Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 32 Bingkisan Misterius


__ADS_3

Mamanya yang melihat wajah putranya seketika berubah, kemudian mencoba menenangkan dengan nasehat-nasehatnya.


"Alhamdulillah kalau begitu, yang terpenting kan saat ini Aurora telah memiliki pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya," tutur mama.


"Terlepas dari siapa tawaran pekerjaan itu ia terima, insya Allah itu akan sangat membantu baginya," tambah mama menenangkan Arka.


"Iya ma, Arka mengerti maksud mama! terima kasih ya ma, mama tidak pernah lelah untuk menasehati anak mama yang tak lagi kecil ini " ucap Arka mengelus-ngelus tangan mamanya.


Sesaat setelah Arka mengakhiri teleponnya untuk Aurora, Aurora segera menerima panggilan teleponnya dari Kevin.


"Halo ... iya Vin," ucap Aurora pertama kali saat menjawab teleponnya.


"Ra, pak Hanif bilang kalau kamu sudah bisa mulai bekerja senin nanti! seragam kerja akan diberikan menyusul saat kamu bekerja di hari pertama," ucap Kevin.


"Alhamdulillah, senin aku sudah bisa bekerja Vin? tanya Aurora kembali, ia begitu tak percaya bahwa dirinya kini sudah mendapatkan pekerjaan.


"Iya Ra, senin kamu bisa berangkat ke kantor bersamaku!" ucap Kevin.


"Oke Vin, seperti biasa aku akan menunggu kamu di depan jalan ya!" timpal Aurora pada Kevin.


Setelah panggilan telepon mereka berakhir, Aurora dan Kevin merebahkan tubuh mereka masing-masing untuk beristirahat. Berbeda halnya dengan Arka yang selalu saja memikirkan perasaannya pada Aurora.


"Arka harus bagaiman pa? andai saja papa masih disini bersama Arka, Arka akan meminta nasehat papa tentang perasaan ini sebagai sesama pria," batin Arka sambil memandangi langit-langit kamarnya.


"Terlalu egois memang, kalau aku terlalu menginginkan Aurora namun Aurora lebih bahagia dan memilih pria lain ketimbang pria sederhana sepertiku," batinnya berkata dalam hati.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk Aurora," gumamnya kembali sambil membalikkan badannya ke samping dan tersenyum dengan mata terpejam.


Hari itu berlalu dan berganti hari baru. Kesibukan keluarga Aurora di sabtu pagi terlihat begitu kompak. Kedua adik perempuannya bersiap berangkat sekolah, sementara Aurora membantu ibu membereskan rumah dan kamarnya setelah beberapa lama ia abaikan.


"Bu, Bintang dan Nova berangkat sekolah dulu ya!" ucap kedua adiknya setelah menyantap sarapan mereka.


"Hati-hati dek!" sahut Aurora pada kedua adiknya, tak terkecuali ibu.


Dika yang asyik bermain dengan berbagai mainannya di ruang tengah tampak begitu serius.


"Kak, kemarin Dika dibelikan mainan oleh ayahnya Rafa, Dika suka kak sama mainannya!" ucap Dika dengan polos pada Aurora.


"Wah, baik sekali ayahnya Rafa! mana coba kakak lihat mainannya," tanya Aurora pada adik bungsunya.


"Ini kak, bagus kan kak!" ucap Dika sambil menyodorkan robot optimus prime tanpa lengan di sisi kirinya.


"Ini sih bagus banget dek, kakak aja suka! oh ya, Dika gak lupa untuk bilang terima kasih kan sama ayahnya Rafa?" tanya Aurora.

__ADS_1


"Iya kak, Dika gak lupa kok!" ucap Dika sambil menarik kembali robot yang dipegang kakaknya.


Haahh ....


"Doakan kakak ya de, kalau kakak bisa betah bekerja di kantornya kak Kevin dan gaji kakak mencukupi untuk kita semua, kakak akan belikan kamu mainan," batin Aurora sambil menghela nafasnya.


Hingga terik matahari berada tepat dia atas kepala, Aurora masih membenahi dan membersihkan perabot rumahnya yang berdebu. Sementara ibu sedang membersihkan gabah dan menir yang terdapat dalam beras yang dibelinya. Saat ibu keluar dari pintu dapur, ibu berteriak memanggil-manggil Aurora dengan sangat kencang.


"Ra ... Ra ... kesini sebentar!" panggil ibu dari halamab belakang.


"Iya bu sebentar," sahut Aurora. Ia lalu meletakan kemoceng di atas rak buku dan menghampiri sang ibu.


