Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bonus Chapter 3


__ADS_3

Bonus Chapter 3


Oleh Sept


"Emir! Jangan macan-macam!" sentak Anisa panik. Gadis yang sudah berumur itu pun langsung mendorong bahu Emir. Kemudian menjaga jarak. Ia mengambil satu guling di meletakkan di tengah-tengah mereka.


Melihat aksi Anisa, Emir hanya menelan ludah.


'Astaga ... Astaghfirullahaladzim. Apa yang ada dalam kepalamu ... EMIR!' batin Emir yang merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membayangkan temannya itu yang bukan-bukan.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu, Nis?" tanya Emir senormal mungkin. Padahal dalam tubuhnya sudah ada yang berkedut.


"Kau menakutiku!" jawab Anisa jujur.


"Aku?"


"Jangan menatapku seperti itu!" Anisa kemudian meraih selimut.


Emir pun menghela napas panjang, ibaratnya dia sekarang adalah seekor kucing, dan ada ikan tuna di depannya. Sungguh godaan yang berat.


Beberapa saat kemudian


Anisa masih terjaga, sedangkan Emir pria itu sudah tidak kelihatan di atas ranjang.


"Ke mana dia?" gumam Anisa. Matanya kemudian tertuju pada balkon, ada bayangan seorang pria di sana.


Di luar kamar, untuk mengalihkan pikirannya yang sedikit kotor, Emir pun berteman dengan kepulan asap. Pria itu menatap kosong pada langit gelap. Dilihatnya banyak bintang yang bertaburan. Menemani rembulan malam yang menggantung indah di atas sana.


***


Waktu Subuh


Anisa sudah tidur pulas dalam dekapan seorang pria. Gadis itu tidak sadar kalau sedang tidur dalam pelukan Emir. Sesaat yang lalu, Emir nekat naik ranjang dan rebahan di sebelah Anisa. Ia sengaja juga menyingkirkan guling yang tadi jadi pembatas.


Tanpa sadar, mungkin dikira guling. Anisa malah memeluk tubuh Emir. Tidak mau menolak rejeki, Emir pun membiarkan begitu saja. Ia malah mendekap balik tubuh istrinya itu.


'Mengapa aroma parfum Emir sangat terasa?' batin Anisa yang mulai mengerjap. Suara Adzan subuh, membuatnya terbangun.


"Astaghfirullahaladzim!"


Kaget bangun-bangun dalam dekapan seorang pria, spontan Anisa mendorong tubuh bidang tersebut.


"Aduh!"


Emir yang memang setengah tersadar mengadu kesakitan ketika punggungnya menyentuh pingiran nakas.


"Kenapa mendorongku!" protes Emir kesal.


"Kenapa memelukku!" protes Anisa tidak mau kalah.


"Aku? Kamu semalam yang memeluk duluan."


"Aku? Jangan mengada-ada!" ucap Anisa tidak percaya.


"Lain Kali pasang CCTV, biar kamu nggak asal menuduh!" kesal Emir sembari memegang punggungnya.


"Kalau tahu begitu ... menghindar saja!" celetuk Anisa gengsi.


Emir hanya menggeleng, wajahnya kemudian meringis ketika merabaa punggungnya yang sakit.


"Coba aku lihat!" ujar Anisa lama-lama merasa tidak enak. Sebab sepertinya tadi ia mendorong terlalu keras.


"Nggak usah! Nggak apa-apa!"


"Coba lihat!"


"Baiklah kalau kamu memaksa," ucap Emir. Kebetulan, ia juga mau jahil pada istrinya yang galak itu.


"Mengapa dilepas! Cukup aku sibak saja!" protes Anisa yang melihat Emir justru melepaskan bajunya.


"Periksa sekalian semuanya, biar kelihatan jelas."


Anisa langsung mendengus kesal, tapi ia kemudian prihatin saat melihat ruam di punggung Emir.


"Sebentar, aku oleskan sesuatu."


Anisa kemudian turun dan mencari tas kopernya. Gadis itu kembali naik ranjang lalu mengoles sesuatu di punggung Emir yang ruam.


"Sudah cukup!"


"Sebentar, belum merata."


"Nisa ... hentikan."


"Kenapa kau jadi cerewet sekali sekarang!" protes Anisa.


"Anisa Rozaqo ... aku bilang hentikan. Tanganmu membuat ...!" kata-kata Emir seketika menggantung di udara.


