Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 29 Interview Kerja


__ADS_3

Aurora kemudian masuk setelah karyawan yang menghampirinya memintanya untuk masuk.


"Silahkan menunggu disini ya mbak!" ucap karyawan tersebut menunjuk pada ruangan lobby utama.


"Oh baik pak, terima kasih!" tutur Aurora pada karyawan tersebut, sebelum pergi meninggalkan dirinya.


Setelah Aurora menunggu kurang lebih hampir 30 menit, pa Hanif tiba di kantor.


"Pak, hari ini ada pelamar yang sudah menunggu bapak di lobby," jelas salah seorang karyawan pada pak Hanif.


"Suruh dia masuk 10 menit lagi ya," titah pak Hanif.


Aurora yang sudah menunggu lama, mulai merasa bosan dan kantuk. Ia berencana mengirimkan pesan singkat pada Kevin dan menanyakan kapan ia akan di interview.


"Vin, sampai jam berapa aku harus menunggu untuk interview?" tulis Aurora dalam pesannya.


Belum sempat Aurora mengirimkan pesan tersebut pada Kevin, seseorang menghampirinya.


"Silahkan ikut saya mbak!" ajak salah satu karyawan yang keluar dari ruangan di hadapannya. Ia kemudian mengantarkan Aurora pada ruangan interview, di samping ruangan Human Resource.


Aurora kemudian duduk pada salah satu kursi yang tersedia. Matanya terus memandangi sekeliling ruangan itu, ia berdecak kagum pada tempat kerja Kevin yang begitu luas dan terlihat mewah, tidak seperti tempat kerja yang sebelumnya ia geluti.


"Wah benar-benar seperti kantor dalam film dan sinetron yang pernah ku tonton," gumam Aurora dengan kepolosannya.


"Selamat pagi mba! sudah menunggu lama ya?" ucap seseorang yang masuk ke ruangan tempat dimana Aurora duduk dan menunggu.


"Iya pak, saya sudah lumayan lama menunggu dari pagi!" celetuk Aurora dengan lugu.


"Oke, kita mulai saja ya interviewnya!" ucap orang tersebut yang diduga adalah pak Hanif, bagian human resource yang biasa menangani keluar masuknya karyawan di perusahaan.


"Perkenalkan saya Hanif Abdullah," ucap pak Hanif memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya pada Aurora.


"Saya Aurora Listiani pak," timpal Aurora sambil menjabat tangan pak Hanif.


"Silahkan duduk mbak!" ucap pak Hanif.


"Oh ya, boleh saya lihat berkas lamaran pekerjaannya? mbak disini mau melamar di posisi apa ya?" tambah pak Hanif dengan pertanyaannya.


"Saya mau melamar sebagai office girl pak!" sahut Aurora sambil menyerahkan berkas lamaran yang sudah ia masukan ke dalam amplop besar berwarna cokelat.


"Baik saya baca dulu ya mbak CV mbak (daftar riwayat hidup)," ucap pak Hanif membuka amplop cokelat yang diserahkan Aurora.


"Mbak Aurora sebelumnya pernah bekerja di toko kue? berapa lama itu?" tanya pak Hanif menatap wajah Aurora.


"Hampir 2 tahun pak," singkat Aurora pada pak Hanif.


"Pengalaman bekerja di bidang ini belum ada ya?" tanya kembali pak Hanif.

__ADS_1


"Di bidang perkantoran maksud bapak?" tanya Aurora memastikan.


"Saya hanya baru bekerja sebagai karyawan di toko kue pak, jadi belum pernah bekerja di tempat lain!" ungkap Aurora.


"Melamar bekerja kesini, dapat info dari mana?" tanya pak Hanif.


"Dari Kevin pak, dia yang menawari saya bekerja disini!" jelas Aurora seolah mengenal dekat dengan Kevin.


"Oh pak Kevin manajer pemasaran ya, beliau ada hubungan ada dengan mbak Aurora?" tanya pak Hanif.


"Hubungan sih belum ada pak, cuma kita berdua memang sudah sangat dekat walaupun baru beberapa minggu yang lalu," ungkap Aurora dengan raut wajah polosnya.


Pak Hanif seketika tertawa kecil mendengar pengakuan Aurora, pasalnya yang ia ketahui Kevin merupakan manajer pemasaran yang terkenal tampan dan pintar di perusahaan itu. Selain itu ia juga dikenal bergonta-ganti kekasih oleh rekan-rekan dan bawahannya.


"Baik ... mba Aurora, saya akan mengabari mbak sore nanti via telepon apabila mbak memang lulus dalam seleksi penerimaan karyawan ini!" jelas pak Hanif pada Aurora.


"Kalau boleh tau, jam berapa ya bapak akan menelpon saya?" tanya Aurora.


