Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 20 Kekasih Baru Arka


__ADS_3

.....


"Ibu hanya memberi saran saja Ra, karena ibu lebih tahu pria seperti apa Kevin itu!" ungkap ibu menatap wajah Aurora.


"Aku mengerti kekhawatiran ibu, tapi aku mohon untuk masalah ini tolong biarkan aku yang menentukan bu!" pinta Aurora dengan suara pilu.


"Baiklah, ibu tidak akan ikut campur lagi untuk permasalahan ini! ibu akan serahkan sepenuhnya padamu," ucap ibu meninggalkan Aurora dan masuk ke kamarnya.


Beberapa saat setelah ibu masuk ke kamar dan Aurora tengah bersiap untuk menemui Arka di tempat yang telah dijanjikan, tiba-tiba datang seseorang ke rumahnya.


Tok ... tok ...tok ...


"Assalamualaikum," ucap salam terdengar.


"Waalaikumsalam, sebentar," jawab Aurora dan bergegas menghampiri pintu.


Krek ...


"Arka ... kok kamu kesini?" tanya Aurora heran.


"Kita janjian di cafe the Fame kan," ucap Aurora memastikan lokasi pertemuannnya dengan Arka.


"Iya memang, tapi aku sengaja jemput kamu dulu kesini," ungkap Arka.


"Hmm ... jangan bilang kalau kamu khawatir sama aku!" ucap Aurora menaikan alisnya di hadapan Arka.


"Hiiih ... jangan over pede dulu Ra! aku jemput kamu kesini karena aku tahu kamu akan berangkat ke cafe itu dengan berjalan kaki, jadi dari pada buang-buang waktu nungguin kamu lebih baik aku jemput kamu kesini," ungkap Arka dengan nada meledek.


"Sudah kuduga, kamu gak akan mau ngaku!" ucap Aurora sambil meraih tasnya.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Aurora pada Arka.


Tiba-tiba ibu muncul dari arah kamar dan terkejut melihat Arka.


"Pak Arka ya?" tanya ibu memastikan.


"Betul bu, saya Arka," jawab Arka dengan begitu sopan.


"Jadi maksud kamu, kamu mau pergi dengan pak Arka ya Ra? tanya ibu menatap Aurora.


"Iya bu, dia teman yang aku maksud!" jawab Aurora singkat pada ibu.


"Ooo ... begitu, silahkan masuk dulu pak!" ajak ibu pada Arka yang berdiri di depan pintu.


"Terima kasih banyak bu, lain kali saya mampir lagi kesini!" tolak Arka dengan ucapan halus.


"Saya permisi dulu bu," pamit Arka sambil menarik tangan ibu dan menciumnya.

__ADS_1


"Arka benar-benar pemuda yang sopan, tidak seperti Kevin yang terang-terangan selalu membantah ucapan orang tua," gumam ibu.


"Iya pak, saya titip Aurora ya!" pesan ibu dengan wajah tersenyum pada Arka.


"Baik bu," sahut Arka dan berlalu dari hadapan ibu.


"Arka ayo cepat," teriak Aurora pada Arka.


Arka kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat, ia mengejar Aurora yang telah lebih dulu berjalan darinya.


"Kita mau naik vespa ini ya?" tanya Aurora mengerutkan dahinya.


"Iya Ra, ini vespa kesayangan aku lho!" jawab Arka.


"Kesayangan kok tampilannya seperti ini? aku gak mau ya nanti suruh dorong vespa ini kalau sampai mogok di tengah jalan!" ucap Aurora dengan wajah serius.


"Iya ... iya ... aku gak akan minta kamu yang dorong, biar vespanya saja aku suruh dorong kamu!" sahut Arka meledek Aurora.


"Ishh ... " desis Aurora menanggapi pernyataan Arka.


"Sudah cepat naik," ajak Arka pada Aurora yang masih berdiri di sampingnya.


Aurora kemudian naik dan duduk di belakang Arka, mereka tampak begitu serasi saat menaiki vespa tua itu.


"Pegangan Ra, aku gak mau kamu jatuh dan ngerepotin aku nantinya!" ucap Arka sambil menarik lengan Aurora dan meletakannya pada pinggulnya.


"Jangan macam-macam kamu ya!" teriak Aurora.


Aurora akhirnya meraih pinggul Arka dan mendekapnya hingga mereka tiba di tempat yang dijanjikan sebelumnya.


Arka dan Aurora kemudian memesan beberapa menu yang terdapat di cafe tersebut. Sesaat sebelum pesanan mereka tiba, Arka menanyakan pada Aurora tentang pembicaraan mereka malam kemarin.


