Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 19 Mama Ingin Menggendong Cucu


__ADS_3

Kevin yang melihat Aurora memejamkan matanya, ia langsung mendekap wajah gadis itu dengan kedua tangannya.


"Haduh..., aku harus apa sekarang? tangan Kevin sudah mulai menjamah wajahku!" gumam Aurora dengan deguban jantung yang kian terasa.


Tiba-tiba....


"Kamu gak bercermin ya Ra! maaf... di gigimu ada bekas cabai!" ucap Kevin sambil menarik sehelai tisue yang berada di hadapannya.


"Apa..? jadi dia melihat ada sisa makanan di gigiku?" gumam Aurora sambil membuka kedua matanya.


.


Pernyataan itu tentu membuat Aurora terkejut, ia kembali membuka kedua matanya dan menatap Kevin dengan penuh rasa malu.


"Sini biar aku bersihkan sendiri!" ucap Aurora menarik sehelai tisue yang dipegang Kevin. Diraihlah cermin kecil dari dalam saku tasnya, kemudian ia mencungkil potongan cabai yang tersisa di sela giginya.


"Bisa-bisanya aku sebodoh itu hingga berpikir dia akan mengecupku, kenapa dugaanku selalu saja salah," gerutu Aurora dengan suara halus.


"Bodohnya lagi... kenapa bisa ada potongan cabai menjijikan ini di gigiku!" tambah ia menggerutu, sementara Kevin sibuk menyalakan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Aurora hanya mematung dan tak berkutik sama sekali. Kevin menoleh ke arahnya dan mengatakan sesuatu dengan wajah serius.


"Ra.., mungkin ini pertemuan terakhir kita berdua! aku gak akan lagi bisa menemui dan menjemputmu ke rumah," ungkap Kevin dengan wajah pilu.


"Terakhir? maksud kamu kita gak akan pernah bertemu lagi?" tanya Aurora heran.


"Iya Ra, ibumu melarang aku untuk menemuimu lagi!" ungkap Kevin pada Aurora.


Seketika wajah Aurora menjadi masam, ia tak menyangka sang ibu mengatakan hal dengan setegas itu pada Kevin.


"Aku akan bicara pada ibu nanti," timpal Aurora pada Kevin dengan wajah serius.


"Gak perlu Ra! aku gak mau ibu semakin berpikir buruk tentangku, kalau kamu mau kita tetap bisa bertemu tanpa sepengetahuan ibu," ucap Kevin seolah memberi solusi pada Aurora.


Aurora hanya terdiam mendengar ucapan Kevin padanya, ia tak ingin mengkhianati kepercayaan sang ibu padanya. Tentu solusi yang diberikan Kevin terasa berat baginya.


"Aku tetap harus bicara dengan ibu!" sahut Aurora sambil menarik handle mobil dan bergegas keluar dari mobil Kevin.


"Terima kasih ya Vin sudah mengantarku," ucap Aurora tersenyum pada Kevin, lalu kembali menutup pintu mobilnya.


"Eh Ra..., tunggu..., aku mau minta nomer ponselmu!" panggil Kevin pada Aurora, namun kala itu Aurora sudah berjalan masuk ke tokonya.


"Begitu mudah ya Ra untukku merebut hatimu!" ucap Kevin tersenyum kecil.

__ADS_1


Aurora yang baru saja memasuki tempat kerjanya, langsung mempersiapkan tokonya yang akan segera buka. Ia dibantu beberapa karyawan lain yang juga baru saja tiba.


Mereka saling menyapa satu sama lain, namun ada sesuatu yang hilang dari hidup Aurora kala itu. Ia kehilangan sahabat baiknya yang selama ini selalu ada untuknya. Hati mereka dipenuhi oleh ego dan amarah masing-masing, hingga ragu untuk sekedar saling menyapa satu sama lain.


Terik matahari kala itu semakin memudar panasnya, Aurora kembali merapikan tokonya sebelum pulang, tak terkecuali Lani dan rekan-rekan kerjanya yang lain.


"Ya ampun aku hampir lupa untuk mengabari Arka," ucap Aurora mengingat janjinya pada Arka malam tadi.


Jemarinya dengan lincah mengetik pesan pada Arka tentang pertemuannya malam nanti.


"Aku tunggu kamu pukul 20.00 wib di cafe sebrang toko kue The fame ya," tulis pesan singkat Aurora pada Arka.


Hanya selang beberapa detik pesannya terkirim, tiba-tiba Arka kembali membalas pesannya.


