
Dengan hati yang pedih, Arka menggantungkan kembali bungkusan itu di vespanya. Ia kini betul-betul sadar bahwa Aurora tak akan pernah melihat perjuangannya.
"Aku minta maaf Ra, kalau keberadaanku hanya menjadi pengganggu antara kalian berdua," ucap Arka dengan wajah pilu.
Ia kemudian pergi berlalu dari Aurora. Sementara Aurora masuk untuk kembali bekerja karena jam istirahat saat itu sudah hampir selesai.
Setelah bekerja seharian, Aurora mengganti seragamnya dengan pakaian yang ia kenakan dari rumah.
"Ayo kita pulang sekarang!" ajak Kevin yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya, sambil merentangkan tangannya pada Aurora.
"Enggak Vin, aku malu sama orang-orang kantor kalau kita berjalan bermesraan seperti ini," tolak Aurora dengan malu-malu. Wajahnya terlihat merah merona saat diperlakukan begitu manja oleh Kevin.
Mereka kemudian berjalan beriringan tanpa memperlihatkan kemesraannya. Sesampainya di area parkir, Aurora dan Kevin masuk ke dalam mobil. Dengan tatapan tajam Kevin memandangi wajah lugu Aurora yang begitu manis.
Suasana area parkir yang begitu sepi, dan kaca mobil yang gelap membuat Kevin leluasa memandangi Aurora yang penuh dengan pesonanya
"Aku tak bisa lagi menahan semua ini Ra!" seru Kevin dalam batinnya.
Aurora bingung dan salah tingkah dengan tatapan Kevin padanya, ia kemudian mengalihkan Kevin dengan mengajaknya mengobrol, namun Kevin semakin mendekatinya.
"Vin, kita langsung pulang ke rumah kan?" tanya Aurora berusaha mengalihkan perhatian Kevin.
Ssstt....
Kevin mendesis sambil mengisyaratkan Aurora untuk tetap diam.
Ia terus mendekati Aurora hingga tak ada lagi jarak antara mereka berdua. Saat Kevin hendak mencium bibir indah Aurora, tangan Aurora melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Prak ....
Aurora menampar wajah Kevin dengan cukup keras, hingga Kevin tersungkur di joknya.
"Aah ... maaf Vin, aku gak sengaja! seru Aurora dengan perasaan menyesal.
"Hm ... gak apa-apa Ra, aku yang minta maaf! sudah lancang melakukan itu," ucap Kevin dengan suara gugup.
"Kenapa tanganku bisa sekasar itu pada Kevin! aduh ... kenapa dengan perasaanku ini," gumam Aurora dalam hati.
Kevin mulai menyalakan mesin mobilnya, sambil mengusap-ngusap pipi kirinya yang memerah selepas tamparan yang dilayangkan Aurora tadi.
"Aduh ... pipi kamu jadi memerah begitu, maafin aku ya Vin," ucap Aurora dengan nada memelas.
Kevin lalu menoleh ke arah Aurora, dan hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
"Aku benar-benar ceroboh! kenapa aku bisa melakukan hal memalukan ini," gumam Kevin sambil memulai kemudinya.
Semenjak hubungannya dengan Ranti berakhir, ia kini tak bisa lagi melakukan hubungan terlarang itu hingga membuat nafsu birahinya menggebu-gebu.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Sesekali Aurora melirik kecil ke arah Kevin dan memperhatikan pria itu dengan rasa bersalahnya.
"Vin ... aku boleh bicara sesuatu?" tanya Aurora dengan suara ragu-ragu.
"Tanya aja Ra!" jawab Kevin singkat.
"Hmm ... tapi janji ya, kamu gak akan marah ataupun berubah sama aku," pinta Aurora pada Kevin.
"Kenapa harus marah Ra, aku aja belum tahu kamu mau bicara apa!" jelas Kevin, menoleh ke arah Aurora.
"Aku minta maaf Vin untuk kejadian tadi! jujur, aku gak bisa lakuin itu," ungkap Aurora dengan wajah tertunduk.
"Kenapa gak bisa Ra? kamu pacar aku kan sekarang! apa salahnya aku melakukan itu dengan kamu," tanya Kevin dengan wajah cukup serius.
"Aku gak perlu berikan alasan keberatan aku Vin, yang jelas aku gak bisa!" timpal Aurora dengan pendiriannya.
"Oke, aku akan tunggu sampai kamu siap! dan aku berharap hal ini tidak akan terjadi lagi," ucap Kevin, menoleh ke arah Aurora.
Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di tepian jalan tempat biasa Kevin menjemput Aurora.
Setelah menepikan mobilnya untuk mengantar Aurora pulang, Kevin melanjutkan kembali perjalanan ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat itu.
Sesampainya di rumah, sang mama langsung menyambutnya dengan begitu hangat.
"Aduh ... anak mama sudah pulang, mama buatkan teh hangat ya!" sambut mama Kevin pada putranya yang baru saja tiba.
"Boleh ma ...!" jawab Kevin sambil merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk pada ponselnya. Dengan rasa penasaran, Kevin langsung membuka dan membacanya.
"Aurora ... kirim pesan apa dia?" gumam Kevin penuh tanya dalam hatinya.
"Maaf Vin, mungkin ini akan sedikit mengecewakan kamu tapi aku ingin kita melakukannya setelah menikah nanti! aku tidak ingin mengecewakan ibu, karena ibu adalah satu-satunya orang tua yang aku miliki setelah ayah meninggalkan kami semua" tulis Aurora dalam pesannya.
Kevin menaikan sudut bibirnya saat membaca pesan yang dikirimkan Aurora untuknya. Ia kemudian membalas pesan itu dengan cepat, berharap menemukan jawaban yang ia cari.
"Apa melakukan hal kecil itu saja, kita harus menikah dulu Ra? itu adalah hal biasa untuk orang-orang yang berpacaran, atau jangan-jangan kamu belum pernah melakukannya?" balas Kevin pada pesan Aurora.
"Itu memang hal kecil Vin! tapi ibu selalu berpesan agar aku tidak mengecewakannya, aku takut kita akan lebih berani melakukan hal lainnya setelah hal kecil itu terjadi," balas Aurora kembali.
__ADS_1
"Oke, jadi mau kamu bagaimana sekarang?" tanya Kevin dengan singkat.
"Aku mau kita biasa saja tanpa melakukan seperti yang kamu minta, atau kalau kamu keberatan dengan permintaanku ini, tunggu sampai kita bisa bersama dengan ikatan yang sah," jawab Aurora dengan begitu jelas dalam pesannya.
Membaca pesan terakhir yang dikirimkan Aurora, Kevin termenung. Lamunannya seolah menyesali keputusannya saat mengakhiri hubungan dengan Ranti, tapi ia juga tak rela Aurora menjadi milik pria lain.
"Aku benar-benar dibuat penasaran olehmu Ra," gumam Kevin sambil melepas kancing kemejanya yang terasa mencekik lehernya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Vin?" tanya mama Kevin, membawa secangkir teh manis hangat yang akan ia suguhkan untuk putra tercintanya.
"Semua baik dan lancar ma," sahut Kevin, tersenyum manis saat menjawabnya.
"Ma ... Kevin mau tanya satu hal sama mama," ucap Kevin dengan raut wajah serius.
"Tanya apa sih, kok pakai basa-basi begitu! bikin mama penasaran saja," seru mama Kevin yang bingung dengan arah pembicaraan putranya itu.
"Mama sayang gak sama Kevin?" tanya Kevin menatap mamanya.
"Kamu ini, tanya kok yang aneh-aneh begitu! ya jelas lah mama sayang sama kamu, memangnya kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya mama Kevin bingung.
"Kalau mama memang benar sayang sama Kevin, apa permintaan Kevin akan mama turuti?" tanya Kevin memberanikan diri.
"Mama jadi bingung deh, sebenarnya kamu mau minta apa sih! kok sampai tanya mama sayang atau enggak," tutur mama Kevin dengan penasaran pada jawaban Kevin.
"Kevin ingin menikah ma! mama akan restui Kevin kan?" ucap Kevin, membuat mamanya tersentak dan kaget dibuatnya.
"Menikah? mama gak salah dengar? kamu itu masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu Vin! mama gak setuju," ucap mama keberatan dengan permintaan Kevin.
Bersambung ....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Banyak sebagian dari kita menikah karena alasan cinta, paras cantik, wajah tampan, kekayaan yang menggiurkan
Tidak salah memang, namun saat semuanya dimakan usia dan memudar, apakah semuanya akan tetap sama?
Menikahlah sebagai alasan ibadah, hingga saat semuanya hilang, tujuanmu tetap satu yaitu mencari pahala lewat Ridho-Nya ... insya Allah 🤲
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