Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 50 Dendam Lani


__ADS_3

Ibu seketika melirik kecil mantan suaminya yang terlihat begitu memprihatinkan.


"Tunggu sebentar, akan kubuatkan teh hangat dulu!" ucap ibu, lalu terbangun dari duduknya.


Ayah Aurora tampak begitu haru melihat perhatian mantan istrinya padanya. Penyesalannya semakin menggunung, kala ia melakukan kesalahan yang membuat dirinya harus rela terpisah dengan keluarganya kini.


"Kenapa perlakuan dia begitu berbeda dengan Intan? dia masih saja memperhatikanku, walaupun kini statusku hanya sebagai mantan suami," gumam ayah Aurora dengan hati pilu.


"Di minum tehnya selagi masih hangat!" ucap mantan istrinya itu sambil menyodorkan secangkir teh yang ia bawa.


"Terima kasih." ayah langsung meraih cangkir itu dan menyeruputnya.


"Aku akan rutin kesini untuk melihat keadaan anak-anak, karena mereka juga merupakan tanggung jawabku!" ungkap ayah melirik ke arah ibu Aurora.


"Silahkan saja, aku tidak akan melarang sedikitpun!" ucap ibu dengan nada halus.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang dulu! sampaikan salamku untuk anak-anak," pamit ayah sambil memandangi mantan istrinya dengan wajah sendu.


Ibu hanya mengangguk ringan menimpali mantan suaminya yang hendak pergi dari hadapannya.


Saat baru beberapa langkah, ibu baru berani menatap kepergian mantan suaminya dengan begitu lara. Suami yang dulu pernah berjanji untuk menemaninya hingga akhir hayat, kini hanya tinggal kenangan saja. Ucapan manis itu tidak berarti lagi baginya.


Sesampainya di rumah, ayah Aurora langsung dihujani pertanyaan oleh istrinya yang juga merupakan ibu dari sahabat baik Aurora.


"Bapak habis dari mana dulu? kenapa jam segini baru sampai di rumah? jangan bilang bapak ke rumah itu!" tanya mama Lani dengan mata yang melotot.


"Iya, bapak memang menyempatkan mampir kesana dulu karena bapak rindu dengan anak-anak bapak!" ungkap ayah Aurora pada istrinya yang tengah hamil 4 bulan.


"Bisa-bisanya bapak pergi kesana tanpa izin mama terlebih dulu! apa mama gak perlu tahu kemana bapak pergi, sebegitukah arti mama untuk bapak?" tanya sang istri sambil meneteskan air mata.


"Bukan begitu ma, bapak hanya tidak ingin ribut dengan mama karena masalah ini! bapak hanya sekedar bertemu untuk melepas rindu pada mereka semua," ungkap ayah Aurora mencoba menjelaskan pada istrinya.


"Apa salahnya bapak izin dan memberi tahu mama kalau bapak akan mampir kesana! atau bapak sengaja menyembunyikan ini dari mama karena bapak masih mencintai wanita itu?" tanya istrinya menduga-duga.


"Cukup ma! bapak sudah katakan, kalau bapak kesana hanya ingin bertemu dengan anak-anak bapak, tolong jangan menuduh yang tidak-tidak," bantah ayah Aurora dengan suara keras.


"Apa salahnya bapak menemui mereka? mereka juga anak-anak bapak, masih butuh nafkah dan perhatian dari bapak ma!" ungkap ayah Aurora meneteskan air mata.

__ADS_1


Bagaimana tidak sedih, bahkan ia hanya menemui keempat anaknya setelah hampir berminggu-minggu tidak bertemu. Kini ia harus bertengkar karena masalah yang sama, sang istri berusaha melarangnya untuk bertemu dengan anak-anaknya itu.


"Tidak cukupkah saat ini, mama sudah memiliki segalanya! tidak seperti mereka, yang hidup tanpa seorang suami dan ayah yang selalu mendampingi," tambah ayah Aurora.


"Bapak sangat peduli dengan keadaan mereka, tapi apa bapak peduli dengan keadaan mama dulu saat bapak tinggalkan dan menikah dengan wanita itu? hingga mama harus menikah dengan laki-laki yang tidak mama cintai," ungkap istrinya dengan mata yang mulai memerah.


"Mama terpaksa menikah dengan laki-laki itu, walaupun harus hidup dengan penuh kepura-puraan, hingga mama tak sanggup lagi untuk terus hidup dalam kebohongan dan memutuskan untuk berpisah! apa bapak pernah memikirkan mama saat itu?" tambah istrinya dengan suara tergagap-gagap.


