
Kata-kata yang keluar dari mulut Aurora, begitu menyakiti hati ayahnya. Deraian air matanya tumpah begitu saja, tak tertahankan, putri yang ia besarkan kini mampu mengatakan hal demikian padanya.
"Ayah datang kesini karena rindu dengan kalian, putra-putri ayah! ayah juga khawatir dengan keadaanmu setelah mendengar kabar pertengkaran itu," ungkap sang ayah dengan netra yang semakin memerah.
"Ayah gak perlu khawatir dengan keadaan kami, sekarang ayah sudah lihat kan kalau kami baik-baik saja disini," ucap Aurora dengan wajah serius saat mengatakannya.
Ibu yang berdiri di dekat Aurora, hanya diam membatu dan tak mengatakan apapun. Bagi ibu, semua yang terjadi padanya sudah kehendak Tuhan dan tak perlu untuk di sesali, lain hal dengan putri sulungnya itu. Ia terus saja menyalahkan sang ayah atas perceraian yang terjadi.
"Sampai kapan ayah akan berada disini? bukankah ayah sudah mengetahui kalau keadaan kami baik-baik saja?" ucap Aurora dengan nada setengah mengusir.
"Baik, ayah akan pergi! tapi ayah akan tetap mengirimi kalian uang setiap waktunya," ucap ayah, sebelum langkah kakinya meninggalkan Aurora dan sang ibu.
Setelah mengatakan itu, ayahnya kemudian meninggalkan putri dan mantan istrinya yang masih berdiri di depan rumahnya, Aurora terlihat memperhatikan langkah ayahnya dengan perasaan pilu, sementara sang ibu membelakangi mantan suaminya yang terus berjalan. Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari dalam rumah.
"Ayah...," teriak ketiga adik Aurora yang baru saja keluar dari dalam rumah, namun hanya Dika dan Nova yang terlihat begitu merindukan sang ayah.
Mereka berlari menghampiri ayahnya yang beberapa minggu itu sudah tidak lagi kembali ke rumah.
Sang ayah pun menoleh saat mendengar panggilan akrab yang begitu sering ia dengar setiap harinya. Ia membalikkan badan dan membentangkan lengannya.
"Sini nak..., ayah rindu sekali dengan kalian," ucap sang ayah tersenyum pilu.
"Apa ayah membawa mainan untuk Dika?" tanya Dika dengan wajah polos.
"Belum nak! nanti saat ayah kembali kesini, ayah janji akan bawa mainan untuk Dika ya," ucap sang ayah sambil mencium kedua pipi Dika.
"Ayah kemana saja? kenapa ayah harus pergi dari rumah?" tanya Nova dengan suara manja. Selama ini ia memang begitu dekat dengan sang ayah, hingga ia begitu marah dan kesal saat mengetahui sang ayah di minta pergi oleh kakaknya.
"Ayah sedang ada pekerjaan di kota Nov, jadi ayah tidak bisa untuk pulang setiap hari," ucap ayah beralasan pada Nova.
"Ayah bohong...! kakak dan ibu sudah menceritakan semuanya pada Nova, apa benar yang mereka katakan tentang ayah?" tanya Nova memastikan apa yang didengarnya kala itu.
"Nova, sudahlah nak! ayah tidak ingin lagi membahas tentang itu, ayah minta maaf ya sama kalian!" ucap sang ayah mengusap-ngusap kening Nova.
"Jadi benar yang kakak dan ibu bilang, kalau ayah..." ujar Nova, namun di sela oleh sang ayah.
"Ssttt... sudah Nov, ayah tidak ingin didengar Dika," sela ayah saat Nova bicara tengah berbicara.
"Ayah akan pergi kembali, jadi jaga adik dan kakakmu ya! begitu pula dengan ibu, jaga dia untuk ayah," tutur sang ayah pada Nova.
"Aku akan ikut ayah ya," pinta Nova dengan memohon.
__ADS_1
"Untuk saat ini ayah minta kamu untuk menjaga mereka semua, ayah janji akan sering datang menemui kalian," ucap sang ayah dengan penuh keyakinan.
Harapannya kini patah untuk terus bersama-sama dengan sang ayah, namun ia mencoba memenuhi keinginan ayahnya untuk tetap bersama dengan ibu dan sang kakak di rumah itu.
"Iya yah, aku akan jaga mereka untuk ayah!" ucap Nova dengan senyum kecil di wajahnya.
