Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 41 Situasi Menegangkan


__ADS_3

Kevin hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Aurora yang terus menghujani dirinya.


"Rara ... Rara ... kamu cemburu?" tanya Kevin diiringi dengan tawanya menatap wajah Aurora.


"Cemburu! apa hakku untuk cemburu dengan pria dari kekasih wanita lain," tegas Aurora dengan hati yang berdebar saat mengatakannya.


"Kalau kamu memang tidak cemburu, kenapa kamu semarah itu saat tahu aku pergi dengan seorang wanita!" tanya Kevin kembali, sesekali menoleh ke arah Aurora.


"Aku hanya tidak suka ada wanita lain yang dekat dengan kamu Vin!" jelas Aurora dengan wajah tertunduk malu.


"Apa namanya itu, kalau bukan cemburu? sudah-sudah jangan cemberut gitu dong, dia hanya klien bisnisku kok!" ungkap Kevin sambil memegangi telapak tangan kanan Aurora dengan lembut.


Aurora terkejut sesaat tangannya dipegang oleh Kevin, ia langsung menarik lengannya dari pegangan Kevin.


"Apa benar dia hanya teman bisnis?" tanya Aurora kembali.


"Iya, apa perlu aku buktikan sama kamu?" tanya Kevin, seolah meyakinkan kembali pernyataannya pada Aurora.


"Gak perlu Vin, aku percaya kok!" sahut Aurora dengan suara halus sambil tersenyum ringan.


"Nah gitu dong, kan manis kalau senyum seperti itu!" ucap Kevin mencoba merayu Aurora.


"Vin ... sampai kapan kita akan berpura-pura untuk tidak saling mengenal seperti ini?" tanya Aurora dengan nada serius.


"Emm ... kenapa memangnya Ra? kamu keberatan dengan kesepakatan kita kemarin?" tanya Kevin menatap Aurora.


"Aku hanya ingin orang-orang tahu bahwa aku memang dekat dengan kamu, aku sedikit risih saat Gilang terus saja membuntuti setiap gerak-gerikku di kantor," ungkap Aurora dengan perasaan tak nyaman yang di dirasakannya.


"Lho ... memang Gilang benar-benar mendekati kamu?" tanya Kevin dengan wajah heran.


"Iya ... kemarin jam istirahat pun dia menemaniku di pantry, lalu saat pulang juga dia menawariku tumpangan bersamanya," ungkap Aurora pada Kevin yang terlihat menunggu penjelasan darinya.


"Aku pikir dia main-main saat mengatakannya kemarin," gumam Kevin dalam hati.


"Nanti aku coba bicara dengannya, untuk tidak mengganggumu lagi!" tegas Kevin dengan wajah serius.


Aurora hanya mengangguk saat Kevin mengatakan itu padanya. Kini perasaannya sedikit lebih tenang karena Kevin akan ada membelanya saat ia merasa tak nyaman atas sikap Gilang padanya.


"Kamu masuk duluan ya Ra! seperti biasa aku akan menyusul di belakangmu," pinta Kevin pada Aurora sesaat setelah kendaraannya tiba di kantor.

__ADS_1


Aurora kemudian keluar dari mobil Kevin dan ternyata Gilang sudah berdiri di depan pintu masuk. Ia memperhatikan Aurora yang baru saja keluar dari mobil Kevin.


"Gilang ... sejak kapan kamu berdiri disini?" tanya Aurora heran, ia khawatir Gilang melihatnya keluar dari kendaraan Kevin.


"Aku disini sudah hampir 15 menit yang lalu Ra, sengaja menunggu kedatangan kamu!" jawab Gilang menatap Aurora dengan bibir tersenyum.


"Jadi ... kamu lihat aku keluar dari mobil tadi?" tanya Aurora dengan suara gugup.


"Aku lihat semuanya Ra ... ayo kita masuk sama-sama!" ajak Gilang pada Aurora.


Aurora hanya mengiyakan tanpa menolak ajakan Gilang padanya. Ia khawatir Gilang akan menceritakan pada orang-orang kantor bahwa ia memang memiliki hubungan dengan Kevin.


"Selamat bekerja ya Ra, aku tunggu kamu jam makan siang nanti!" ucap Gilang, lalu berjalan masuk ke ruangan kerjanya.