"Bapak juga merasakan hal yang sama dengan mama, tapi bapak berpikir kalau itu semua adalah takdir untuk kita berdua! bapak akhirnya mencoba mencintai wanita yang bapak nikahi dan melupakan semuanya tentang kita," ungkap ayah Aurora mengingat-ngingat masa lalunya.


"Bapak sadar, meratapi kesedihan hanya akan membuat bapak semakin sakit! itu kenapa bapak memulai semuanya dengan istri bapak itu, hingga kami berdua akhirnya saling mencintai," ungkap ayah Aurora menambahkan.


"Entah apa yang membuat bapak melakukan kesalahan terbesar hingga menyakiti perasaan wanita yang begitu setia menemani bapak selama ini," jelas ayah Aurora, menyesali kejadian beberapa bulan silam.


"Maksud bapak, bapak menyesal dengan hubungan ini? begitu!" tanya istrinya yang terlihat semakin murka.


"Bapak hanya menyesali, kenapa harus dia yang berkorban untuk kita!" tutur sang suami yang membuat istrinya semakin jengkel.


"Sudahlah ... bapak terus saja membela diri, seolah hanya bapak dan mereka itu yang tersakiti!" ucap istrinya kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang masih berdiri di depan rumahnya.


Sejak awal pertengkaran mama dan bapaknya ketika pulang tadi, Lani memperhatikan keduanya dari balik gorden sambil mendengarkan permasalahan yang terjadi.


"Tunggu saja Ra, kamu akan membayar segala kesakitan yang mamaku rasakan! aku harap kamu bersiap untuk menghadapinya," tambah Lani dalam batinnya.


"Setiap tetesan air mata yang mama keluarkan, sebanyak itu pula balasan yang akan kau terima," ucap Lani meruncingkan sudut bibirnya.


Dendam Lani pada Aurora seolah melupakan arti persahabatan mereka yang sudah teramat dekat. Kini yang tersisa hanya amarah, dan nafsu yang menguasai hatinya hingga ia berpikiran sempit pada sahabatnya itu.


Kediaman Aurora, pukul 21.19


Di waktu yang bersamaan, Aurora dan ketiga adiknya sibuk mencoba barang yang dibelikan oleh ayahnya. Nova dan Bintang menggunakan seragam barunya, sedangkan Aurora menatap tas itu dengan begitu lara.


"Andai saja kita masih sama-sama seperti dulu, rasanya kebahagiaan ini begitu lengkap yah," gumam Aurora, mengelus-ngelus tas itu dengan penuh perasaan.


"Ra ... coba kamu pakai tasnya, ibu ingin lihat kamu memakai tas itu!" pinta sang ibu, tersenyum pada Aurora.


"Iya bu," sahut Aurora singkat. Tatapannya kosong, seolah ada yang mengganggu pikirannya malam itu.

__ADS_1


Aurora kemudian berdiri sambil menjinjing tas baru yang dibelikan sang ayah.


"Wah ... anak ibu terlihat anggun dengan tas itu!" ucap ibu, berusaha menghibur putri sulungnya yang terlihat lebih banyak diam, sepulang ayahnya tadi.


"Besok kamu pakai ya Ra, tas yang lama biar ibu yang pakai," jelas ibu dengan wajah berbinar.


Aurora yang sibuk dalam lamunannya, tidak memperdulikan ucapan ibunya. Ia hanya terdiam dengan tatapan yang begitu kosong.


"Ra ... kamu sedang memikirkan apa? ibu bicara dari tadi tapi kamu malah diam saja!" tegas ibu, mengejutkan Aurora.


"Ah ... maaf bu, aku hanya memikirkan tas ini! apa aku pantas mengenakan tas seperti ini saat bekerja," ucap Aurora beralasan dari ibunya.


"Kenapa tidak pantas? tasnya bagus kok, cocok untuk kamu!" timpal ibu pada Aurora.


"Em ... begitu ya bu, baiklah nanti Aurora akan pakai tas ini saat bekerja!" ucap Aurora tersenyum melirik ke arah ibunya.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Dendam ...


Istilah umum yang biasa orang ucapkan saat merasa tersakiti oleh yang lainnya


Ia sibuk menghitung kesalahan orang padanya, hingga ia melupakan banyaknya kesalahan yang ia lakukan pada orang lain


Masih pantaskah mendendam?


🍂🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2