Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 35 Permohonan Maaf


__ADS_3

..........


Arka bingung seketika melihat sikap Aurora yang tampak berbeda dari biasanya. Dahi dan alis matanya mengkerut dengan bibir yang meruncing.


"Kenapa ya dia? apa dia sedang datang bulan?" ucap Arka menduga-duga perubahan sikap Aurora saat itu.


Tanpa memperdulikan Aurora yang berjalan sendiri menuju jalan raya, Arka terus melajukan vespanya kembali ke rumah.


"Assalamualaikum, ma ..." Arka mengucap salam dan memanggil mamanya.


"Waalaikumsalam, kamu dari mana saja Ka? baru saja Aurora pulang, mama menyuruhnya untuk menunggumu tetapi dia memaksa untuk tetap pulang!" ungkap mama sambil menghampiri putranya yang baru saja tiba.


"Arka tadi ada pekerjaan penting ma!" jelas Arka pada mamanya.


"Pekerjaan penting! tentang toko?" tanya mama heran.


"Oh, bukan ma! Arka mengantar sesuatu yang mesti kita tunaikan setiap bulannya," ungkap Arka sambil tersenyum ke arah mamanya.


Mamanya yang paham dengan maksud putranya itu, kemudian membalas kembali tatapan dengan penuh rasa syukur.


"Mama ikut senang mendengarnya, kamu tidak lupa memberikan itu pada mereka yang membutuhkan," ucap mama dengan senyum syukurnya.


"Oh ya ma, tadi Arka sempat bertemu dengan Aurora di tepi jalan komplek, tapi wajahnya berbeda dengan saat ia tiba disini tadi! dia kenapa ya ma?" ungkap Arka dengan wajah bingung.


"Mungkin itu cuma perasaan kamu saja! sekarang kamu pergi ke toko bunga dan berikan bunga itu pada Aurora, semoga saja hatinya kembali membaik" ucap mama memberi saran pada putranya.


"Apa bisa hanya dengan bunga saja ma?" tanya Arka heran. Ia tak percaya bahwa dengan bunga saja, sikap Aurora akan kembali membaik.


"Arka, mama dan Aurora sama-sama seorang wanita jadi mama tahu betul bagaimana memperlakukan seorang wanita saat ia marah," ungkap mama dengan senyumnya yang menenangkan.


"Baik ma, Arka akan ke toko bunga dulu ya ma," pamit Arka sambil mencium kening mamanya sebelum ia pergi dengan vespa kesayangannya.


"Arka ... Arka ... semoga kamu tetap semangat seperti ini saat nantinya kamu tidak bisa memiliki apa yang kamu inginkan!" gumam mama dalam hatinya.


Arka yang melaju dengan cepat, kini tiba di Raina Florist. Toko bunga yang jaraknya hampir 3 KM dari rumahnya.


Dengan perasaan yang menggebu-gebu, Arka tak tanggung-tanggung menuruti saran sang mama. Ia kemudian membeli 1 box bunga mawar berwarna merah muda, lengkap dengan ucapan permohonan maaf di dalamnya.


"Berapa mba?" tanya Arka pada kasir.


"Satu juta sembilan ratus ribu pak," ucap kasir menatap Arka.


Setelah Arka membayar bunga yang telah dibelinya, ia bergegas mendatangi rumah Aurora sore itu.


Langkahnya perlahan saat ia hampir tiba di depan rumah Aurora. Ia tak sengaja mendengar percakapan Aurora dan ibunya sore itu.

__ADS_1


"Ibu juga gak tahu, tadi siang ibu lihat bingkisan itu sudah ada di depan! ibu tanya sama Bintang dan Nova juga mereka gak lihat siapa yang simpan bingkisan itu," ungkap ibu pada Aurora.


Obrolan itu tentu terdengar jelas oleh Arka. Senyumnya melebar dengan hati yang tenang. Tanpa memperdulikan percakapan Aurora dan ibunya, Arka kemudian mengetuk pintu dan tak lupa untuk mengucapkan salam.


Tok ... tok ... tok ...


"Assalamualaikum," salam Arka di depan pintu rumah Aurora.


"Waalaikumsalam," sahut Aurora dan ibunya dari dalam.


"Oh nak Arka, ayo silahkan masuk!" ajak ibu dengan senyum di wajahnya.


"Issh ... mau ngapain lagi sih kamu kesini?" ucap Aurora sinis pada Arka.


"Ssstt ... Aurora ..." desis ibu mencoba menghentikan ucapan putrinya.


"Ayo masuk, ibu akan buatkan minum dulu ya," ucap ibu pada Arka kemudian berlalu ke dapur.