"Saya akan kabari mbak secepatnya sebelum jam pulang kantor ya," jelas pak Hanif kembali.


Keduanya kemudian bersalaman dan Aurora berpamitan pada staff HR (human resource) tersebut.


"Saya pamit pak kalau begitu, mudah-mudahan saya diterima ya pak karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini," ucap Aurora sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan interview itu.


"Baik mba, semoga saja ya kabar baik yang akan saya sampaikan nanti," sahut pak Hanif dengan senyumnya pada gadis lugu yang melamar di perusahaannya.


Di waktu yang bersamaan, pak Hanif menghampiri Kevin di ruangan kerjanya.


Tok ... tok ... tok ...


Pak Hanif mengetuk ruangan Kevin, manajer pemasaran di kantor tersebut.


"Masuk!" sahut Kevin dari balik pintu.


"Permisi pak, baru saja saya melakukan interview pada calon karyawan yang mengaku sebagai kenalan bapak! apa benar begitu?" tanya pak Hanif dengan wajah yang penasaran.


"Oh ... gadis yang memakai kemeja salur tadi ya pak, dia itu adalah putri dari asisten rumah tangga di rumah saya! kebetulan dia sedang butuh pekerjaan, jadi saya menyarankannya untuk mencoba melamar kesini karena kebutulan office girl di kantor kita kan baru saja berhenti," ungkap Kevin pada pak Hanif.


"Oh begitu, saya pikir dia benar-benar kekasih bapak!" ucap pak Hanif diiringi senyum kecil.


"Maksud pak Hanif?" tanya Kevin heran.


"Bukan apa-apa kok pak, saya berpikiran seperti itu karena melihat gadis pelamar tadi begitu cantik dan manis," ucap pak Hanif berusaha menutupi kepolosan Aurora.


"Oh ... saya kira ada apa, lalu bagaimana! apa bapak akan menerima dia sebagai salah satu office girl disini?" tanya Kevin dengan wajah serius.


"Saya akan menyerahkan berkas CV ini pada staff HR yang lain dulu pak, kemungkinan siang ini akan ada keputusannya.

__ADS_1


"Begitu ya, ya sudah terima kasih pak Hanif!" ucap Kevin pada pak Hanif.


Pak Hanif mengangguk ringan lalu meninggalkan ruangan Kevin. Ia tersenyum mengingat gelagat Kevin yang aneh, saat ia menceritakan tentang pelamar cantik yang bernama Aurora.


"Pak Kevin seperti menyembunyikan sesuatu tentang gadis itu," gumam pak Hanif sambil melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruangan kerjanya.


Setelah ia menyerahkan berkas lamaran yang dibawa Aurora, pak Hanif kemudian mendiskusikannya bersama rekan stafnya. Hingga siang hari tiba, ia akhirnya memutuskan untuk menerima gadis pelamar tersebut sebagai salah satu office girl di kantornya.


"Selamat siang, betul ini dengan ibu Aurora?" ucap penelpon pada Aurora siang itu.


"Betul saya Aurora, ini dengan siapa ya?" tanya Aurora.


"Saya dari PT. Medikarya Tunggal, ingin menginformasikan bahwa hasil seleksi penerimaan yang ibu lakukan hari telah lulus dan ibu diterima sebagai salah satu karyawan disini," ungkap penelpon pada Aurora.


"Alhamdulillah, terima kasih bu untuk informasinya," ucap Aurora dengan penuh haru, ia kemudian langsung mengakhiri teleponnya dan berjingkrak-jingkrak kegirangan.


"Kamu kenapa loncat-loncat seperti itu Ra?" tanya ibu heran melihat putri sulungnya kembali bertingkah aneh.


"Aku diterima bekerja bu, sebagai office girl di perusahaan besar," ungkap Aurora sambil memeluk sang ibu.


"Bekerja? memangnya kamu sudah tidak lagi bekerja di toko kue itu?" tanya ibu.


"Nanti aku ceritakan semua ya sama ibu, ibu senang kan sekarang aku bisa bekerja di kantor?" tanya Aurora.


"Iya, ibu senang mendengarnya, kamu bisa bekerja sebagai ... apa tadi kamu bilang?" tanya ibu mengingat sebutan yang sulit baginya untuk diucapkan.


"Office girl bu ... aku akan bekerja sebagai office girl!" jelas Aurora pada ibunya.


"Office girl itu bagian apa Ra? ibu baru dengar pekerjaan itu!" tanya ibu penasaran.


Bersambung ...


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Sulit mencari dan lama memilih tak masalah, asalkan tidak salah menentukan. Akibatnya akan fatal, hanya meninggalkan trauma dan luka yang selalu membekas seumur hidup.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤


 

__ADS_1


__ADS_2