
Lani yang bingung dengan ucapan Aurora, kemudian bertanya kembali apa maksud dari ucapan yang didengarnya.
"Aku gak ngerti maksud kamu Ra, kenapa kamu bilang ibuku jadi alasan kepulangan kalian kemarin?" tanya Lani memastikan apa yang dikatakan sahabatnya.
"Jadi kamu benar-benar belum tahu apa yang terjadi." tanya Aurora dengan mata yang tajam pada Lani.
Mendengar pertanyaan Aurora, Lani hanya menggelengkan kepalanya dengan alis mata yang mengerucut.
"Rupanya ibumu belum cerita jujur ya sama kamu, siapa laki-laki yang ia nikahi kemarin!" ucap Aurora bernada sinis, senyumnya mengkerut di depan wajah Lani.
"Aku semakin gak ngerti sama penjelasan kamu Ra, tolong ceritakan padaku dengan sejelas-jelasnya, sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan mamaku?" tanya Lani kembali.
"Ibu kamu itu benar-benar wanita gak tahu diri Lan..!" ucap Aurora dengan nada emosi, wajahnya memerah kala mengingat pengakuan perselingkuhan ayahnya.
"Cukup Ra....! aku minta kamu untuk jelasin permasalahannya, bukan untuk mengolok-olok orang tuaku..!" teriak Lani pada Aurora, ia tak terima atas penghinaan yang ditunjukan Aurora kepada mamanya.
"Kenapa..? kamu gak terima aku sebut ibumu dengan kata-kata seperti itu? itu gak seberapa sakit Lan, dibanding perasaan aku dan ibuku yang harus merasakan sakit di khianati dan di tinggalkan" jelas Aurora.
Lani yang mendengar penjelasan Aurora masih saja bingung, namun kala itu ia tetap mencoba tenang untuk mendapatkan titik terang atas permasalahan yang menimpanya.
"Kamu mau tahu Lan, apa alasan kedua orang tuaku bercerai? itu karena wanita lain, wanita yang menjadi pengganggu dalam rumah tangga orang tuaku, wanita yang sudah mengaku hamil pada ayahku! kamu mau tahu siapa wanita itu? wanita itu adalah ibumu Lan, wanita yang sudah merebut suami dari ibuku..!" ucap Aurora panjang lebar di hadapan Lani.
Lani yang terkejut dengan penjelasan Aurora tidak berbicara sedikit pun, matanya memerah karena membendung air mata yang hampir jatuh.
"Sekarang kamu puas dengan apa yang sudah kamu miliki? kamu puas memiliki ayah dari hasil merebutnya dari orang lain?" ucap Aurora mematahkan hati Lani.
"Aku salah dengar kan Ra? ga mungkin ibu ngelakuin hal itu..!" ucap Lani dengan suara lemas, tubuhnya lunglai dan terjatuh ke tanah.
Aurora yang belum puas dengan rasa sakitnya, terus saja membombardir Lani dengan kata-kata dan ucapannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar gak nyangka, sahabat yang sangat aku kenal baik ternyata memiliki ibu yang tidak lain adalah wanita perebut suami orang..!" ucap Aurora yang tidak henti meluapkan emosinya pada Lani, tak perduli Lani sudah terkulai lemas di hadapannya.
"Aku bilang cukup Ra....cukup kamu menghina mamaku...! aku tahu mamaku bersalah atas perceraian kedua orang tuamu, tapi kamu gak berhak menghina dan mengolok-oloknya di depanku!" teriak Lani yang terbangun dari posisinya hingga tubuhnya sejajar dan berhadapan tepat dengan Aurora.
Keributan yang terjadi antara Aurora dan Lani kala itu, menarik perhatian orang di sekitar ruko dan tempatnya bekerja. Mereka memperhatikan percakapan keduanya saat saling teriak dan memaki, namun tak melerai dan melakukan apa-apa terhadap keduanya.
"Aku pikir kamu cukup tahu diri Lan, untuk mengakui atas kesalahan ibumu, namun nyatanya kamu tidak ada bedanya dengan dia!" ucap Aurora menatap lurus pada wajah sahabatnya.
"Cukup Ra....! aku benar-benar gak terima atas penghinaan ini," teriak Lani sambil menjambak rambut Aurora hingga keduanya berkelahi dan saling memaki satu sama lain.
Perkelahian itu pun tak terelakkan, keduanya tersulut emosi masing-masing yang membuatnya semakin memanas. Beberapa karyawan di ruko sebelah tampak berlari ke arah Aurora dan Lani yang sedang baku hantam.
"Neng... neng... sudah... sudah...!" ucap salah satu yang membantu melerai Aurora dan Lani.
Akhirnya Lani dan Aurora pun berhasil dipisahkan oleh karyawan yang bekerja di samping toko kuenya.
"Aduh neng, pagi-pagi kok sudah berkelahi! memangnya ada masalah apa sih?" ucap salah seorang lainnya yang membantu melerai.
"Ada apa ini ya mas?" tanya pria tersebut kepada dua orang yang membantu melerai perkelahian Aurora dan Lani.
"Ini pak, tadi si neng-neng ini berkelahi disini! saya sih kurang tahu masalahnya apa, tiba-tiba saya lihat mereka saling teriak dan kemudian saling baku hantam," ungkap salah seorang pada pria berseragam toko kue, yang tidak lain adalah supervisor di tempat Aurora dan Lani bekerja.
"Benar itu Ra.. Lan..?" tanya sang supervisor pada keduanya.
Aurora dan Lani menganggukan kepala dan tertunduk saat ditanya oleh atasannya itu. Mereka berdua tidak berani memandang wajah sang atasan, apalagi mencoba memberikan penjelasan atas kejadian tersebut.
"Kalian ikut saya ke ruangan..!" ucap supervisor pada Aurora dan Lani.
Aurora dan Lani kemudian berjalan masuk ke arah tempatnya bekerja. Pakaian mereka kotor dan lusuh akibat perkelahian yang terjadi.
__ADS_1
"Mas..., pak..., terima kasih sudah membantu karyawan saya" ucap sang supervisor kepada karyawan yang bekerja di sebelah toko kuenya.
"Sama-sama pak," sahut keduanya lalu kembali masuk ke tempat kerjanya, sementara sang supervisor masuk ke dalam tokonya untuk menanyakan perihal keributan yang terjadi persis di depan halaman tokonya.
Saat ia memasuki ruangannya, terlihat Aurora dan Lani sama-sama tertunduk di kursi yang ada. Wajah Aurora tampak sedikit memar di bagian pipi, sementara rambut Lani kusut karena kejadian itu.
"Apa-apaan kalian ini? pagi-pagi sudah bikin malu di depan toko...! apa yang kalian ributkan?" tanya sang supervisor kepada kedua karyawannya.
"Lani pak yang mulai menjambak rambut saya, dia tidak terima atas kesalahannya..!" ungkap Aurora pada atasannya, namun segera disangkal oleh Lani yang tidak terima atas tuduhan tersebut.
"Saya gak akan lakuin itu pak, kalau dia bisa menjaga kata-katanya dan tidak menghina orang tua saya," bela Lani atas sikapnya.
"Sudah... sudah..., saya tidak mau dengar apapun alasan kalian! yang kalian lakukan di luar tadi itu benar-benar memalukan, bagaimana kalau pelanggan kita lihat kejadian tadi!" ucap supervisor dengan tampang serius.
"Saya kasih kesempatan kalian satu minggu ini untuk mencari pekerjaan lain, hingga akhir bulan nanti kalian mendapatkan gaji, kalian boleh membuat surat pengunduran dirinya!" ucap sang supervisor kepada Aurora dan Lani lalu pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Pak..., pak..., tunggu pak, jangan pecat saya pak, saya punya ibu dan tiga adik yang harus saya hidupi!" ucap Aurora yang berusaha mengejar atasannya namun usahanya sia-sia. Supervisornya kini sudah masuk ke mobil dan pergi meninggalkan toko kue tersebut. Sementara Lani hanya terdiam mendengar keputusan itu, ia pasrah dan berusaha menerima segala konsekuensinya.
Bersambung.....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Rasa amarah kadang menghempaskan keluh kesah yang ada, namun merusak asa yang telah susah payah terajut dalam mimpi.
🍂🍂🍂🍂
Terima kasih Author ucapkan kepada para pembaca setia yang selalu mensupport Author dari waktu ke waktu hingga sampai di chapter ini. Apresiasi ini sebagai wujud syukur Author atas pencapaian yang di dapat, tanpa reader karya ini hanya sebuah guratan pena yang tak bernilai.
__ADS_1
Salam hangat
❤❤❤