Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 45 Ketetapan Hati


__ADS_3

Lamunannya membawa Kevin pada masa-masa indah kelak bersama gadis yang ada dihadapannya kini.


"Vin ... kok kamu melamun?" tanya Aurora memperhatikan wajah Kevin.


"Oh ... maaf Ra, kamu tanya apa tadi?" tanya Kevin kembali.


"Tadi aku tanya, apa hanya itu alasan kamu memutuskan hubungan dengan mantan kekasihmu!" tegas Aurora.


"Kamu sudah siap Ra mendengar semua penjelasan dariku?" tanya Kevin menatap dalam wajah Aurora hingga Aurora menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Kamu sebenarnya mau ngomong apa sih Vin! aku jadi semakin penasaran," ungkap Aurora dengan hati yang semakin tak menentu.


"Aku mencintai kamu Ra ... itu adalah salah satu alasanku memutuskan hubungan dengan Ranti!" jelas Kevin dengan wajah serius.


Aurora seketika terkejut kala mendengar pernyataan itu dari pria yang memang dicintainya sejak awal. Debaran jantungnya kini semakin tak beraturan, perasaannya malam itu bercampur aduk.


"Aku ... kamu mencintai aku Vin?" tanya Aurora heran.


"Iya Ra, kamu alasanku! aku ingin memiliki kamu dengan seutuhnya," jelas Kevin.


"Sejak aku tahu Gilang selalu mendekatimu, aku baru sadar kalau selama ini aku memang memiliki perasaan itu untuk kamu, hanya saja aku terlalu naif untuk mengakuinya," ungkap Kevin dengan penjelasannya.


"Aku gak percaya ini Vin, tolong jangan mempermainkan perasaanku seperti ini!" ucap Aurora.


Ia tak yakin dengan apa yang didengarnya dari Kevin. Tentu itu membuatnya kurang percaya diri atas pernyataan yang diucapkan Kevin.


"Aku gak sedang mempermainkan kamu Ra! kalau kamu memang butuh bukti, aku akan mengucapkan ini di depan mama dan papaku, biar kamu percaya kalau aku tidak sedang main-main," tegas Kevin meyakinkan Aurora.


"Sepertinya Kevin memang tidak sedang main-main," gumam Aurora memperhatikan wajah Kevin yang tampak begitu serius.


"Tolong percaya aku Ra! aku akan buktikan kalau aku benar-benar serius dengan ucapanku ini," tegas Kevin dengan suara memelas.


Aurora terdiam dan sejenak berpikir tentang semua ucapan Kevin padanya.


"Kenapa aku begitu sulit untuk mengatakan iya, bukankah ini yang aku inginkan! mendapatkan hati dan cinta dari Kevin," gumam Aurora dalam hatinya.


"Ra ... tolong jawab aku! kamu bersedia kan menjadi wanitaku?" tanya Kevin mengejutkan lamunan Aurora.


"Iy ... iya Vin, aku bersedia!" jawab Aurora dengan terbata-bata, seolah ragu dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya Ra, aku senang akhirnya kamu menjadi milikku!" ungkap Kevin dengan perasaan haru sambil merengkuh kedua telapak tangan Aurora dengan begitu lembut.


"Iya Vin, aku juga senang! akhirnya aku bisa menjadi wanita pilihanmu," ucap Aurora dengan rona bahagia di wajahnya.


"Tapi Vin, bagaimana dengan kedua orang tua kita? apa mereka akan setuju dengan keputusan kita ini!" ucap Aurora terlihat cemas akan tanggapan kedua orang tuanya kelak saat mengetahui hubungannya dengan Kevin.


"Kamu tenang saja ya Ra! aku akan jelaskan pada mama tentang pilihanku ini, nanti kalau situasinya aman baru aku akan ajak kamu untuk bertemu mama," ungkap Kevin memberi solusi.


"Baiklah kalau begitu, aku juga akan menjelaskan pada ibu tentang keputusanku ini! semoga saja ibu tidak akan mempermasalahkannya," ucap Aurora dengan penuh harap.


Ketika dua sejoli ini sedang asyik mengobrol dengan tatapan penuh kasih, ponsel Aurora kembali berdering. Aurora mulai merasa risih dengan panggilan telepon dari Arka yang terus saja mengganggunya.


"Halo ..." ucap Aurora saat menerima telepon dari Arka.


"Ra, kamu dimana sih? ayo cepat pulang!" pinta Arka dengan suara keras dalam teleponnya.


