Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Cucu Mafia


__ADS_3

Bagian 61


Oleh Sept


Alabama, America serikat.


"Tetap di sini!" titah Arslan saat pesawat mereka sudah mendarat beberapa waktu lalu.


Arslan meminta Taqi tetap duduk di tempatnya, meskipun Nada sudah turun bersama bayinya.


"Anda sedang bermain lelucon?" sentak Taqi marah. Bagaimana bisa ia membiarkan Nada turun duluan sedangkan dirinya hanya diam di sana.


"Redam emosimu," komentar Arslan. Pria itu kemudian memakai kembali topi coklat miliknya.


Taqi semakin geram, apalagi saat ia melirik bangku di sampingnya. Ia tahu, ia sedang diawasi.


***


Bebera saat kemudian. Barulah Taqi boleh turun, itupun ia harus terpisah dan tidak tahu istrinya di mana.


"Di mana kau sembunyikan mereka?" tanya Taqi Bassami dengan gusar pada sang ayah.


"Jangan memancing keributan, tetaplah tenang. Dia aman, sangat aman dalam penjagaan kami. Dia lebih terancam bila terlihat bersamamu."


"Omong kosong!" cetus Taqi marah. Baru juga beberapa langkah berjalan, tiba-tiba sebuah suara keras terdengar. Membuat semua orang panik dan berlarian.


DORRR ...


Terdengar sekali lagi suara tembakan yang cukup membuat suasana menjadi gempar. Semua pengawal Arslan langsung mengamankan Arslan dan putranya. Sedangkan Taqi, ia hendak pergi dan lari mencari istrinya, tapi sang ayah langsung mencegah.


"Kau mau istrimu mati?" ujar Arslan dengan marah.


"Kau yang sudah gila! Kau membuat nyawa kami semua dalam bahaya. Kalau kau memang benar ayahku, harusnya cukup lihat aku hidup bahagia dan diamlah. Jangan membawa kami bersama-sama masuk dalam lubang kubur!" sentak Taqi emosi. Matanya mengintip di balik pilar besar. Banyak pria-pria mencurigakan yang mengincar mereka di depan sana.


"Mereka sudah mengendusmu sebelum Kita kemari!"


"Omong kosong!"


Arslan mengeluarkan ponselnya, di sana banyak foto Taqi dan Nada yang terpisah. Sepertinya foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi.


"Kau bahkan menguntik kehidupan sehari-hari kami!" protes Taqi tidak habis pikir dengan ayahnya.


"Buka pikiranmu! Dunia ini terlalu kejam, tidak sebaik yang kau pikiran!"

__ADS_1


Arslan kemudian memperlihatkan pesan ancaman yang ia dapat berberapa waktu lalu. Klan lawan mengancam akan menghabisi putra satu-satunya beserta istrinya.


"Tidak mungkin! Kau pasti merekayasa semua ini!"


"TAQI!"


"Jangan sebut namanku dengan mulut licikmuu!"


DORR ...


Sebuah peluruu melesat mengenai tembok di sebelah mereka. Kedua orang itu kemudian kembali bersembunyi. Sembari para pengawal membalas aksi penyerangan tersebut.


"Seperti ini ... ya seperti ini puluhan tahun silam yang terjadi. Aku meninggalkanmu dan ibumu. Semua sama seperti ini."


Taqi menggeleng.


"Kau pemgecut! Dan aku tidak akan sepertimu!"


Taqi bangkit, ia hendak berlari. Tapi tiba-tiba suara tembakan terdengar begitu dekat. Membuat Taqi berhenti. Langkah kakinya tertahan sesaat kemudian berbalik.


BRUKKKK


Matanya menajam melihat Arslan yang semula berdiri ingin menyusul dirinya, tiba-tiba saja ambruk dengan banyak mengeluarkan darah pada lengannya.


'Tidak ... dia bukan ayahku. Dia hanya orang asing. Dia hanya seperti neraka bagiku. Dia hanya orang asing!' batin Taqi melihat tubuh ayahnya sudah menyatu dengan ubin yang dingin.


