Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 6 Hal Tidak Terduga


__ADS_3

"Aku mengerti perasaan ibu, tetapi apa salahnya sekali-kali kita memenuhi keinginannya atau sekedar membeli makanan kesukaannya," Aurora menimpali perkataan ibunya.


Sang ibu hanya termenung mendengar perkataan Aurora, ia tak ingin putra bungsunya menjadi anak manja dan hidup bergantung dari belas kasihan orang lain.


"Sudahlah bu, aku tidak akan selalu menuruti semua keinginan Dika, hanya kali ini saja aku membelikan makanan yang dia idam-idamkan," kembali Aurora menenangkan perasaan ibunya. Ia paham betul kekhawatiran ibunya, namun apa yang ia lakukan pada Dika hanya sebentuk kasih sayang seorang kakak pada adik kecilnya.


Sang ibu mulai terlihat membersihkan ikan yang akan di gorengnya untuk Dika.


"Entah apa yang ibu pikirkan dan rasakan saat ini, semoga saja ibu paham maksudku," pikir Aurora dalam hati.


"Oh iya bu, tadi pagi Lani cerita kalau ibunya berencana menikah lagi, cuma belum tahu kapan tanggal pastinya," Aurora menceritakan niat ibunda Lani yang akan menikah lagi.


Ibu yang mendengar niat orang tua Lani tentu saja terkejut, ia kemudian mengucap syukur atas apa yang di dengarnya dari Aurora.


"Alhamdulillah.... apa ibu tidak salah dengar Ra? akhirnya ibu Lani akan memiliki kepala keluarga yang akan membantu menafkahi hidup seluruh putra-putrinya," ibu terlihat begitu bahagia mendengar kabar mengejutkan itu, matanya berbinar dan wajahnya tak luput dari senyum.


"Kabari ibu ya Ra, kapan ibu Lani akan melangsungkan akadnya agar ibu bisa ikut merasaka kebahagiaannya," ucap ibu pada Aurora dengan penuh harap.


"Iya bu, nanti aku pasti akan mengabari ibu lagi dan kita bisa pergi sama-sama ke acara akadnya," sahut Aurora.


"Ya sudah bu, Aurora mau ke kamar dulu untuk mandi dan mengganti baju," pamit Aurora kepada sang ibu yang tengah membersihkan sisik ikan.


Ibu mengangguk pada Aurora yang berlalu masuk ke kamarnya.


Arghh....


Aurora duduk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding kamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Di raihlah oleh Aurora dengan tangan kanannya.


"Assalamualaikum, iya ada apa Lan?" tanya Aurora dalam percakapannya.


"Engga kok, aku baru saja mengobrol dengan ibu,"


"Wah... alhamdulillah, iya Lan nanti aku kabari ibu ya," ucap Aurora dalam panggilan teleponnya bersama Lani.


Saat panggilan telepon berakhir, Aurora segera menuju dapur untuk mengabari pesan yang di sampaikan Lani dalam teleponnya.

__ADS_1


"Bu, Lani bilang rencana pernikahan ibunya akan di langsungkan pada tanggal 22 Juni mendatang," ucap Aurora pada sang ibu.


"21 Juni itu berarti minggu pekan depan ya Ra?" tanya ibu berusaha mengingat tanggal.


"Betul bu, nanti kita pergi sama-sama ya bu," ajak Aurora pada ibunya.


Waktu berlalu begitu cepatnya, hingga tak terasa acara akad ibunda Lani pun di gelar.


"Ra, ibu pantas tidak mengenakan baju muslim ini?" tanya ibu sambil mengibas-ngibas baju yang di kenakannya di depan cermin.


"Masya Allah, ibu cantik sekali bu pakai baju ini, tapi kok aku baru lihat ya ibu pakai baju ini! kapan ibu membelinya?" tanya Aurora bingung.


"Baju ini ayah yang belikan untuk ibu, tapi belum sempat ibu pakai Ra," ucap sang ibu, mimik muka sang ibu tak dapat membohongi perasaannya bahwa saat ini ia sedang rindu dengan mantan suaminya.


"Hmm... begitu ya, kalau tahu ini baju dari ayah aku gak akan bilang ibu cantik saat mengenakannya!" ucap Aurora sambil berpaling dari sang ibu.


"Kamu gak boleh begitu Ra! biar bagaimanapun dia tetap ayah kamu, ibu gak pernah mengajari anak-anak ibu untuk memiliki sifat dendam seperti itu," timpal ibu pada perkataan Aurora.


Seketika Aurora terdiam dan menghela nafas panjang. Ia berusaha untuk melakukan seperti yang ibunya pinta.