Tak lama Kevin pun masuk dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia berjalan lurus, tanpa menoleh ke arah pantry tempat Aurora berada.


Krek ...


Handle pintu ditekan Kevin lalu ia masuk dalam ruangan yang sama dengan Gilang.


"Lang ... loe benar-benar niat buat dekati Aurora? gua pikir omongan loe kemarin hanya main-main," ucap Kevin dengan tawa sinisnya.


"Kenapa memangnya? kok you kaya gak terima gitu Vin, gua dekati Aurora!" ucap Gilang dengan tawa kecilnya.


Suasana di ruangan itu tiba-tiba memanas. Kevin langsung menghampiri Gilang dengan emosinya yang memuncak.


"Apa maksud dari pertanyaan loe itu?" tanya Kevin dengan suara perlahan di wajah Gilang, dengan tangannya yang mencengkeram kerah kemeja Gilang.


"Santai bro ... gak perlu main kasar begini! kita bisa omongin baik-baik kan," ucap Gilang sambil melepaskan cengkeraman tangan Kevin dari kemejanya.


"Gua cuma heran aja sama ucapan you kemarin, yang mengatakan kalau you sama sekali gak tertarik dengan gadis seperti Aurora, tapi nyatanya hari ini you ajak dia semobil dengan you," ucap Gilang sambil menunjuk ke arah Kevin.


"Jadi mau loe apa sekarang?" tanya Kevin dengan wajah begitu penuh dengan amarah.


"Gua cuma mau you bantu gua dekat dengan Aurora, simple kan! kalau gak bisa pun gak masalah, cuma gua gak janji rahasia ini bakal tetap gua simpan," ucap Gilang dengan nada setengah mengancam pada Kevin.


"Oke ... gua turuti mau loe, tapi gua minta loe gak akan bocorin apa yang loe lihat tadi!" ucap Kevin, meminta kesepakatan dengan Gilang untuk tidak menceritakan kedekatannya dengan Aurora.


"Deal ..." ucap Gilang sambil menepuk bahu Kevin dan berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya dia menjadikan Aurora sebagai korbannya, aku tidak akan membiarkan itu," gumam Gilang dalam batinnya.


Sementara Kevin masih saja tak terima dengan ancaman Gilang padanya. Tatapannya tajam pada teman seruangannya itu.


"Kamu pikir bisa mendapatkan Aurora dengan mudahnya! bahkan aku rela meninggalkan Ranti untuk Aurora," gumam Kevin sambil menatap penuh emosi pada Gilang.


Bagi Kevin, Ranti hanya wanita pemuas nafsunya yang kini sudah tak berarti lagi. Ditambah sifat Ranti yang cukup matrealistis pada Kevin, yang membuatnya harus merogoh kantong dalam-dalam untuk memuaskan kebiasaannya berbelanja barang-barang mewah.


Tak lama obrolan menegangkan keduanya berakhir, masuklah beberapa karyawan lain yang juga satu departemen dengan Gilang dan Kevin dalam ruangan itu.


"Tumben loe Lang, jam segini sudah sampai kantor!" ucap salah satu staf lainnya pada Gilang.


"Iya dong, gua ada semangat baru nih masuk kantor!" sahut Gilang dengan senyumnya.


"Urusan cewe kayanya nih," sahut salah seorang lainnya pada Gilang.


"Yoi bro ..." jawab Gilang dengan santainya


"Di kantor ini Lang? siapa sih, gua jadi penasaran siapa orangnya!" tanya rekan wanita di samping meja kerjanya.


"Nanti juga kalian tahu orangnya! standar gua sih gadis biasa karena gua niat serius bukan untuk main-main dan hanya bersenang-senang," ucap Gilang sambil melirik ke arah Kevin dengan tatapan sinisnya.


Kevin yang mendengar pernyataan itu, semakin tersulut emosinya. Ia menggerakan rahangnya dengan tatapan tajam pada Gilang.


"Kita lihat saja, siapa yang akan menang dalam persaingan ini," gumam Kevin dalam batinnya, sambil saling tatap dengan Gilang yang terduduk di meja kerjanya.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Sebagian dari kita selalu saja sibuk menginginkan nikmat dan kebahagiaan orang lain, hingga lupa pada banyaknya nikmat yang telah kita terima saat ini.


Contoh kecil saja bernafas.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat

__ADS_1


❤❤❤


 


__ADS_2