Sang ayah kemudian merunduk dan memegang tubuh Dika, putra bungsunya yang kini berusia 4 tahun.
"Dika.., ayah harus pergi dulu saat ini, nanti saat ayah kembali, ayah akan bawakan mainan sesuai dengan janji ayah pada Dika," ucap sang ayah, mencoba membujuk Dika agar tidak menangis saat melihat kepergiannya.
"Ayah mau bekerja ya?" tanya Dika yang sudah mulai pandai berbicara.
"Iya, ayah harus bekerja agar bisa membelikan mainan yang Dika inginkan," jelas ayah pada putra bungsunya.
"Iya, ayah hati-hati ya! Dika mau lanjut main lagi dengan kakak, dadah ayah....," ucap Dika sambil melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Melihat putra kecilnya sudah masuk, sang ayah kembali pamit kepada Nova, Aurora dan mantan istrinya.
"Ayah pamit, jaga diri dan kesehatan kalian ya!" ucap ayah sambil menatap ketiga orang yang begitu dicintainya.
Langkah kakinya begitu terasa berat, namun ia sadar bahwa keluarganya kini menunggunya di rumah. Keluarga baru yang memperlakukannya dengan asing, tidak seperti yang ia dapatkan sebelumnya.
"Hati-hati yah! sering-sering ya mengunjungi kami," teriak Nova saat melihat ayahnya berjalan.
"Ayo bu kita masuk," ajak Aurora sambil menggenggam lengan sang ibu. Mereka berdua pun masuk bersama, disusul dengan Nova yang berjalan di belakangnya. Nova masuk setelah bayangan ayahnya semakin menjauh dan tidak lagi terlihat.
Ibu, Aurora dan Nova kemudian terduduk di ruang tengah, ruang yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul bersama.
Saat semua terdiam, tiba-tiba Aurora dikagetkan dengan suara sang ibu.
"Ra..., tadi itu benar atasan kamu?"tanya ibu penasaran
"Iya bu," jawab Aurora singkat.
"Sopan dan baik ya orangnya," ujar ibu tentang penilaiannya pada Arka.
"Apa menurut ibu dia memang sebaik itu? ibu juga kan baru bertemu dengan dia kali ini," tanya Aurora.
"Penilaian seorang ibu tak akan pernah salah Ra," tegas sang ibu padanya. Saat membicarakan Arka tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Bu, nanti kita bicara lagi ya! aku mau istirahat dulu," pamit Aurora dan bergegas masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Ya sudah sana!" sahut ibu.
Aurora kemudian meraih ponselnya dan segera menghubungi nomer yang di berikan Arka padanya.
"Ini nomerku," tulis pesan singkatnya pada Arka.
Tak menunggu lama, pesan yang ia kirimkan akhirnya di balas oleh Arka.
"Ini kamu Ra?" tanya Arka dalam pesannya.
"Ya," jawab Aurora dengan singkat.
"Haahh.... dasar gadis aneh!" ucap Arka tersenyum sambil membaca pesan singkatnya dari Aurora.
"Kamu benar-benar merebut hati ini Ra!" gumam Arka yang terus saja melebarkan senyum di bibirnya.
Saat Arka tengah asyik dalam lamunannya tentang sosok Aurora, dering pesannya kembali berbunyi. Semangatnya menggebu saat tahu bahwa pesan masuk tersebut dari Aurora, wanita yang merebut hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Besok malam ada yang perlu aku bicarakan dengan kamu! kamu ada waktu kan?" tulis Aurora dalam pesannya.
"Penting gak? soalnya aku sedang sibuk-sibuknya nih!" goda Arka yang penasaran dengan tanggapan balasan dari Aurora.
"Ya sudah, maaf kalau aku ganggu kamu!" balas Aurora pada pesan Arka.
"Lho kok, malah seperti ini balasannya?" ujar Arka heran dengan pesan balasan yang di terimanya dari Aurora.
"Besok aku batalkan semua urusan, jadi jangan sampai kamu batalkan pertemuannya ya!" tulis pesan Arka pada Aurora.
Bersambung.....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Mencintai seseorang adalah pilihan namun tetap mempertahankan seseorang dengan cinta adalah prinsip yang tidak semua orang dapat melakukannya.
🍂🍂🍂🍂
Terima kasih selalu untuk para pembaca yang selalu setia mendukung karya ini hingga sudah memasuki chapter 16. Jangan lupa untuk tekan favorite ❤ agar teman-teman selalu dapatkan update kelanjutannya.
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