Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 38 Meminta Pertolongan


__ADS_3

Aurora kemudian menoleh saat mendengar suara itu. Ia dikejutkan oleh seorang pria yang sudah terduduk di belakangnya.


"Kamu ... bukannya kamu temannya Kevin ya?" tanya Aurora mencoba mengingat-ngingat pria yang ada di belakangnya itu.


"Yups ... kamu tepat sekali, aku teman satu departemen dengan Kevin," sahut Gilang tersenyum manis ke arah Aurora.


"Eh, tunggu ... tunggu ...! kamu kenal Kevin?" tanya Gilang yang heran saat Aurora menyebut nama Kevin seolah kenal dekat dengan manajer marketing itu.


"Emm ... aku mengenalnya saat tadi pagi ke ruangan bersama mas Rehan," jawab Aurora beralasan di hadapan Gilang dengan suara terdengar sedikit gagap.


"Oh, aku pikir kamu benar-benar mengenalnya! kamu membawa bekal dari rumah?" tanya Gilang memperhatikan tangan Aurora yang memegangi kotak makan yang masih berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Iya, ibu yang selalu siapin bekalnya," jelas Aurora singkat pada Gilang.


"Wah, kamu benar-benar beruntung masih memiliki ibu yang selalu memberikan kasih sayangnya! aku sendiri sudah yatim piatu semenjak aku duduk di kelas 2 SMP," ungkap Gilang dengan wajah pilu.


Wajah Aurora terkejut saat mendengar pengakuan Gilang tentang kedua orang tuanya yang telah tiada sejak lama.


"Aku memang harus banyak bersyukur apapun yang aku terima dalam hidup ini, bahkan banyak orang lain yang keadaannya tidak lebih baik dari keadaan keluargaku," gumam Aurora dalam batinnya.


Aurora kemudian menunjukan wajah ibanya pada Gilang, namun seketika Gilang kembali dengan wajah cerianya di depan Aurora.


"Jaga dan sayangi mereka dengan baik, itu yang akan aku lakukan saat diberi kesempatan lagi untuk berkumpul dengan mereka, kedua orang tuaku," jelas Gilang dengan senyum pilu.


"Kamu benar, kesempatan itu tidak akan pernah datang dua kali! bahkan saat kita memintanya," ungkap Aurora, mengingat rumah tangga kedua orang tuanya yang sudah tak lagi bersama.


Tak terasa obrolan mereka sudah memasuki jam kerja kantor setelah 1 jam bersitirahat. Terlihat beberapa staff mulai memasuki ruang kerjanya.


"Oh ya, aku harus panggil kamu dengan panggilan apa?" tanya Gilang pada Aurora.


"Panggil saja Rara," jelas Aurora singkat.


"Ok Ra, sampai jumpa nanti ya!" ucap Gilang tersenyum menatap dalam wajah Aurora.


Aurora hanya membalas dengan senyuman kecil, tanpa kata sedikitpun. Sikap dingin Aurora terhadap Gilang, ia lakukan karena hatinya sudah tertambat pada Kevin, pria baik dan perhatian yang menurutnya pantas untuk ia cintai.


"Kevin kemana ya, kok dari tadi aku gak lihat dia makan siang!" gumam Aurora dalam batinnya.


Aurora kemudian merogoh saku seragamnya, lalu mengambil ponsel untuk mengirimkan pesannya pada Kevin.


"Kamu gak makan siang Vin?" tulis Aurora dalam isi pesannya. Tak menunggu lama, Kevin langsung membalas pesannya.


"Maaf Ra, aku tadi meminta mbak tuti untuk membelikanku makan siang jadi aku tidak sempat keluar ruangan," ungkap Kevin dalam pesan yang dikirimkan pada Aurora.

__ADS_1


"Iya Vin gak masalah, aku pikir kamu belum makan siang hari ini," tulis Aurora dengan penuh kecemasan.


"Oh ya Vin, nanti kita pulang bersama kan?" tanya Aurora dengan perasaan antusias.


"Maaf Ra, aku hari ini ada kepentingan dengan calon buyer (pembeli) jadi gak apa-apa kan kamu pulang sendiri hari ini?" tulis Kevin dalam percakapan pesannya.


"Iya Vin gak masalah kok!" balas Aurora menutupi kekecewaannya.


"Oke Ra, sampai bertemu besok ya," tulis Kevin kembali.


Saat percakapan pesannya berakhir, Aurora hanya bisa termenung memikirkan nasibnya untuk kembali pulang. Hari itu ia tidak memiliki uang simpanan sepeserpun untuk sekedar membayar ongkos naik angkutan umum.


"Aku harus bagaimana sekarang? semua uangku sudah kuberikan pada ibu seluruhnya, apa aku sanggup berjalan kaki sejauh itu," gumam Aurora dengan wajah penuh kebingungan.