"Apalagi yang mesti membuat ibu sakit Ra, semua sudah berlalu dan kali ini ibu merasa cukup bahagia dengan berkumpul bersama putra-putri ibu,"


Hati Aurora begitu tenang mendengarnya, senyum sang ibu bagaikan udara baginya karena tanpa senyuman di wajah sang ibu, hidupnya seakan mati.


"Sini bu, Aurora kasih sedikit polesan ya di wajah ibu biar cantiknya ibu gak kalah dengan calon pengantin wanita nanti," Aurora berdiri tepat di hadapan ibunya dan mulai mengaplikasikan peralatan make up yang ia miliki.


"Aduh Ra, ibu tidak terbiasa bermake-up seperti ini!" tolak sang ibu saat Aurora mengoleskan bedaknya.


"Sekali ini saja bu, kita kan akan menghadiri pernikahan orang tuanya Lani, sahabat baikku yang sudah ibu anggap sebagai putri ibu sendiri," Aurora pun menahan dan membujuk ibunya kembali hingga sang ibu menyerah untuk menolak.


"Nah, kan ibu jadi semakin terlihat cantik dan anggun," puji Aurora.


Ibu yang penasaran dengan hasil riasan Aurora, kemudian masuk ke kamarnya dan mencari cermin. Melihat ibunya berjalan ke kamar, Aurora pun mengikuti ibunya di belakang.


"Gimana bu, ibu cantik kan?" tanya Aurora.

__ADS_1


"Anak ibu memang pintar ya merias wajah hingga ibu terlihat berbeda dari hari biasanya, andai saja ibu bisa berdandan cantik dan wangi seperti ini setiap harinya, mungkin ayah tidak akan pernah selingkuh dari ibu," ibu menunduk seolah penuh penyesalan.


"Bu, sebaik apapun ibu berusaha, kalau Allah belum menakdirkan itu untuk ibu maka tidak akan pernah menjadi milik ibu, begitu pula sebaliknya bu," Aurora menenangkan ibunya sambil memberikan pelukan hangat.


"Terima kasih banyak ya Ra, tapi beberapa orang tetangga kita sepertinya sudah tahu kalau ibu dan ayah sudah berpisah, apa kata mereka dengan status ibu yang telah menjadi janda,"


Ibu begitu khawatir dengan pandangan orang terhadapnya setelah kasus perceraiannya mencuat, maklum di kampung pandangan terhadap janda seakan menjadi momok dan bahan gunjingan para penggosip.


"Biarkan saja bu, yang terpenting saat ini kehidupan kita baik-baik saja dan tidak menggangu atau merugikan mereka, jadi biarkan mereka dengan pandangannya sendiri," Aurora kembali menenangkan sang ibu.


Mendengar penjelasan dan perkataan Aurora, ibu hanya tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap bahu Aurora.


"Ibu sudah lebih tenang sekarang? kalau sudah, ayo kita berangkat," Aurora pun menggandeng tangan sang ibu.


Perjalanan ke rumah Lani tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit menggunakan transportasi umum. Saat di perjalanan, ponsel di saku Aurora berdering.


Kring.... kring...


"Halo.... iya Lan, kita sudah hampir sampai kok, aku pergi berdua dengan ibu," jelas Aurora dalam percakapan teleponnya.


Tak menunggu waktu lama, Aurora dan ibu tiba di suatu gang dengan gapura di depannya. Mereka berjalan melangkah ke rumah yang di tuju, terlihat dari kejauhan terpampang sebuah tenda lengkap dihiasi dengan bunga cantik di tiangnya.


"Ayo bu, kita sudah hampir sampai! tadi Lani bilang acaranya sudah akan di mulai," Aurora begitu tidak sabar melihat ibu dari temannya akan melangsungkan pernikahan keduanya.


Saat memasuki pintu dan duduk di tengah-tengah para tamu undangan yang hadir, Aurora terkejut melihat mempelai pria, ia marah, kesal dan tak menyangka dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Air matanya bercucuran, namun ia berusaha kuat dan menyembunyikan kesedihannya di hadapan sang ibu.


"Bu, ayo kita pulang... ayo bu cepat!" tangan Aurora begitu erat menarik tangan ibunya, hingga sang ibu kebingungan kenapa Aurora mengajaknya kembali pulang setelah mereka baru saja duduk.


Bersambung...


**Readers yang setia, penasaran ada apa Aurora mengajak ibunya untuk kembali pulang? Kalau gak siap sedih jangan di baca ya readers 😢


Dukung terus Author untuk tetap berkarya dengan memberikan Vote, Rate, Like dan Comment ya ❤ salam hangat untuk readers semua**

__ADS_1


__ADS_2