Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 8 Pria Tampan


__ADS_3

Penjelasan Aurora membuat ibunya terkejut, sebegitu besar kah sakit yang anaknya rasakan hingga ia memiliki dendam dan membenci teman yang selama ini sudah bagaikan saudara baginya. Itulah yang terbesit dan mengganggu pikiran sang ibu


"Apakah dengan membenci Lani perasaanmu menjadi tenang?" tanya ibu, tatapan kali ini begitu serius pada Aurora.


"Apakah ibu tidak merasakan sakit saat melihat kenyataan tadi? atau ibu memang benar-benar sudah melupakan ayah?" tanya Aurora menimpali tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.


"Aurora...." teriak sang ibu.


"Kenapa bu? aku lelah dengan keadaan ini," ucap Aurora dengan tangis pecah. Hatinya seakan tak lagi dapat menahan emosinya saat itu.


"Dengarkan ibu nak, semua ini adalah cobaan dari Allah, jadi kita harus kuat dan sabar," ucap ibu menghampiri dan memeluk Aurora yang tengah menangis sejadi-jadinya.


Tangis Aurora semakin tak terkendali, ia meluapkan seluruh emosi dalam hatinya ketika pelukan sang ibu begitu terasa menghangatkan.


"Benar nak, keluarkan saja semuanya agar perasaanmu menjadi lebih tenang," ucap ibu yang seolah memahami betul perasaan putri sulungnya tersebut.


"Kak Ara kenapa bu, kok nangis?" tanya adik bungsu Aurora yang tiba-tiba pulang dari rumah bibinya.


"Kakak gak apa-apa de, cuma lagi sakit aja, kamu main lagi ya sama teman-teman," ucap Aurora beralasan, ia seketika menghentikan tangisnya agar Dika tidak lagi melihatnya menangis. Kasih sayang Aurora kepada adiknya-adiknya begitu besar, termasuk pada Dika adik bungsunya.


"Aku pamit keluar dulu bu," ucap Aurora yang meninggalkan ibunya begitu saja.


"Semoga saja kamu tetap kuat melewati cobaan ini Ra," harap sang ibu pada putrinya yang telah beranjak dewasa.


Aurora yang masih diselimuti dengan amarah dan kekecewaannya, siang itu memutuskan mengunjungi suatu tempat. Tempat yang cukup di kenal sebagai area nongkrong para pasangan muda-mudi untuk sekedar minum dan saling bercengkrama.


Duduklah Aurora di salah satu kursi yang kosong, tangannya meraih menu list yang terdapat di atas meja. Tidak menunggu lama setelah Aurora tiba, pelayan dengan penampilan sederhana pun menghampirinya.


"Pesan apa neng?" tanya seorang pelayan.


"Jus alpukat aja bang," jawab Aurora singkat.


Beberapa orang pria yang tak jauh dari tempat Aurora duduk, mencoba menggodanya. Tampang usia mereka, tak berbeda jauh dengan usia Aurora saat itu.


"Ko cuma pesan minum aja sih cantik?" goda salah seorang pria, dan diikuti gelak tawa rekannya yang lain.


Aurora yang merasa risih dengan para pria tersebut berusaha untuk tidak meladeni dan menimpalinya.


"Sudah... sudah... kalian ini apa-apaan sih! beraninya mencoba menggoda wanita," teriak salah satu dari kerumunan pria yang duduk tak jauh dari Aurora. Seketika gelak tawa dan canda mereka terhenti.


Suara keras yang diucapkan pria tersebut sontak membuat Aurora kaget dan menoleh ke samping. Ia penasaran dengan pria yang baru saja mencoba membelanya dari para pria pengganggu. Begitu terkejutnya Aurora saat menoleh ke samping, ia melihat ada seorang pria tampan sedang menghampirinya.


"Kamu gak apa-apa kan? maafin teman-teman aku ya, mereka kadang suka gak sopan," ucap pria tampan pada Aurora. Aurora yang sedang duduk, hanya bisa menatap penuh takjub pada ketampanan pria yang ada dihadapannya, hatinya berdegup kencang saat pria itu duduk di depannya.

__ADS_1


"Gak masalah kan aku duduk disini?" tanya pria tampan pada Aurora.


"Hmm.. silahkan," jawab Aurora sambil tersenyum ringan.


🌸 Visual Arka 🌸



Source: Jirayulaongamanee.blogspot.com


"Oh ya kenalin nama aku Arka, nama kamu siapa?" tanya Arka sambil mengulurkan tangannya pada Aurora.


"Aurora," ucap Aurora sambil meraih tangan Arka.