"Mau ngapain kamu datang kesini, pakai bawa-bawa bunga lagi!" ucap Aurora dengan wajah masam.


"Kalau aku salah, aku minta maaf ya! semoga bunga ini bisa mewakili permintaan maafku," ucap Arka sambil memberikan bunganya pada Aurora.


"Aku minta maaf ya Ra, pemberian maafmu adalah nafasku maka tanpa maaf darimu aku tak akan bisa hidup," tulis Arka dalam pesannya yang kemudian dibaca Aurora.


Seketika wajah Aurora memerah, terselip senyum tipis di balik wajah masamnya yang terlihat.


Jarinya berkali-kali memegang bunga pemberian Arka sambil tersenyum kecil. Tak cukup sampai disitu, ia terus saja memandangi kertas ucapan yang begitu terlihat mewah dengan kata-katanya.


Tak lama, ibu tiba membawa secangkir teh hangat untuk Arka. Ibu terduduk di samping putrinya, sambil memandangi bunga yang sebelumnya sempat ia lihat dibawa oleh Arka.


"Teh hangatnya silahkan diminum nak!" ucap ibu sambil tersenyum kecil memandangi keduanya, lalu kembali masuk ke dapur.


"Baik bu, terima kasih," timpal Arka dengan suara halus dan penuh sopan santun pada ibu.


"Kamu sebenarnya kenapa Ra, kenapa tiba-tiba kamu pulang dengan sikap seperti tadi?" tanya Arka heran.


"Gak apa-apa kok! mungkin mood aku aja yang lagi kurang bagus," jawab Aurora yang terus saja memegangi box bunga pemberian Arka.


"Syukurlah, aku pikir kamu kenapa," sahut Arka menimpali jawaban Aurora.


"Oh iya, kamu sengaja datang dari rumah untuk memberikan bunga ini sebagai ucapan permohonan maaf?" tanya Aurora menatap Arka.


"Sebenarnya sih mama yang menyarankan aku kesini untuk memberikan bunga itu dan untuk ucapan permohonan maafnya, aku dapatkan dari penjaga di toko bunga," ungkap Arka dengan penjelasan polosnya.


"Jadi bunga dan permohonan maaf ini bukan benar-benar tulus inisiatif kamu?" tanya Aurora terkejut, dengan netra yang tertuju menatap Arka.

__ADS_1


Dengan lugunya, Arka terus menjawab pertanyaan Aurora yang menghujani dirinya.


"Iya, ibu bilang solusi untuk membuat kamu tidak marah ya dengan cara ini, makanya aku langsung membeli bunga ini untuk kamu," jelas Arka dengan polosnya.


Ia kemudian meraih cangkir berisi teh hangat yang sudah ibu Aurora siapkan untuknya. Saat tegukan pertamanya belum ia selesaikan, tiba-tiba Aurora menghentikannya.


"Tunggu ..., simpan lagi air minumnya dan pergi sekarang!" ucap Aurora dengan wajah yang terlihat geram.


Seketika Arka terkejut dan kembali menyimpan cangkir teh yang baru saja ia teguk. Pipinya menggembung karena air teh yang ia minum masih tertahan di mulutnya.


"Cepat keluar!" teriak Aurora sambil mendorong tubuh Arka keluar dari rumahnya.


Arka tentu semakin bingung, kenapa gadis itu tiba-tiba kembali marah padanya. Dengan mata yang terbelalak, ia terus saja menunjuk pipinya yang penuh dengan air minum.


"Apa Aurora marah karena aku meminum airnya?" duga Arka dalam hatinya.


"Kenapa? bicara yang jelas! aku pikir kamu tahu letak kesalahanmu dimana tapi ternyata kamu terlalu naif untuk mengakuinya," tegas Aurora dengan suara setengah berteriak.


Arka kemudian menelan air minumnya dan mulai berbicara pada Aurora.


"Aku mana tahu kesalahanku dimana Ra, kalau kamu saja terus berteka-teki seperti ini! apa karena aku meminum air yang dibawakan ibu?" tanya Arka polos.


"Arrghh ... sudah pergi sana! aku muak lihat kamu," teriak Aurora dengan wajah yang begitu kesal.


"Iya ... iya ... aku pergi," sahut Arka sambil berlari menghampiri vespanya.


Ibu yang mendengar suara ribut-ribut kemudian bergegas keluar dan melihat apa yang terjadi.


"Lho ada apa sih ini? Arkanya kemana Ra?" tanya ibu dengan heran.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Orang yang diam dan tidak pernah mengeluh di media sosial bukan berarti ia tidak memiliki masalah


Namun ia tahu bagaimana caranya yang tepat untuk mengadu kepada Rabb-Nya


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 

__ADS_1


❤❤❤


 


__ADS_2