"Ra, sebenarnya kamu mau bicara apa? apa yang bisa aku bantu untuk kamu?" tanya Arka penasaran.


"Hmm ... aku bingung Ka harus memulai dari mana!" yang jelas aku gak tahu harus minta tolong sama siapa lagi," ungkap Aurora dengan wajah pilu.


"Sekarang kamu jujur sama aku, kenapa kamu berbohong pada ibu bahwa aku adalah atasan kamu!" tanya Arka kembali.


"Sebenarnya aku dipecat Ka dari pekerjaanku dan aku belum sempat kasih tahu ibu tentang masalah ini!" ungkap Aurora pada Arka.


"Dipecat? kok bisa? masalahnya apa Ra?" tanya Arka semakin penasaran.


Aurora kemudian menceritakan seluruh permasalahan pribadinya pada Arka, dari awal pertengkaran ayah dan ibunya hingga pemecatan dirinya terjadi.


Arka yang mendengar kisah Aurora tentu terkejut, ia tak menyangka bahwa gadis yang ada dihadapanya kini memiliki masalah yang begitu rumit.


"Aku gak nyangka kamu memiliki masalah serumit ini Ra, " ucap Arka menatap wajah Aurora dengan hati yang pilu.

__ADS_1


"Lalu besok adalah hari terakhir kamu bekerja?" tanya Arka pada Aurora.


"Iya ... besok hari terakhir aku bekerja sebelum aku benar-benar menjadi pengangguran!" ungkap Aurora dengan suara yang terdengar lemas.


"Hm ... Jadi apa yang bisa aku bantu untuk kamu Ra?" tanya Arka dengan perasaan iba.


"Aku minta kamu untuk terus berpura-pura pada ibu bahwa kamu memang benar-benar atasanku, aku ingin ibu tahu bahwa aku masih bekerja di toko kue itu," pinta Aurora dengan suara memelas.


"Baiklah aku akan bantu kamu Ra, tapi dengan satu syarat!" jelas Arka.


"Syarat? syarat apa?" tanya Aurora bingung.


"Aku minta tolong kamu lakukan hal yang sama di depan mamaku, aku minta kamu untuk berpura-pura sebagai kekasihku! bagaimana, kamu bisa kan?" tanya Arka menatap wajah Aurora.


"Berpura-berpura menjadi kekasihmu?" tanya Aurora, seolah keberatan dengan persyaratan yang diberikan Arka.


"Baiklah, aku terima persyaratan ini!" ucap Aurora menarik lengan Arka dan menjabatnya. Ia sadar bahwa hanya Arka yang saat itu dapat membantu menangani permasalahannya.


"Ok ... kita deal ya!" ucap Arka tersenyum pada Aurora.


Mereka berdua akhirnya terlibat dalam masalah satu sama lain hingga saling membutuhkan.


"Oh iya Ra, mamaku bilang ingin bertemu dengan calon istriku nanti, jadi kamu bisa kan ke rumahku dan bersandiwara untukku?" tanya Arka menatap Aurora dengan wajah serius.


"Istri? kamu gila ya Ka?" kita ini hanya sandiwara, bagaimana kalau orang tuamu benar-benar ingin menikahkan kita!" tegas Aurora.


"Maaf Ra, maksudku kekasih," ucap Arka meralat ucapannya.


"Hah ... kenapa aku bisa sepolos itu di depan Aurora!" gumam Arka dalam hati.


"Oh ... aku pikir benar-benar calon istri! ya sudah nanti kamu bilang saja, kapan aku harus ke rumah dan bertemu dengan orang tuamu," ucap Aurora sambil menikmati minuman yang telah dihidangkan di mejanya.


Keduanya kemudian menikmati menu yang mereka pesan, sesekali Arka mencuri-curi pandangannya pada Aurora yang tengah duduk dihadapannya.


"Akhirnya aku punya alasan untuk terus bersama kamu Ra, walaupun saat ini hanya sekedar sandiwara saja!" gumam Arka menatap Aurora.


Bersambung.....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Sekali saja engkau menutupi kejujuran maka akan ada banyak pengorbanan yang engkau lakukan demi mengubur kebohongan lainnya.


🍂🍂🍂🍂


Terima kasih kepada readers yang masih setia menunggu kelanjutan kisah ini. Apresiasi dari kalian semua sangat memotivasi Author untuk terus melanjutkan karya ini hingga akhir 🌸

__ADS_1


Salam hangat


❤❤❤


__ADS_2