'Dia ayahku ...'


"Kau tidak apa-apa?"


"Bangunlah!" Taqi berbicara pada Arslan. Namun, pria itu tidak merespon. Karena sesaat kemudian sebuah tembakann kembali lagi mengarah pada mereka berdua. Arslan mencintai keluarganya, tapi dengan caranya sendiri. Seperti sekarang, ia mendorong tubuh Taqi, begitu sadar kalau ada yang membidik mereka.


Dorrr ...


***


Jackson Hospital, Alabama America serikat.


Di sebuah ruang VVIP, seorang pria sedang terbaring di sana. Sepanjang lorong para pria berseragam hitam-hitam menguasai wilayah di sana. Hampir semua bangsal mereka kosongkan demi keamanan pasien VVIP mereka.


Sedangkan Taqi, ia tampak berbicara dengan salah satu anak buah Arslan.


"Mereka sudah berada di apartment dengan banyak penjagaan, Tuan."

__ADS_1


Taqi menatap pengawal itu tajam, mungkin belum percaya kalau tidak ada bukti.


Sang pengawal lantas memberikan ponselnya, di sana terlihat jelas CCTV yang tersambung pada lokasi apartment rahasia milik Arslan.


Akhirnya Taqi bisa bernapas lega, saat melihat Nada sedang duduk di ruang tengah sambil memangku putri mereka.


"Terima kasih!" Taqi menyerahkan ponsel milik anak buah Arslan tersebut.


Pria itu pun mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Taqi sendirian. Taqi sendiri langsung masuk ruang rawat inap saat ayah ketika sudah memastikan istrinya aman.


Begitu mendengar suara pintu terbuka, Arslan yang sudah bangun malah mengacungkan senjataa tepat ke arah pintu.


"Ini aku!" ucap Taqi.


Arslan kemudian kembali duduk, luka tembakk tidak akan membunuh pria itu. Entah sudah berapa peluruu yang pernah bersarang di tubuhnya. Demi keluarganya, Arslan rela menjadi perisai. Pelindung bagi orang-orang yang ia cintai di dunia ini.


"Aku salah sudah khawatir padamu."


Arslan tersenyum getir saat mendengar komentar dingin dari sang putra.


"Kau mau aku cepat menyusul ibumu rupanya?"


Taqi diam. Ia kemudian penasaran, penyebab kematian ibu kandungnya.


"Kenapa dia meninggal? Apa juga seperti ini?" Taqi melirik luka tembakk.


Arslan langsung murung, pria itu kemudian menatap ke samping, di mana dia bisa melihat awan yang berarak di hamparan langit biru yang merata.


"Dia wanita paling bodohhh yang pernah aku kenal."


Arslan mengambil napas sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.


"Dia mengorbankan diri hanya demi pria brengsekkk ambisius sepertiku," ucap Arslan dengan suara yang semakin lirih.


Mendengar itu, Taqi merasa sakit hati.


"Lalu mengapa kau mengorbankan kami? Mengapa kau seret kami dalam masalahmu! Bahkan kau membuat anak yang belum lahir harus berlarian melawan kematian!" sentak Taqi marah. Sebab keegoisan sang ayah, nyawa istri dan calon anak mereka kini dipertaruhkan.


Arslan terdiam. Otaknya yang encer mulai mencerna apa yang Taqi katakan.


"Ini bukan masalah bayi itu, setahuku dia bukan anakkmu ... apa istrimu hamil?" tanya Arslan menebak.


"Pikirkan sendiri!" Taqi yang emosi, ia kemudian berbalik. Ada perasaan campur aduk saat mengetahui penyebab kematian sang ibu.

__ADS_1


Ada kemarahan besar juga terhadap Arslan, mengapa ia harus terlibat dengan dunia hitam yang mempertaruhkan nyawa mereka semua. Tidak bisahkan mereka hidup selayaknya seperti orang normal biasa? BERSAMBUNG


IG Sept_September2020


__ADS_2