"Kamu tuk kenapa sih Ka? gak bisa ya untuk gak ngatur-ngatur kehidupan aku? ibu aja santai kok, gak ribet kaya kamu! udah jangan ganggu aku lagi," tegas Aurora dengan suara jengkel.


"Kamu pikir aku mau mengurusi kehidupan kamu yang membosankan itu! aku hanya diminta ibu untuk menelpon dan menyuruhmu untuk segera pulang," bantah Arka dengan suara sedikit keras.


"Maksud kamu, kamu ada di rumahku?" tanya Aurora.


"Haduh, bagaimana ini! aku harus bilang apa sama ibu?" ucap Aurora dengan suara halus dan terdengar oleh Kevin.


"Halo Ra, dimana kamu sekarang? ayo cepat pulang, ibu gak mau dengar alasan apapun dari kamu! ibu minta kamu pulang sekarang juga," tegas ibu dalam panggilannya bersama putri sulungnya.


"Bu ... dengarkan penjelasan aku dulu bu!" ucap Aurora, namun disela oleh sang ibu yang memintanya untuk tetap pulang.


"Ibu gak perlu penjelasan! yang ibu minta, kamu segera pulang sekarang juga," pinta ibu dengan nada yang terdengar marah.


Mendengar Aurora berdebat dengan sang ibu dalam teleponnya, Kevin berinisiatif menjelaskan kepada ibu Aurora bahwa kini Aurora sedang makan malam bersamanya. Ia kemudian merebut ponsel itu dari genggaman Aurora dan meletakannya di telinga kirinya.


"Halo bu, ini saya Kevin ... ibu tenang saja ya, malam ini saya sedang mengajak Aurora untuk makan malam, nanti setelah selesai, saya akan mengantarkannya kembali pulang!" jelas Kevin dengan suara lemah lembut pada ibu Aurora.


"Gak perlu! kamu gak perlu repot-repot mengantarkan Aurora pulang, biar Arka yang akan menjemputnya kesana," bantah ibu dengan suara yang terdengar geram saat berbicara dengan Kevin.


"Kevin tidak merasa repot kok bu!" jelas Kevin dengan kesanggupannya, namun lagi-lagi ibu memotong pembicaraannya kali itu.


"Berikan teleponnya pada Aurora! ibu ingin bicara dengan dia," pinta ibu pada Kevin.

__ADS_1


Kevin kemudian langsung memberikan ponsel itu pada Aurora, hatinya seolah patah saat mengetahui bahwa ibu dari Aurora masih saja membenci dan tidak menyukainya.


"Apa sesulit ini untuk menjadi orang baik-baik," gumam Kevin dalam lamunannya.


"Aurora ... cepat berikan alamat tempat kamu berada saat ini! nanti Arka akan menjemputmu kesana," pinta ibu pada Aurora.


"Aurora bisa pulang sendiri bu, jadi gak perlu ibu meminta Arka untuk menjemput Aurora kesini!" tegas Aurora. Ia menolak dijemput oleh Arka malam itu.


"Sudah ... cepat kirimkan alamatnya sekarang juga, jangan sampai membuat ibu naik darah!" ucap ibu sebelum menutup teleponnya.


"Haaah ... Arka lagi, Arka lagi! selalu saja Arka," ucap Aurora sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ya sudah gak apa-apa Ra! pulang denganku atau dengan Arka sama saja kan," ucap Kevin menenangkan Aurora yang terlihat berwajah masam.


"Maafin ibu ya Vin! aku harap suatu saat ibu benar-benar sadar bahwa kamu tidak seburuk yang ia duga," ucap Aurora tersenyum pada Kevin.


Setelah beberapa menit Aurora mengirimkan pesan yang berisi alamat tempatnya bersama Kevin, Arka tiba dengan vespa kesayangannya.


Arka melambai ke arah Aurora dan Kevin berada. Ia kemudian menghampiri keduanya yang masih terduduk di sana.


"Hai, gua Kevin," ucap Kevin memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya ke arah Arka.


"Gua Arka, teman Aurora!" sahut Arka tanpa membalas jabatan tangan dari Kevin.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Tekad saja tidak cukup sebagai alasan berhijrah, banyak hal yang mesti dipersiapkan, salah satunya adalah keyakinan atau keteguhan hati


Agar istiqomah selalu tanpa berpikir untuk kembali.


🍂🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2