"Tanganku ini seperti tangan dokter!" sela Anisa bangga.

__ADS_1


"Bukan." Emir langsung berbalik, kini keduanya saling berhadapan.


"Oke ... oke. Sudah cukup."


Anisa kemudian akan turun dari ranjang, tapi Emir malah memegang lengannya.


"Mau lagi?" Anisa menunjuk sebelah tangannya yang membawa salep.


"Ya!" jawab Emir singkat lalu mendekatkan wajahnya.


Mata cantik itu langsung melebar, istri Emir tersebut shock saat mendapat serangan bibir dari Emir. Apalagi dengan tiba-tiba lidah itu menerabas masuk tanpa permisi.


Sesaat kemudian, Emir melepaskan diri. Ia menatap ke dalam mata Anisa.


'Apa aku akan ditampar?' batin Emir.


Bukannya ditampar, ia malah melihat Anisa berkaca-kaca.


"Apa aku pria paling buruk? Hingga setelah kuciumm kau malah menangis?" sindir Emir yang kecewa.


Anisa mengusap pipinya, kemudian ia berpaling. Tidak mau bicara pada Emir.


"Baiklah ... tetap kunci hatimu rapat-rapat!" ujar Emir marah. Pria itu kemudian turun dari ranjang. Emir kemudian memakai bajunya lagi.


Setelah itu ia mengambil tas kopernya.


"Pria brengsekkk!" maki Anisa saat melihat Emir sudah memegang knop pintu.


"Kau yang terlalu kejam!" ujar Emir sambil berbalik.


Bukkkkk


Anisa melempar bantal tepat ke punggung suaminya. Ia marah, benci dan entahlah. Rasanya campur aduk. Gadis itu kemudian menutup wajahnya, ia menangis tidak jelas. Membuat Emir geram.


Tap tap tap


Emir melangkah dengan gusar medekati Anisa.


"Aku paling benci dengan wanita lemah dan suka menangis. Hentikan! Oke! Aku tidak akan menyentuhmu lagi!" cetus Emir emosi.


Anisa yang kelihatan kuat dari luar, saat itu tangisnya malah pecah. Membuat Emir mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nisaaa ... hentikan! Mungkin kamar sebelah akan mendengar suara tangismu. Aku hanya menciumm sekali! Tapi kamu sudah berlagak seperti anak gadis yang dinodaii!" protes Emir sambil berkacak pinggang di samping ranjang.


Marah dengan ucapan Emir, Anisa mengambil bantal. Melempar lagi ke arah pria tersebut. Belum puas, ia juga melepaskan kain selimut.


"Hanya usiamu saja yang matang, sikapmu masih seperti anak-anak!" cibir Emir lagi.


"Siapa yang kau bilang anak-anak?"


Ganti Emir yang membuang muka.


"Katakan!"


"Jaga jarak! Jangan terlalu dekat denganku!" ketus Emir.


Anisa yang sedang kesal, ia lantas semakin mendekat.


"Kalau aku tidak mau kenapa? Kamu mau apa?" tantang Anisa.


"Mungkin aku tidak hanya sekedar menyentuh bibirmu!" jawab Emir lirih.


"Kau memang mesyumm!" tuduh Anisa.


"Mesyum? Astaga ... aku suamimu. Jadi aku berhak mendapat hakku!" ucap Emir mantap.


"HAK?" Seketika Anisa memeluk tubuhnya sendiri.


"Ya ... bagaimana jika aku menuntut hakku?"


Anisa menelan ludah, ia mundur. Benar-benar harus menjaga jarak.


"Itu ...," Anisa mendadak jadi gagu. Gadis cerdas itu tiba-tiba jadi bingung.


Jika Emir minta hakknya, itu tidak salah. Sebab mereka sudah menikah. Tapi tetap saja aneh, mungkin ia butuh waktu. Bukannya langsung diserang seperti tadi.


"Berikan aku waktu," ucap Anisa kemudian.


"Sampai kapan? Ketika aku ingin sekarang, apakah harus aku salurkan pada wanita di luar sana?"


Seketika Anisa langsung melotot.


"Lakukan jika kamu ingin palu hakim!" ancam Anisa.


"Lalu apa aku harus pakai sabun atau handbody?" sindir Emir.


Mata Anisa langsung menajam.


"Aku salah menilai, kamu memang pria berpikiran kotorr!"

