya hubungi tuan Taqi?" tanya pelayan yang sudah 2 tahun melayani Arslan.
Arslan menggeleng pelan, sesekali ia terbatuk. Seharian ini ia kelihatan hanya melamun di atas ranjangnya yang mewah. Ketika hari mulai senja, pelayan pun masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa khawatir kondisi kesehatan Arslan yang semakin menurun.
"Mungkin dia akan datang bila tahu kondisi Tuan?"
Arslan mengangkat tangannya, meminta pelayan untuk diam. Sudah menjadi pilihan Arslan, bahwa ia akan menghilang dari kehidupan putranya.
"Tapi, Tuan."
Uhuk ... uhuk ...
Arslan terbatuk, bukan batuk sembarangan. Banyak darah kental yang keluar dari mulutnya. Membuat pelayan panik, tapi Arslan langsung mencengkram lemah tangan pelayan itu.
"Katakan ... ka .. katakan padanya. Aku .. ak ... aku menyayanginya ... aku bahagia menjadi ... ayahnya."
Setelah mengatakan itu, cengkraman Arslan melemas. Lengan pria itu kemudian terkulai. Foto Taqi kemudian terjatuh ke bawah ranjang.
"Tuan ... TUAN!"
***
Hidup adalah pilihan, dan ini adalah pilihan terakhir Arslan. Bahwa sampai akhir hayat, ia tidak ingin putranya celaka. Dia memiliki cara berbeda untuk menyatakan kasih sayangnya. Baginya, cukup melihat Taqi Bassami hidup bahagia.
Sedangkan Taqi, baginya hidup seperti manusia biasa itu adalah pilihan. Tidak mau tenggelam dalam lembah hitam hingga membuat nyawa keluarganya menjadi taruhan, Taqi pun berusaha menjauh dari pengaruh buruk sang ayah. Seorang Pria penguasa kegelapan yang memiliki banyak musuh di luar sana.
Taqi hanya anak seorang mafia yang hilang, atau bahkan sengaja dihilangkan untuk melindungi nyawanya. Bahkan sampai akhir hayat sang mafia, Taqi pun tidak pernah tahu. Bahwa ayahnya telah tiada.
Begitulah hidup, kadang menyimpan banyak misteri, dan ada banyak hal yang harus membuat kita memilih. Benar atau salah, tanya pada hati nurani masing-masing. Sebab hati tidak pernah bisa dibohongi.
Semoga ada yang bisa diambil dari kisah Taqi Bassami dan Nada. Bahwa tidak selamanya apa yang kita rencanakan sesuai dengan kenyataan. Mencoba ikhlas dan menerima, sebab Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dari pada apa yang kita inginkan.
Mulanya mereka menolak perjodohan, tapi ternyata kini mereka malah hidup bahagia. Dan selalu ada pelangi setelah badai datang. Jadi jangan menyerah, jika hidupmu sedang dalam masalah, sebenarnya Allah sudah siapkan penyelesaiannya. Tetap Semangat bestie.
TAMAT
Sampai jumpa di novel selanjutnya ...
__ADS_1
Terima kasih karena sudah mengikuti sampai Bab ini. Terima kasih banyak ya ...
Jangan lupa klik profile Sept, ada banyak nopel di sana. Sebentar lagi up novel baru yang ke 17 ya. Semangat 45. Hehehhe