Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 42 Putus Hubungan


__ADS_3

Dengan amarah yang menggebu-gebu, Kevin kemudian meraih ponselnya yang ia letakan di dekat laptop.


Jarinya mengetik pesan singkat pada Ranti, kekasihnya yang selama ini banyak menghabiskan saldo debit card miliknya.


"Ranti ... aku minta maaf, sepertinya aku tidak dapat melanjutkan hubungan ini lagi denganmu! tolong jangan hubungi atau cari-cari aku," tulis Kevin dalam pesannya untuk Ranti.


Pesan yang dikirimkan dari Kevin langsung diterima Ranti. Ia terkejut dengan isi pesan yang dibacanya, bagaimana tidak Kevin bak bank berjalan bagi Ranti untuk memuaskan gaya hidupnya yang glamor.


"Apa-apaan dia, minta putus begitu saja tanpa alasan yang jelas! ini gak bisa aku terima," ucap Ranti sambil mencoba menelpon Kevin untuk meminta penjelasannya.


Tut ... tut ... tut ...


"Halo beb, kamu tuh kenapa sih? kok tiba-tiba kirim pesan seperti itu! kamu baik-baik saja kan?" tanya Ranti, dengan nada khawatir.


"Iya ... aku baik-baik saja, maaf mengirim pesan mengejutkan itu! tetapi keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kita ini," ucap Kevin dengan suara perlahan.


"Aku gak bisa terima ini! apa kurangnya aku untuk kamu? semua yang kamu minta selalu aku turuti, sekarang kamu mau minta putus begitu saja!" ucap Ranti dengan suara berteriak dalam teleponnya.


"Ranti ... dengar! kita melakukan semuanya tanpa keterpaksaan dan aku tidak meminta itu dengan cuma-cuma, aku belikan semua yang kamu minta dan kamu butuhkan, berarti kita impas kan? jadi jangan pernah menuntut apa-apa dari hubungan ini" tegas Kevin dengan suara keras.


"Enggak Vin, aku gak mau! aku akan ke kantormu sekarang untuk selesaikan ini," ucap Ranti sebelum mengakhiri teleponnya dengan Kevin.


"Ranti ... kamu gak perlu ke kantorku sekarang! kita akan bicarakan nanti sepulangku dari kantor," ucap Kevin melarang kekasihnya itu untuk datang.


"Halo ... halo ... Ranti ..." ucap Kevin saat panggilannya diakhiri oleh Ranti dengan tiba-tiba.


"Haduh ... bagaimana ini, kalau dia benar-benar datang kesini!" gumam Kevin dengan penuh kebingungan dan kekhawatiran.


Ia kemudian berjalan keluar dari ruangannya dengan penuh kecemasan.


"Sepertinya aku harus menunggunya di luar agar dia tidak masuk ke dalam dan menghebohkan semua orang yang berada di kantor," gumam Kevin dalam hatinya.


Ia kemudian menunggu Ranti dari balik pintu masuk kantornya. Tak menunggu lama, Ranti tiba dan mulai masuk ke kantor Kevin, namun langkah Ranti dihentikan Kevin dengan menarik lengannya.


"Tunggu Ranti ... ayo kita bicara di taman saja!" ajak Kevin pada mantan kekasihnya itu.


Ranti pun mengikuti ajakan Kevin untuk tidak membahas persoalan itu di kantornya. Setibanya di taman, Ranti langsung menanyakan perihal alasan Kevin memutuskan hubungannya secara sepihak.


"Sekarang jelasin sama aku, kenapa kamu tiba-tiba meminta untuk mengakhiri hubungan ini?" tanya Ranti dengan wajah yang serius.


"Ya gak perlu ada alasan juga kan, kita jalani hubungan ini tanpa adanya komitmen! kamu tahu betul kita sama-sama diuntungkan dengan hubungan ini, jadi jangan pernah menuntut banyak hal dariku!" ucap Kevin dengan suara santai pada Ranti.


"Oke, kalau itu memang mau kamu! aku juga mampu untuk mencari lelaki yang lebih kaya dari kamu," ucap Ranti dengan suara tersengal karena menahan tangisnya.


Ranti kemudian pergi meninggalkan Kevin sendiri di taman. Hatinya terus bergumam selama langkahnya kembali pulang.

__ADS_1


"Apa perasaanku begitu tak berharga baginya, hingga ia tega mengatakan hal menyakitkan itu," ucap Ranti dalam batinnya sambil sesekali menyeka air matanya yang jatuh.


Berbeda dengan Ranti, yang larut dalam kesedihannya sesaat hubungannya dengan sang kekasih telah berakhir, Kevin justru merasa cukup lega dengan keputusannya itu.


Ia kini dapat leluasa mendekati Aurora tanpa adanya lagi kekhawatiran yang selalu membebaninya.


"Sekarang aku sudah bisa terbebas dari Ranti dan tak ada lagi keraguan untuk memulai semuanya dengan Aurora," ucap Kevin sambil berjalan dengan santai, untuk kembali ke kantornya.


Setibanya di kantor, ia langsung menghampiri Aurora yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ra ... nanti sore ada yang mau aku bicarakan dengan kamu! kamu mau kan makan di luar bersamaku?" tanya Kevin dengan wajah penuh harap.


"Iya Vin, aku bersedia," jawab Aurora tersenyum sambil memegangi kain lap untuk membersihkan kaca.


"Oke, sampai bertemu nanti sore ya!" ucap Kevin tersenyum menatap Aurora.


Aurora hanya tersenyum tersipu malu saat membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Kevin padanya.


"Ah ... mana mungkin dia benar-benar mencintaiku," gumam Aurora dalam batinnya, diiringi senyum tipisnya.


"Tapi kalau bukan ingin mengatakan itu, lalu apa ya yang akan dia katakan?" tambah Aurora dalam batinnya.


Waktu terus berlalu, hingga tepat pukul 12.15 semua karyawan beristirahat untuk makan siang. Berjalan seorang pria muda menghampiri Aurora yang sedang membuka bekal makannya.


"Ra ... ayo makan bersamaku di kantin!" ajak Gilang tersenyum manis ke arah Aurora.


"Hm ... begitu ya, ya sudah nanti sore kamu mau kan pulang bersama denganku?" tanya Gilang, ia pantang menyerah mendekati Aurora walaupun Aurora terus saja mengabaikan ajakannya.


"Aduh ... gimana ya Lang, sore ini aku ada janji dengan Kevin!" ungkap Aurora dengan tatapan sungkannya pada Gilang.


"Kamu sudah ada janji dengan Kevin?" tanya Gilang dengan heran.


"Iya, dia bilang akan mengatakan sesuatu padaku sore ini!" jelas Aurora pada Gilang yang berdiri dihadapannya.


Dengan perasaan geram, Gilang menghampiri Kevin ke arah kantin. Kevin yang melihat Gilang berjalan ke arahnya sama sekali tak menyangka kalau rekannya itu sedang mengincarnya.


Tiba-tiba,


Dug ...


Gilang menghantam Kevin dengan pukulan tepat di wajahnya dan membuat orang-orang sekitar kantin heran atas apa yang dilakukan Gilang.


Kevin yang tak terima dengan pukulan yang dilayangkan Gilang untuknya, membalas dengan cukup keras.


Dug ...

__ADS_1


Keduanya terlibat baku hantam, sampai seorang satpam dan rekan satu departemennya melerai mereka.


"Sudah ... sudah ... kalian ini ribut-ribut di area kantor! selesaikan baik-baik, jangan pakai otot begini," ucap satpam dengan wajah geram.


"Kita belum selesai Vin!" ucap Gilang sambil meruncingkan telunjuknya ke arah Kevin.


Kevin yang melihat ancaman Gilang, hanya tersenyum miring sambil menunujukan wajah menantangnya pada rekannya itu.


Sementara di pantry, para office girl dan office boy saling berbagi cerita tentang keributan antara Gilang dan Kevin yang membuat Aurora terkejut.


"Iya, gua lihat sendiri kejadiannya! mereka saling pukul satu sama lain," ucap salah seorang office girl pada rekannya.


"Masalahnya apa sih?" tanya rekannya itu.


"Kalau tidak salah yang gua dengar, mereka ribut karena masalah wanita deh!" jelas office girl itu.


Dengan hati yang cemas, Aurora menanyakan orang yang dimaksud dalam obrolan itu.


"Maaf mbak, kalau boleh tau siapa ya yang berkelahi tadi?" tanya Aurora penasaran.


"Pak Kevin dan pak Gilang bagian marketing," ungkap office girl tersebut pada Aurora.


"Ya ampun, sekarang mereka dimana mbak?" tanya Aurora kembali.


"Sekarang sih sudah dibawa ke ruang pengamanan!" jelas orang itu pada Aurora.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Ulat yang menyeramkan saja bisa menjadi kupu-kupu yang indah saat waktunya tiba.


Itik buruk rupa, pada akhirnya akan menjadi angsa yang sangat cantik.


Semua akan berproses sesuai alurnya, tak akan tertukar.


Tak perlu perdulikan cibiran mereka, karena sekuat apapun kita menjalani prosesnya, mereka hanya melihat hasil akhirnya.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2