
Saat malam menjelang, kecemasan Aurora semakin menjadi-jadi. Tatapannya tak pernah berpaling dari ponsel yang ada di genggamannya.
"Ya Allah, semoga Kevin selalu ada dalam lindungan-Mu," gumam Aurora dalam doanya.
"Ra, kamu sudah makan? ibu perhatikan dari tadi sore kamu belum juga makan!" ucap ibu, menghampiri Aurora di kamarnya.
"Nanti Aurora akan makan bu, saat ini Aurora belum merasa lapar!" ungkap Aurora dengan wajah datar. Semenjak tak ada kabar dari Kevin, ia tak bernafsu untuk makan.
"Ya sudah, nanti segera makan ya! ibu mau ke rumah bu Nani untuk antarkan pakaian dulu," jelas ibu dengan membawa satu tas besar berisi pakaian.
"Iya bu ," jawab singkat Aurora dengan nada lemas.
Kring ... kring ... kring ...
Ponsel Aurora berdering, dengan segera ia melihat layar ponselnya yang menyala.
"Kevin ... alhamdulillah, akhirnya kamu telepon juga," batin Aurora dengan senyum lebarnya.
"Halo Ra, maafin aku ya baru sempat telepon kamu! tadi sepulang kerja ponselku lowbat dan chargernya tertinggal di kantor jadi aku sulit untuk menghubungi kamu," ungkap Kevin beralasan.
"Iya gak apa-apa Vin, yang penting kamu baik-baik saja, itu sudah cukup buatku," tegas Aurora dalam teleponnya.
"Iya Ra, aku baik-baik saja kok! oh ya, bagaimana interviewnya hari ini?" tanya Kevin penasaran.
"Coba tebak, menurut kamu bagaimana hasilnya?" tanya Aurora untuk meminta Kevin menebaknya.
"Kalau menurut aku sih kamu lulus Ra, aku tahu kamu gadis yang pintar!" ucap Kevin mencoba mengambil hati Aurora.
"Yah ... bukan kejutan lagi dong namanya, kalau kamu sudah tahu hasilnya seperti ini!" ucap Aurora, yang terdengar tak bersemangat.
"Jangan lemas gitu dong! aku benar-benar senang kamu bisa diterima disana, selamat ya Ra," ucap Kevin terdengar bahagia.
"Terima kasih banyak ya Vin, ini juga semuanya berkat support dan bantuan dari kamu!" ungkap Aurora.
"Oh ya, siang tadi aku lupa menanyakan kapan bisa mulai masuk bekerja! bagaimana ya Vin?" tanya Aurora yang terdengar gelisah.
"Kamu tenang saja Ra, nanti aku akan tanya pihak HRnya ya dan segera mengabari kamu setelah mendapat jawabannya," tegas Kevin menenangkan Aurora.
"Ya sudah, aku akan tunggu kabar kamu ya Vin!" ucap Aurora.
"Sekarang kamu segera istrirahat ya, selamat tidur gadis cantik," ucap Kevin dengan gombalannya.
"Selamat malam dan selamat tidur juga Vin!" sahut Aurora sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
"Aurora ... Aurora ... kamu begitu polos, tak perlu untukku bekerja keras mencari alasan menutupi semuanya" ucap Kevin diiringi senyum miring diwajahnya.
Kevin yang lelah setelah bersenang-senang dengan Ranti membuatnya merebahkan dirinya di atas ranjang kamarnya. Sementara di hari yang sama Arka sibuk mengurus toko retailnya (minimarket) yang sudah ia tekuni hampir 1 tahun.
"Assalamualaikum ma," ucap Arka saat membuka pintu rumahnya.
Mamanya yang selalu setia menunggu kepulangan putranya itu, sudah terduduk di sofa ruang tamunya.
"Waalaikumsalam, kok pulangnya selarut ini nak?" tanya mama penasaran.
"Iya ma, Alhamdulillah hari ini toko ramai pengunjung jadi aku membantu para karyawan yang bertugas," ungkap Arka dengan penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah, ingat ya nak untuk selalu membersihkan hartamu lewat zakat! jangan sampai kita lupa dengan hak-hak orang lain yang Allah titipkan lewat usahamu itu," tegas mama pada Arka.
"Insya Allah aku akan selalu ingat itu ma! oh ya ma ... aku mau minta saran dan izin dari mama, aku berharap semoga mama setuju dengan rencanaku ini," tutur Arka menatap sang mama.
"Hal apa yang perlu kamu lakukan, hingga meminta izin dari mama! selagi itu untuk kebaikan, pasti mama akan dukung," jelas mama pada Arka yang terduduk di sampingnya.
"Mama sudah sempat tahu kan kalau Aurora berhenti dari pekerjaannya? aku berniat untuk mengajaknya bekerja di salah satu toko kita ma, itupun kalau mama berkenan dengan rencanaku ini," ungkap Arka
"Kamu mau menjadikan Aurora salah satu karyawanmu?" tanya mama heran.