"Hei Ra ... jangan melamun terus! ayo kita bersihkan area kantor umum dan lobi," ajak Rehan dengan suara mengejutkan.


"Oh ... iya mas," sahut Aurora, lalu memegang gagang sapu dan mengangkat ember yang akan ia gunakan untuk membersihakan area kantor.


Lamunannya tak henti sampai disitu, pikirannya melayang membayangkan jauhnya jarak antara rumah dan kantornya sekarang.


Tiba-tiba wajahnya menorehkan senyum, ia teringat akan seseorang yang mengatakan untuk mengabarinya kala ia membutuhkan sesuatu.


"Kenapa aku baru terpikir pada Arka ya, dia pasti tidak keberatan kalau harus menjemputku dengan vespanya itu," ucap Aurora dengan senyum kecilnya.


Ia kemudian menelpon Arka sore itu dan memintanya menjemputnya ke kantor.


"Enggak juga sih, kenapa memangnya Ra?" tanya Arka penasaran.


"Kalau kamu enggak keberatan, aku mau minta jemput sama kamu! aku mau pulang tapi uang di dompetku benar-benar habis," ungkap Aurora dengan suara pilu. Hatinya cemas, takut Arka akan menolak permintaannya tolong darinya.


Arka yang mendengar permohonan itu dari Aurora, sangat terkejut namun tak dapat dipungkiri hatinya begitu bergelora.


"Yes ... " ucap Arka dengan suara perlahan sambil mengepalkan jari tangan kanannya.


"Maksud kamu? kamu bisa kan antar aku pulang ke rumah?" tanya Aurora, ia penasaran dengan kata yang didengarnya melalui Arka.


"Maksudnya iya, kamu akan aku antar pulang," sahut Arka beralasan.


"Thanks ya Ka ... aku akan kirim alamatnya lengkapnya untuk kamu!" ucap Aurora, lalu menutup kembali teleponnya.


Ia kemudian mengirimkan alamat kantornya pada Arka. Saat pesan dari Aurora diterimanya, Arka tersenyum-senyum seorang diri, namun tiba-tiba lamunannya dikagetkan oleh pak Hasan.


"Mas ... mas Arka ... kok melamun sambil senyum-senyum begitu! sedang membayangkan apa ayo?" tanya pak Hasan dengan suara mengagetkan.

__ADS_1


"Eh pak Hasan, ganggu aja nih! yang jelas bukan sedang membayangkan pak Hasan," goda Arka pada salah satu staff terpercayanya.


"Pasti sedang memikirkan mbak Aurora ya! gadis cantik yang selalu mas Arka kirimkan bingkisan itu," ucap pak Hasan menduga-duga.


"Stt ... jangan keras-keras pak, nanti ada yang dengar!" bisik Arka dengan suara perlahan.


"Oh iya pak, sore ini saya akan keluar sebentar! kemungkinan tidak akan kembali lagi ke toko, nanti tolong laporkan hasil penjualannya ya," pinta Arka pada pak Hasan.


"Baik mas, nanti saya rekap dan kirimkan laporannya malam hari," ungkap pak Hasan menyanggupi.


"Ya sudah, saya pergi dulu pak!" pamit Arka pada pak Hasan.


Ia bergegas mengendarai vespanya untuk menjemput Aurora di kantornya. Setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya ia tiba di depan kantor yang dimaksud Aurora.


"Ra aku sudah sampai ya, aku tunggu kamu di luar!" tulis Arka dalam pesannya.


Aurora yang bersiap untuk pulang, tiba-tiba dikejutkan dengan keberadaan Gilang di belakangnya.


"Ayo Ra, kita pulang sama-sama!" ajak Gilang dengan senyum di wajahnya.


"Hm ... maaf, aku sudah di jemput seseorang!" tegas Aurora pada Gilang.


"Dijemput? sama pacar kamu?" tanya Gilang penasaran.


"Bukan kok," sahut Aurora singkat.


Aurora kemudian berjalan menuju pintu utama kantor untuk keluar, disusul Gilang yang mengikuti di belakangnya.


Saat Aurora keluar, Arka melambaikan tangannya pada Aurora untuk segera menghampirinya. Tiba-tiba, Gilang terkejut saat melihat Aurora menghampiri Arka dan naik vespa bersamanya.


"Arka ... jadi dia yang menjemput Aurora! apa hubungannya dengan Aurora?" gumam Gilang dengan wajah bingung.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Jangan pernah berharap putra-putrimu kelak akan berbakti padamu dengan setulus hati, kalau saat ini saja engkau masih menghitung berapa banyak harta yang kau keluarkan untuk orang tuamu.


Seperti menanam jagung namun berharap tumbuh dan berbuah durian, sangat tidak mungkin.


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2