
Tak terkecuali Arka, ia juga terkejut mendengar ucapan sang mama tentang laporan Bulanan itu, dengan cepat ia menepuk tangan mamanya dan memberikan penjelasan di hadapan Aurora.
"Oh laporan itu ya, aduh Arka jadi gak enak sama pak Hasan, sampai-sampai harus mengantar pekerjaanku ke rumah!" ucap Arka sambil menunjukan bahasa tubuhnya pada sang mama.
Mamanya yang paham dengan tepukan dari Arka, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka pada hal lain.
"Aurora ini tinggal dimana?" tanya mama Arka dengan suara lembut.
"Aurora tinggal di daerah Kalibata ma," jawab Aurora memberikan senyum di wajahnya.
"Oh daerah Kalibata ma, itu daerah dengan pemukiman yang padat ya! tinggal dengan kedua orang tua disana?" tanya mama Arka, menunggu jawaban gadis manis itu.
Wajah Aurora tiba-tiba berubah murung, teringat akan ayah yang sudah meninggalkan keluarganya.
"Aurora hanya tinggal bersama ibu dan 3 adik ma! kedua orang tua Aurora sudah bercerai," ungkap Aurora dengan wajah pilu.
"Oh ... maaf ya, mama jadi mengungkit-ngungkit masalah keluarga!" ucap mama dengan perasaan menyesal.
"Gak apa-apa ma, saat ini Aurora juga sudah bisa menerima semuanya!" tegas Aurora pada mama Arka.
"Kalau boleh mama tau, kamu berkerja dimana nak?" tanya mama Arka.
"Sebelumnya Aurora bekerja di toko kue dekat rumah ma, tetapi karena ada masalah dengan rekan kerja, Aurora diberhentikan dari pekerjaan itu," ungkap Aurora dengan senyum pilu di wajahnya.
"Subhanallah ... semua datang bertubi-tubi! Mama doakan semoga Aurora kuat menerima cobaan ini ya nak," ucap mama Arka sambil mengusap lengan Aurora.
"Terima kasih ma, insya Allah Aurora akan kuat karena dikelilingi orang-orang baik seperti mama!" Aurora tersenyum melirik mama Arka.
Saat Aurora tengah berbincang-bincang dengan Arka dan mamanya, ponselnya berdering dengan nyaring. Ia kemudian menerima panggilan itu.
"Halo ... iya Vin, aku sedang ada di luar! nanti aku telepon balik kamu ya," ucap Aurora dalam teleponnya.
Arka yang melihat gelagat Aurora saat menerima telepon itu, bisa langsung menebak bahwa itu adalah telepon dari pria yang ia lihat malam tadi di taman bersama dengan Aurora.
Setelah panggilan teleponnya selesai, Aurora kembali menyimpan ponsel tersebut dalam tas gendongnya. Mama Arka yang penasaran, kemudian bertanya pada Aurora, siapa yang telah menelponnya.
"Siapa Ra yang telepon?" tanya mama Arka.
"Teman Aurora ma, dia juga begitu baik dan perhatian semenjak Aurora diberhentikan dari pekerjaan.
"Wah ... beruntung sekali kalau memiliki teman sebaik itu, temannya perempuan atau laki-laki?" tanya mama penasaran.
"Teman Aurora laki-laki ma!" jawab Aurora melirik mama Arka.
Mendengar jawaban Aurora, mama Arka langsung menatap wajah putranya itu yang terlihat murung.
__ADS_1
"Apa gadis ini yang membuat Arka semalam pulang dengan wajah yang lesu dan murung," gumam mama Arka dalam hati.
Semenjak menerima telepon dari Kevin, wajah Aurora tampak gelisah. Sesekali melihat jam tangan yang menempel di lengan kirinya.
"Kamu mau pulang sekarang Ra?" tanya Arka dengan wajah datar, tanpa senyum.
Aurora mengangguk ringan pada Arka. Ia kemudian memakai tas gendongnya untuk bersiap-siap pulang.
"Ma ... Aurora pamit pulang, Aurora senang bisa kenal dan bertemu mama!" ucap Aurora sambil mencium tangan mama Arka.
"Sayang sekali, padahal mama ingin mengobrol banyak sama kamu!" ucap mama Arka.
"Aurora akan sering-sering main kesini untuk bertemu mama, mama jaga kesehatan ya," tegas Aurora pada mama Arka. Ia kemudian keluar disusul Arka dibelakangnya.
"Arka akan antar Aurora dulu ya ma!" pamit Arka pada mamanya.
"Hati-hati dijalan!" pesan mama pada Arka.