"Oh Aurora, nama yang cantik, sama cantik dengan pemilik namanya" goda Arka pada Aurora.


Aurora hanya membalas dengan senyuman pada Arka yang terus menggodanya. Tangannya membuka layar ponsel yang ia ambil dari tasnya.


"Maaf, aku harus harus segera pulang," pamit Aurora setelah melihat waktu pada ponselnya menunjukan pukul 14.15.


"Aku antar kamu ya?" ucap Arka menawarkan diri untuk mengantarkan Aurora pulang, namun ditolak oleh Aurora karena merasa tidak enak hati harus di antar oleh pria yang baru saja di kenalnya.


"Gak perlu, rumahku dekat kok dari sini lagi pula daerah rumahku hanya cukup untuk dilalui motor saja," tolak Aurora dengan penuh kehati-hatian.


"Oh... maaf kalau begitu," ucap Aurora yang tersipu malu saat mengatakannya. Bayangannya meliar saat Arka mengatakan akan mengantarnya pulang ke rumahnya.


"Haduh, bodohnya aku membayangkan pria tampan ini adalah putra dari seorang pengusaha besar dan memiliki mobil yang mewah, haaah.... bayangan bodoh apa ini?" gumam Aurora dalam hati, wajahnya memerah dan tertunduk malu.


" Benar kamu gak mau aku antar pulang?" tanya Arka memastikan.


"Gak perlu, makasih ya!" Aurora berjalan berlalu meninggalkan Arka yang masih duduk di kursinya.


"Tunggu Aurora! apa aku boleh minta nomer ponsel kamu?" tanya Arka dengan malu-malu.


"Kapan-kapan ya, kalau kita ketemu lagi," ucap Aurora sambil melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.


Dengan wajah yang bingung, Arka hanya mengerutkan dahinya melihat Aurora pergi.


"Cantik sih tapi agak aneh," gumam Arka yang terbangun dari duduknya.


"Gimana ka, loe dapet nomernya?" teriak salah seorang temannya.


"Enggak, gua rasa agak aneh deh dia," sahut Arka pada temannya.

__ADS_1


Aurora yang terus berjalan pulang menuju rumahnya, hanya membayangkan sosok pria yang di temuinya di tempat nongkrong tadi, bibirnya tersenyum kala mengingat wajah tampannya.


"Tampan juga, tapi ternyata mau antar naik vespa, entah khayalanku yang terlalu tinggi atau dia memang sangat tampan untuk sekelas denganku," ucap Aurora mengerutkan bibirnya.


Setibanya di rumah Aurora mengucap salam dan mengetuk pintu beberapa kali.


Tok... tok... tok


Aurora menekan handle pintu dan krek.... pintu kemudian terbuka dan Aurora masuk.


"Ibu...." ucap Aurora saat melihat ibunya sedang merapikan pakaian ke dalam lemari.


"Dari mana kamu Ra?" tanya sang ibu khawatir, ia tak biasa-biasanya melihat Aurora keluar rumah kecuali untuk bekerja, pergi berbelanja atau menjemput Dika di rumah bibinya.


"Cuma jalan-jalan saja bu," jawab Aurora singkat.


"Ibu harap kamu tetap Aurora yang ibu kenal, hanya kamu yang ibu andalkan untuk terus membantu membesarkan ketiga adik-adikmu yang lain.


Aurora tersentak mendengar ucapan sang ibu.


"Kenapa ibu bisa berpikir seperti itu bu, Aurora akan tetap menjadi Aurora putri ibu dan Aurora gak akan pernah berubah apalagi untuk ketiga adik Aurora," tegas Aurora memdekati ibunya yang sedang menyusun baju ke dalam lemari pakaian.


"Seberat apapun masalah yang kita hadapi, ibu minta kamu selalu tabah dan kuat ya nak," ucap ibu menatap Aurora.


"Iya bu, Aurora akan kuat demi ibu dan adik-adik! Aurora rela bekerja dan lakukan apapun agar kita semua bisa bertahan hidup," ucap Aurora dengan tekadnya.


Bersambung....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Quote of the day


Akhir tidak selalu menjadi titik perhentian terakhir namun awal bagi sebuah kisah baru yang akan Tuhan gariskan untuk hambanya, kita hanya tinggal meyakini bahwa apapun yang kita terima adalah sesuatu yang terbaik dari yang paling baik.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Semoga Aurora tidak salah langkah ya readers, doakan dan support selalu ya agar Aurora dan Author tetap bertahan dalam kisah ini.


Mohon dukungannya dari readers ya, baik kritik maupun saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan karya yang lebih baik lagi 🌸🌸🌸


Salam hangat


❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2