"Oke Ra, sampai bertemu disana ya," balas Arka dalam pesannya. Ia tersenyum saat mengirimkan pesan pada Aurora lewat ponselnya.


"Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi Ra," ucap Arka tersenyum manis.


Arka tak sadar sang mama memperhatikannya saat ia membalas pesan untuk Aurora. Mamanya memperhatikan senyuman dari wajah Arka yang begitu merekah.


"Ayo..., anak mama sedang apa senyum-senyum sendiri seperti itu," goda sang mama pada Arka.


"Eh..., mama! ini ma, aku lagi balas pesan dari temanku," jelas Arka pada mamanya.


"Kenalin sama mama ya, mama pengen cepat gendong cucu dari kamu!" ucap sang mama mendekati Arka, ia seolah tahu bahwa putranya itu sedang kasmaran.


"Aku belum punya kekasih ma, jadi mana bisa aku kenalin sama mama!" jawab Arka tersipu malu.


"Pokoknya mama tunggu kamu secepatnya ya, bawa gadis itu dan kenalin sama mama!" ucap sang mama tersenyum pada Arka. Ia begitu ingin putra bungsunya itu segera menikah.


Sejak ayahnya meninggal dan kedua kakaknya menikah, Arka hanya tinggal bersama sang mama di rumah yang cukup besar. Mamanya begitu merindukan tangisan dan suara anak kecil di rumah besarnya itu, sementara cucu-cucunya yang lain tinggal di luar pulau hingga tak jarang mereka hanya bertemu saat hari Raya tiba.


"Aku gak janji dulu sama mama, karena aku juga belum tahu bagaimana perasaannya padaku," jelas Arka pada mamanya.


"Coba ceritakan sama mama, seperti apa gadis yang kamu maksud itu?" tanya mamanya penasaran.


"Dia manis, baik, mandiri tetapi agak sedikit aneh ma," ungkap Arka mengingat-ngingat kepribadian Aurora.


"Apa kamu sudah mengenal kedua orang tuanya, atau pernah main ke tempat tinggalnya?" tanya mamanya kembali, ia penasaran pada sosok gadis yang dicintai putranya itu.


"Aku sudah pernah ke rumahnya ma, tapi hanya bertemu dengan ibunya saja," jelas Arka pada sang mama.


"Siapapun dia semoga dia gadis baik-baik dan dari keluarga yang baik-baik ya," ucap sang mama penuh harap pada gadis yang telah memikat hati putranya itu.

__ADS_1


"Aamiin... aku yakin mama juga akan suka saat melihatnya nanti," ucap Arka penuh keyakinan.


"Ya sudah, nanti kenalkan pada mama ya! mama mau ke kamar dulu," ucap mamanya pada Arka yang tengah duduk santai di halaman rumahnya.


"Iya mah, pasti Arka bawa dan kenalin sama mama," timpal Arka pada ucapan sang mama.


Kediaman Aurora pukul 19.00


Aurora sesekali melihat jam tangannya, tampilannya malam itu terlihat anggun walaupun dengan balutan yang sederhana.


"Kamu mau kemana Ra?" tanya sang ibu yang melihatnya berpakaian rapi, lengkap dengan hiasan cantik yang menempel di rambutnya.


"Aurora ada janji sama teman bu!" jawab Aurora.


"Malam-malam begini?" tanya sang ibu heran.


"Apa tidak bisa besok saja bertemunya? sepulang kamu bekerja!" tambah ibu pada Aurora.


"Sebentar saja kok bu!" sahut Aurora singkat.


"Oh iya bu, apa benar ibu melarang Kevin untuk dekat dengan Aurora?" tanya Aurora pada ibunya.


"Iya..., ibu melarang dia untuk terus mendekati kamu! ibu tidak mau kamu sakit dan menyesal nantinya," jelas sang ibu pada Aurora.


"Bu..., Aurora sudah besar, dan Aurora juga sudah bisa memilih mana yang baik atau tidak untuk masa depan Aurora nanti, jadi Aurora mohon ibu tidak lagi membatasi dengan siapa Aurora harus berteman!" ucap Aurora dengan tegas pada ibunya.


Bersambung......


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Kesakitan, kegagalan dan kesusahan akan lebih bermakna bagi mereka yang berpikir, di banding kesenangan dan kemewahan yang memperdaya


🍂🍂🍂🍂


Hallo semua pembaca setia Jodoh Titipan 🖐 bagaimana pendapat kalian mengenai karya ini?


Saya sangat menunggu kritik dan sarannya ya, apapun itu semoga dapat membantu karya ini lebih baik lagi 🌸


Salam hangat


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2