Arka berjalan ke teras dan mulai menyalakan vespa kesayangannya itu.
"Kita naik vespa lagi Ka? lalu mobil itu milik siapa?" tanya Aurora dengan telunjuk mengarah pada sebuah mobil bermerek Fortuner, berwarna hitam.
"Itu milik tetangga aku Ra, dia memang selalu menitip mobilnya disini karena garasiku kosong jadi aku memperbolehkannya," ungkap Arka.
"Oh ... aku pikir itu milik kamu! kan sayang kalau gak kamu gunakan," ucap Aurora memandangi mobil hitam itu.
"Hm ... memang kamu bisa mengendarai mobil?" tanya Aurora melirik Arka.
"Aku kan belajar dulu, nanti sekalian aku pinjam mobilnya!" ucap Arka dengan tawa kecil.
"Gak perlu deh, bukan nyaman yang aku rasa, malah babak belur nanti!" ucap Aurora sambil menaiki vespa Arka.
Setelah mengantar Aurora pulang, wajah Arka kembali terlihat lesu. Sang mama yang masih menunggunya di ruang tamu, paham betul perasaan putranya.
"Apa semalam kamu pulang dari acara itu karena Aurora?" tanya mama dengan wajah serius.
"Maksud mama?" Arka bingung dengan pertanyaan mamanya, mengapa mamanya bisa mengetahui hal yang bahkan tidak ia ungkapkan.
"Kamu gak perlu bohongi mama, mama tahu perasaan kamu terhadap Aurora dan mama juga tahu betul perasaan Aurora kepadamu!" tutur sang mama.
"Haaah ... aku harus bagaimana ma?" tanya Arka sambil menghela nafasnya.
"Selagi dia belum milik orang lain, kamu masih bisa memperjuangkannya nak!" ucap mama, mengelus bahu putranya.
"Tapi kalau mama boleh kasih penilaian, sepertinya Aurora agak sedikit matrealistis ya! walaupun secara keseluruhan mama lihat, dia gadis yang baik dan mandiri," ungkap mama.
__ADS_1
"Awalnya aku juga berpikir seperti mama, saat pertama kali bertemu dengannya dulu, aku merasa dia gadis yang matrealistis tetapi saat aku sudah melihat keadaan keluarganya, kini aku mengerti kenapa dia seperti itu!" jelas Arka dengan sudut pandangnya sendiri.
"Mama percaya dan yakin, kamu tidak akan salah dalam memilih masa depanmu! mama akan selalu mendukung apapun pilihan yang kamu ambil, selama itu dalam jalan yang benar," ucap mama.
"Terima kasih ya ma, aku janji gak akan kecewain kepercayaan mama! aku rasa Aurora memang calon menantu yang tepat untuk mama, dia baik dan terlihat dekat dengan mama," jelas Arka tersenyum menghadap mamanya.
"Kamu harus tahu betul siapa wanita yang akan mendampingimu nanti, karena dia yang akan menjadi tanggung jawabmu di dunia dan akhirat kelak!" pesan mama pada Arka.
"Iya ma, aku paham dan akan selalu ingat pesan mama! ya sudah, mama segera istirahat ya karena ini sudah malam," ucap Arka, meminta sang mama segera beristirahat.
Tak berapa lama setelah perbincangan Arka dan sang mama selesai. Suara ketukan pintu rumahnya terdengar keras.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamualaikum mas," ucap salam tamu tersebut di balik pintu.
"Waalaikumsalam, sebentar pak," sahut Arka dari dalam rumah dan menghampiri pintu.
Krek ....
Arka menekan handle pintu, dan membukanya dengan lebar.
"Oh ... pak Hasan, silahkan masuk pak!" ajak Arka pada tamu tersebut.
"Bagaimana pak laporan bulanan kita, apakah surplus (mengalami kenaikan) atau defisit (mengalami penurunan)?" tanya Arka sambil memperhatikan berkas yang dibawa oleh pak Hasan.
"Alhamdilillah, setiap harinya pendapatan kita naik terus mas! ini laporan bulanan yang sudah saya rekap dari beberapa toko yang ada," ucap pak Hasan dengan memberikan sebuah laporan, lengkap dengan cover yang sudah tersusun rapi.
Bersambung ...
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Memiliki motor lebih baik dari pada berjalan kaki
Berjalan kaki lebih baik dari pada tidak mampu berjalan
Tidak mampu berjalan lebih baik dari pada tidak memiliki kaki
Teruslah bersyukur seperti ini, dengan apa yang kita miliki, semoga kita bukan termasuk manusia yang kufur akan nikmat.
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