"Ada apa bu?" tanya Aurora dengan heran.


"Ini ada bingkisan dan sebuah surat untukmu!" ucap ibu dengan wajah bingung, sambil memberikan sepucuk surat yang tertuju pada putrinya.


"Ibu gak lihat siapa yang simpan bingkisan ini disini?" tanya Aurora sambil menunjuk pada sebuah bingkisan besar yang berisi bahan-bahan kebutuhan pokok.


"Ibu gak lihat siapapun, makanya ibu kaget tiba-tiba bingkisan ini sudah ada disini!" jawab ibu dengan wajah bingungnya.


"Ya sudah bu, kita angkat dulu ya bingkisan ini ke dalam!" ucap Aurora, mengajak ibunya untuk mengangkat bingkisan itu bersama-sama.


"Coba kamu baca dan teliti Ra, mungkin kamu tahu tulisan tangan siapa di surat itu," ucap ibu menatap sepucuk surat yang ditujukan untuk putrinya.


"Semoga bingkisan kecil ini bisa sedikit meringankan beban kamu ya, jaga kesehatan dan jangan lupa untuk istirahat yang cukup, dari seseorang yang mengagumi dan mencintai kesederhananmu," tulis orang misterius yang mengirimkan bingkisan berikut dengan sepucuk surat disisinya.


"Kamu tau itu tulisan siapa Ra?" tanya ibu penasaran.


"Aku juga belum tahu bu, nanti aku akan cari tahu siapa sebenarnya yang mengirim semua ini!" ucap Aurora dengan wajah serius.


Aurora tak memungkiri, hatinya begitu senang dan berbunga kala mengetahui dan membaca isi dalam surat tersebut, namun ia juga dibuat bingung tentang siapa pengirim misterius yang begitu perhatian padanya.


Aurora lalu mencoba menelpon Kevin, orang pertama yang ia curigai sebagai pengirim misterius itu.


Tut ... tut ... tut ...


Terdengar nada tunggu saat Aurora menanti jawaban panggilan dari Kevin.


"Halo Ra, ada apa sepagi ini kamu telepon?" tanya Kevin saat menerima panggilannya dari Aurora.


"Kamu di rumah ya Vin?" tanya Aurora penasaran.


"Iya, aku masih ngantuk Ra! nanti aku hubungi kamu lagi ya," ucap Kevin lalu menutup panggilannya pada Aurora.

__ADS_1


"Ternyata bukan Kevin!" batin Aurora menduga-duga.


Ia masih saja dibuat penasaran tentang kiriman di halaman belakang rumahnya. Dugaannya kini tertuju pada Arka, pria cuek yang ia anggap senasib dan sependeritaan dengannya.


"Aku akan coba hubungi Arka, mungkin saja dia yang mengirimkan bingkisan ini," gumam Aurora sambil memandangi nomer kontak Arka.


"Tapi mana mungkin dia bisa memberikan ini secara cuma-cuma, motornya saja sudah tua dan hampir menjadi rongsokan! jadi tidak mungkin Arka orang yang mengirimkan semua ini," tambah Aurora dalam batinnya.


"Ah, tidak ada salahnya aku mencari tahu dulu," ucap Aurora. Jarinya menekan panggilan dengan kontak yang bertuliskan Arka.


"Assalamualaikum, Ra," jawab Arka pada teleponnya dari Aurora.


"Waalaikumsalam Ka, kamu ada dimana sekarang?" tanya Aurora.


"Aku di rumah nih, lagi bantu mama memasak! ada apa Ra? ga biasa-biasanya kamu telepon seperti ini," tanya Arka seolah penasaran pada Aurora yang menghubunginya.


"Hm ... ga ada apa-apa ko Ka, aku cuma mau tahu kabar mama aja! gimana kabar mama?" tanya Aurora pada Arka.


"Alhamdulillah, mama sehat dan baik! ini mama ada disebelahku, mau bicara sama mama?" tanya Arka.


"Em ... ga usah deh Ka, aku cukup senang kok tahu kalau mama baik-baik saja!" tolak Aurora dengan halus, namun Arka tak mendengar ucapan Aurora yang berusaha menolak obrolan dengan mamanya.


"Ini ma, Aurora mau bicara dengan mama!" ucap Arka, seraya memberikan ponselnya pada sang mama.


"Aduh Arka, aku harus bicara apa sama mama sekarang," batin Aurora menggerutu.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu sibuk selfie sana sini yang akhirnya akan menggugurkan pahala akhirat nanti.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤


 

__ADS_1


__ADS_2