__ADS_1


"Ya, kamu benar ... dalam kepalaku sekarang justru membayangkanmu yang bukan-bukan!"


Anisa bisa melihat jakun Emir yang sudah naik turun. Hal itu semakin membuatnya ngeri.


"Emir ... apa yang kamu pikirkan tentangku?"


Anisa ketakutan, karena ada yang menonjol di bawah sana.


"Aku pria normal, satu kamar dengan gadis sepertimu ... aku tidak bisa mengendalikan isi kepalaku."


"Memangnya apa yang ada dalam kepalamu?" tanya Anisa dengan jantung yang ikut berdegup kencang. Karena matanya melirik sesuatu yang semakin menonjol tapi bukan bakat.


"Kamu pasti lebih paham, Anisa," jawab Emir yang merasa celananya makin sempit.


"Emir ... kenapa kamu mesyumm sekali!" ujar Anisa kemudian pasrah. Ia duduk di tepi ranjang karena kakinya semakin lemas.


"Maaf, karena ini memang sudah naluri seorang pria. Sudah kodratnya, kalau kamu nggak mau malam ini ... dan belum siap. Tidak apa-apa. Aku tidak memaksa."


Emir kemudian beranjak, ia kembali meraih kopernya.


"Emir ...!"


Dipanggil Anisa, pria itu tidak menoleh tapi berhenti sejenak.


"Kita belum mencintai ... mengapa ingin melakukan itu?"


Mendengar pertanyaan Anisa, barulah Emir berbalik.


"Cinta memang penting, tapi ia juga bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Jadi bagimu tidak masalah kita melakukan itu sebelum saling mencintai?" tanya Anisa dengan nada miris.


"Bagaimana bisa Kita saling mencintai kalau kamu masih menutup diri? Bahkan mendirikan tembok besar yang sulit untuk ditembus."


Anisa terdiam sesaat, sebenarnya ciumann Emir tadi tidak buruk-buruk amat. Kalau boleh jujur, Emir sudah meninggalkan suatu kesan dalam dirinya.


"Baikkan, lakukan apa yang ingin kamu lakukan," ucap Anisa kemudian.


Bagaikan mendapat oase di padang pasir yang tandus. Begitu dapat lampu hijau, Emir langsung melempar kopernya. Celananya yang sejak tadi sempit langsung ia lempar juga.


***


"Aku memang belum mendapat cintamu, tapi tak kukira ... akulah yang pertama." Emir mengusap rambut istrinya.


Anisa hanya terdiam, ia bisa merasakan sentuhan lembut kulit Emir yang membuatnya nyaman. Belaian yang lama sekali ia rindukan.


"Emir ..."


"Hemm."


"Kenapa dia tegak lagi?" tanya Anisa polos.


"Oh ... !"


"Kau mesyumm sekali!"


Emir terkekeh, tidak bisa menepis tuduhan Anisa. Sebab tuduhan itu benar apa adanya. Apalagi Anisa sudah melihat bukti nyata.


"Kenapa kamu malah tertawa? Ini tidak lucu."


Emir kemudian membetulkan posisi, ia separuh duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Aku pria normal, melihatmu seperti ini bagaimana aku tidak berdiri?"


Anisa mendesis, "Jangan mencari alasan. Pikiranmu memang harus dicuci!"


"Nggak bisa dicuci, ini hanya bisa dimasukkan lagi!"


BUGH ...


Anisa langsung menonyor da daa bidang suaminya.


Gemas, Emir malah semakin gencar menggoda istrinya.


"Aku tahu banyak gaya, Kita coba yang lain ... mau?"


Wajah Anisa langsung menghangat, ia sama sekali tidak menduga akan menikahi teman yang mesyumm tersebut.


"Masih perih! Aku nggak mau!"


"Coba aku lihat!"


Mata Anisa lembali melotot, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Emir sudah memegang kendali penuh.


"Emirrrrrrr!!!!" pekik Anisa karena kelakuan suaminya itu.


***


Sudah ya, bonus Chapter selesai ya. Hehehe ... Nada dan Taqi sudah bahagia, begitu juga Anisa dan Emir. Kadang jodoh memang susah ditebak. Pacaran dengan siapa, tapi menikahnya dengan siapa. Kadang juga menikah dengan temennya sendiri atau bahkan tetangga sendiri, ada juga gurunya sendiri. Begitulah jodoh, selalu akan jadi misteri.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2