"Iya ma, itu kan baru rencana saja ... semuanya tergantung mama!" tegas Arka. Ia benar-benar menunggu izin dan dan persetujuan dari mamanya.
"Sebenarnya kamu tidak perlu meminta izin pada mama, karena semua bisnis itu milik kamu seutuhnya! hanya kalau mama boleh sedikit memberi saran, sebaiknya kamu tidak semudah itu meminta Aurora menjadi pekerja di tokomu," tegas mama, yang membuat Arka bertanya-tanya.
"Mama tidak melarang kamu untuk memperkerjakan Aurora, hanya saja kamu harus tetap bersikap adil kepada calon karyawan dan karyawanmu kelak! jangan sampai membeda-bedakan hanya karena kamu menyukai salah satunya," ungkap mama dengan nasehatnya.
"Apa tidak bisa sekali ini saja ma? Mereka juga tidak akan tahu bahwa Aurora adalah pengecualian bagiku!" ucap Arka berusaha meyakinkan mamanya.
"Kalaupun mereka tidak tahu, kamu sudah bersikap tidak adil Ka! mama tidak menyarankan kamu seperti itu," tegas sang mama.
"Baik ma, Arka akan mencari solusi lain untuk Aurora!" ucap Arka tanpa membantah saran dari mamanya.
"Silahkan kamu ajak dia untuk menjadi karyawanmu, dengan mengikuti syarat dan seleksi yang telah kamu terapkan sebelumnya pada karyawan yang lain," ungkap mama kembali dengan memberi solusi pada Arka.
"Mama benar, dia tetap bisa memiliki kesempatan dengan mengikuti seluruh rangkaian tes yang diberikan," tutur Arka dengan wajah haru.
"Sebentar ya ma, aku akan kabari Aurora dulu tentang ini!" ucap Arka sambil mencari nomor kontak dengan nama Aurora di ponselnya.
Tut ... tut ... tut ...
Terdengar nada tunggu dari ponsel Arka saat ia mencoba menelpon Aurora. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya panggilannya diterima Aurora.
__ADS_1
"Assalamualaikum, ada apa Ka? kok telepon malam-malam begini!" tanya Aurora yang sedikit terganggu dengan telepon dari Arka.
"Waalaikumsalam, maaf Ra kalau aku mengganggu istirahat kamu! aku berniat menawari kamu lowongan pekerjaan di toko retail, kalau kamu bersedia nanti aku akan kirimkan alamat lengkapnya untuk mengikuti seleksi dan interviewnya," jelas Arka pada Aurora.
"Retail? pekerjaan apa itu?" tanya Aurora penasaran.
"Retail itu seperti minimarket Ra, ya seperti minimarket yang banyak kamu lihat di sepanjang jalan! hanya ini perusahaan kecil milik temanku," ucap Arka, ia tak berniat untuk mengatakan yang sejujurnya pada Aurora bahwa usaha itu murni miliknya.
"Oh begitu ... bagaimana ya Ka, aku sama sekali tidak ada pengalaman di bidang itu! lagi pula aku juga sudah mendapatkan tawaran pekerjaan dari temanku yang lain," ungkap Aurora menolah tawaran Arka.
"Alhamdulillah, kamu sudah diterima bekerja Ra? dimana itu?" tanya Arka memberondong Aurora.
"Iya, aku diterima bekerja di PT Medikarya Tunggal sebagai office girl," jawab Aurora singkat.
"Syukurlah kalau begitu, kalau boleh aku tau siapa teman yang kamu maksud Ra?" tanya Arka penasaran.
"Kamu tidak akan mengenalnya Ka! dia bernama Kevin, teman yang sempat aku ceritakan saat di rumahmu bersama dengan mama malam kemarin," jawab Aurora dengan lugu, tanpa mengetahui perasaan Arka sebenarnya.
"Oh ... teman laki-lakimu yang itu ya!" ucap Arka, seolah mengetahui siapa pria yang di maksud Aurora.
Saat ia tengah berbicara dengan Arka dalam teleponnya, tiba-tiba Kevin kembali menelponnya.
"Ka, sudah dulu ya! temanku saat ini sedang menelpon," ucap Aurora pada Arka dengan tergesa-gesa.
"Ya sudah kalau begitu Ra, selamat beristirahat ya untuk malam ini!" ucap Arka dengan suara lemas, lalu mengakhiri teleponnya dengan Aurora.
"Bagaimana nak, apa Aurora bersedia?" tanya mama menunggu tanggapan Arka.
"Terlambat ma! dia sudah ditawari temannya bekerja," jawab Arka dengan raut wajah masam.
Bersambung ...
🍂🍂🍂🍂
Jadilah seperti Bintang, walaupun terlihat kecil namun ia tetap berusaha untuk memberikan cahayanya sendiri.
Jangan menjadi bulan, berukuran besar namun pemberiannya selalu bergantung pada apa yang menyinarinya, semu belaka.
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