
Bagian 60
Oleh Sept
Tidak punya cara lain, dengan sangat terpaksa akhirnya Taqi masuk ke dalam mobil Arslan. Begitu ia masuk, barulah Arslan mau menatapnya.
"Katakan! Apa maumu yang sebenarnya?" tukas Taqi galak.
Arslan tersenyum sinis, pria itu kemudian memalingkan wajah. Ia memilih menatap kosong pada kegelapan di sampingnya dari pada melihat ke arah lawan bicara.
"Aku rasa kau bukan anak kecil, pasti kau lebih tahu apa yang aku mau."
Mendengar pernyataan dari pria yang mengaku ayahnya, Taqi semakin geram.
"Saya bilang saya tidak mau lagi berurusan dengan ANDA!"
"Lebih sopanlah pada ayah kandungmu!" cetus Arslan yang merasa sikap Taqi begitu kasar.
Taqi menghela napas panjang, kemudian kembali bicara. Tapi kali ini ia menurunkan egonya. Demi abah Yusuf yang kini harus mendekam di sel tahanan.
"Ini semua pasti perbuatan anda, saya mohon. Jangan usik orang itu. Jika anda punya nurani sedikit saja, tolong jangan usik keluarga kami!"
"Mengusik? Aku hanya meminta apa yang menjadi milikku."
Lagi-lagi Taqi kembali dibuat naik darah, tapi pria itu harus menahan sepenuh jiwa. Ia ingat istrinya juga sedang hamil di rumah. Kalau tidak ia bisa hilang kendali.
"Baiklah! Lepaskan abah Yusuf. Jika aku memang anakmu, anggap ini permintaan terakhir dan satu-satunya!"
Dahi Arslan mengkerut. "Lalu apa yang aku dapat?" tanya Arslan singkat.
"Aku tidak akan melakukan sesuatu dengan sia-sia. Tidak ada makan siang gratis ... Taqi," tambah Arslan dengan muka dingin membuat Taqi semakin menahan untuk tidak marah.
__ADS_1
Rasanya Taqi mau memakan orang itu hidup-hidup. Setiap kata yang keluar dari mulut Arslan hanya mengandung racun baginya.
"Lalu kamu mau apa?"
"Ikut denganku."
Taqi langsung mendesis kesal.
"Tidak akan!"
"Kalau begitu, lihatlah pria itu mendekam sampai waktu yang lama."
Taqi langsung mengepalkan tangan. Sedangkan Arslan, ia malah meraih tas yang ada di depannya. Arslan mengambil amplop. Kemudian meletakkan di pangkuan Taqi.
"Hanya 2 hari, tidak lebih. Jika tidak mau pria itu terjerat semakin parah. Maka cepatlah mengambil keputusan," ancam Arslan.
Taqi mencoba menahan diri, tangannya masih mengepal. Ia tahu Arslan tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Apalagi mengingat kasus penculikan yang pernah menimpa dirinya. Ia paham, Arslan dan circle-nya bukan sembarangan.
"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, kau boleh keluar. Dan waktumu hanya dua hari."
***
Setelah bertemu dengan ayah kandungnya, Taqi langsung pulang ke rumah abah. Di sana ummi sudah tidur di dalam kamar.
"Bagaimana, Mas?"
Baru juga masuk rumah, Nada sudah bertanya. Taqi sendiri masih dilema, ia kemudian berbicara serius dengan Nada. Bahkan menunjukkan amplop yang Arslan berikan padanya tadi di mobil. Ia serahkan pada Nada, agar istrinya itu bisa melihatnya sendiri. Sebab kali ini ia butuh teman untuk berbagi. Pikiran Taqi sedang diombang-ambing layaknya puing-puing yang terseret ombak laut. Kacau, tidak bisa memutuskan sesuatu. Karena ia tahu karakter Arslan seperti apa.
"Ya Allah ... terus Kita harus bagaimana, Mas?"
Wajah Nada pucat saat melihat isi amplop coklat tersebut.
__ADS_1
"Jika mau abah cepat keluar, Mas harus ikut dengannya. Kamu tahu Nada ... Mas tidak bisa. Tapi Mas juga tidak bisa melihat abah lama-lama merasakan dinginnya lantai tahanan."
Ada raut penyesalan, ketika Taqi berada di antara pilihan yang sulit.
Nada melihat keputusasaan di wajah suaminya. Wanita itu kemudian meraih tangan Taqi, menggengam erat tangan yang selama ini menyentuhnya dengan lembut tersebut.
"Penuhi permintaannya."
Pandangan Taqi langsung menajam.
"Nada!" pekiknya kaget.
"Tapi ... Kita pergi bersama-sama," ucap Nada yakin.
"Maksudmu? Kau tahu? Dia bukan orang baik-baik!" Taqi menolak keras ide Nada.
"Bukankah ini lebih baik dari pada melihat abah harus di penjara?"
Taqi memejamkan mata, mana mau ia menaruh istri dan anak-anak dalam kandang buaya?
***
Dua hari kemudian
Abah sudah di rumah, seharian ini keduanya murung setelah keluar dari tahanan. Kasus yang direkayasa itu rupanya cukup menyulitkan abah.
Apalagi setelah tahu bahwa kebebasan yang abah dapat adalah hasil dari sebuah barter. Ya, kini mereka akan sulit bertemu dengan orang-orang yang mereka sayangi.
***
Di sebuah pesawat menuju negara bagian America serikat, Taqi sedang duduk bersama Arslan. Sedangkan Nada dan putri mereka, duduk di ruang lainnya. Mereka seperti tawanan. Karena pergi bersama Arslan dengan banyak penjagaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG